Cerpen #313: “PARADE TIGA MUSIM”

Suatu ketika. Di sebuah hutan rimba yang terletak di lereng gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Tinggallah sekelompok hewan yang dapat berbicara. Mereka hidup dengan tenang, rukun, dan damai. Hewan-hewan tersebut adalah elang Jawa, katak pohon, kijang, dan ayam hutan merah.

Elang Jawa adalah seekor burung yang berperawakan besar. Ia memiliki jambul di atas kepalanya. Bulunya berwarna coklat. Memiliki paruh dan cakar yang tajam. Setajam matanya yang dapat melihat benda dari kejauhan. Meski mudah marah, elang Jawa sangat perhatian dengan kawan-kawannya. Bahkan ia sering dijadikan pemimpin dalam kelompoknya.

Sebaliknya, katak pohon mempunyai tubuh yang cukup mungil. Kulitnya berwarna hijau dan abu-abu. Matanya seperti sebuah kelereng. Bulat hitam. Biasanya ia tinggal di lubang-lubang pohon seperti pohon Rengas ataupun Waru. Katak pohon tidak banyak berbicara. Namun ia sering dimintai nasihat oleh kawan-kawannya dalam memecahkan sebuah masalah.

Kijang memiliki tubuh sebesar kambing dewasa. Bulu-bulunya pendek dan berwarna coklat. Ia memiliki tanduk yang tidak terlalu panjang. Sering ia gunakan untuk beradu dengan kawanannya sendiri. Kijang memiliki sifat pemberani dan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun seringkali ia gegabah dalam melakukan sesuatu.

Sedangkan ayam hutan merah lebih suka bercakap-cakap dan bercanda dengan kawan-kawannya. Terkadang juga senang mengada-ada. Bulu-bulunya panjang meruncing. Leher dan sayapnya berwarna kuning coklat keemasan. Tubuh dan ekornya hijau gelap. Kakinya kelabu dan bertaji. Di kepalanya terdapat jengger bergerigi dan gelambir berwarna merah.

Parade Musim Gugur

Di suatu pagi. Seperti biasanya. Mereka berkumpul di sebuah tempat sembari mencari makan dengan caranya masing-masing.

Dari atas pohon Sarangan, diam-diam elang Jawa mengintai seekor tikus yang baru keluar dari lubang tanah. Sejurus kemudian, ia terjun dari atas pohon tersebut. Tubuhnya menukik ke bawah. Melesat cepat. Tikus tidak sadar akan kedatangan elang. Dengan sigap elang mencengkeram tubuh tikus dengan kuku-kukunya yang tajam. Lalu segera memakannya.

“Engkau memang pemburu yang andal, Lang!”, puji katak pohon yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik elang.

“Iya. Terima kasih. Kamu juga hebat!”, balas elang yang dari tadi juga mengawasi aksi katak dalam menangkap nyamuk.

Sementara itu. Ayam hutan merah sedang mengais tanah dan mematuk rerumputan. Ia juga terlihat mencagut daun-daun Cemplonan.

“Dari tadi aku tidak menemukan cacing. Akhirnya aku makan tanaman seperti kamu, Jang!”, goda ayam pada kijang sambil tertawa.

Tak jauh dari tempat itu. Kijang mendengar celoteh ayam. Tapi ia tidak menggubrisnya. Ia sibuk makan rumput. Sesekali ia meraih daun-daun dari pohon Jamuju. Ia juga memakan serangga-serangga yang ada pada pohon tersebut.

“Hari ini aku akan bergerak agak jauh. Mungkin di bawah lereng ada banyak buah-buahan”, harap kijang.

Waktu berlalu. Matahari semakin meninggi. Setelah kenyang, hewan-hewan tersebut beristirahat. Mereka berteduh di bawah pohon Kantil.

“Bagaimana makan pagi kalian hari ini?”, tanya elang.

“Oh, aku sudah cukup kenyang. Terima kasih”, jawab katak.

“Iya. Perutku juga penuh. Aku banyak makan dedaunan hari ini. Hampir saja aku jadi seperti kijang”, sahut ayam disambut tawa elang dan katak.

Kijang tak bergeming. Ia terlihat diam saja dari tadi.

“Apakah ada yang kau pikirkan, Jang?”, tanya elang.

“Mungkin kami bisa membantumu”, tawar katak.

“Tidak. Tidak ada. Aku juga sudah kenyang”, jawab kijang sambil membuyarkan lamunannya.

“Biarkan saja dia! Mungkin dia masih lapar dan mau mencari makan”, sela ayam.

Kijang kembali termangu.

“Apakah ini tentang sesuatu di bawah lereng?”, tanya elang.

Kijang terperanjat. Mengapa ia bisa tahu? Seakan-akan elang dapat melihat apa yang ada dalam pikirannya.

“Apa yang ada di bawah lereng, Lang?”, tanya katak.

“Apakah makanan?”, tanya ayam juga penasaran.

“Hampir benar!”, jawab elang tegas.

Akhirnya elang bertutur. Beberapa hari ini. Saat ia terbang di udara. Ia melihat sesuatu di bawah lereng. Sekumpulan makhluk yang disebut manusia. Mereka sedang melakukan sesuatu yang aneh. Mereka mengenakan penutup kepala berwarna kuning. Memegang sesuatu yang dipukul-pukulkan ke arah pepohonan. Hingga pohon-pohon itu berjatuhan.

Di antara mereka ada makhluk-makhluk yang sangat besar. Mereka mengangkut dan membawa pergi pohon-pohon itu. Sebagian dari pohon-pohon tersebut ditinggal. Kemudian manusia-manusia memotongnya menjadi beberapa lonjor kayu. Satu makhluk besar lainnya seperti sedang menggaruk-garuk tanah. Kemudian memindahkan gundukan tanah itu pada makhluk besar lainnya.

Kelihatannya makhluk-makhluk itu dikendalikan oleh manusia-manusia tersebut. Makhluk-makhluk besar lain datang membawa pasir dan bebatuan. Lalu manusia-manusia itu menyusunnya dengan banyak lonjor kayu yang ditegakkan. Keesokan harinya. Tumpukan pasir, batu, dan kayu tersebut sudah menjadi bangunan-bangunan yang berbaris rapi.

Katak, ayam, dan kijang mendengarkan secara seksama. Seakan-akan mereka melihat secara langsung peristiwa tersebut. Ada perasaan takut terselip di dada mereka. Makhluk-makhluk yang digambarkan elang sepertinya tidak pernah mereka temui. Mereka tidak bisa membayangkan. Ada makhluk yang lebih besar dari kijang dan lebih kuat dari elang.

“Sudah cukup. Jangan ceritakan lagi!”, pinta ayam ketakutan.

“Iya. Sudahi, Lang! Kasihan ayam”, ucap katak.

“Cerita yang menarik. Semakin membuat aku ingin ke sana”, tiba-tiba kijang bersuara, membuat semua temannya terkejut.

“Apa? Apa maksudmu, Jang?”, tanya ayam yang masih bergidik.

“Tidak tahukah kau bahwa akhir-akhir ini makanan semakin sulit dicari di tempat ini?”, bentak kijang pada ayam.

“Yang dikatakan kijang benar. Tapi apa engkau hendak pergi ke tempat makhluk-makhluk asing tersebut?”, sahut katak.

“Iya. Mungkin di sana banyak makanan”, balas kijang.

“Bisa jadi. Karena memang aku pernah melihat manusia-manusia itu makan di dalam bangunan-bangunan tersebut”, timpal elang.

“Betul, bukan? Firasatku selalu benar”, ucap kijang pongah.

“Apa kamu tidak takut bertemu manusia-manusia itu?”, tanya ayam.

“Iya, Jang. Kita harus berhati-hati. Jangan sampai bertemu dengan makhluk jahat itu”, jelas elang.

Elang menceritakan bahwa yang dilakukan oleh manusia-manusia tersebut bukan yang pertama. Tapi sudah beberapa kali. Hutan-hutan di babat habis. Pohon-pohon tempat tinggal elang berubah menjadi lahan pemukiman yang dihuni manusia. Hingga kawanannya banyak yang berpindah tempat. Pergi entah ke mana. Kini hanya tinggal ia sendiri yang bertahan di hutan ini.

“Nasibmu hampir sama denganku, Lang!”, sambut katak.

Katak mengisahkan. Semenjak hutan ditebangi. Air hujan yang turun di daerah pegunungan tidak dapat diserap. Akhirnya terjadi banjir dan tanah longsor. Karena pohon-pohon yang menahan tanah tersebut sudah tidak ada. Sambil meneteskan air mata, katak bersaksi. Bahwa ia sempat melihat anggota keluarganya hilang. Terseret banjir dan tanah longsor tersebut.

Elang mendekap katak. Disusul ayam memeluk elang. Melihat itu, kijang terharu. Namun tubuhnya tak bergeming. Sedetik kemudian, ia berlari meninggalkan kawan-kawannya tersebut.

“Jang! Mau ke mana kamu?”, teriak elang pada kijang yang semakin menjauh.

Kijang masuk ke dalam hutan. Semakin cepat ia bergerak. Hingga tak terlihat lagi. Kijang menyusuri hutan yang penuh semak belukar. Sampai ke ujungnya. Lantas berjalan. Menuruni lereng.

Parade Musim Panas

Siang berlalu. Matahari bergerak perlahan ke arah barat. Langit mulai berwarna merah. Elang, katak, dan ayam belum menemukan kijang. Mereka telah mencari ke seluruh penjuru hutan. Namun hingga matahari terbenam mereka belum menemukannya.

“Bagaimana ini, Lang?”, tanya ayam.

“Mau bagaimana lagi? Sudah gelap. Penglihatanku terbatas di malam hari”, jawab elang.

“Kalian berdua pulanglah! Aku akan berjaga-jaga di sini. Bila kijang terlihat, aku akan beritahu kalian”, jelas katak.

“Baiklah kalau begitu. Kabari kami bila melihatnya”, ucap elang langsung terbang ke atas pucuk pohon Sarangan.

“Terima kasih, katak. Maaf, aku sudah mengantuk”, kata ayam langsung melompat ke arah pohon Kantil dan bertengger di dahannya.

 Katak yang dari tadi menempel di pohon Waru melompat ke arah pohon Rengas. Ia berharap dapat melihat kijang dari atas ketinggian pohon tersebut. Matanya yang bulat bergerak ke sana ke mari. Mengawasi keadaan sekeliling. Namun ia tak melihat sama sekali pergerakan hewan sebesar kijang. Hanya nyamuk-nyamuk kecil bertebaran. Menjadi santapan makan malamnya.

Di atas langit, bulan sabit bercahaya terang. Didampingi kerlap-kerlip bintang yang berwarna-warni. Menghiasi malam yang hitam tak berawan. Angin berembus hangat. Membuat hewan-hewan tersebut tersadar.

“Benarkah ini sudah malam? Kenapa masih panas bagai siang?”, keluh ayam.

Ayam turun dari dahan Kantil. Lantas melompat ke pohon Rengas tempat katak berada.

“Kenapa kamu?”, tanya katak pada ayam.

“Aku tidak dapat tidur. Gerah sekali”, jawab ayam menggerutu.

“Itu karena keadaan bumi bertambah panas” tiba-tiba elang hadir di hadapan katak dan ayam.

“Astaga, buat kaget saja!”, ucap ayam terkejut.

“Benar kamu, Lang. Lagi-lagi ini karena ulah makhluk bernama manusia itu”, sela katak.

“Maksudnya?”, tanya ayam.

“Seperti yang aku ceritakan tadi siang. Selain menebangi pohon-pohon di hutan. Terkadang mereka langsung membakarnya. Mungkin untuk menghemat waktu dan tenaga”, terang elang.

“Asap yang ditimbulkan dari pembakaran besar-besaran tersebut merusak lapisan atmosfer. Karena terkena paparan langsung sinar matahari, bumi menjadi lebih panas”, tambah katak.

“Oh, seperti itu?”, sahut ayam mulai paham.

“Iya. Jadi hutan memiliki peran yang sangat penting bagi bumi dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya”, lanjut katak.

“Harusnya manusia menjaganya. Bukan malah merusaknya. Akibatnya akan berdampak pada mereka sendiri”, imbuh elang.

“Dan kita tentunya!”, ungkap ayam tegas.

“Benar. Ayo, semua kembali tidur! Kita nikmati saja hawa hangat ini”, ucap katak.

“Iya. Kita harus mengumpulkan tenaga untuk esok pagi. Kumpulkan juga semua keberanian kalian. Kita akan kembali mencari kijang”, tegas elang.

“Turun ke lereng?”, tanya katak.

“Betul”, jawab elang.

“Kau yakin?”, tanya ayam.

“Harus! Demi sahabat kita”, jawab elang.

“Baik. Baik. Aku ikut”, sahut ayam.

“Kalau begitu aku juga harus istirahat”, timpal katak.

“Iya. Jangan lupa berdoa agar kita selamat”, lanjut elang.

Mereka menuju ke tempat peristirahatan masing-masing. Hutan kembali senyap. Hanya suara jangkrik sayup-sayup terdengar. Malam berlalu begitu cepat. Langit yang sedia kala pekat. Kini mulai tampak garis-garis cahaya dari ufuk timur. Seperti untaian benang berwarna jingga. Ayam terjaga. Ia berkokok. Menyadarkan seisi hutan.

“Apakah kalian sudah siap?”, tanya elang pada dua sahabatnya.

“Iya. Aku sudah siap dari tadi”, jawab katak.

“Aku juga”, timpal ayam.

“Kita bergerak sekarang. Di pagi buta seperti ini, biasanya manusia masih tertidur”, jelas elang.

“Jadi kita bisa mencari kijang tanpa ketahuan mereka”, imbuh katak.

“Ayo, berangkat. Perjalanan cukup jauh”, ajak ayam.

“Tidak. Kita bisa menghemat waktu”, potong elang.

“Bagaimana caranya?”, tanya katak.

“Katak, naiklah ke punggung ayam. Aku akan membawa kalian terbang”, perintah elang.

“Hore, akhirnya aku bisa terbang!”, teriak ayam gembira.

“Sudah. Ayo, berangkat!”, jawab katak langsung melompat ke punggung ayam.

Sejurus kemudian. Elang mencengkeram kuat tubuh ayam. Segera ia mengepakkan sayapnya yang lebar. Lantas terbang menuju angkasa.

Parade Musim Semi

Pemandangan gunung Ungaran dari atas langit sungguh menakjubkan. Meski beberapa hutan tampak sudah gundul. Namun di sisi lain masih hijau. Di antara rimbun pepohonan besar, terlihat berpetak-petak sawah yang menguning. Pemukiman manusia juga tersebar di kawasan tersebut. Katak dan ayam tertegun. Baru pertama ini ia melihat pemandangan yang indah dari udara.

“Indah sekali”, ucap ayam.

“Itu tempat yang baru dibangun tersebut”, tunjuk elang ke bawah.

“Ayo, segera ke sana. Aku khawatir terjadi apa-apa pada kijang”, perintah katak.

Elang mengawasi keaadaan di bawah dengan matanya yang tajam. Lama ia memperhatikan bangunan-bangunan di daerah pemukiman tersebut. Kepalanya bergerak-gerak. Tak lama kemudian. Ia melihat sosok makhluk berwarna coklat diikat pada sebuah pohon dengan seutas tali tampar. Ia tampak terduduk lesu di sudut tanah lapang.

“Itu dia!”, teriak elang gembira.

“Benarkah?”, tanya ayam.

“Benar. Hanya elang yang dapat melihat dengan jelas benda dari kejauhan”, jawab katak.

“Ayo, kita tolong dia!”, lanjut ayam.

“Tunggu sebentar. Apakah ada makhluk lain di situ?”, tanya katak.

“Sementara tidak tampak olehku sosok manusiapun”, terang elang.

“Bagaimana dengan makhluk-makhluk besar yang kau ceritakan kemarin?”, lanjut katak.

“Ada dua. Tapi mereka sedang tertidur. Selama tidak ditunggangi manusia, mereka akan diam saja”, jelas elang.

“Syukurlah”, kata ayam lega.

“Baiklah. Kita turun. Bersiaplah!”, jawab elang langsung mendekapkan sayapnya dan langsung menukik ke bawah.

“Ah, pelan-pelan, Lang!”, teriak ayam ketakutan.

Elang meluncur deras ke bawah. Seperti batu meteor yang jatuh dari langit. Angin menerpa kencang ayam dan katak. Namun pegangan elang lebih kuat pada mereka. Elang terus melesat dengan cepat. Beberapa waktu kemudian jelaslah pandangan ayam dan katak. Sosok hewan berwarna coklat telah berada di hadapan mereka.

“Kijang!”, teriak ayam.

Kijang terkejut. Tiba-tiba sahabat-sahabatnya sudah berada di depan matanya.

“Elang, ayam, katak!”, ungkap kijang kaget.

“Hei, jangan ramai!”, hardik katak.

“Maafkan aku! Semua ini salahku”, belas kijang.

“Sudah. Nanti saja maafnya. Kita lepaskan dulu ikatanmu ini. Elang, apakah kamu bisa melakukannnya?”, sela katak.

“Akan aku coba”, jawab elang.

Dengan sigap elang mematuk-matuk tali dengan paruhnya yang tajam. Cakarnya juga ikut menggores-gores tampar yang mengikat sahabatnya tersebut.

“Ayo. Cepat sedikit, Lang!”, kata ayam gugup.

“Iya. Ini sedang aku coba”, balas elang sambil terus mematuk dan mencakar tali tersebut.

“Elang, sudahlah. Aku pantas menerima semua ini”, ucap kijang iba melihat perjuangan elang.

“Apa yang kamu bicarakan? Kita adalah sahabat. Kita harus saling menolong”, sahut katak.

“Aku tidak pantas menjadi sahabat kalian. Demi mendapatkan makanan sendiri, aku mengabaikan kalian”, kata kijang menyesal.

“Sudah diam dan bantu aku menarik tali ini!”, bentak ayam sambil memungut tali tersebut dengan paruhnya.

“Ayam benar. Kita harus menegangkan tali ini agar mudah dipotong oleh elang”, jelas katak sambil membantu ayam.

“Tali ini begitu tebal. Tapi mulai terurai”, terang elang sambil terus mematuk dan mencakar tampar tersebut.

Melihat semua temannya berusaha keras untuk menyelamatkannya, kijang tersadar. Akhirnya ia bangkit dari duduknya. Ia menarik tali tampar tersebut hingga menegang lebih kuat. Sementara elang terus melakukan tugasnya tanpa henti. Hingga tanpa mereka sadari, ada sosok manusia keluar dari sebuah bangunan. Ia terkejut melihat keributan yang terjadi di depannya.

Ia berteriak-teriak. Hingga mengejutkan mereka berempat. Sadar akan hal itu, elang semakin beringas mencagut dan menggaruk tali yang hampir putus tersebut. Begitu pula yang dilakukan kijang. Ia menarik sekuat tenaga tali yang menjerat lehernya. Jeritan manusia tadi membangunkan manusia-manusia lain. Mereka berdatangan ke arah kebisingan terjadi.

Di antara mereka ada yang membawa selonjor kayu. Kemudian mereka berkata-kata yang tidak dipahami hewan-hewan itu. Mereka berdatangan semakin banyak.

“Ayo, elang!”, pekik kijang sembari menarik kuat tali tersebut dengan lehernya.

“Sebentar lagi!”, seru elang sambil mencatuk dan mengguncangkan tali tersebut.

Seketika tali itu putus. Kijang, ayam, dan katak terjerembab ke belakang. Lantas bangkit dan berlari menjauh dari manusia-manusia tersebut. Elang segera mencengkeram ayam dan membawanya terbang. Sedang katak melompat ke arah punggung kijang. Dengan cepat mereka menuju lereng gunung. Sementara manusia-manusia itu mengejar dari belakang.

Namun sosok dari mereka berkoar. Membuat langkah manusia-manusia itu melambat. Lantas terhenti. Membiarkan hewan-hewan tersebut menghilang dari pandangan mereka. Kemudian manusia-manusia itu tampak bercakap-cakap. Lama mereka melakukan itu. Sejurus kemudian. Mereka berbalik arah. Kembali ke tempat mereka berasal.

Beberapa hari berlalu semenjak keributan itu terjadi. Elang, katak, ayam, dan kijang kembali tinggal dengan tenang di dalam hutan. Tak lama kemudian terdengar suara bising dari bawah lereng. Hewan-hewan dalam hutan terkesiap mendengar bunyi aneh tersebut. Seketika elang terbang ke udara untuk mengintai situasi di bawah lereng. Selang beberapa waktu elang kembali.

 “Ada apa lagi, Lang?”, tanya katak khawatir.

“Aku melihat sekumpulan manusia berjalan ke arah lereng”, jawab elang.

“Oh, tidak! Ini bahaya. Mereka mencari kita!”, teriak ayam ketakutan.

“Apakah mereka akan menebang hutan lagi?”, tanya kijang.

“Tidak keduanya”, jawab elang.

“Lantas?”, tanya katak.

Elang menceritakan bahwa selain manusia. Ia juga melihat dua makhluk besar. Seperti yang ia lihat waktu itu. Manusia-manusia tersebut menggali tanah. Membuatnya jadi banyak lubang. Lantas mereka mengambil pohon-pohon kecil yang diangkut oleh makhluk besar. Mereka memasukkannya ke dalam lubang. Kemudian menutupnya kembali dengan tanah.

Manusia-manusia lain mengambil wadah-wadah berisi air yang diangkut oleh makhluk besar satunya. Menenteng lantas menumpahkannya ke atas pohon-pohon kecil tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, tempat itu telah dipenuhi oleh pohon-pohon kecil dengan daun-daunnya yang hijau. Mereka tampak tersenyum gembira. Lalu mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Jadi?”, tanya kijang.

“Benar. Mereka telah melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan”, jawab katak.

**

646 thoughts on “Cerpen #313: “PARADE TIGA MUSIM”

  1. 1. Perlu konsisten dalam penulisan nama tokoh cerita.
    2. Cerpen ini diperuntukkan bagi siapa? Kalau untuk anak usia siswa SD, mungkin terlalu panjang jalan ceritanya. Terlebih kelas awal SD.
    Sukses pak untuk terus berkarya.

    1. Beruntungnya kijang memiliki sahabat yang baik, menolong dan menyelamatkan kijang saat di kurung manusia lalu menasehatinya dengan cara yang halus.

    1. Saya tahu jika dalam cerpen ini ada pesan mengenai penebangan hutan, dan para hewan yang merupakan tokoh dalam cerpen ini bisa berbicara dan memiliki kesadaran. Namun pada bagian katak yang menjelaskan atmosfer yang rusak cukup berlebihan, dikarenakan hewan-hewan ini bahkan tidak mengetahui bahasa manusia dan alat berat yang dibawa oleh manusia. Bagaimana bisa mereka tahu mengenai atmosfer?

      Saya menyarankan untuk kedepannya cerita yang dibuat masih bisa dinalar walaupun ini sebuah cerita yang mengandung unsur fiksi didalamnya.

    1. Cerpen yg sangat menarik dan menginspirasi kalau bisa buat yg lebih panjang lagi biar lebih menarik ceritanya

    1. Cerita nya sangat bagus dan pola penyajiannya sangat rapi,sehingga para pembaca bisa ikut terbawa akan suasana yang di ceritakan dari si elang,ayam,katak dan kijang.pesan moral dari cerita ini juga sangat bermakna “selain kita tidak boleh gegabah dan buru buru kita juga harus memikirkan sesuatu kondisi yang ada di lingkungan sekitar kita”

  2. Kambing kemana?
    Bagus ceritanya, klo ut oembelajaran anak tk dan sd sangat luar biasa cinta binatang dan kerjasama, kasihsayang, tp bkum selesai ya ceritanya???

    1. Cerpen parade tiga musin sangat mengasikkan karena terdapat makna yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari hari kita yang harus peduli dengan lingkungan yang dapat menghasilkan oksigen

  3. ceritanya bagus dan mudah di mengerti apalagi saya suka membaca cerpen tentang animal saya suka deh pokoknya mantab

  4. ceritanya bagus dan mudah di mengerti apalagi saya suka membaca cerpen tentang animal saya suka deh pokoknya mantab

  5. Menurut saya sudah bagus karena tokoh”nya diilustrasikan secara rinci begitu juga dengan wataknya.Kemudian selain menceritakann hubungan persahabatan yang erat didalamnya juga disisipkan edukasi tentang akibat menggunduli hutan secara liar.Namun diakhir cerita elang menjelaskan bahwa para manusia diatas bertanggung jawab dengan mencoba menanam kembali pepohonan disekitar lereng.

  6. Ceritanya bagus. Mudah dimengerti dan tidak ada bahasa yang sulit dimengerti selain itu, cerita lebih kerasa ringan karena mengadaptasi cerita fabel.

  7. Cerita yang disajikan sangat bagus dan menginspirasi,bagus untuk anak TK dan SD untuk menambah wawasan belajar mereka.

  8. Melihat tulisan diatas menurut saya bukan cerpen tapi dongeng fabel, terus judul : parade 3 musim ..apa yg dimaksud parade?- tokoh didalam cerita terlalu banyak…mungkin pesan lebih fokus ,’satu tapi menggigit…yg jelas mari cintai satwa dan lingkungannya dan tidak perlu memusuhi manusia##salam lestari satwa

  9. Cerpennya sangat bagus, dipadukan dengan unsur fabel menjadi lebih menarik untuk dibaca, serta amanat yang tersirat juga sangat berguna

  10. Sifat manusia seakan rakus sehingga tidak memedulikan makhluk yg lain. semua hutan ditebang sehingga menjadi gundul dan bisa menyebabkan banjir & tanah longsor. Seharusnya manusia bisa melakukan reboisasi terhadap hutan itu agar semua hewan bisa mencari makan & tidak mati kelaparan.

  11. Cerpen yg sangat menarik dan menginspirasi kalau bisa buat yg lebih panjang lagi biar lebih menarik ceritanya

  12. Ceritanya sangat menginspirasi dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita harus hidup berdampingan dengan rukun, damai, tentram dan saling tolong-menolong

  13. Ceritanya sangat menarik,penting,dan sangat mudah di fahami tetapi ada yang kurang karena ini ceritanya terlalu panjang mungkin hanya orang yang ingin membacanya saja yang dapat memahami alur cerita itu

  14. ceritanya sangat menarik dan menginspirasi. dan didalam cerita tersebut terdapat makna yang bisa dijadikan pembelajaran di kehidupan sehari-hari

  15. Cerpen ini sangat bagus dan tidak ngebosenin. Dan juga banyak contoh-contoh perilaku positif yang dapat kita contoh.

  16. Cerpennya bagus, bisa diambil hikmah dari cerpen tersebut, yaitu:
    1. Menjaga hutan supaya tidak rusak
    2. Menjaga populasi hewan hutan
    3. Hewan tidak mengganggu pemukiman warga karena kekurangan makanan di hutan
    4. Manusia memiliki kesadaran pentingnya reboisasi
    5. Sahabat sejati akan menolong dikala senang maupun susah
    dan masih bnyk lagi makna yg ada di dalam cerpen ini. Semoga menjadi karya yg terbaik diantara yg terbaik. . .

  17. Cerpen nya sangat menginspirasi orang yang membacanya dan juga banyak pelajaran yang dapat di ambil dari cerpen tersebut

  18. Pohon memiliki peran yang sangat penting bagi manusia dan ekosistem, hikmah yang dapat diambil dari cerpen ini, untuk lebih menjaga alam terutama pohon dan tidak merusaknya tapi menambah keberadaan pohon (reboisasi)

  19. Cerpennya bagus, sangat menginspirasi. Terdapat makna pesan yang dapat diambil dari cerpen tersebut.。◕‿◕。

  20. Mantap Pak Ceritanya Seru,tidak membosankan dan banyak makna kehidupan yang tersirat di dalam ceritanya

  21. Ceritanya sangat bagus, dalam cerita tersebut menceritakan tentang hewan hewan yang kekurangan makanan dikarenakan ulah manusia yang melakukan pembabatan hutan demi membuka lahan pemukiman dan dalam cerita tersebut dapat kita pelajari bahwa kita harus melestarikan hutan dengan menanam pohon kembali atau reboisasi.

  22. Bagus, banyak ilmu yang dapat kita ambil dari cerpen tersebut dan juga pembaca terhibur dengan karakter hewan yang terdapat di cerpen tersebut

  23. Ini sangat amat teramat serta actually benar benar membenarkan dan menjelaskan sejelas jelasnya yang sedang menggambarkan gwehj👉😎👍. Ceritanya seru🗿👍

  24. masyaAllah Tabarakallah, sangat menarik namun alur cerita yang terlalu panjang mungkin membuat pembaca sedikit lebih bosan untuk membacanya, terus berkarya !

  25. Kesimpulan pada cerpen tersebut adalah setelah kita menebang pohon kita harus melakukan penanaman pohon kembali.

  26. Cerpennya menarik yang tidak membuat bosan bila dibaca, nilai kehidupannya pun ada, dan alur ceritanya bagus

  27. Ceritanya bagus pak 👍, banyak hikmah yang bisa diambil, untuk nalar mungkin bisa dirapikan sedikit lagi, semoga bisa membantu 😁

  28. Menurut saya , cerpen ini sangat menarik dan mengandung pesan – pesan didalam nya . Untuk pemahaman cerpen ini sangat bisa dipahami .

  29. tindakan terakhir yang dilakukan manusia tersebut sudah betul, mereka(manusia) harus sadar bahwa peran hutan bukan hanya untuk mereka(manusia) tapi juga untuk makhluk hidup lainnya.

  30. Ceritanya sangat menarik dengan membawa tema tentang binatang dan penebangan hutan dan juga jika menceritakan cerpen ini kepada anak anak pasti mereka tau betapa pentingnya untuk melindungi hutan dan penebangan hutan adalah kegiatan yang salah

  31. cerpennya bagus,mengangkat hewan sebagai subjek sangat membantu untuk mengasah imajinasi,pesan yang disampaikan tersampaikan dengan baik

  32. Dari cerita diatas dapat memberi motivasi kepada anak muda untuk selalu menjaga lingkungan, karena peran lingkungan yang sangat penting

  33. Ceritanya efektif, artinya ceritanya mudah ditangkap atau dipahami maksudnya oleh pembaca.

  34. Cerpennya tidak membosankan karena dapat membuat pembaca larut dalam suasana cerita serta banyak pelajaran dan makna yang dapat diambil didalamnya

  35. Ceritanya sangat bagus sehingga para pembaca bisa ikut terbawa akan suasana dan yang di ceritakan banyak pelajaran serta makna yang dapat diambil didalamnya

  36. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerpen ini dan cukup menginspirasi sekali, penggunaan bahasanya juga tidak membosankan👍🏼👍🏼

  37. Ceritanya menarik karena mencoba memberi kritik kepada perilaku manusia yg semena-mena merusak alam, tetapi penulis mengambil sudut pandang yg unik karena tokoh- tokoh dalam cerita berupa hewan yg fasih berbicara. Bagus sekali dan bermanfaat bagi edukasi anak-anak kecil untuk mencintai alam

  38. Cerpen fabel. maunya cerpen, namun dengan nuansa basis fabel. sasaran pembacanya siapa ? kalau anak-anak..kata-katanya agak berat. kalau untuk orang dewasa..oke. karena ini Walhi,,,jadi saya kira memang sasarannya orang dewasa.

  39. Cerpennya menarik, bahasa mudah untuk dipahami, dan banyak sekali pesan moral yang dapat diambil dari kisah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *