Cerpen #437 Pohon Keluarga

Demam nenek masih tinggi. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya yang keriput. Aku memandang dengan iba bibir nenek yang menggigil.

Utami, anak sulungnya, datang membawa sebaskom air kompres yang baru.

Sejenak aku bersyukur masih ada anak nenek yang memilih merawat nenek dengan telaten dan sabar. Aku benci mendengar perdebatan yang terjadi ruang tengah.

“Kita sudah tak punya kebun lain untuk menanam jati yang baru.” kata Hanto.

“Itu hanya kebiasaan ibu, kita harus membawa ibu ke dokter atau rumah sakit.” seloroh Ridwan.

Setelah meletakkan kompres ke dahi nenek, Utami keluar kamar dengan wajah merah.

“Kita jangan ribut di sini. Biarkan ibu istirahat. Kita telepon dokter saja.” tegur Utami, dengan kewibawaan seorang kakak tertua.

Untuk sementara, aku bersyukur pertengkaran sengit itu berakhir juga. Aku naik ke ranjang nenek lalu duduk di dekat kakinya yang berselimut hangat.

***

Tidak seperti orang pada umumnya, nenek punya kebiasaan yang unik untuk menandai kehidupan keluarganya. Dia menanam pohon jati di kebunnya yang berada di kaki bukit pegunungan kapur utara Tuban. Nenek melakukannya sejak menikah dengan kakek.

“Kami menandai awal tahun pernikahan kami di sini.” ungkap nenek suatu kali ketika kami jalan-jalan berdua di kebun kebanggaannya.

“Aku dan suamiku pengagum pohon jati. Dia dapat warisan tanah kebun di kaki bukit. Sebagai guru, kakek tidak berbakat jadi petani, tapi kami tak ingin menjual tanah itu. Ketika anak pertama kami lahir, Utami, aku dan suamiku mendapatkan mimpi yang sama yaitu menanam pohon jati. Sejak saat itu kami menanam pohon jati di sana setiap kelahiran anggota keluarga baru, sampai kami memiliki lima anak dan sepuluh cucu.” Nenek bercerita dengan bangga.

Aku mendengarkannya dengan seksama.

“Jalan-jalan ke sini membuatku bernostalgia dengan kenangan tentang almarhum suamiku. Aku bosan di rumah. Jalan-jalan seperti ini juga baik untuk kesehatanku.” jawab nenek ketika ditanya orang di jalan.

Kadangkala nenek menangis sendirian di kebun ini. Nenek kadang masih merasakan kehadiran suaminya lewat aroma daun jati, bilah reranting, sampai batu besar di tepi kebun tempat mereka biasa duduk bersama. Nenek bahkan telah menamai satu per satu pohon-pohon jati di sana sesuai dengan nama anggota keluarganya.

Jika kau lihat pohon jati paling besar di tengah kebun itu, maka aku tak perlu memberitahumu bahwa itu adalah pohon jati nenek yang bernama Rusmiati. Kenapa hanya ada satu pohon jati besar? Ada ingatan pedih yang begitu ingin diredam namun justru mendesak keluar hampir setiap saat ketika nenek bertandang ke kebun.

“Pohon kakek saat itu lebih besar dari pohon nenek. Entah kenapa bisa begitu. Suatu malam lima tahun yang lalu, kawanan pembalak menebang dan mencuri pohon itu. Kakek begitu sedih mengetahui pohon jati kebanggaannya raib begitu saja. Aku membujuknya untuk menanam jati yang baru namun dia menolak. Seminggu kemudian kakek jatuh sakit. Kanker lambung. Sebulan kemudian, kakek wafat.”

Nenek sering menceritakan kisah pilu itu hingga dia tak sanggup lagi menahan air matanya. Sebagai pendengar yang baik, aku tak pernah menyela. Kini sudah tiga hari nenek terbaring di ranjang karena demam. Dokter bilang nenek mengalami gejala tipus. Semua ini terjadi sejak nenek hendak menebang pohonnya sendiri.

Nenek melakukan itu karena Ninuk, putri bungsunya, melahirkan cucunya yang ketiga. Nenek pusing karena tidak menemukan lahan kosong di kebunnya untuk bayi perempuan yang masih merah itu. Ia bersikeras pohon keluarga harus lengkap sesuai dengan jumlah anggota keluarga.

Tiga hari setelah kelahiran sang cucu terakhir, nenek pergi ke kebun sambil menenteng kapak. Aku membuntutinya dengan cemas.

Lima kali nenek mengapak pohon jati besar itu sambil menangis. Nenek sempat terhenti karena lelah, tak lama kemudian dia pingsan. Aku mencoba membangunkannya dengan panik namun sia-sia.

***

Kelima anak nenek sudah berkumpul di ruang tamu malam itu untuk menyelesaikan masalah ini namun tetap saja menemui jalan buntu. Mereka trauma pada hal yang menimpa almarhum ayah mereka dulu jika mereka menebang pohon itu. Mereka selama ini memang menyepelekan pohon keluarga yang selalu dibanggakan Rusmiati. Mereka tak menyangka kelahiran cucu baru justru memicu masalah baru.

“Kita beli saja tanah di lain tempat. Kita tanam pohon jati yang baru di sana.” usul Ridwan.

“Ibu tak akan setuju. Pohon keluarga harus jadi satu.” sahut Hanto.

“Jadi salah satu dari kita harus berkorban?” tanya Ninuk.

“Kita harus menebang salah satu pohon itu. Tapi siapa di antara kita yang bersedia?” tanya Cipto bingung.

Utami mendesah pelan.

“Sebenarnya tadi pagi ibu sudah membicarakannya denganku. Ibu memaksa kita untuk menebang pohon jati paling besar, pohon ibu. Ibu tahu kita tak akan sanggup melakukannya, maka ibu mencoba menebang sendiri pohon itu tempo hari. Tapi akhirnya ibu malah jatuh sakit.” ungkap Utami.

“Jangan, Mbak. Aku masih belum sangup kehilangan ibu.” hardik Ninuk.

“Hush, hidup dan mati itu di tangan Allah. Kita semua tidak siap kehilangan siapa pun.” Ridwan menyela.

“Tapi kejadian ayah dulu,” Cipto memperingatkan.

“Itu hanya kebetulan. Kita tidak boleh syirik. Jika semua itu memang takdir, maka kita hanya bisa pasrah dan bersabar.” Hanto menengahi.

Aku duduk di pojok ruang tamu sambil menyaksikan perdebatan mereka yang kali ini berlangsung damai. Aku ingin sekali berbicara bahwa aku juga tak ingin pohon mana pun ditebang tetapi aku tahu diri.

“Aku akan meminta tukang kayu untuk menebang pohon itu dan menjual kayunya. Uang hasil penjualan akan kita pakai untuk biaya pengobatan ibu. Bagaimana?” Utami menyampaikan keputusan akhir.

“Sepakat.” Jawab ketiga saudaranya hampir serempak.

“Apa pun yang terjadi pada ibu, kita akan menghadapinya bersama. Ini adalah keputusan ibu untuk kita.” Utami mengakhiri debat malam itu dengan sedih.

Aku tak sanggup menahan air mataku. Aku segera masuk kamar dan berbaring di samping kaki nenek yang telah tertidur lelap.

***

Keesokan harinya terjadi kegemparan yang tak pernah diduga-duga. Pohon jati nenek telah raib dan koyak. Para pembalak liar telah kembali menebang dan mencuri pohon jati itu. Utami tak berani memberitahu ibunya. Dia hanya bilang bahwa pohon jati itu sudah ditebang sesuai kesepakatan. Saudara-saudarinya sepakat untuk merahasiakan ini dan tidak melaporkannya ke polisi. Ninuk juga sudah menyuruh suaminya untuk menanam pohon jati yang baru di sana.

Nenek tersenyum lega.

“Terima kasih anakku. Kini aku sudah lebih tenang. Aku siap pergi kapan pun.”

“Ibu jangan berbicara seperti itu. Kami akan merawat ibu sebaik-baiknya. Ibu harus kembali sehat.”

“Ya, anakku. Satu pesan ibu, kau harus menjaga kebun itu sampai kapan pun. Tiap satu pohon akan memberi kita daun untuk berteduh, akar untuk menyimpan air, dan udara sejuk untuk bernapas. Aku bahagia bisa mewariskan pohon-pohon itu untuk kalian kelak. Aku tak punya apa-apa lagi yang layak kuwariskan selain itu.”

Mata Utami dibanjiri mutiara kesedihan mendengar wasiat ibunya yang begitu menyentuh.

Sementara aku justru menatap Utami dengan penuh kebencian.

***

“Lakukan seperti lima tahun yang lalu.”

“Situasi aman kan?”

“Aku jamin pasti aman. Aku minta setengah harga dikirim ke rekeningku sebelum ditebang dan setengah lagi sesudah ditebang. Setuju?”

“Beres, aku akan transfer sekarang juga.”

“Ya, aku tunggu. Lakukan dengan cepat dan hati-hati,”

Perempuan paruhbaya itu menutup telepon dengan gugup. Ketika dia berbalik, matanya terbelalak begitu melihat tatapan tajamku. Dia mendesah lega sebentar lalu berjalan melewatiku begitu saja.

***

Di luar dugaan, nenek justru sembuh dari sakit. Nenek sudah bisa beraktivitas seperti biasa walau masih belum diperbolehkan dokter untuk berjalan jauh menengok kebunnya. Nenek kali ini malah harus merawat Utami yang terserang malaria. Dua anak Utami masih belum bisa pulang untuk merawat ibunya karena mereka kuliah di Surabaya.

Dengan telaten, nenek mengompres Utami yang masih demam tinggi. Aku benci melihat nenek masih berbuat baik pada anak pertamanya itu. Aku ingin sekali membongkar segalanya tapi di situasi seperti ini, nenek tidak akan mengacuhkanku.

Tengah malam, Utami mengigau. “Maafkan aku. Maaf, bapak. Maaf, ibu.”

Nenek terus mengompresnya dengan sabar.

Ketika siyuman, wajah Utami pias begitu menatap ketulusan berbinar di wajah ibunya.

“Ibu, maafkan a-aku.” kata Utami, dengan terbata dan buru-buru.

“Kenapa?”

“Aku sudah curang, Bu. Dulu aku yang mencuri pohon ayah. Kemarin aku juga mencuri pohon ibu. Aku menyuruh para pembalak itu untuk menebangnya, Bu. Aku memakai uang itu untuk menutupi utang bank. Jika tidak, maka rumah kami akan disita. Suamiku sudah pergi entah kemana dan meninggalkan utang atas namaku, Bu. Maafkan aku.” sesal Utami.

Sejenak nenek syok mendengarnya. Aku cukup lega pengakuan itu akhirnya keluar juga dari mulut licik Utami. Nenek meninggalkan Utami begitu saja. Hampir semalaman Utami dan nenek tak bisa tidur. Nenek duduk di ruang tamu rumah anaknya sambil menangis dalam diam. Aku mengusap-usap lengannya dengan lembut, berusaha menyalurkan ketegaran.

***

Tiga hari kemudian, Utami wafat. Menjelang saat terakhir, nenek masih sempat memaafkan putri sulungnya itu. Nenek juga meminta anak-anaknya untuk memaafkan perbuatan almarhumah Utami.

“Kakakmu memang salah, namun dia berjuang untuk keluarganya. Kalian harus bersyukur punya keluarga yang harmonis, berbeda dengan almarhumah Utami yang dicampakkan suaminya dengan utang yang menumpuk. Utami sebenarnya orang baik, hanya saja keadaan membuatnya terpaksa memilih cara yang salah.” ungkap nenek di hadapan ketiga anaknya setelah jenazah Utami dimakamkan.

“Ya, Bu, kami sudah memaafkan dan mengikhlaskannya…,” kata Hanto, mewakili adik-adiknya.

Kali ini, aku semakin kagum dengan ketegaran nenek yang begitu kokoh namun meneduhkan seperti pohon jati. Aku berjanji sepanjang sisa hidupku, aku akan terus menemani nenek. Walau aku hanya kucing warna cokelat yang tak akan mampu berbicara dengan manusia.

5 thoughts on “Cerpen #437 Pohon Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *