Cerpen #433 Diving Into the Future

Bali, 1972

“Bu, aku berangkat!”

“Iya nak, pulang seperti biasa!”

Aku mengangguk meskipun ibu tidak melihatnya. Dengan tergesa-gesa, aku mengambil sandal, berlari keluar dari rumah yang kecil nan nyaman ini. Saking semangatnya, sandal tadi hanya kutenteng tanpa memakainya karena aku lupa. Begitulah, ketika mengunjungi tempat ini, seakan-akan aku melupakan semuanya.

Pantai Tulamben, tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata tetapi juga rumah bagi para biota laut. Ketika orang-orang mengunjungi tempat indah ini untuk sekadar berjemur dan mengambil foto, aku pergi ke tempat ini untuk terjun, menyelami dasar laut yang sangat indah dan sia-sia jika tidak dilihat. Mungkin, pemerintah harus membuat tempat ini sebagai wisata untuk menyelam juga, tidak semata-mata untuk dilihat bagian daratnya saja.

“Gayatri!” aku menoleh ketika sebuah suara masuk ke telingaku, senyumku mengembang saat melihat sosok yang menyebutnya.

“Bara! Kamu benar-benar teman terbaik aku!” aku menepuk pundaknya begitu ia ada sampai.

“Iya dong! Daripada alat menyelam ini nggak pernah dipake, mending aku pinjemin ke kamu sama Sita. Jadi, kita bisa menyelam bareng, deh!”

Yap, kebahagiaanku bisa datang dari hal kecil sekadar memanfaatkan alat menyelam yang kupinjam. Di tempatku, alat menyelam sangatlah mahal harganya. Selama ini, aku menyelam hanya dengan pakaian yang melekat padaku, karenanya aku tidak berani untuk menyelam hingga ke dasar laut yang lebih dalam. Sejauh ini, aku menyelam setidaknya 30 kaki dari permukaan laut, menikmati terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang menjadi penghuni tetap di situ. Itupun aku tidak bisa menikmatinya secara keseluruhan karena kandungan air laut yang bisa membuat mataku perih jika ceroboh.

Hanya orang kaya seperti keluarga Bara yang mampu untuk membeli alat semacam itu di wilayah kampungku. Berbeda dengan orangtuaku yang pastinya memprioritaskan pendidikanku hingga aku bisa bersekolah sampai universitas. Dan aku paham akan itu. Aku tidak ingin memaksa mereka. Meminjam dari Bara saja sudah membuatku bahagia.

“Sita di mana, ya?” gumam Bara, menengok sekitarnya untuk mencari sosok gadis seusiaku itu. Selain aku, Sita juga suka menyelam, tetapi tidak sesering Bara bahkan aku yang menjadikan menyelam sebagai hobi. Jadi, jika diurutkan, Sita ada di urutan ketiga, Bara kedua, dan aku ada di urutan pertama. Tetapi, rasa cinta kami terhadap pantai Tulamben tidak ada bedanya, bahkan kami berjanji untuk terus menjaga pantai ini dari marabahaya.

“Selamat pagi kawan-kawanku!”

“Nah, panjang umur.” ledekku, memandang Sita yang datang dari kejauhan. Ia juga terlihat sangat bersemangat untuk hari ini.

“Pantai nggak terlalu rame ya hari ini,” komentar Sita, memandang sekeliling pantai yang aku akui, memang sepi. Padahal, hari ini adalah hari Minggu. Aku menjadi sedikit curiga alasannya apa. Biarlah, yang penting aku bisa menyelam sepuasnya hari ini.

“Yaudah yuk, kita ganti baju dulu.” Bara memecah lamunan kami.

Aku dan Sita mengangguk, masing-masing mengambil satu set alat menyelam dari Bara dan berlalu ke kamar mandi umum wanita.

Hanya butuh enam menit setelah kami selesai berganti baju. Aku dan Sita kembali menemui Bara di tempat tadi. Namun, ternyata Bara belum ada di sana.

“Mana nih, si Bara? Aku takut nanti udah terlalu siang, panas…” ucap Sita setengah mengeluh, aku dapat melihat mulutnya yang cemberut.

Aku tersenyum, lantas membalas. “Mungkin Bara lagi beli es kelapa? Biasanya dia minum es kelapa sebelum menyelam, padahal orang biasa minum es setelah berenang. Aneh.” aku terkikik.

“Oiya juga,” Sita mengangguk-angguk setuju. “Kamu mau tunggu di sini nggak, Tri? Aku mau ngecek ke abang-abang tempat Bara biasa beli es.”

Tanpa menunggu lama, aku mengangguk. Aku juga tidak ingin menyelam jika hari sudah terlalu siang. “Jangan lama-lama ya, Ta.”

Sembari menunggu Sita, mataku mengarah pada pantai Tulamben yang indah ini. Desiran ombaknya yang memanjakan telinga, pohon-pohon kelapa yang memperindah pemandangan, hingga angin semilir yang mengenai kulitku. Ah, rasanya indah sekali.

“Tolong!!!”

Momenku menikmati pantai tiba-tiba terpecah ketika aku mendengar sebuah suara. Minta tolong? Spontan aku memicingkan mataku, mencari asal suara itu.

Aku menemukannya! Ada seorang anak yang tampak tidak berdaya sekitar 7 meter dari bibir pantai. Seketika, aku panik melihat kejadian itu.

“Ya ampun!” aku menengok ke kiri dan kanan, mencari orang yang aku harap bisa menolong anak tersebut. Sayangnya, tidak ada satupun orang di sini. Bara dan Sita sama sekali belum kelihatan batang hidungnya.

“Tolong, tolong!”

Tubuhku semakin bergetar. Anak itu semakin menjauh dari bibir pantai. Aku tidak bisa menunda lagi! Spontan, aku mengambil ancang-ancang dan melangkahkan kakiku selebar dan secepat yang aku bisa. Aku bahkan lupa menggunakan kacamata renang dan selang yang disebut snorkeling oleh Bara. Biarlah, aku sudah biasa menyelam. Pakaian selam ini saja bagiku sudah cukup.

“Tolong…”

Mataku semakin melebar ketika melihat wujud anak itu menghilang dari permukaan air. Astaga Gayatri, padahal kakimu sudah menyentuh air! Cepat, kamu harus segera menyelam dan menolong anak itu!

Aku menarik napas, lantas menyatukan tanganku dan menyatu dengan air. Aku bahkan mengabaikan suara Bara dan Sita yang memanggilku dari kejauhan.

“Gayatri!!! Jangan ke sana!”

Maksud mereka apa, sih?! Jelas-jelas ada orang yang membutuhkan pertolongan, mengapa mereka malah diam saja?! Aku sama sekali tidak peduli, yang penting aku bisa menolong anak itu!

Semakin jauh aku menyelam, tetap saja anak itu tidak kutemukan. Apa yang terjadi? Dia tidak mungkin tenggelam sejauh itu dalam waktu yang singkat, kan? Aku mulai meragukan diriku.

Deg…

Sama sekali tidak kuduga, tiba-tiba dadaku rasanya sesak sekali. Ada apa ini?! Aku sangat sulit untuk bernapas. Melupakan anak tadi, aku membalikkan badan dan berusaha untuk naik lagi ke permukaan. Namun, entah kenapa, tubuhku mati rasa. Tubuhku semakin menjauh dari permukaan air, memandang matahari yang tiba-tiba meredup.

Ada apa ini? Apa aku sudah mati?

Oh, ternyata tidak! Setelah aku memejamkan mata sejenak, matahari kembali cerah seperti biasa, bahkan lebih terang dari yang biasa aku lihat selama menyelam di laut. Aku juga dapat melihat seseorang yang menyelam mendekatiku. Oh, terima kasih Bara. Kamu akan kutraktir es kelapa muda nanti.

Bali, 2072

Aku mengerjapkan mata. Ya ampun, mataku perih sekali.

“Kamu udah sadar?”

Tubuhku seketika berubah menjadi patung. Suara siapa itu? Itu sama sekali bukan suara Bara!

Diriku semakin dikejutkan dengan apa yang kulihat pertama kali. Harusnya langit-langit pendopo dari daun kelapa yang menyambutku, kenapa semuanya malah serba putih? Bahkan, ada benda kaca yang bisa membuatku melihat langit dan awan yang cerah.

“Aku nggak tahu kenapa kamu bisa tenggelam di laut yang udah tercemar itu dengan keadaan yang masih hidup.”

Oh, suara tadi. Aku pun melirik sosok yang baru saja berbicara itu. Seorang pemuda rupanya.

“K-kamu siapa?”

“Wah, kamu kenapa? Aku James, Bri. Kita sekarang lagi ada di hotel dekat pantai Tulamben. Apa kamu lupa?”

“James…kamu bule?” seketika telunjukku mengarah padanya. Tapi, tampang James sama sekali tidak ada barat-baratnya. Ya, meskipun lumayan tampan, sih.

Pemuda yang dipanggil James itu terkekeh. “Kayaknya otakmu korslet setelah buang sampah terus kesandung dan tenggelam di laut tadi. Orang Indonesia sekarang udah banyak yang pakai nama Barat, Brianna. Bahkan, namamu saja seperti itu.”

Aku menggelengkan kepala. “Aku bukan Brianna. Dan kamu bilang apa tadi, membuang sampah ke laut? Aku bukan orang seperti itu!!”

Alih-alih menjawab, James malah mengabaikanku. “Robot M, bawakan dia bubur.” James terlihat mengucapkan sesuatu pada, entahlah? Sebuah benda kecil yang ia dekatkan ke arah mulutnya, mirip dengan perekam suara.

“Robot…itu apa?” tanyaku heran.

“Bri?” bukannya menjawab, James semakin heran menatapku. “Ini kamu beneran nggak ingat apa-apa?”

Dengan polosnya, aku menggeleng.

James menghela napas. “Apa aja yang kamu nggak tahu?”

“Semuanya. Ini di mana, kapan, tentang aku, apa yang terjadi tadi, dan benda yang kamu sebut robot tadi.”

“Oke.” James menarik napas panjang, seolah-olah siap menyampaikan pidato.

“Namamu Brianna Hakim Puspita, umurmu sekarang 20 tahun. Hari ini adalah hari Senin, tanggal 17 Oktober 2072. Kita lagi pergi ke Tulamben dalam rangka penelitian sefakultas. Tadi pagi tepat jam 10, kamu pergi ke pinggir tebing dan tiba-tiba kamu tergelincir ke laut. Mengenai robot, simple-nya benda itu adalah mesin yang bisa bekerja layaknya manusia, membantu manusia, bahkan bisa menggantikan kerja manusia. Gimana? Udah paham?” papar James panjang lebar.

Tubuhku mematung. Mulutku menganga. Mataku melebar. Jiwaku tiba-tiba terguncang. Apa tadi katanya…2072? Jadi, aku terlempar 100 tahun dari waktu asalku?

“Paham…tapi, aku butuh waktu yang lama buat menerima semua ucapan kamu.”

“Maksudnya?” James mengangkat alisnya sebelah.

Aku menimbang-nimbang semuanya dalam hati. Apa aku harus memberitahu James kalau aku sebenarnya bukan Brianna? Apa aku harus bilang kalau aku datang dari masa lalu? Tahun 1972?

Sebenarnya, aku tidak ingin mengungkapkan hal itu kepada James. Nanti, aku malah dicap gila olehnya. Lihat saja, raut wajahnya kini terlihat sangat menyebalkan bagiku! Sejak tadi, matanya memindai seluruh tubuhku dari atas hingga bawah, seakan-akan aku adalah maling dari desa sebelah.

Akan tetapi, kalau aku tidak mengungkapkan yang sebenarnya pada James, tentu aku akan sangat kesulitan menghadapi kehidupan di masa ini. Semuanya terlihat asing bagiku. Baru bangun saja, pandanganku sudah disuguhkan oleh langit-langit kaca yang menampilkan awan yang cerah. Belum lagi benda bernama robot yang James katakan tadi. Belum lagi benda-benda lain di ruangan ini yang sama sekali terlihat asing. Bagaimana jika aku keluar dari tempat ini? Tidak dapat kubayangkan betapa asingnya dunia ini dan pasti akan sangat sulit bagiku untuk beradaptasi dengannya.

“Brianna?”

Lamunanku terpecah oleh sahutan James. Aku kembali memandangnya. Ya ampun, aku harus apa?

Setelah beberapa detik, akhirnya aku menarik napas.

“James, maafkan aku…tapi sepertinya aku benar-benar hilang ingatan. Jadi…untuk beberapa hari ini, apa kamu bisa bantu aku?”

Aku melihat James tertegun. Semoga saja ia mau membantuku, setidaknya untuk beberapa hari sebelum kutemukan cara untuk kembali ke waktu asalku.

“Aku benar-benar tidak menyangka,” James menggaruk kepalanya sambil terkekeh, “tapi aku akan membantumu.”

Aku menarik napas lega. Setidaknya, satu masalah teratasi. Dengan bantuan James, aku berharap agar bisa selamat dari serangan jantung semisal dunia ini terlalu mengejutkan. Ayolah, dalam 100 tahun, pasti banyak perubahan yang luar biasa.

Tiba-tiba, terlintas di pikiranku ketka James tadi mengatakan “tenggelam di laut yang tercemar” dan “membuang sampah di laut”. Sebagai seseorang yang sangat mencintai dunia laut, pernyataan tadi cukup mengusikku. Sebenarnya, apa yang terjadi?

“James…aku boleh tanya?”

“Ya?” bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka. Sebuah benda besi yang ukurannya sama dengan manusia berjalan dengan rodanya menghampiri aku dan James. Di tangannya, terdapat nampan lebar dengan semangkok bubur di atasnya.

“Wow…” mulutku terbuka lebar. Jadi, ini robot yang dimaksud oleh James?

“Terima kasih, M.” James mengambil nampan itu, setelahnya robot itu berbalik meninggalkan kami.

“Mau tanya apa?” sahut James, menyendokkan bubur dan mengarahkannya padaku. Namun, sedetik kemudian ia langsung menariknya. “Sorry, harusnya aku tanya dulu kamu mau disuapin atau makan sendiri aja.”

Aku tersenyum. “Makan sendiri aja nggak papa kok.” sambungku, mengambil alih nampan itu dari tangan James. Aku terkesiap melihat nampan itu otomatis memunculkan kaki, seketika beralih fungsi sebagai meja. Sembari mengambil satu sendok pertamaku, aku melanjutkannya.

“Tadi, kamu bilang kalau aku tenggelam di laut yang tercemar. Laut tercemar itu…maksudnya apa?”

“Oh, itu.” James memutar matanya, tampak sedang mencari kata-kata yang pas.

“Air laut di pantai Tulamben itu emang udah tercemar dari sepuluh tahun yang lalu. Pencemarannya yang sangat parah udah membuat hampir seluruh makhluk laut di dalamnya mati, bahkan udah ada beberapa yang punah. Manusia yang pernah menyelam dan tenggelam di sana aja langsung mengalami gangguan pernapasan dan dalam beberapa kasus, ada yang meninggal dunia. Aku impressed melihat keadaan kamu yang sepertinya baik-baik saja.”

“Lalu, apa tidak ada yang mencoba mengatasi itu?”

Pemuda berkulit putih itu menggeleng. “Alih-alih mengatasi pencemaran, justru orang-orang memperparahnya. Mereka malah membuang limbah pabrik dan sampah di laut hampir setiap hari, nggak pernah ada yang bergerak buat membersihkan atau memindahkan sampah itu dari sana. Menurut mereka, jika laut sudah terlanjur kotor, lebih baik sekalian dibuat pembuangan akhir saja daripada harus mencari TPA lain.”

“Tidak mencari pembuangan lain?” ulangku, mulai sedikit naik pitam. “Bukannya tahun ini sudah banyak perkembangan? Misalnya benda bernama robot tadi. Apa mereka nggak membuat benda sejenis yang bisa menjadi TPA yang nggak merugikan lingkungan? Harusnya, teknologi udah bisa melakukan hal itu dong!” lanjutku geram.

“Wah, kamu sangat berbeda dengan Brianna yang biasa aku lihat setiap hari,” James terkekeh. Ekspresinya terlihat kagum sekaligus tidak menyangka. Aku diam-diam merutuk dalam hati. Memangnya, Brianna yang asli kenapa, sih?

“Aku heran karena kamu aslinya cuek banget kalo udah bahas lingkungan, apalagi sampah. Setiap hari, kamu selalu membuang sampah-sampahmu ke perairan dekat rumah. Selama berwisata ke sini, kamu selalu membuang sampahmu ke laut. Sampai-sampai ada kejadian tenggelam tadi. Orang-orang di sekitar pantai tidak ada yang bersedia menolong, sepertinya ragu karena timing-nya pas sekali dengan gerhana dan mereka mungkin jijik untuk menyentuh air laut yang sudah tercemar,” jelas James.

“Gerhana matahari?” ulangku. Setelahnya, aku menyambung semua cerita yang ada dalam diam. Kalau yang kulihat terakhir kali sebelum memejamkan mata adalah gerhana matahari, berarti gerhana matahari inilah yang membawaku ke masa depan, sesuai dengan hipotesisku. Timing-nya juga sudah sangat pas, gerhana matahari memang muncul setiap 100 tahun sekali di tempat yang sama.

James mengiyakan. “Tentang pertanyaanmu sebelumnya, teknologi memang sudah berkembang pesat, Brianna. Tapi, apa yang terjadi di Indonesia tentu berbeda dengan negara Barat seperti Amerika yang sudah bisa menjaga lingkungannya berkat teknologi. Teknologi mereka udah maju dari 30 tahun yang lalu, sedangkan teknologi seperti itu baru ada dua belas tahun terakhir di Indonesia. Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk masyarakat bisa beradaptasi. Amerika aja baru stabil sekitar 25 tahun lalu, tahun 2047. Awalnya, mereka juga mengalami lingkungan yang tercemar seperti yang negara kita alami sekarang.”

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan Amerika dari untuk mengatasi pencemaran lingkungan itu?” sambungku.

James meletakkan telunjuknya di dagu. “Berapa ya? Sekitar 5 tahun kalau nggak salah? Yang 25 tahun tadi maksudnya udah stabil secara ekonomi, pendidikan, sumber dayanya, hingga lingkungan. Seingatku, Amerika bisa mengatasi pencemaran di negaranya selama 5 tahun, tahun-tahun itu mereka memang menfokuskan tujuannya untuk mengatasi pencemaran lingkungan.”

Lima tahun? Kalau Amerika bisa mengatasinya dalam lima tahun, mengapa alam Indonesia yang sudah tercemar 10 tahun tidak mengalami perubahan apa-apa?! Astaga, apa sih yang terjadi pada generasi saat ini?

“Kalau Amerika bisa dalam kurun waktu 5 tahun…kenapa negara kita udah 10 tahun tapi nggak bisa-bisa?” aku mengungkapkan pemikiranku tadi.

Mendengar ungkapanku, James menjelaskan. “Ini karena masyarakat Indonesia yang kesadarannya memang masih jauh di bawah kesadaran masyarakat Amerika. Mereka lebih memanfaatkan teknologi demi keuntungan mereka sendiri secara ekonomi. Ekonomi negara ini aja lagi collapse. Huft~” ia menggembungkan pipinya.

“Jadi, sampai sekarang banyak masyarakat yang justru semakin mencemarkan lingkungan tersebut? Terus mereka nggak peduli dan nggak mau tahu menahu soal pencemaran lingkungan saat ini?” timpalku, yang dijawab anggukan oleh James.

Hmm. Aku merenung sesaat. “Kalau gitu, kenapa kamu bisa tahu semua isu pencemaran di Indonesia? Kamu bahkan bisa membandingkannya dengan isu yang sama di Amerika.”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Berbeda dengan yang lain, aku punya concern untuk mengatasi pencemaran lingkungan sebagai tujuan hidupku. Yah, meskipun bisa dibilang sangat sulit, sih. Aku aja belum tahu mau mulai dari mana.” Tuturnya, aku dapat merasakan kesedihan dari matanya.

Tak terasa, ternyata buburku sudah habis. James yang peka akan itu spontan membantuku membereskannya. James menanyakan keadaanku sekarang dan aku bilang sudah baik-baik saja secara fisik dan mental.

“Hmm…aku penasaran dengan tampilan pantai Tulamben. Kamu mau temenin aku nggak?” pintaku penasaran.

“Boleh,” balas James cepat. “Kamu bisa siap-siap dulu kalau mau, aku tunggu di luar.”

Aku menatap diri di depan cermin. Memandang sosok Brianna yang kupinjam tubuhnya sekarang. Ternyata, sosok Brianna sangat mirip denganku! Yang berbeda adalah tampangnya yang sedikit lebih dewasa, mengingat umurnya yang sudah menginjak 20—kata James—tahun ini. Sementara itu, Gayatri pada tahun 1972 masih berusia 17 tahun. Aku jadi penasaran apakah reinkarnasi itu ada. Jadi, mungkin saja Brianna ini adalah reinkarnasiku di masa depan. Hmm, tapi aku sendiri tidak terlalu percaya akan adanya reinkarnasi. Menurutku, mungkin Tuhan memang sengaja menciptakan manusia dengan rupa yang sama setiap kali berganti generasi, bahkan ada yang wajahnya mirip dan berasal dari generasi yang sama. Sementara itu, jiwanya hanya hidup sekali, tidak sama dengan pengertian reinkarnasi di mana jiwa seseorang akan menjalani beberapa kehidupan. Ah, sudahlah. Lebih baik, aku segera keluar dan menjelajah pantai Tulamben saja.

Aku keluar dari kamar mandi, di depan sudah ada James yang menunggu. Ia tampak membawa jaket dan kacamata hitam. Lantas aku terheran, untuk apa? Kacamata hitam mungkin wajar jika digunakan di pantai, tetapi jaket?

“Udara di luar panas banget, kulitmu bisa terbakar. Jadi, pake jaket ini ya,” kata pemuda itu seakan-akan membaca pikiranku. Aku menerima dua benda itu dalam diam. Memangnya, udara pada tahun 2072 sepanas itu?

“Suhu udara saat ini 45 derajat celcius. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Gimana kalau udah keluar?”

“Apa?! Itu kan panas banget!!” pekikku. Kalau begitu, lebih baik kutunggu saja udaranya sejuk kembali baru aku jalan-jalan menjelajahi pantai. “Kita tunggu beberapa menit kali, ya. Siapatau udaranya bisa lebih sejuk.”

James mendesah, perlahan ia menggeleng dengan raut wajah tak yakin. “45 derajat itu suhu yang normal, Brianna. Bahkan, bisa aja naik sampai 50 derajat. Suhu terendah di sini adalah 40 derajat celcius, dan udara jarang banget menyentuh angka itu di musim kemarau seperti ini.” tandasnya, membuatku semakin ngeri.

Tanpa berucap apa-apa lagi, aku mengikuti James yang sudah berjalan lebih dahulu di depanku. Kami memasuki sebuah benda yang sepertinya adalah lift, aku pernah melihatnya di film Hollywood yang kutonton. Tanpa menunggu lama, kami sudah sampai di lantai dasar. James membiarkan kami bersebelahan, mungkin ia tidak mau aku mengekor di belakangnya. Kami melangkah keluar dari pintu penginapan.

Ketika melangkah dari luar penginapan, wow…aku benar-benar terkejut dalam diam. Tempat ini…begitu berbeda dengan Tulamben seratus tahun yang lalu. Pohon-pohon yang pada tahun 1972 menghiasi pantai ini, digantikan oleh cerobong-cerobong asap raksasa. Tidak ada lagi kedai-kedai penjual es kelapa, yang ada hanyalah bangunan-bangunan besar yang dugaanku adalah pabrik. Tidak ada para wisatawan, yang ada hanyalah sampah yang menumpuk di sepanjang pantai. Separah inikah bumi di masa depan?

“Kalau kamu penasaran, sebenarnya bukan hanya Indonesia yang mengalami krisis iklim seperti ini. Negara-negara lain seperti Malaysia dan Filipina juga mengalami hal yang sama. Hanya saja, wilayah Indonesia lebih luas, terpisah menjadi pulau-pulau, dan penduduknya sangat melimpah. Makanya, kondisinya lebih parah dibandingkan negara lain,” James menyeletuk sendiri tanpa kuminta.

Aku mengangguk-angguk. “Apa aja dampaknya?”

“Banyak,” balas pemuda itu, menggiringku berjalan di sepanjang pantai. Astaga, untung saja aku mengenakan jaket, ternyata udaranya memang sangat panas. “Selain kehidupan dasar laut yang sudah tercemar, cuaca dan manusia juga mengalami dampaknya. Permukaan air laut naik, sehingga masyarakat di pinggir pantai terpaksa harus pindah ke tempat yang lebih tinggi. Banjir juga masih sering terjadi apalagi di wilayah-wilayah ibukota. Polusi udara dan banyaknya rumah kaca juga mengikis lapisan ozon, makanya kulit kita bisa terbakar jika nggak pakai pakaian lengan panjang. Hujan aja sekarang udah jarang banget terjadi. Selain itu, penduduk yang miskin jadi kelaparan, tidak bisa berlindung, hingga ada yang meninggal dunia.”

“Separah itu ya…” lirihku, memandangi para warga yang sibuk menuangkan isi tong sampahnya ke laut. Ternyata, perilaku itu sudah menjadi kebiasaan pada masa ini.

“Kehidupan laut sekarang ini…aku belum yakin udah mati sepenuhnya atau nggak. Aku belum mencari tahu lagi tentang hal itu. Tapi, bisa aja kehidupan di dasar laut yang lebih dalam masih berjalan,” tambah James yang seketika memunculkan sebuah ide di kepalaku.

“James,” aku menghentikannya. “Katamu, kita pergi ke sini buat penelitian sefakultas. Nah, penelitian apa itu?” tanyaku penasaran.

James terdiam sejenak. “Hmm…sebenarnya bukan penelitian aja sih, Bri. Seluruh mahasiswa di fakultas kita diminta untuk mengunjungi daerah Bali untuk membuat project tertentu, bisa penelitian atau program yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Project itu dilakukan sendiri atau berkelompok?”

“Bebas, tergantung tema project-mu apa. Bisa sendiri atau membentuk kelompok,” jawab pemuda itu  cepat. “Tapi, rata-rata dari mereka membuat project kelompok. Kebanyakan dari mereka mengambil tema tentang peran robot untuk mempermudah kehidupan masyarakat setempat,” tambahnya lagi.

Aku manggut-manggut. “Kamu sendiri, udah nentuin judul project-mu?”

James menjawabnya dengan gelengan. “Aku ingin sekali mengadakan program pengurangan sampah. Tapi, rasanya itu mustahil,” ujarnya, kembali murung.

Nah, pas sekali! Aku langsung tersenyum lebar. “Gimana kalau kita bikin project bareng?”

Aku dapat melihat James yang tersentak setelah mendengar kalimatku tadi.

“Kamu…mau bikin project bareng aku?”

Aku mengangguk. “Mendengar idemu tentang program pengurangan sampah, kurasa aku tertarik untuk melakukan hal itu juga. Aku tidak ingin ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke dalam laut lagi.”

Lalu, aku melanjutkan lagi. “Mungkin, program ini akan terkesan mustahil dan sulit untuk dilakukan. Tapi, kalau belum ada yang memulai, bagaimana kita bisa tahu program ini manjur atau tidak?”

Semangatku seketika mengalir juga pada diri James, aku dapat melihat wajahnya yang tadi murung, kaget, menjadi senang dan sangat excited. “Ya ampun, bener banget, Bri! Kenapa aku nggak pernah mikirin hal itu sebelumnya?”

Aku tersenyum tipis. “Gimana, deal?” aku mengulurkan kelingkingku padanya.

Tanpa berpikir panjang, pemuda itu langsung membalas uluran kelingkingku. “Deal.”

Dua hari kemudian…

Setelah berdiskusi panjang lebar dengan James, kami memutuskan untuk membuat program penguraian limbah dan daur ulang sampah. Awalnya, James sempat tidak yakin untuk mengadakan program ini.

“Daur ulang?”

“Iya,” jawabku cepat. “Kamu tahu daur ulang, kan?”

“Tahu, itu program pengolahan sampah menjadi barang yang bisa dipakai lagi. Tapi, program itu udah jauh ditinggalkan di negara ini berpuluh-puluh tahun lalu.”

Aku tercengang. “Kok bisa?”

“Kemajuan teknologi membuat orang-orang lebih memilih untuk menghancurkan sampah-sampah itu dengan mesin,” sahut James. “Bodohnya, mereka lupa bahwa plastik itu sampah yang sulit diurai. Jadi, karena tidak kepikiran, mereka memilih untuk membuang sampah plastik di laut. Seiring berjalannya waktu, sampah-sampah selain plastik yang seharusnya bisa dihancurkan dengan mesin, mereka malah ikut membuangnya juga ke laut karena malas berkutat dengan mesin penghancur setiap hari.”

“Yang bener aja?!” semburku yang membuat James refleks menyemburkan kopinya. “Astaga Bri, suaramu kenceng banget.”

“Habisnya, aku kesel banget sih.” cecarku. “Program daur ulang nggak bisa ditinggalin begitu aja. Fix sih ini, kita adain program daur ulang aja.”

“Tapi…” sela James. “Apa daur ulang cukup, Bri? Sampah-sampah itu bukan hanya berasal dari buangan para warga, tapi juga dari limbah-limbah pabrik yang sulit untuk didaur ulang.”

Aku terdiam sejenak. Mesin di otakku kuputar sekencang mungkin agar aku bisa menemukan ide yang tepat.

“Hmm…ada nggak sesuatu yang bisa menguraikan limbah?”

“Kayaknya ada,” sahut James. “Setahuku, ada zat mikroorganisme yang secara biologis bisa mengurai limbah pabrik. Tapi, aku sendiri sama sekali nggak tahu menahu soal ini.”

“Di fakultas kita ada yang dari jurusan Biologi?” tanyaku. “Atau jurusan yang berhubungan dengan teknologi dan biologi? Mungkin kita bisa mengajak dia.”

“Setahuku ada, dia juga menginap di sekitar sini,” ucap James sembari melihat pabrik yang baru saja membuang limbahnya di laut. “Nanti coba aku tanyain, deh. Kalau dia bersedia, berarti kita bisa menggabungkan program daur ulang sampah dan penguraian limbah ini.” usulnya.

“Nah, itu maksudku!” seruku bersemangat.

Orang itu bernama Angel, ia berasal dari jurusan teknologi bioproses. Kalian tahu? Ternyata, ia juga peduli dengan lingkungan! Awalnya, ia juga memiliki pemikiran yang sama dengan James. Namun, karena ragu, ia memilih untuk membuat penelitian tentang robot kucing sebelum akhirnya bergabung dengan kami. Aku sangat senang ketika ia langsung menerima tawaranku.

Oh ya, James mengatakan padaku bahwa aku berasal dari jurusan Hubungan Internasional. Kalau dipikir-pikir, aneh juga sih. Diriku—sebagai Gayatri—berkuliah di jurusan Hubungan Internasional tetapi memiliki concern yang cukup besar untuk peduli lingkungan. Entahlah, mungkin Brianna yang asli memiliki alasan tersendiri untuk mengambil jurusan ini. Sementara itu, James sendiri berasal dari jurusan teknik mesin. Sedikit membuatku bertanya-tanya juga mengapa ia tidak memilih jurusan yang berhubungan dengan iklim saja.

“Aku punya cita-cita. Melalui mesin ciptaanku, aku ingin membuat teknologi yang ramah lingkungan dan bisa mengurangi krisis iklim yang terjadi saat ini,” tutur James ketika kutanya demikian. Seketika, aku semakin kagum terhadapnya.

Saat ini, kami bertiga sedang menghadap kepala desa. Awalnya, kepala desa sedikit ragu mendengar permohonan izin kami. Akan tetapi, setelah kami berdiskusi panjang lebar, akhirnya ia setuju juga.

“Selamat pagi. Teruntuk para warga, hari ini silahkan bawa sampah kalian ke tengah-tengah dataran pantai dan jangan buang terlebih dahulu ke laut. Saya minta untuk seluruh pabrik di wilayah Tulamben untuk menghentikan pekerjaannya hari ini. Kali ini, kita akan menjalankan sebuah program daur ulang sampah bersama,”

Pengumuman itu diberikan melalui voice message yang otomatis langsung tersampaikan di seluruh rumah warga dan pabrik-pabrik di sekitar pantai Tulamben.

Butuh waktu hingga dua jam untuk mengumpulkan seluruh warga sekitar di tengah-tengah pantai Tulamben. Aku paham akan hal itu, bisa saja warga merasa program ini tidak penting. Huh! Lihat saja nanti, aku akan membuat mereka menjadikan daur ulang ini sebagai hobi mereka, hehehe. Selain itu, secara ajaibnya suhu udara hari ini tidak sepanas kemarin, seakan-akan alam juga mendukung penuh program kerja kami.

Kepada para warga, aku menjelaskan seperti apa itu konsep daur ulang. Sementara itu, James memberi panduan untuk melakukannya dengan bantuan robot agar hasil daur ulangnya bisa semakin cepat dan banyak. Aku sendiri masih takjub dengan robot-robot yang ada pada zaman ini. Semalam, James menjelaskan sedikit kepadaku tentang teknologi yang sangat mutakhir zaman ini. Kalian tahu? Ternyata ada mesin yang bisa mengolah kue sendiri! Aku begitu takjub ketika mendengarnya.

Pada keesokan harinya, kami bertiga pergi ke pabrik-pabrik di sekitar pantai Tulamben. Kali ini, Angel yang lebih mengambil peran. Ia memaparkan program penguraian limbah yang sudah kami rancang sedemikian rupa, bahkan ia mengusulkan untuk menambah sub-program baru yakni alternatif untuk limbah pabrik berupa asap yang mengotori langit. Dengan ini, potensi asap pabrik untuk menabrak lapisan ozon akan berkurang, pemanasan global bisa dikurangi.

Program daur ulang dilaksanakan tiga kali sepekan, sedangkan program penguraian limbah dilaksanakan dua kali dalam sepekan. Kami berusaha untuk membuat jadwalnya sesering mungkin agar masyarakat Tulamben lebih terbiasa untuk melakukan itu semua. Nantinya, mereka tidak akan malas lagi dalam mendaur ulang sampah dan mengurai limbah. Nantinya, secara tidak langsung kesadaran mereka untuk menjaga lingkungan lebih tinggi. Dengan ini, perlahan-lahan krisis iklim bisa diselesaikan.

Dua tahun kemudian

Aku tersenyum bahagia, sambil menahan togaku yang hampir jatuh. Hari ini, aku, James, dan Angel dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik berkat project yang sudah kami lakukan secara tulus dan bersungguh-sungguh. Yap, setelah lebih dari satu setengah tahun kami menjalankan project itu, wilayah pantai Tulamben berubah drastis. Dari yang awalnya banyak sampah, kini bersih tanpa ada yang tersisa. Limbah pabrik yang awalnya dibuang ke laut dan melalui asap, berkat program usulan Angel bisa diuraikan menjadi zat yang lebih ramah lingkungan. Masyarakat Tulamben perlahan kembali peduli terhadap lingkungannya, mereka bahkan menyusun program penghijauan atas keinginan mereka sendiri. Lalu, beberapa bulan kemudian, kami mendapat kabar bahwa ada mahasiswa dari wilayah-wilayah lain di luar Bali yang mengadakan program serupa. Betapa bahagianya kami ketika mengetahui hal itu.

Guys, foto bareng yuk!” ajak James, seketika aku dan Angel langsung merapat padanya.

“M, cepat foto kita!” perintah pemuda itu. M yang menjadi robot pribadi James pun menurut, mengambil aba-aba untuk memfoto kami melalui kamera yang terletak di wajahnya.

“Tiga…dua…satu…ckrek!

Selama perjalanan pulang, aku mengingat-ingat momen tadi. Mobil yang melayang di udara semakin membuatku nyaman setelah lelas menjalani prosesi wisuda tadi. Sudah dua tahun aku terjebak di generasi ini. Aku kira akan sangat sulit untuk beradaptasi, tapi ternyata tidak. Ada James dan Angel yang sangat tulus membantuku. Di satu sisi, aku sangat berterima kasih kepada mereka. Namun, di sisi lainnya, aku merasa bersalah karena tidak pernah memberitahu mereka terkait kebenaran tentang diriku yang berasal dari tahun 1972, jiwaku yang aslinya bukan sebagai Brianna, melainkan Gayatri.

Oh ya, omong-omong tentang Brianna, aku sempat menulis surat padanya. Jaga-jaga ketika jiwaku kembali ke waktu asalku dan jiwa Brianna kembali menempati tubuh ini.

Hai Brianna,

Ketika kamu membaca surat ini, kamu harus tahu bahwa aku sudah mengubah perilakumu sepenuhnya. Kamu sangat tidak peduli terhadap alam, krisis iklim tetapi aku sangat peduli akan hal itu. Tindakanmu yang sering membuang sampah di perairan dekat rumah dan laut Tulamben membuatku sangat geram. Tapi tenang saja, Bri. Berkat aku, dirimu menjadi sosok yang sangat cinta akan lingkungan, bahkan memiliki prestasi yang hebat karena rasa cinta itu.

Aku harap, ketika kamu menempati kembali tubuh ini, kamu akan melakukan hal yang sama. Aku harap, kamu bisa mengubah mindset-mu agar bisa bersama-sama mengatasi krisis iklim yang sudah parah ini. Omong-omong, jurusan Hubungan Internasional bisa kamu kaitkan juga lho Bri, dengan isu ini. Kamu dapat menjalin relasi dengan negara lain melalui organisasi-organisasi internasional yang bergerak di bidang lingkungan.

Oh iya, pesanku, sepertinya kamu harus membuka hati pada James. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku sadar ia tahu segala sesuatu tentang dirimu dan ia sering memperhatikanmu sepanjang hari. Padahal, aku mendengar dari ibumu kalau sebelumnya kalian belum pernah berbicara sedikitpun, hihi. Dia juga yang menjadi penolongku ketika kamu terjatuh di laut Tulamben, saat gerhana matahari terjadi dan tidak ada warga yang menolongmu saat itu. Aku yakin, saat itu ia sedang memperhatikanmu dan ketika kamu terjatuh, ia langsung menyadarinya.

Mungkin, kita tidak akan pernah bertemu, Brianna. Akan tetapi, aku berharap untuk bisa menemuimu suatu hari nanti, entah melalui sejarah ataupun kehidupan berikutnya.

With love,

Gayatri

“Nona Brianna, sepertinya ada yang salah dengan mobil ini,” sahut XA, robot pribadi Brianna secara tiba-tiba. Dadaku cukup berdebar mendengarnya, “ada apa?”

“Rem mobil ini sepertinya error, aku sudah mencobanya berkali-kali tetapi tidak bisa bekerja,” ujar XA yang seketika membuatku panik.

“APA?!” baru saja aku berteriak seperti itu, dari arah berlawanan terdapat mobil terbang yang ngebut mendekati kami. Aku dan XA yang belum diprogram untuk mengatasi hal ini tidak mampu melakukan apa-apa. Hingga akhirnya…

BRAK!!!

Itu adalah kecelakaan udara pertama dan terakhir yang pernah kualami sepanjang hidupku.

“Tri, Gayatri!!!”

Kukerjapkan mataku. Aku mendengar suara dari dua orang yang sepertinya, tidak asing bagiku.

“Alhamdulillah Ya Allah, Gayatri sadar!” seru Bara yang terlihat cukup berlebihan, ia sampai sujud berkali-kali.

“Berlebihan,” komentar Sita, lantas menatapku. “Tri, kamu gak papa kan?”

Aku menoleh ke kanan dan kiri. Ternyata, aku sudah kembali ke tubuh asliku. Tanggal berapa ini?

“Aku baik-baik saja, Ta,” jawabku, alih-alih menanyakan tanggal padanya.

Bara yang tadinya bersujud, lantas mendekatiku. “Kamu tahu nggak, Tri? Kita panik banget waktu kamu abis ketabrak mobil kepala desa. Soalnya, waktu menghilang di laut tempo hari, waktu kamu sadar perilakumu aneh banget. Masa, kamu memperkenalkan dirimu sebagai Brianna?!”

Aku tertegun mendengar cecaran Bara tadi. Brianna, katanya?

Jiwa Brianna menempati tubuhku? Jadi, apakah selama ini, kami bertukar jiwa?

“Setuju!” sambung Sita. “Mana aneh banget, setelah itu kamu jadi bandel terus sering buat sampah di pantai. Apa kamu lupa sama janji kita?!”

Aku terdiam, masih menyimak pembicaraan mereka.

“Tapi…untung aja, kita berdua berhasil bikin kamu balik lagi jadi sayang pantai sampai-sampai sampahnya kamu daur ulang sendiri,” tambah Sita. “Keren banget kamu, Tri!!”

Diam-diam, aku ber-ooh ria. Jadi, rupanya Tuhan bekerja seperti ini untuk mengatur kehidupanku dan Brianna. Aku dibawa menyelam ke masa depan untuk memperbaiki krisis iklim di wilayahku sendiri, sedangkan Brianna dibawa menyelam ke masa lalu untuk memperbaiki tingkah lakunya.

Hmm, aku pikir, pasti Brianna punya kisah dari sudut pandangnya sendiri. Aku yakin, ia pasti akan menceritakannya pada kalian suatu hari nanti. Tunggu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *