Cerpen #436 Nyanyian Pulau Besi

“Ibu, aku dengar tempat ini dulunya pernah menjadi tempat yang indah?” ujar Kale, seorang bocah berusia 10 tahun yang tengah memandang ke lautan luas berwarna kelabu. Tampak dari tempatnya berdiri, sebuah daratan kecil yang dikelilingi oleh lautan. Daratan itu tampak gersang dan hanya terlihat rumah-rumah kecil berdinding putih terbuat dari material daur ulang berjajar di lereng-lereng bukit.

“Benar. Itu 100 tahun lalu saat nenek Lou dari generasi ke-2 masih hidup,” ujar ibu Kale, seorang perempuan paruh baya kurus bermata kelabu yang juga tengah memandang lautan dengan mata sendu yang seolah telah menyaksikan banyak hal. Kondisi ibu Kale bisa dibilang sangat memprihatinkan dengan tubuh kurus kering dan hanya dibalut gaun usang berdebu. Usianya belumlah mencapai pertengahan 40 tahun, namun keriput yang nampak jelas ditambah dengan tulang wajah yang menonjol membuatnya tampak seperti sudah berusia 50-an.

“Sungguh masa yang sangat lama saat pohon, rumput, semak dan perkutut masih ada dan menyemarakkan dunia. Kale, pernahkah kau mendengar soal nyanyian pulau besi?” tanya ibu Kale. Kale pun menggelengkan kepalanya dan memandang ibunya dengan wajah penuh tanya. Ibu Kale menatap ke arah putranya dengan senyuman hangat. Kemudian ia kembali menatap laut lalu memejamkan mata dan menghirup nafas yang dalam. Ia seolah tengah mengingat sesuatu di sudut memorinya mengenai sesuatu yang sangat jauh tapi sangat dirindukan. Kemudian, sebuah alunan kata mulai mengalun dari mulutnya sambil ia tetap memejamkan mata.

Jauh di bawah langit biru dan mentari terik,

Jam waktu terus berdetik,

Orang berlalu dengan gesit,

Tenggelam dalam kehidupan sempit.

Inilah pulau besi yang mahsyur,

Di mana alam tergusur,

Makhluk-makhluk terusir,

Dan bangkai terbujur.

Dulu pohon berdiri dengan gagah,

Rumput menari dalam cahaya,

Burung bernyanyi dengan indah,

Dan alam memberi berkah melimpah.

Manusia adalah makhluk abu,

Di tangannya tergenggam takdir,

Menjadi pemelihara atau pemburu,

Manusia adalah pelakon alur.

Nurani telah mati,

Manusia menjadi buta dan dungu,

Melupakan alam, melupakan jati diri,

Tenggelam dalam ego dan semu.

Inilah pulau besi yang mahsyur,

Saat tiang besi tegak berdiri,

Tapi pohon jatuh terbujur,

Dan alam sadis dibantai.

Alam menolak kalah,

Ia mengambil yang telah diberikan,

Alam maju menerjang,

Menghukum para penjarah.

Perusak, pengecut lari,

Tapi tak bisa sembunyi,

Mengebara dalam sunyi,

Terhina batin dan diri.

Manusia yang tak berdaya,

Merayap naik dari kehancuran,

Menerima murka alam,

Akibat mereka diam.

Alam maha kasih,

Mengampuni yang memberi kebaikan,

Membebaskan manusia dengan kasih,

Membebaskan dari kesengsaraan.

Inilah pulau besi yang mahsyur,

Terkubur jauh dalam garis waktu,

Di bawah lautan yang saling membentur,

Dan menyimpan rahasia kelabu.

Setalah kata terakhir diucapkan, ibu Kale lalu terdiam dan kembali menatap lautan itu. Pandangan matanya menjadi makin sayu dan makin sendu. Ia menghembuskan nafas seolah melepaskan beban berat tak terlihat dari dirinya dan berkata, “ingatlah, Kale. Alam memang diam, tapi mereka selalu mengawasi dan menyimpan kekuatan. Bagi alam, menjugkirbalikkan manusia bukanlah masalah sulit, tapi bagi manusia mengembalikan alam seperti semula hampir seperti kemustahilan jika tanpa dukungan banyak orang.”

“Ibu, apakah Pulau Besi dalam nyanyian ibu memang nyata?” tanya Kale.

“Tentu saja. Memangnya kau pikir ibumu ini hanya berkhayal saja? Itu adalah kisah nyata, nak. Benar-benar kejadian di masa lalu yang lama,” ujar ibu Kale. Lalu Kale terdiam dan nampak sedang berpikir. Tak lama, Kale mengeluarkan sebuah pertanyaan, “tempat yang ibu ceritakan tampak tidak nyata. Apa itu pohon, rumput dan burung? Aku tidak pernah melihatnya.”

Ibu Kale terdiam, sedikit terkejut dengan pertanyaan putranya yang mendadak, “ibu juga tidak pernah melihatnya. Mereka adalah beberapa makhluk hidup dari banyak makhluk hidup lain. Berkah alam untuk manusia. Ibu tidak tau seperti apa wujud mereka, tapi nenek pernah menceritakan cirinya, biar ibu ingat sebentar.”

Setelah berujar demikian, ibu Kale kembali memejamkan mata sambil sedikit menundukkan kepala, ia sedang berpikir cara sederhana untuk mendeskripsikan benda-benda tersebut berdasarkan cerita neneknya, “pohon adalah pengamat dan saksi bisu kehidupan manusia. Tubuhnya keras karena ia dilapisi kulit tebal, kasar dan berkerut. Tubuhnya bisa tinggi tegap, atauun tinggi besar dengan garis cabang yang menjalar ke berbagai arah. Ah, ada juga yang kecil dan berbonggol-bonggol. Ada bagian tubuh yang bernama daun, bisa bermacam warna, tapi kebanyakan berwarna hijau. Bentuknya juga beragam, ada yang lonjong, bulat, seperti jarum, ramping hingga bergelombang. Pohon ditopang akar yang kuat. Akar menjalar seperti jalinan kabel yang banyak dan kuat. Ya, itulah deskripsi pohon yang ibu ingat,” ujar ibu Kale berusaha menjelaskan sesederhana mungkin namun berusaha cukup detail.

“Lalu, bu, bagaimana dengan rumput dan burung?” tanya Kale dengan raut wajah ingin tahu. Ibu Kale tersenyum lebar mendapati anaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang begitu besar, “sederhanya, rumput hampir mirip seperti daun yang langsung tumbuh dari dalam tanah. Rumput kebanyakan berwarna hijau dengan bentuk daun runcing dan ramping. Lalu, burung merupakan makhluk yang bisa terbang karena sayap, kau tahu kan, yang mirip sayap pesawat kakek Condor? Tubuh burung ada yang berbulu lebat ada juga yang tidak. Ia memiliki paruh tajam seperti moncong pesawat yang bisa dibuka tutup. Burung sangat banyak macamnya, mungkin jika kamu sudah diijinkan mengunjungi ruang arsip, kamu akan menemukan banyak hal soal makhluk-makhluk Pulau Besi. Ah, tapi itu nanti saat kamu berusia 12 tahun. Nah, sebelum itu, kamu harus bisa lancar membaca dan menulis, ya.”

“Ibu, aku masih ingin tahu. Dalam nyanyian itu, langit disebutkan berwarna biru, kan? Tapi kenapa langit di tempat kita berwarna jingga? Baik siang ataupun malam tidak ada bedanya. Kenapa bisa begitu, ya?” tanya Kale sambil menunjuk ke arah langit jingga temaram di atasnya.

“Ah, itu karena manusia Pulau Besi terlalu banyak mencemari udara dengan asap dan sisa pembakaran energi, nak. Dengarkan ibu, menurutmu, bagaimana kita bisa memperoleh bahan untuk membangun rumah dan bangunan lain di area ini? Itu karena manusia Pulau Besi yang menciptakannya, alam yang membawanya pada kita sebagai bahan untuk membangun kehidupan.”

“Apa menurut ibu, kita bisa berkunjug ke sisa-sisa Pulau Besi? Aku ingin melihat tiang-tiang besi yang berdiri dengan kokoh.” Seraya Kale berkata demikian, ibunya hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala, bisikan halus keluar dari mulutnya, namun terhapus oleh suara deru angin.

“Untuk apa berkunjung ke tempat itu, nak. Kau sudah berdiri di atasnya.” Tiba-tiba terdengar suara berat laki-laki yang terdengar di belakang Kale dan ibunya. Lelaki itu merupakan lelaki paruh baya dengan jenggot abu-abu menggantung dari bawah dagunya hingga ke dada. Lelaki itu adalah pemimpin kelompok tempat Kale dan ibunya tinggal. Tubuhnya tegap dan sorot matanya sangat tajam. Usia tak memengaruhi penampilannya secara signifikan, tetapi usia jelas menggerogoti semangat dan harapannya hingga ia harus bertopang pada sebuah tongkat panjang sebagai sandaran langkahnya yang mulai gontai.

“Halo, paman Atlas! Ibu bercerita menganai Pulau Besi dan aku ingin sekali berkunjung ke sana, hanya untuk melihat-lihat sisa peninggalan manusia terdahulu,” ujar Kale denga riang.

Lelaki yang dipanggil paman Atlas itu hanya tersenyum tipis lalu berjalan dengan tongkatnya. Ia berjalan mendekat ke arah Kale dan mendekati tepian tebing yang menjorok ke arah laut tempat mereka bertiga berdiri saat ini, “kakek ku pernah menceritakan sebuah kisah padaku. Pada masa yang sangat jauh sekali, kehidupan manusia bermula. Dari kehidupan primitif berburu dan mengumpulkan makanan hingga kemampuan menembus langit dan menjelajah angkasa. Namun, sekitar 100 tahun lalu situasi mulai tidak terkendali. Pencemaran terjadi di mana-mana, suhu bumi naik drastis dan banyak hutan dan makhluk hidup lain dihabisi, termasuk manusia yang berperang melawan sesama manusia demi memperebutkan wilayah, sumber pangan dan air bersih. Bumi yang semula teratur menjadi kacau balau seperti neraka. Mereka, para pengkhianat dan perusak, yang memiliki kuasa dan uang melarikan diri dan tinggal di angkasa sana tanpa rasa bersalah tapi membawa noda hitam kutukan alam dalam dirinya. Sementara yang tersisa, harus berjuang bertahan hidup menghadapi hukuman alam. Kembali menjadi manusia primitif dalam ketidakberdayaan.” Paman Atlas mengucapkan kalimat terakhir dengan nada berat dan penuh penekanan.

“Nenek moyang kita berjuang melawan waktu sebelum keadaan makin tak terkendali, mereka berupaya membangun upaya pertahanan dan perlindungan diri dari murka alam, penyakit dan kelaparan. Mereka membangun beberapa pusat pengembangan untuk melindungi umat manusia yang tersisa dan berpacu dengan waktu. Mereka berhasil, bagaimanapun juga. Salah satu buktinya adalah Gedung Besar milik kelompok kita di puncak bukit itu. Oh ya, kau berkata ingin mengunjungi Pulau Besi, kan? Nah, kau sedang berdiri di atas tempat yang dulunya merupakan puncak gunung tertinggi di Pulau Besi. Siapa sangka, air laut naik tinggi sekali, ya?” ujar paman Atlas sambil menyeringai ke Kale.

“Jika kau ingin melihat sisa tiang-tiang besi yang masih menjulang gagah, kau bisa pergi berlayar ke arah barat selama 7 hari dan kau akan melihat gugusan tiang besi yang menjulang dari dalam laut. Itulah Kubur Besi yang dulunya merupakan bangunan-bangunan megah manusia Pulau Besi dan akan semakin banyak ke arah barat jauh, tempat kelompok Ketua Helio berada. Sangat disayangkan kita hidup dalam keadaan begini karena kita sedang dalam masa hukuman. Nak, tetaplah ingat kisah manusia Pulau Besi dan jadikanlah itu sebagai pengingat!” dengan pesan terakhir yang diucapkannya, paman Atlas pun berbalik dan perlahan berjalan menuruni jalanan tebing.

Kale yang terus melihat ke arah paman Atlas hingga sosoknya hilang dari pandangan segera beralih menatap ibunya yang sedari tadi tetap diam menatap arah laut sambil memejamkan mata, “ibu, kenapa ibu selalu menutup mata saat ada paman Atlas?” tanya Kale.

“Karena paman Atlas sangatlah menyilaukan. Tongkatnya membuat pengelihatan ibu terganggu,” jawab ibu Kale dengan suara lembut.

“Bagaimana bisa? Ibu kan tidak bisa melihat, bagaiana bisa merasa silau?”

Ibu Kale hanya tersenyum dan berkata, “langit menyimpan kisah, begitu pula manusia. Kau akan tahu nanti. Kau tahu jika ibu tidak buta total dan hanya bisa melihat samar-samar. Tapi tubuh ibu bereaksi pada bahan tongkat paman Atlas, terlebih saat ibu membuka mata. Rasanya sangat panas dan terang. Membuat ibu merasa pusing dan tidak enak badan jika terlalu lama berdekatan dengannya. Itu adalah bentuk hukuman alam, para ilmuan Gedung Besar menyebutnya kelainan genetik. Sama halnya yang terjadi dengan nenek yang terlahir dengan organ tidak normal dan dirimu dengan bola mata hitam legam. Ibu bersyukur kalau kau tidak mengalami gangguan fungsi organ tubuh seperti ibu atau nenek, nak.”

Keheningan hadir di antara mereka berdua, langit jingga menjadi semakin gelap dan angin berdebu menjadi semakin kencang berhembus. Ibu Kale akhirnya memutuskan sudah waktunya pulang dan meminta Kale menuntun jalan ke arah rumah mereka. Dalam perjalanan mereka, Kale kembali bertanya, “ibu, sebenarnya Pulau Besi itu sebesar apa? Kenapa sepertinya kehidupan mereka hebat sekali?”

Ibu tidak langsung menjawab dan berbalik bertanya, “menurtmu, seberapa besar dunia ini terlepas dari luasnya lautan? Hanya bagian yang bisa dihuni manusia saja?”

Kale memiringkan kepala dan memikirkannya sejenak, “melihat peta yang pernah diajarkan, terdapat 10 pulau besar yang dihuni kelompok-kelompok manusia. Aku rasa ukurannya tidak terlalu besar, bu.”

“Hm-Hm.” ibu Kale menggelengkan kepalanya, “nak, Pulau Besi ukurannya beratus-ratus kali lipat lebih besar dari 10 pulau besar yang dihuni manusia saat ini. Pulau Besi sangat sangat besar hingga kau membutuhkan beberapa tahun untuk mengelilingnya dari ujung ke ujung. Kau bisa bayangkan bangunan-bangunan besar seperti Gedung Besar terdapat banyak di sana serta bangunan-bangunan tinggi melebihi bukit di sini ada banyak berjejer dan manusia penghuninya sangatlah banyak hingga kesepuluh pulau besar tidak mampu menampungnya. Pulau Besi sangatlah besar, nak. Lebih besar dari apapun di atas daratan kesepuluh pulau besar.”

“Dan itu semua tenggelam di dasar lautan. Sungguh mengenaskan nasib manusia Pulau Besi,” ujar Kale menyayangkan.

“Dahulu, ada sebuah daratan yang dipenuhi es beku yang sangat dingin. Seiring meningkatnya suhu bumi es-es di daratan luas itu mencair dan akhirnya menenggelamkan bumi di bawahnya. Tapi, nak, tahukah kamu ada sebuah bait kuno soal Pulau Besi?” ujar ibu Kale.

Kale hanya memandang ibunya dengan wajah penuh tanya. Lalu ibu Kale pun menjawab, “Pulau Besi adalah segalanya yang kita miliki.”

Mendengar itu, Kale spontan menjawab, “sayang sekali. Pulau Besi kini hanya tersisa sedikit, tapi itulah segalanya yang kita miliki. Meskipun makanan di sini bentuk dan rasanya aneh, dan air hasil penyulingan yang terasa sama anehnya, meskipun kita hidup hanya dari sisa-sisa masa lalu, itulah segalanya yang kita miliki. Segala yang kita miliki harus dijaga dengan baik hingga ke kepingan terkecilnya!”

Kedua ibu dan anak tersebut pun melanjutkan perjalanan mereka dalam kontemplasi diri mereka sendiri hingga akhir perjalanan pulang mereka. Ditemani temaram langit sore dan suara deburan ombak serta hembusan angin berdebu yang terasa dingin, mereka menyimpan segala yang telah mereka alami hari ini dalam kenangan dan pikiran terdalam mereka. Menjadikan hal itu sebagai pengingat akan nasib umat manusia yang telah berlalu dan penanda bagi masa depan mereka di tempat yang menjadi harta benda seumur hidup bagi diri mereka itu.

SELESAI –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *