Cerpen #439 Budak di Tanah Sendiri

Pagiku indah, ditambah lagi dengan pemandangan danau toba yang persis di belakang rumahku. Seperti biasa aku harus marmahan horbo (menggembalakan kerbau). Tak lupa seruling peninggalan bapakku, saat rindu aku selalu memainkanya. Suaranya sangat indah, ditambah lagi hembusan angin sekitar danau toba, tiba-tiba tanganku terhenti. Terdengar suara riuh di depan kantor bupati pagi itu. Aku berlari, […]

Cerpen #438 Percakapan Terakhir di Tiga Musim Pandemi

Tahun 2135 Tokoh XDS: “Ini vaksin kedua puluh tujuh saya, sejak kemarin saya sampai susah tidur lantaran takut kehabisan vaksin lagi. Untung saja, hari ini semua berjalan lancar!” Tokoh GJZ: “Lain kali, kau harus pergi ke laboratorium kawanku saja. Kau tak perlu takut kehabisan, kau cukup membayarnya dengan crypto anjing-anjingan itu” Tokoh XDS: “Apakah kawanmu […]

Cerpen #437 Pohon Keluarga

Demam nenek masih tinggi. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya yang keriput. Aku memandang dengan iba bibir nenek yang menggigil. Utami, anak sulungnya, datang membawa sebaskom air kompres yang baru. Sejenak aku bersyukur masih ada anak nenek yang memilih merawat nenek dengan telaten dan sabar. Aku benci mendengar perdebatan yang terjadi ruang tengah. “Kita sudah […]

Cerpen #435 TV dan Bumi 100 Tahun Mendatang

“Gadis berusia 15 tahun asal Swedia bolos sekolah dan berdemo seorang diri di depan gedung parleman menyuarakan tuntutan perubahan iklim” kira-kira begitulah yang dikatakan oleh pembawa acara berita. Saat mendengar itu aku berdiri di depan tv cukup lama mendengarkan semua ucapannya dan mencerna keseluruhan isinya. “Lihat, hebat ya anak dengan usia segitu sudah masuk tv. […]

Cerpen #433 Diving Into the Future

Bali, 1972 “Bu, aku berangkat!” “Iya nak, pulang seperti biasa!” Aku mengangguk meskipun ibu tidak melihatnya. Dengan tergesa-gesa, aku mengambil sandal, berlari keluar dari rumah yang kecil nan nyaman ini. Saking semangatnya, sandal tadi hanya kutenteng tanpa memakainya karena aku lupa. Begitulah, ketika mengunjungi tempat ini, seakan-akan aku melupakan semuanya. Pantai Tulamben, tidak hanya berfungsi […]

Cerpen #432 Kita dan Masa Depan

Kita ketahui bersama, perubahan iklim dimuka bumi kian memanas dan semakin tidak terkendali setiap tahunnya. Hal ini tentu merupakan akibat dari adanya campur tangan manusia yang memanfaatkan ketersediaan alam secara berlebihan tanpa memikirkan dampak jangka panjang kedepan nya. Perubahan iklim ini memaksa kita untuk beradaptasi dengan perubahan pola dan gaya hidup di dunia. Tentu apa […]

Cerpen #431 Rerasa Piruk yang Menggertak

Di kesunyian malam, langit tampak begitu terang. Semilir angin menerjang dari segala arah tak terduga, banyak kunang-kunang melintasi beberapa jiwa menjadi penerang bagi yang hatinya sedang berkelana. Di sisi lain, di sebuah lorong yang gelap ada insan yang terjebak dalam sebuah permainan konyol seorang diri. Entahlah, siapa yang harus disalahkan karena dia sendiri bingung dengan […]

Cerpen #430 Enggang Tak Selalu Datang

Ada yang berbeda di hari ini. Pagi-pagi sekali Kaik bersenandung pelan dari balik jendela anyaman kamar. Kedua tumitnya nyaris tidak bisa dipakai berjalan sejak kemarin lusa. Seolah bersambut, seekor rangkong melintas di depannya. Ia sontak membelalak. “Burung enggang enda’ nya mati. Ranca’ merista di dalam hati. Namun hilang jangan ha’ hilang si burung enggang….” Tirai […]

Cerpen #429 Sekte Petani

Ketika masih ada saja sebagian warganya yang terlibat sekte petani, walikota 8th Dome City (Kota Kubah Kedelapan) menjadi resah. Ia tak mau dikatakan lambat mengatasi kelompok petani sesat yang kian mengancam kemajuan kota itu. “Kalau begini caranya,” geramnya, “bisa-bisa aku karirku berhenti sampai di sini. Dasar orang-orang primitif! Kurang apa aku menjamin kebutuhan mereka, ha?” […]