Cerpen #424 Di Kaligawe Orang Mati Terendam Lumpur

Mendiang istriku pernah berkata bahwa 50 tahun yang akan datang, atau bahkan lebih cepat, mungkin saja kuburan tempat ia bersemayam nanti bakal menjadi kubangan lumpur yang kotor tergenang air banjir. Batu nisannya yang semula kokoh dan keras itu, lalu dipenuhi lumut-lumut hijau yang licin, yang tebalnya melebihi rumput liar suatu lapangan sekolah dekat desa kami nan gersang; yang sewaktu-waktu bahkan dapat membunuh kawanan burung pipit yang melintas. Bisa saja seketika bau amis darah memenuhi desa kami, Kaligawe.

Ia amat suka membaca. Koran dan buku, majalah dan tabloid, dari isu politik hingga selebritis tidak pernah ia lewatkan. Pernah di suatu pagi yang panas, ketika mesin AC kami bermasalah dan mengiranya rusak, tiba-tiba saja ia mengibaskan halaman korannya ke udara berulang kali ke arah wajahnya yang lusuh berkeringat itu. Hal yang tentu jarang sekali kutu buku lakukan.

“Panas, Mas. Apa kamu betah duduk-duduk di sini terus keringetan?” tanyanya padaku. Tentu saja aku pun sama tidak betahnya. Besoknya, kami panggil tukang servis yang kebetulan berjarak tidak jauh dari rumah kami untuk membetulkan AC tersebut. Dan ya, ia datang dengan motor kerjanya yang bising dan boros. Suatu ketika ia mengaku kesal lantaran gajinya yang tidak seberapa sering habis untuk dua hal yang sebenarnya tidak begitu penting tetapi tidak bisa ia acuhkan; yakni bensin dan biaya servis motor. Maklum, katanya, motornya sudah 15 tahun lebih ia pakai untuk keperluan kerja. Wajar saja bila motornya tamak dan sering rewel minta “jajan” ke bengkel motor. Sungguh kondisi yang memilukan.

Desa kami cukup unik. Meski terletak tidak jauh dari pegunungan dan hutan, sekitar 10 kilometer ke arah utara ada lepas pantai yang tenang. Perahu nelayan berjejer sepanjang bibir pantai. Pasirnya putih kecokelatan. Anginnya lembut bak belaian pengrajin roti yang memijat adonan tepung dengan hati-hati. Kadang ketika musim liburan tiba, wisawatan lokal berduyun-duyun datang ke sini membopong keluarga atau temannya dengan satu rombongan mobil, atau bahkan menyewa bus pariwisata untuk pulang pergi.

Melihat pelancong bergumul di sepanjang garis pantai, dengan kaos pendek dan celana kolor bergelantung di kaki-kakinya yang ringkih, gemuk, berotot, atau bahkan berbulu, sering membuatku kesal tidak terduga. Kadang aku marah dengan tingkah kurang ajar mereka yang juga menjengkelkan, seperti membuang putung rokok padahal angin sedang berhembus kencang-kencangnya. Sebabnya, dulu, ketika aku menginap di rumah budhe’ku yang sudah tua renta dan sering memakai setelan kebaya kuning dengan jarik melingkar di tubuhnya yang kecil, di suatu malam yang dingin dan gelap, tepat ketika angin pantai berhembus kencang-kencangnya ke arah rumah budhe’ku yang sekelilingnya banyak pohon-pohon kelapa, ada kebakaran hebat yang menghebohkan seisi kampung; setumpuk daun kelapa yang jatuh terbakar begitu saja. Aku menduga api yang menjalar hebat  di tengah malam itu disulut puntung rokok seorang bapak supir. Karena setelah kami bersusah payah mengangkut air dari sumur dan menyiramnya bergantian agar padam, rupanya ada satu puntung rokok tergeletak dekat tumpukan daun tersebut. Namun saat kami tanyakan, ia mengelak dan tidak mau mengakuinya.

Kadangkala aku juga menjumpai kawanan pemuda dengan badan yang kecil dan sedikit tengil membuang bekas seduhan mie gelas bertumpuk di pojokan gardu pantai. Air seduhannya bercecer ke sana ke mari. Bumbu minyaknya menempel di seujung tubuh gardu. Istriku ikut geram. Tangannya tidak berhenti mengepal dan berasa ingin melayangkan tinju ke perut mereka yang gempal; yang barangkali dipenuhi dosa karena mengabaikan kebersihan lingkungan.

Sepulangnya ke rumah dengan wajah disulut emosi, ia tidak berhenti mengingatkan Fadli, anak kami satu-satunya untuk tidak menjadi pemuda kurang ajar yang tidak tahu bertata karma dengan alam. Ia, berulang kali mendoakan Fadli anaknya agar tidak berlaku acuh. Berulang kali pula ia menyuruh anaknya itu aktif di Karang Taruna desa, agar baktinya pada masyarakat, bahkan lingkungan dapat tumbuh dengan baik ke seluk beluk jiwanya yang masih labil itu. Fadli menanggapinya dengan santai. Ia sudah cukup terbiasa dengan tingkah ibu kandungnya yang memang keras soal kebersihan. Sudah tidak terhitung berapa puluh kali Fadli “dirujak” ibunya karena sering malas merapikan kamar tidur, atau sering menumpuk sampah di kamarnya sampai berbau, atau karena kebiasannya membuang sampah lewat jendela kamarnya yang terbuka. Sungguh anak lelaki yang bahkan aku sendiri tidak mengerti.

***

Ari Kuncoro, seorang warga desa kami yang baik, dengan kumis tebal dan rambutnya yang hitam cepak itu suatu ketika datang kepadaku dengan wajah panik dan keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya. Nafasnya sedikit tersengal-sengal dan kakinya goyah. Matanya membelalak seolah ingin mengumpat. Celana dan kaos polonya sedikit basah di beberapa bagian.

“Pak, bahaya! Komplek pemakaman warga kita sekarang terendam banjir. Hampir selutut. Kalau ini terus dibiarkan, lama-lama kita tidak bisa tinggal di sini lagi, pak!” ucapnya dengan nada yang tegas dan terengah-engah.

Aku langsung menuju kepala desa. Di kantornya yang bersih dan sejuk karena AC dipasang hampir tiap jam kerja itu, aku dan Ari mengadu kepadanya. Meminta kejelasan, pertolongan, dan solusi agar masalah rendaman banjir yang makin hari makin meninggi dan sudah hampir menyisir seluruh kawasan pantai itu dapat terpecahkan.

“Kita tidak bisa melawan kehendak alam, Pak.”

“Persetan dengan kehendak alam! Bapak kerja apa saja selama ini, hah?” bentakku tidak bisa lagi menahan amarah.

Karena kesal dan tidak bisa lagi menaruh harapan pada lelaki bertubuh gempal dengan sikapnya yang congkak dan abai itu, aku lantas menuju lokasi pemakaman; tempat mendiang istriku disemayamkan.

Ia meninggal tepat lima tahun lalu. Terseret arus banjir yang kuat. Ketika itu, tidak biasanya kami dilanda banjir dengan ketinggian sampai kepala orang dewasa. Biasanya hanya sebetis, kalaupun parah, paling hanya sepaha saja. Hari itu kami benar-benar kelimpungan. Banyak warga meninggal. Tenggelam. Terseret arus. Tertimpa pohon kelapa. Hampir separuh penduduk kehilangan keluarganya. Kaligawe menjadi lumpuh. Benar-benar bencana mengerikan.

Usut punya usut, media mulai menunjuk hidung orang-orang yang dianggap bertanggungjawab atas bencana itu. Dalam suatu siaran berita di layar televisi, para ahli menilai kejadian lima tahun lalu diakibatkan berbagai sebab; pembangunan perumahan yang berimbas berkurangnya resapan air, kegiatan industri berlebih di sepanjang wilayah desa, alih fungsi hutan menjadi kawasan perkebunan tunggal, dan cuaca ekstrim. Dalam tidur nyenyak kami hampir di sepanjang malam, hampir tak pernah menduga hal semacam itu akan mengancam kami di masa mendatang. Parahnya lagi, pemerintah setempat bahkan tidak pernah mewanti-wanti sama sekali. Aku tidak mengerti dengan mereka.

Ketika banjir ekstrim itu terjadi, aku dan Fadli anakku selamat. Kami kebetulan sedang dalam perjalanan jauh. Istriku tidak pergi bekerja dan berdiam di rumah. Ia sedang mengambil cuti karena alasan tertentu. Di kantor tempatnya bekerja, ia dikenal begitu ulet. Tak pernah mengecewakan rekan kerja, bahkan atasannya sekalipun. Berpulangnya ia tentu membuat siapapun bersedih, termasuk Fadli. Beberapa minggu selepas ibunya wafat disemayamkan dengan tenang di komplek kuburan Desa Kaligawe, ia sering telat makan. Begadang sampai ufuk terbit. Beberapa kali bahkan mengigau, memanggil nama ibundanya. Lalu sedih. Lalu pergi ke kamarnya untuk tidur, ditutup selimut. Beberapa kali sudah kubujuk untuk merelakan kepergian ibunya. Aku sadar itu tidak mudah. Bahkan bagiku, seolah dunia keluarga kami runtuh. Tidak cuma kami. Tetangga kami pun sama runtuhnya. Siapapun tidak ingin kehilangan orang tercintanya, bukan?

Aku dan Ari Kuncoro sampai di komplek pemakaman. Air banjir benar-benar merendam kaki kami dan menutup seluruh permukaan makam. Batu nisan hanya terlihat kuncup atasnya. Itupun sudah dibalut gumpalan lumpur; kecokelatan. Masih basah dan begitu susah dibersihkan. Kami jadi tidak dapat mengenali satu makampun.

Tidak ada satu aparatpun bersiaga, bahkan Tim SAR. Akses ke Kaligawe lumpuh. Genangan ada di mana-mana. Aku dengar bahkan di seluruh jalanan masih ada bekas lumpur. Tentu akibatnya jalanan menjadi tempat yang rawan terjadi kecelakaan. Tak ada yang mau mengambil risiko. Sudah berbulan-bulan lamanya bahkan tingkat kecelakaan di Kaligawe meningkat. Tidak ada perbaikan sama sekali. Kaligawe benar-benar tidak layak untuk ditinggali lagi.

“Kita sudah tamat, Pak,” ucap Ari Kuncoro kepadaku dengan wajah memelas. “Sudah lima tahun berlalu, Kaligawe sama sekali tidak ada kemajuan. Belum pulih luka ditinggal saudara, kita masih berurusan dengan banjir begini. Sudah tidak ada harapan.”

Aku tidak menjawabnya. Aku paham betul apa yang Ari maksud. Sampai hari ini, bahkan belum kering air mata yang menetes dari bola mata Fadli anakku, dan aku, karena kehilangan Diana, istriku. Rumah kami tidak lagi seceria dulu ketika Diana sering mengoceh soal kebersihan kepada aku, Fadli, bahkan tetangga di sekitar rumah. Suatu kekosongan yang tidak dapat dibayangkan.

Aku tetap menyusuri lokasi pemakaman. Berharap dapat kutemukan lokasi mendiang istriku disemayamkan. Cukup sulit mengenali nisan yang ada di pemakaman. Benar-benar tertutup lumpur. Saking parahnya bencana ini menimpa Kaligawe, mungkin tidak lama lagi, ucapan Diana akan terwujud. Atau bahkan sudah terwujud.

“Mungkin saja kuburan tempatku nanti bersemayam bakal menjadi kubangan lumpur yang kotor tergenang air banjir. Batu nisannya yang semula kokoh dan keras itu, lalu dipenuhi lumut-lumut hijau yang licin. Aku tenggelam ke dasar laut yang tidak begitu dalam, tapi anehnya rasanya seperti air tawar. Bercampur dengan pasir pantai, limbah industri, gumpalan plastik, sabun perumahan, daun-daun tanaman sawit, oli bekas, dan minyak entah tumpah dari mana,”

“Kau habis membaca buku apalagi Dian? Terdengar absurd dan mengerikan,” ucapku heran ketika ia mengatakan itu.

Dan ya, hari ini, ucapan absurd Diana menjadi kenyataan. Aku tidak dapat membayangkan apa yang ia pikirkan sekarang. Apakah ia senang ucapannya ketika itu benar-benar terjadi saat ini, atau justru ia sedang bersedih?

Masih kususuri seluruh lokasi pemakaman. Aku harus hati-hati mengambil langkah. Benar-benar tidak ada pijakan yang kokoh. Selain banjir, Desa Kaligawe sedang mengalami penurunan tanah. Itulah salah satu sebab daerah kami rawan dan selalu tergenang air. Sesekali air datang dari laut lewat pantai. Kadang karena terjadi luapan di bendungan sungai. Kadang akibat kurangnya daerah resapan air. Kau tahu, benar-benar banyak sekali perumahan dan bangunan industri di sini. Mereka aman-aman saja karena memang dirancang tahan bencana. Yang sialnya, tidak dengan tempat pemukiman kami yang seadanya ini.

Sudah hampir satu jam aku berputar ke sana kemari, tetap saja tidak dapat kutemukan letak persis makam Diana. Benar-benar terhalang lumpur, genangan, dan beberapa bongkahan kayu yang terapung. Amat menyebalkan. Sampai suatu ketika, tiba-tiba awan mendung menutupi seisi desa. Hujan turun dengan lebat. Aku, Ari Kuncoro dan warga yang lain lalu bergegas pulang. Kami khawatir ketinggian air justru bertambah, atau parahnya, kami takut terseret arus. Penyusuran kami gagal hari ini.

Aku pulang dengan wajah memelas. Fadli yang berada di pengungsian sementara bersikap seperti biasa; mengacuhkanku. Ia mungkin masih membayangkan ibunya suatu ketika akan datang kepadanya. Membawa beberapa potong kue dan makanan sepulang ia bekerja. Tapi lima tahun lamanya, hal itu tidak pernah terjadi. Aku tidak tahu apakah Fadli masih menunggu dengan penuh harap, atau justru menunggu dengan penuh keputusasaan. Rasanya, keduanya sama-sama menyakitkan.

***

Hujan lebat kemarin hari rupanya begitu mengerikan. Lagi-lagi Ari Kuncoro, mengabarkanku bahwa komplek pemakaman tidak sedang baik-baik saja.

“Hampir sepenuhnya terendam lumpur, Pak!”

“Sepenuhnya katamu?”

“Iya. Sudah gak bisa dikenali lagi. Sudah benar-benar tertutup.”

Tidak ada rasa kesal semenyesakkan ini kurasa. Aku gagal menyelamatkan Diana dari banjir, bahkan sepotong batu nisannya saja tidak bisa kuselamatkan. Hari ketika mendengar Diana tewas saja sudah membuatku hampir gila. Aku tidak tahu siapa yang harus bertanggungjawab untuk hal ini. Pemerintah setempat tidak bisa kuandalkan. Pengembang komplek perumahan yang turut menyumbang bencana juga rasanya sangat kubenci. Pembangunan mereka benar-benar merugikan warga Kaligawe.

Ingin rasanya kukutuk pengembang perumahan, pemilik industri, pemerintah setempat, dan dunia ini. Jika bagi mereka yang sudah mati saja sudah tidak ada tempat bersemayam yang tenang, yang cukup aman untuk istirahat ketika menjadi tulang belulang, yang cukup nyaman ketika dikunjungi ziarah, yang cukup luas untuk warga desa kami misal nanti disemayamkan, lalu bagaimana dengan kami yang hidup?

Jika rumah tempat kami tinggal tergenang air sampai sedada orang dewasa, bagaimana cara kami hidup dengan layak? Ada banyak anak sekolah ingin belajar dengan khusyuk. Dengan lampu belajar yang temaram di malam hari ketika kamar mereka lampunya dimatikan orangtua masing-masing. Ada banyak pedagang kaki lima menaruh lapak dagang mereka di sepanjang pinggir jalan, tentu mereka menunggu hari di mana seseorang turun dari motor atau mobil mampir membeli lagi. Dengan akses jalan yang lumpuh, tidak ada siapapun yang ingin berkunjung, atau bahkan bepergian, bukan?

Kami benar-benar sudah tamat. Tidak tahu lagi akan jadi apa masa depan nanti. Atau apa yang Diana ucapkan sebetulnya ketika itu adalah masa depan semua warga Kaligawe?

“Tubuh dan tulang kita akan tergenang lumpur. Pemakaman tidak lagi ditumbuhi rumput, melainkan lumut-lumut yang licin dan basah. Tidak ada hiasan dan bunga-bunga, yang ada serpihan kayu lapuk dan potongan besi yang entah datang dari mana. Seisi desa tidak lagi, bau oli dan minyak menyengat tercium kemana-mana. Kita akan tamat, Seto!”

One thought on “Cerpen #424 Di Kaligawe Orang Mati Terendam Lumpur

  1. Cerpen ini bagus, tapi kenapa belum ada yang komen?
    Entah kaligawe yang dimaksud adalah wilayah Semarang, atau penulisnya memang orang Semarang, saya tidak tahu.
    Tetapi, cerpen ini mengingatkan pembaca untuk do something before it’s too late.
    Dan kalau saya kaitkan dengan daerah Kaligawe Semarang, ya saya cuma bisa prihatin. Semoga cerpen ini menang ya. Semangat buat penulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *