Cerpen #435 TV dan Bumi 100 Tahun Mendatang

“Gadis berusia 15 tahun asal Swedia bolos sekolah dan berdemo seorang diri di depan gedung parleman menyuarakan tuntutan perubahan iklim” kira-kira begitulah yang dikatakan oleh pembawa acara berita. Saat mendengar itu aku berdiri di depan tv cukup lama mendengarkan semua ucapannya dan mencerna keseluruhan isinya.

“Lihat, hebat ya anak dengan usia segitu sudah masuk tv. Kamu kapan le bisa masuk tv?” tanya ibu yang tiba-tiba saja muncul di sebelahku sambil mengaduk kopi hitam panas yang akan disajikan untuk bapak.

Lagi-lagi ibu membandingkanku dengan orang lain. Jujur saja kali ini sedikit lebih menyebalkan karena sekarang yang ia bandingkan bukan hanya dengan Amel anak tetangga sebelah rumah, kali ini ia membandingkanku dengan anak nun jauh di ujung dunia sana.

“Kalau sekedar masuk tv penjahat pun masuk tv bu” jawabku

“Kamu, ibu bertanya begitu saja sudah naik darahnya”

Bapak yang sedang berada di meja makan pun ternyata mendengarkan dan tak ingin ketinggalan “Halah, anak kecil tahu apa, bukannya sekolah saja yang benar malah demo-demo” sahutnya sambil membolak-balikan koran. Cck, lagi-lagi yang disoritinya hanya itu, perihal kecil dan besar, anak-anak dan orang dewasa.

Dipertengahan suasana macam itu datang temanku menjemput. Terdengar suaranya memanggil-manggil namaku dari luar sana, itu Vindy. Ia bertubuh tinggi dan kurus, memakai kacamata dan berbehel, di bawah hidungnya terdapat kumis tipis dan dikepalanya ditumbuhi rambut ikal yang panjang. Vindy selalu berangkat sekolah bersamaku selain karena rumahnya tak jauh dariku kebetulan kami pun duduk di kelas yang sama. Mendengar suaranya itu aku pun berpamit dan bergegas keluar secepatnya meninggalkan mereka berdua mengoceh perihal anak berdemo menuntut perubahan iklim

Pagi itu tak seperti biasanya, jalan menuju sekolah macet luar biasa, penuh sesak kendaraan roda dua dan empat. Banyak penumpang ojek dan angkutan umum lainnya turun dan  memilih untuk berjalan. Kupikir terdapat kecelakaan yang membikin macet begini ternyata dugaanku salah, ada pembangunan jalan dan jembatan. Beberapa tahun belakangan pemerintah memang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan. Apalagi  dikatakan bahwa bagaimanapun pembangunan harus tetap berjalan. Jadi, itu tak terlalu mengherankan bagiku

Karena pembangunan itu kami dipaksa melalui jalan memutar yang sempit yang hanya dapat dilalui sebagaian jalan secara bergantian dari kedua arah, Sial betul, kami mungkin akan terlambat jika begini jadinya. Dan benar saja kami terlambat. Beruntung saat itu gerbang belum ditutup dan dikunci tetapi beberapa guru sudah berjaga dan siap siaga menghukum dan mencatat nama kami dan siswa lainnya yang terlambat.

Dibariskanlah kami olehnya, dicatat nama kami satu persatu dan dihukumnya membersihkan sekolah. Kami dihukum memungut sampah-sampah di area sekolah dan memilah-milahnya, menbersihkan toilet sekolah, dan membersihkan mushola termasuk tempat wudhu di dalamnya. Sungguh pagi yang menyebalkan.

Setelah selesai menjalani hukuman dibolehkannya kami menuju kelas dan mengikuti pelajaran. Hari itu sekolah berjalan seperti hari-hari biasa kecuali obrolan yang dibicarakan oleh beberapa teman mengenai ibu kota yang akan tenggelam. Katanya dalam beberapa puluh tahun lagi ibu kota akan tenggelam. Mereka membayangkan bahwa ketika sudah menjad bapak atau ibu atau bahkan seorang kakek dan nenek harus menghadapi bencana macam itu.

Saat pulang sekolah aku tak pulang bersama dengan Vindy dan berencana untuk berjalan kaki saja. Ia ada janji dengan adik tingkat bernama Muti untuk pergi ke Pasar Senen, membeli buku bekas dan pakaian bekas. Muti tidak terlalu tinggi tetapi tak pendek pula, matanya sedikit sipit tetapi pipinya gembil, berambut pendek sebahu dan memiliki tahi lalat di hidungnya. Vindy mulai menyukainya saat ospek dulu dan berencana untuk menyatakan perasaannya hari ini. Itu dikatakannya saat jam Istirahat, tentu sebagai teman aku berharap yang terbaik untuknya, aku juga berpesan bagaimana pun akhirnya nanti, diterima cintanya atau tidak, tak peduli sedingin apapun musim dingin, sepanas apapun musim panas, musim semi akan selalu datang.

Baru beberapa langkah melewati gerbang sekolah ditawarinya aku tumpangan oleh beberapa teman karena memang mereka sejalan denganku. Mereka semua membawa motor dan banyak yang tidak berboncengan.

“Ge, butuh tumpangan? Rio kosong, Afdhol dan Bob pun” Ucap Daffa

“Tak usah, tak apa, aku sedang ingin berjalan”

“Kalau begitu hati-hati di jalan”

Kuanggukan kepala dan mereka pun pergi meninggalkan aku dengan sepeda motornya. Perjalanan dari sekolah ke rumahku tak terlalu jauh, hanya memakan sekitar 20-30 menit. Selain itu pun aku jadi memiliki waktu untuk mengobrol dengan isi kepalaku

Belum setengah perjalanan menuju rumah aku bertemu Sobir, seniorku dari SISPALA (Siswa Pecinta Alam). Ia bertubuh pendek dengan badan buntal, rambutnya sedikit kriting, berkacamata, dan ada tahi lalat dikelopak matanya. Saat mendengarkan orang bicara kepalanya tanpa sadar akan miring ke kanan diikuti tatapan tajam. Sebab kebiasaan yang ia tidak sadari itu saat sekolah dulu banyak senior yang kesal padanya dan hampir memukulinya. Katanya itu terlihat menjengkelkan

“Bagaimana kabar? tanyanya

“Aku baik, kau sendiri, bagaimana denganmu dan dunia perkuliahan?

“Aku baik, kuliah pun lancar”

Sobir sekarang merupakan mahasiswa pendidkan anak berkebutuan khusus, sebelumnya ia adalah mahasiswa pendidikan bahasa arab tetapi tak kerasan jadi diputuskanlah olehnya untuk pindah jurusan

“Apa kau melihat berita pagi ini? Greta Thunberg?” tanyaku

Ini pertanyaan yang sedikit aneh memang jika bertemu seorang teman tetapi tidak dengan Sobir, lagi pula hanya itu yang ada di kepalaku saat perjalanan pulang higga bertemu dengannya.

“Oh ya, tentu, aku melihatnya, anak yang luar biasa, Jika membicarakannya aku teringan dengan lagu Iwan Fals.”

Iwan Fals?” tanyaku bingung

Aku tentu mengetahui siapa Iwan Fals tetapi mengenai hubungan antara keduanya aku sungguh tak mengerti. Mengapa ia bisa tiba-tiba menjadi teringat dengan lagu dari Iwan Fals

“Si Budi kecil kuyup menggigil, menahan dingin tanpa jas hujan” nyanyinya

“Jika saja Budi tau bahwa hujan telah menjadi asam” sahutnya

“Di simpang jalan tugu Pancoran, Tunggu pembeli jajakan koran” lanjutnya bernyanyi

“Kuharap Budi membaca koran yang ia jual, Isinya mungkin lebih banyak mengenai perubahan iklim dan pengerusakan lingkungan,”

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurnya” sambungnya

“Gretha seperti Budi, ia benar-benar berkelahi dengan waktu, perihal lingkungan hanya perihal waktu saja, Jika tak segera diselesaikan segera kita hanya menunggu alam membalas dendamnya meluluh lantahkan kita.” Tambah sobir

Kami berbicara tentang Greta dan perubahan iklim cukup lama, kakiku bahkan sampi pegal berdiri. Rasanya seperti upacara senin pagi tetapi perbedaannya aku tak bosan dan mengantuk mendengarkan apa yang dia katakan. Setelah pembicaraan yang mengasikkan itu tiba-tiba diajaknya aku olehnya ke suatu tempat. “Aku jadi ingin mengajakmu ke suatu tempat, ayo ikut aku” ajaknya

Tanpa berpikir panjang aku iyakan toh tak ada tugas hari itu dan aku memang cukup senggang pula.

Perjalanan itu memakan waktu yang cukup lama melewati banyak ruas jalan dan berbelok-belok, aku sampai tak ingat sudah berapa tikungan yang sudah dilewati, dibawa kemana pun aku tak tau, ini daerah yang sama sekali tak pernah aku lalui. Setelah perjalanan yang cukup lama itu Sobir menghentikan laju motornya, berhenti di depan gapura besar yang bertuliskan “Selamat datang”

“Inilah, tempatnya. Dulu orang-orang sering menyebut tempat ini sebagai miniatur Lingkungan Hidup Indonesia, akan aku ajak kau berkeliling” ucap Sobir

Kami kembali melaju melewati gapura tersebut dan masuk ke dalamnnya. Jalannya rusak, dibenuhi batu-batu krikil dan berdebu, Di sepanjang jalan perkampungan ini aku tak melihat apapun yang menyegarkan mata, aku tidak melihat sawah, pohonan dan tanaman hijau lainnya yang kulihat hanyalah pabrik-pabrik yang mengeluarkan asap hitam pekat diatasnya, berjejer seperti dagangan toko. Sobir selalu mengangkat tanganya dan mengarahkannya ke cerobong pabrik-pabrik itu seraya berkata “Ge, lihat!” diikuti dengan tawa kecil ironi. Miniatur Lingkungan Hidup apanya, ini lebih mirip neraka bagiku. Sungguh perkampungan yang panas, kering, dan tandus.

“Jika terus begini, bagiamana bumi 100 tahun ke depan?” tanyaku

“100 tahun kedepan? Entahlah, tetapi jika berkaca pada keadaan saat ini aku cukup optimis dalam seratus tahun alam akan kembali hijau, polusi pun berkurang drastis, semua akan kembali seperti semula”

“Kau sungguh orang yang optimis ya” balasku

“Tentu” ucapnya sambil menyinggungkan senyum

“50 Tahun pertama kita akan mati karena perubahan iklim, dan 50 tahun kedua dengan tidak adanya manusia alam menyembuhkan lukanya sendiri dan kembali seperti sedia kala” tambahnya

Mendengar jawabannya aku terdiam mematung, bukan karena aku tak bisa berkata-kata tetapi ucapannya telah masuk ke kepalaku, ke pernafasanku, dan ke jantungku secara bersamaan. Kurasakan aliran darahku berhenti, tak bisa mengalir seperti biasanya dihalangi oleh kata-katanya itu.

Setelah puas berkeliling melihat apa yang dulu disebut sebagai “Miniatur Lingkungan Hidup Indonesia” diantarkannya aku pulang olehnya. Di perjalanan kami tak banyak bicara, jujur saja karena pembicaraan di sekolah mengenai ibukota yang akan tenggelam ditambah dengan perkataan Sobir tadi aku jadi semakin sibuk dengan pikiranku sendiri. Bagaimana jika benar apa yang dikatakan oleh mereka. Saat itu mungkin aku sudah menjadi seorang kakek-kakek, tetapi nanti bagaimana nasib anak-anaku atau bahkan cucu-cucuku yang masih kecil.

Jika aku membicarakan ini dengan bapak mungkin aku sudah tau tanggapannya “Ah anak kecil sepertimu tak usahlah terlalu memikirkan nasib anak, dan memikirkan nasib cucu, terlalu jauh, saat ini belajar sajalah yang benar, agar kamu bisa jadi orang nantinya”

Menyebalkan, ia selalu saja berkata anak kecil tak usah ini, tak usah itu, lebih baik belajar yang benar agar menjadi orang. Omong kosong itu saja yang selalu ia katakan.

Saat kembali kutemukan ibu sedang marah-marah perihal belanjaannya

“Kenapa bu? tanyaku

“Lihat masa ibu belanja sebanyak ini tidak diberikan kantong plastik, udah gila orang-orang zaman sekarang” jawab ibu sambil memeluk semua barang belanjaannya

“Haduh…, kirain apa” Jawabku sambil berjalan meninggalkannya yang sibuk belanjaannya.

Sedangkan bapak saat itu sedang asyik menonton berita di ruang tamu. Bapak memang tak menonton acara-acara lain di tv selain berita, terkadang di tv lebih banyak sampah dari pada di pembuangan sekali pun. Banyak acara yang kurang mendidik, acara setinggan, acara lawak yang tidak lucu sampai panggung bagi pedofilia. Ya.. tetapi mau bagaimana lagi orang-orang di Lembaga Penyiaran pun juga bermasalah. Apa yang mau diharapkan dari itu.

Saat itu salah satu channel memberitakan mengenai preseiden “Presiden menyampaikan komitmennya dalam penanganan perubahan Iklim di COP26, berikut cuplikannya” begitulah kata pembawa acara berita

“Lagi lagi mengenai perubahan iklim” gumamku dalam hati.

Aku mendengarkan untuk beberapa saat namun tak berselang lama tiba tiba badanku terasa tidak enak, perutku pun terasa mual dan ingin muntah. Entahlah, aku tak mengerti mengapa tiba-tiba begini. Kutinggalkanlah pemberitaan di tv itu yang belum selesai dan pergi bergegas ke kamar mandi untuk muntah.

“Anakmu kenapa?” Tanya ibu pada bapak

“Yo, ndak tau, tanya ko tanya bapak” Jawab bapak

“Kamu tuh apa-apa gak tau”

Ibu menghampiriku ke kamar mandi dan menannyakan apa aku baik-baik saja. kukatakan aku baik-baik saja mungkin salah makan. Maka ditinggalkannya aku olehnya seraya berpesan untuk meminum obat.

Selepas muntah aku merasa lebih baik. Kuputuskan untuk mandi air hangat dan kemudian bergegas tidur. Kupejamkan mata dan mencoba tidur tetapi tak kunjung bisa. Aku justru gelisah tak menentu dan kepalaku berisik sekali mengulangi perkataannya.

“50 Tahun pertama kita akan mati karena perubahan iklim, dan 50 tahun kedua dengan tidak adanya manusia alam menyembuhkan lukanya sendiri dan kembali seperti sediakala”

“50 Tahun pertama kita akan mati karena perubahan iklim, dan 50 tahun kedua dengan tidak adanya manusia alam menyembuhkan lukanya sendiri dan kembali seperti sediakala”

“50 Tahun pertama kita akan mati karena perubahan iklim, dan 50 tahun kedua dengan tidak adanya manusia alam menyembuhkan lukanya sendiri dan kembali seperti sediakala”

“50 Tahun pertama kita akan mati karena perubahan iklim, dan 50 tahun kedua dengan tidak adanya manusia alam menyembuhkan lukanya sendiri dan kembali seperti sediakala”

“50 Tahun pertama kita akan mati karena perubahan iklim, dan 50 tahun kedua dengan tidak adanya manusia alam menyembuhkan lukanya sendiri dan kembali seperti sediakala”

One thought on “Cerpen #435 TV dan Bumi 100 Tahun Mendatang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *