Cerpen #431 Rerasa Piruk yang Menggertak

Di kesunyian malam, langit tampak begitu terang. Semilir angin menerjang dari segala arah tak terduga, banyak kunang-kunang melintasi beberapa jiwa menjadi penerang bagi yang hatinya sedang berkelana. Di sisi lain, di sebuah lorong yang gelap ada insan yang terjebak dalam sebuah permainan konyol seorang diri. Entahlah, siapa yang harus disalahkan karena dia sendiri bingung dengan kondisi yang dihadapi, “ bagaimana keadaan kota di sana”, sebuah suara tak terduga yang datang mampu membuat kalut perasaannya. Bagaimana tidak disaat ia sedang memikirkan jawaban, suara tak diinginkan hadir. Mungkin hati sudah menyiapkan jawaban, tapi lisan seakan kelu untuk digerakkan. “Aman”, mungkin itu jawaban yang paling efektif agar tak ada pertanyaan lanjutan. “ Baiklah Arya, kamu adalah orang terpilih dalam misi besar ini, jangan permalukan ayahmu!”, kata orang itu yang tiba tiba menghilang diikuti dengan kilatan cahaya.

#####

Drtt..drtt…drtt…

Suara gaduh yang dibencinya hadir menemani  kesendiriannya, benda yang selalu mengingatkan, meskipun dia telah dilempar dan dijatuhkan. Dengan mata sayu dan tangan meraba raba ia melihat jam yang menunjukkan angka 6.45. ia pun segera bersiap menuju kediamannya. Tempat yang memberikan kenyamanan dan ketenangan dalam kehidupan rumitnya. dengan gerak superhero,ia pun langsung berangkat. Sesampai di glosarium, ternyata sudah banyak rentetan kepala berdampingan. Tatapan fokus mereka layangkan ke tujuan. Dengan wajah santai ia pun berjalan menuju kursi yang paling epan, karena hanya itu yang tersisa. Belum sempat ia mendaratkan pantatnya di kursi “ iya untuk tuan yang duduk dikursi depan pojok, dipersilakan maju”, suara lantang dari MC membuat riuh seisi glosarium, ia pun ikut menyoraki. Selang beberapa menit tuan yang ditunjuk tak kunjung datang. Ia lantas menoleh ke kanan dan kiri, rasa kaget pun menghampirinya, bagaimana tidak, seluruh isi glosarium arah pandangnya menuju dia. Ia gelagapan dan langsung menyadari ternyata tuan yang dimaksud MC adalah dirinya. Dengan takut dan ragu ia melangkahkan kaki, atmosfer di glosarium tiba tiba berubah menjadi sunyi, menambah kepanikan dalam dirinya. Entahlah akan jadi apa nansibnya setelah ini pasalnya pembahasan para peneliti hari ini tentang misi yang berat dan ia yakin pasti seluruh penelitian yang telah ia rancang untuk kedepannya harus dikorbankan karena misi yang langka seperti ini akan membutuhkan proses yang panjang. Di hari itu awal mula ia terjebak dalam sebuah permainan yang sama sekali tak berguna untuk hidupnya. Dengan wajah lelah dan lesu ia pulang ke rumah. Wajahnya yang selalu ceria berubah 180 derajat menjadi wajah yang suram. Hal ini ia rasakna hampir 3 hari, setelah itu ia berusaha untuk menerima segalanya karena, ia berpikir hanya ada dua pilihan dalam misi ini terima atau mundur yang harus mempertaruhkan nyawa.

#####

Deretan pria berjas hitam duduk rapi dengan tegas dan berwibawa di depan, dilanjut dengan predator-predatorlain yang tak kalah menyeramkan yang siap menerkam mangsa kapan saja. Tanpa sadar keringat dingin jatuh bercucuran tak ada hentinya, ini kondisi yang benar benar tak pernah mau ia bayangkan alam hidupnya. Dengan wajah pucat, ia berusaha untuk menghadapi klaster-klaster di depannya.

“ Arya, kamu tahu mengapa kamu yang dipilih?’

“ tidak”, jawabnya sambil gemetaran.

“ bodoh, pertanyaan mudah seperti itu saja kamu tidak bisa menjawab. Bagaimana yang lainnya masih tetap maun menunjuk ilmuwan bodoh ini?”

“ kami sudah sepakat Racher,tidak usah kamu merecokinya lagi”

“ baiklah, tapi aku jamin si ilmuwan bodoh ini tidak akan bisa menyelesaikan misi ini dengan tepat.” Sombongnya dengan tangan kiri di pinggang.

“ diamlah racher, bungkam omong kosongmu itu, lebih baik kamu sadar diri?”

Arya yang memperhatikan debat antara mereka pun nampak linglung karena tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan mereka.

“ segera bersiaplah, 3 menit lagi kamu akan bertugas.”

Arya pun menerima perintah dari komandan tredo dengan tunduk dan hormat. Meskipun hanya berbekal sebuah benda seperti peta namun dapat muncul di udara bagai layar dan sebuah kode “ ambil dan musnahkan”.

#####

Kilauan cahaya masuk ke indra penglihatannya, membuat sebagian jiwanya kembali.

“ hey bodoh, bangunlah”, suara sesuatu seperti robot tiba tiba muncul di sampingnya.

“ bodoh kau bilang?kau yang bodoh, robot jelek!”

“ hahahaa…robot kau bilang? Hidup zaman apa kau, bodoh?”

Pertanyaan yang dilontarkan robot itu membuat ia benar benar tersadar, bahwa atmosfer yang ada di sekelilingnya sangat berbeda. Ia menolehkan kepalanya untuk mengamati dan “wow” rasa takjub yang membuncah benar benar ia rasakan. Bagaimana bisa ada tumbuhan yang sangat unik dan langka, rumah saja bagaikan istana negara, tak ada kendaraan bermotor ataupun mobil seperti sebelumnya yang ada hanyalah transportasi yang bisa melayang di udara dengan memanfaatkan energi cahaya matahari, semua orang berpakaian dengan sangat bewibawa tak ada pakaian kaos ataupun kemeja, pakaian yang dipakai benar benar unik. Semua keindahan itu membuat matanya kaku. Namun segala keindahan dan kemewahan yang ia rasakan tak menjadikan alasan untuk tetap tinggal di masa ini, justru ia ingin cepat kembali ke 100 tahun yang lalu. Dengan ambisi membara ia lari sekuat tenaga untuk menuntaskan misinya. Ia mengelilingi semua wilayah dari tengah kota hingga pinggiran dengan bekal arah yang diberikan oleh komandan tredo. Adanya pengecekan di setiap daerah membuat pergerakannya terganggu, apalagi dengan pakaian yang ia pakai pasti membuat curiga penjaga yang bertugas. Tanpa pikir panjang ia pun memasuki salah satu toko pakaian terdekat dan langsung memakai pakaian yang ia pilih dan kabur. Setelah berkeliling ke semua daerah ia juga belum menemukan tempat yang dituju,  karena waktu mulai larut ia pun  memutuskan untuk menelusuri lorong yang ada di depannya, matanya menelisik jauh ke depan untuk melihat sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk jalan. Dan ternyata di depan sana, ada sebuah tempat mirip dengan toko roti namun lebih mewah dan megah, ia pun langsung menghampiri tempat tersebut.

#####

“ hey anak muda, kemarilah!”, serunya pada arya yang sedang termenung di depan toko itu. Arya yang sadar akan hal itu pun langsung menoleh dan menghampii orang tersebut.

“ ada yang bisa saya bantu tuan?’, tanyanya dengan sopan.

“ masuklah!”, dengan patuh arya pun mengikuti orang tersebut. Setelah sampai di tempat yang gelap dan tertutup, orang tersebut mencoba memulai percakapan dengan mengenalkan dirinya, sebut saja namanya redya. Obrolan mereka berawal dari hal hal yang remeh samapai merembet ke hal hal yang luar biasa, dari obrolan singkat itu redya bisa memahami gerak gerik arya datang ke tempatnya. Sebenarnya ia ingin menanyakan suatu hal, namun ia tahan karena akan ada waktu yang tepat untuk menanyakan sesuatu itu. Di akhir obrolannya redya menawarkan tempat tinggal dan dengan rasa bahagia arya menerima tawaran tersebut.

#####

Tanpa harus menunggu waktu, keesokan harinya redya langsung menyuruh arya untuk bekerja, arya pun mengikuti saja perintah yang diinstruksikan. Begitu ia masuk ke ruangan kerjanya ia benar benar kaget, pasalnya ruangan yang diberikan amat begitu luas dan mewah sangat tidak sesuai dengan posisinya sebagai karyawan baru.  ceklek … pintu terbuka dan menampilkan sosok redya, ia datang dengan membawa beberapa camilan.

“tidak perlu khawatir, aku tidak akan meracunimu”, dari raut wajahnya mungkin menggambarkan betapa terkejutnya ketika tuannya datang dengan menyodorkan beberapa camilan.

“ bukan begitu tuan, namun aneh saja apabila tuan memperlakukan hamba sedemikian rupa, sangat tidak wajar untuk ukuran atasan dan bawahan”

“ cepat atau lambat kamu akan mengetahui suatu hal”, katanya sambil keluar dari ruangan tesebut.

Arya pun acuh dengan apa yang redya pikirkan, fokusnya sekarang pada misinya ia memikirkan masa depan yang terjadi di kota ini pasti akan memunculkan suatu bencana, dilihat dari banyaknya persilangan genetik yang dilakukan pada tumbuhan, membuat langka tumbuhan asli, padahal oksigen terbaik akan dihasilkan dari tumbuhan asli, dan banyaknya gedung gedung tinggi yang terbuat dari kaca membuat terjadinya efek rumah kaca, membuat temperatur di atmosfer meningkat, dari awalnya 30 sampai 35 derajat menjadi 45 derajat. Hal ini bisa membuat kulit terkelupas. Penggunaan air yang berlebihan pada jumlah yang terbatas dan keruh. Dari sini ia berpikir ingin cepat kembali karena cepat atau lambat ia akan mati apabila masih bertahan di sini.

Ia pun segera menuju ke ruangan redya untuk menanyakan sesuatu. Ketika ia membuka pintu, ia benar benar di buat terkejut akan foto yang dipajang, karena dalam foto itu ada wajah ayahnya.

“ rupanya kamu sudah mengtahuinya terlebih dahulu”

“ apa maksud semua ini tuan?”

“ kemarilah akan aku ceritakan suatu hal, memang benar yang kau lihat itu adalah ayahmu dan aku ini ibu kandung yang telah melahirkanmu semua ini bisa terjadi berawal dari peraturan baru di perkumpulan ilmuwan bahwa tidak boleh dalam keluarga ada lebih dari satu ilmuwan, jika ada salah satunya akan dipenjarakan, ibu tidak tahu apa motif dari aturan ini tapi yang pasti aturan ini berlaku untuk seluruh ilmuwan akhirnya ayahpun memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesi ilmuwannya, setelah ayahmu mengundurkan diri ibu dan ilmuwan terbaik lainnya diberikan tugas untuk mengatasi masalah di suatu kota, ibu berpikir akan bisa kembali namun ini hanya tipuan semata dari komandan tredo dan racher ini salah satu dari mereka untuk memusnahkan para ilmuwan dengan mengetahui bahwa di kota tersebut ada peningkatan temperatur suhu secara mendadak sehingga menewaskan beberapa jiwa termasuk para ilmuwan terbaik tadi, semua itu mereka lakukan untuk memenuhi ambisi mereka  menguasai dunia. Namun mereka kecolongan satu hal mereka tidak tahu bahwa  kamu adalah anak dari seorang ilmuwan. ”

“ lalu dengan maksud misi ini?”

“ ambil dan musnahkan adalah misi mereka untuk membunuh ibu, karena setelah mereka tahu bahwa ibu masih hidup mereka pasti berpikir bahwa ibu hanya kan menjadi penghalang ambisi mereka dan kamu dikirim di sini itu sebagai jebakan dari akal akalan mereka supaya kamu yang seakan akan selama ini mencuri data dari masa depan”

Setela mengetahui hal  itu arya pun mengajak ibunya untuk berdiskusi tentang bagaimana pencegahan bencana yang akan terjadi.

#####

Keesokan harinya arya, ibunya, dan seluruh  karyawan berkumpul untuk merencanakan pembangunan yang dapat mencegah bencana besar dengan menjadikan mereka 50 kelompok dan kelompok terebut akan menyebar di seluruh wilayah untuk mengadakan perbaikan dengan  cara menanam tanaman asli yang belum dilakukan persilangan di setiap lahan kosong, merubah sebagian besar rumah kaca menjadi rumah yang ramah lingkungan dan memfilter air keruh, serta membuat beberapa irigasi modern  untuk menairi tanaman tanaman yang ada. Seluruh agenda perbaikan ini mereka rancang karena menurut perhitungan BPTB ( Badan Peneliti Temperatur Bumi) 1 tahun kemudian temperatur yang tejadi di setiap daerah akan naik menjadi 50 derajat yang dapat mematikan seluruh nyawa. Setelah seluruh agenda ia instruksikan kepada pemimpin kelompok tak lupa juga sejumlah bantuan dari pemetintahansekarang ia tinggal menanti laporan selanjutnya.

#####

“ piih, tampaknya kamu sudah masuk perangkap arya”, monolog komandan tredo. Ia berpikir sebentar lagi ia-lah yang akan menguasai dunia. Sampai akhinya monolog ini di dengar oleh komandan racher, elas komandan racher membantah akan hal ini tapi siapa sangka komandan tredo tega membunuh sahabatnya sendiri hanya demi ambisi.

“ hahahaaa….racher…racher..bodoh sekali kau ini dari awal aku sudah merencankan akan hal ini”, katanya dengan sombong dan meludahi  jasadnya”.

#####

“ lapor komandan seluruh  kelompok telah menyelesaikan tugasnya”, katanya dengan tegas dan  hormat.”

“ laporan saya teima, kembali ke tepat”

“siap”

Setelah mendapatkan laporan arya pun segera menghubungi pemerintahan dan ternyata ia mendapat kabar bahwa komandan  tredo sedang dalam proses penangkapan atas tindakannya pencurian data dari beberapa tahun lalu, tak lupa pemerintah juga mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan penawaran untuk arya dan ibu agarat tinggal dan diberi fasilitas yang sangat tercukupi selama di sini, dengan segala kesungkanannya ia menolak semua ini, ia merasa bahwa tempat tinggalnya bukan di sini, ini hanya sebuah perjalanan hidup saja.

#####

di balkon sebuah apartemen ada sebuah ibu dan anak yang sedang memandu kasih  perpiahan penjang yang mereka lalu tergantikan dengan rasa bahagia yang membuncah. Arya tidak bisa membayangkan mungkin apabila pada hari itu ia tidak telat bangung semua ini pasti tidak akan terjadi. Berawal dari sebuah kerterpaksaan dapat berbuah manis karena melakukannya dengan segenap rasa dan seluruh jiwa. Meskipun hingga kini ia masih belum mengetahui keberadaan ayahnya. Ia singkirkan pikiran tentang ayahnya sekarang ia hanya ingin menikmati waktu bersama ratu batinnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *