Cerpen #439 Budak di Tanah Sendiri

Pagiku indah, ditambah lagi dengan pemandangan danau toba yang persis di belakang rumahku. Seperti biasa aku harus marmahan horbo (menggembalakan kerbau). Tak lupa seruling peninggalan bapakku, saat rindu aku selalu memainkanya. Suaranya sangat indah, ditambah lagi hembusan angin sekitar danau toba, tiba-tiba tanganku terhenti.

Terdengar suara riuh di depan kantor bupati pagi itu. Aku berlari, melihat ribuaan massa demonstran mulai memadati tempat itu.

Ratusan aparat keamanan dikerahkan untuk mengamankan tempat itu. Aku mulai menerobos masa aksi waktu itu.

Kami ingin tanah kami dikembalikan, itu adalah tanah turun temurun dari nenek moyang kami“ seru perempuan tua pemegang toa itu. Suaranya sangat lantang, serta kepalan tangan kirinya yang menjulang tinggi kelangit.

Kampung itu adalah salah satu kampung di Sumatera Utara yang memiliki hutan. Sama seperti hutan lainnya. Hutan itu dulunya dipenuhi oleh berbagai macam jenis pohon, tumbuh-tumbuhan, hewan dan tanah kami penghasil kemeyan terbaik dunia.

Namun kini, tak ada lagi yang peduli dengan keindahan alam tersebut. Mereka malah merusaknya. Melakukan penebangan liar yang kemudian menjual kayu-kayu itu ke prusahaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka melakukan perampasan lahan milik kami. Mereka malah merusaknya. Melakukan penebangan liar menjual kayunya ke prusahaan, membakar hutan, serta  menjual tanah mereka ke orang asing itu.

Bahkan tidak sedikit dari mereka melakukan perburuan hewan. Bukankah semakin sering diburu mereka akan semakin cepat punah.

“Kita harus membangun kampung ini lebih baik agar tidak tertinggal dengan kampung-kampung yang lain. Jangan mau dicap sebagai orang yang kampungan! Itu memalukan!

Kita harus bangkit dan bersatu bersama-sama untuk membangun kampung kita ini menjadi sebuah kota besar.“

Tepuk tangan membahana terdengar di ruangan berukuran 15×30 meter itu. Sebuah tempat yang dinamakan sopo godang, yang digunakan sebagai tempat rapat dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Seperti peringatan pertemuan, acara pernikahan adat, diskusi dan hari-hari besar lainya.

Setelah suara riuh itu berakhir, tiba-tiba seseorang berdiri. Semua mata pun tertuju padanya. Lalu ia berujar, “apa yang akan kita lakukan dengan hutan kita itu Pak Kepala Desa? Bukankah ia akan menghasilkan banyak uang untuk kita?”

Pria yang disebut sebagai kepala Desa itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan lelaki yang baru menginjak dewasa itu.

“Pertanyaan bagus. Ok. Untuk semua warga kampung ini, maksimalkan semua potensi yang ada di sini. Untuk hutan kita, kalian tetap bebas melakukan hal yang sudah biasa dilakukan.”

Aku memandang mereka semua dengan keheranan. Bukankah seharusnya hutan itu dilindungi? Bukankah hutan yang menjadi paru-paru dunia ini? Kalau tidak ada hutan, maka banyaklah negara yang akan hancur. Ah… aku tidak habis pikir dengan tindakan dan cara pikir mereka. Namun mulutku belum mampu untuk berkata.

Oh ya, namaku Togar. Usiaku tujuh belas tahun. Harusnya kini aku duduk di bangku sekolah dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak diusiaku. Namun harapan dan keinginan tidaklah berjalan dengan mulus. Akan banyak didapatkan halangan dan rintangan. Hal itulah yang  mengharuskan kita untuk mengerti hidup ini.

Seminggu yang lalu, aku di ajak Tulang (saudara laki-laki dari ibu) kesini untuk bekerja di desanya atau yang dikenal dengan sebutan Pak Kepala Desa membawaku ke kampung ini. Namun karena ibu sudah tidak ada lagi, aku berinisiatif untuk bekerja di tempat Tulang. Sebab hanya Tulanglah saudara ibu satu-satunya.

Aku disambut dengan gembira oleh warga kampung, bahkan Nantulang, istri Tulang. Dia menganggapku sebagai anaknya, sebab hingga kini mereka belum juga dikaruniai anak.

Padahal usia pernikahan mereka sudah mencapai empat belas tahun. Tulang merupakan salah satu orang yang berpengaruh di desanya dan menghormati Tulang.

***

Tulang menyuruhku mulai ikut dengan anggotanya ke dalam hutan. Aku mulai berjalan ke arah hutan. Kulihat beberapa warga sedang asyik melakukan penebangan pohon. Aku tetap tidak bisa berkata apa-apa. Namun sejujurnya hatiku perih tatkala melihat pohon-pohon itu tumbang.

Aku berjalan terus sampai ke kedalaman hutan. Dan sampailah aku pada sebuah tempat yang membuatku tercengang. Oh… betapa tidak, ini sungguh indah, lebih tepatnya menawan. Hamparan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang sangat besar dan indah, yang tak pernah ku lihat sebelumnya.Udara disini sangat sejuk, pohon yang asri dan ditambah hamparan danau toba yang begitu indah, aku ingin selalu mengunjungi tempat ini.

Aku bahkan tidak tega untuk menginjakkan kakiku di atasnya. Kemudian kicauan burung tiba-tiba terdengar. Bersahut-sahutan. Begitu merdu. Lalu dedaunan melambai-lambaikan tangannya. Aku sangat terkesima. Senyum di sudut bibirku pun terus mengambang. Aku merasa mereka sedang menyambut kedatanganku.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Seseorang mengagetkanku. Aku berbalik ke arah datangnya suara itu. Seketika jantungku berdetak tidak menentu. Aliran darahku pun mungkin tidak berjalan sesuai semestinya. Perempuan yang sangat cantik.

“….” Aku tertegun. Perempuan itu menatapku dengan sorot matanya yang tajam.

“Kau juga ingin menghancurkan hutan ini? Dengar, tidak lama lagi kalian yang ada di kampung ini akan mendapatkan karma atsa ulah kalian. Satu persatu dari kalian akan mulai hancur dan miskin. Tuhan sudah menyediakan segalanya untuk kalian, tapi kenapa kalian malah menghancurkannya”

“Kau siapa berani mengatakan itu?” ucapku pelan. Namun nada khawatir tetap bersarang di tubuhku.

“Kalian telah menghancurkan hutanku!” perempuan itu membentakku. Namun dari matanya, aku dapat merasakan suatu kekecewaan serta kesedihan.

***

Malam itu Tulang kembali mengelar pertemuan. Dan wajahnya kali ini tampak begitu sumringah.

“Hutan kita akan dibeli oleh pengusaha asing. Dia hendak membangun perusahaan di sini dan berbagai hotel. Pokoknya dia bilang, dia akan mengubah kampung kita ini menjadi sebuah kota. Kita akan kaya. Sebentar lagi sebutan kampung akan menghilang….”

Suara tepuk tangan. Tertawa. Bahkan saling berpelukan. Aku terhenyak.  “Hentikan, Tulang! Kita tidak boleh menebang kayu hutan dan menjualnya. Dia berperan penting bagi kampung kita. Dialah sumber kekayaan kampung ini, penyedia air, penghasil oksigen, tempat flora dan fauna tumbuh, dan hutan itulah yang mencegah terjadinya pemanasan global. Kalau dijual, kita akan kehilangan itu semua, Tulang!”

“Kenapa sih segitu pengennya menjadikan kampung ini menjadi sebuah kota? Asal Tulang tahu, orang-orang di kota aja pengen tinggal dan hidup di kampung. Kampung kita kaya, Tulang. Dan kita tidak boleh menjual hutan itu! Kita harus melindunginya!”

Kurasakan beberapa pasang mata menatapku dengan kilatan emosi.

“Sudah untung kau kubawa ke sini. Dan sebagai balasannya kau malah menentang keputusanku? Harusnya kau duduk manis dan diam saja! Hah…. Kau anak tak tahu diuntung!”

Air mataku hendak tumpah. Kugigit bibir bagian bawahku agar itu tidak terjadi.

“Kalau hutan itu tidak dijaga, maka satu persatu dari warga ini akan mejadi buruh ditanah mereka sendiri.

Prusahaan tidak akan memberikan untung atau ganti rugi yang pntas seperti yang di katakan pada kalian. Mereka hanya memberikan janji, tidak akan ditepati. Jangan mau dibodohi dengan dalih kesejahtraan. Mereka tidak akan menepati hal itu. “ucapku”

Namun sayang, tidak sedikitpun perkataanku berpengaruh kepada mereka. Sebelum hutan itu dijual, mereka hendak menebang seluruh pohon. Dan mereka semakin bersemangat melakukan itu.

***

Aku berjalan dengan langkah terburu-buru. Aku hendak mencari lelaki beraroma daun itu. Beberapa kali aku terjerembab karena tersandung kayu. Pakaianku pun berubah menjadi lusuh. Tetapi itu tak menyusutkan semangatku untuk menemuinya. Kemudian aku berhasil menemukannya tepat di tempat pertama kali kami bertemu.

Dia sedang tertidur. Dengan langkah pelan, aku duduk di sampingnya. Namun kehadiranku membuat matanya sedikit demi sedikit terbuka. Aku kembali melihat kesedihan di dalam matanya. Bahkan lebih parah dari pertama kali kulihat. Hatiku menjadi tersayat.

Aku tahu dia ingin mengeluarkan kata-kata, namun air matanya mewakili isi hatinya itu.

Aku memeluknya, erat.

“Jangan nangis“.

Beberapa menit kemudian, senjapun tiba. Dan hutan itu habis digantian dengan hotel dan bangunan-bangunan elit untuk para wisatawan yang berkunjung ke danau toba.

Masyarakat semakin terasingkan dan menjadi budak ditanahnya sendiri, danau toba tercemar oleh limbah prusahaan, hotel dan hutan tempat mereka telah di rampas oleh orang asing itu.

Sekian..

One thought on “Cerpen #439 Budak di Tanah Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *