Cerpen #430 Enggang Tak Selalu Datang

Ada yang berbeda di hari ini. Pagi-pagi sekali Kaik bersenandung pelan dari balik jendela anyaman kamar. Kedua tumitnya nyaris tidak bisa dipakai berjalan sejak kemarin lusa. Seolah bersambut, seekor rangkong melintas di depannya. Ia sontak membelalak.

“Burung enggang enda’ nya mati. Ranca’ merista di dalam hati. Namun hilang jangan ha’ hilang si burung enggang….”

Tirai putih kamar Kaik disingkap, namun pandangannya masih menetapi bayang-bayang burung yang nyaris punah tadi.

“Kaik, kenapa?” Seorang remaja laki-laki berseragam putih abu mendekat, lalu duduk di tepi dipan.

Kaik menoleh, lantas tersenyum. Seseorang di hadapannya ini selalu mampu menghangatkan hati. “Baru saja Kaik lihat Enggang.”

“’Kan, kemarin-kemarin dan sekarang juga Kaik bareng Enggang terus?”

Kaik tertawa. Tidak terpikir kesamaan nama cucunya dengan sebutan lain ‘burung rangkong’ akan menimbulkan kesalahpahaman. “Bukan kamu, Enggang. Rangkong betulan. Tadi lewat sini.” Kaik menunjuk ke luar jendela.

Giliran Enggang mendelik. “Enggak mungkin. Habitatnya, ‘kan, di hutan?”

“Mungkin mau ngucapin selamat ulang tahun sama kembarannya,” seloroh Kaik. Enggang cengengesan, memijat tumit Kaik yang terasa tinggal tulang dan keriput. Hari ini memang hari lahirnya.

“Sebelum Kaik tanya, Enggang yang bilang duluan: Enggang enggak perlu apa-apa. Yang penting Kaik sehat, lihat Enggang sampai lulus. Nanti kita makan semur sapi.”

Keduanya tergelak. Mengamini diam-diam. Jangankan makanan olahan daging sapi, terakhir kali mereka mencoba daging ayam sekitar tiga bulan lalu—sepanjang yang mereka ingat.

“Lama sekali sejak terakhir hujan, ya? Padahal bukan musim kemarau….” Kaik mengibas kerah kaus.

“Kaik tahu kenapa?” tanya Enggang retoris.

“Udah mau akhir zaman.”

“Ya, ya, itu mungkin salah satunya. Tapi banyak sebab lain.” Enggang membetulkan posisi duduknya, berhenti memijat kaki Kaik. “Enggang kira, akhir zaman enggak terjadi atas kehendak Tuhan begitu saja. Coba Kaik perhatikan, tanda-tanda akhir zaman itu malah lebih banyak terjadi karena tindakan manusia sendiri, bukan? Seperti kekeringan di berbagai tempat. Itu, ‘kan, bukannya karena tiba-tiba hujan enggak turun berhari-hari. Ada sebabnya. Apalagi…” Enggang mencondongkan badan, suaranya memelan seumpama tengah membicarakan rahasia besar. “Beroperasinya tambang batu bara yang jadi sumber energi listrik. Perusahaan-perusahaan industri itu mana peduli dengan AMDAL dan warga sekitar yang terdampak. Wah, bisa jadi pemicu dahsyat. Makanya, Kaik, berapa kali Enggang kasih tahu? Enggak usahlah pakai listrik. Tuh, Enggang udah coba-coba ngerakit panel surya. Dua-tiga minggu lagi udah bisa dipakai.”

Kaik manggut-manggut tak paham. Cucunya satu itu sering mengomel setiap harus menggunakan lampu atau alat-alat yang membutuhkan listrik, meski pemakaiannya sudah diatur. “Ya sudah, sekolah sana yang benar. Biar bisa buat panel surya yang banyak,” ucap Kaik sebelum pembicaraan yang ia tak mengerti ini berlanjut sampai siang.

“Siap!” Enggang bangkit dengan semangat. “Oh, ya. Kalau Kaik butuh Enggang?”

Burung Enggang Merista.”

“Sip.” Enggang mengacungkan jempol, lalu pamit pergi.

Ada satu hal yang Kaik tidak pernah tahu mengapa dan bagaimana. Setiap ia mendendangkan lagu Burung Enggang Merista, Enggang selalu tahu. Meski hanya menggumam, cucunya itu bakal mendatanginya, bertanya apakah ia baik-baik saja. Barangkali karena sejak Enggang bayi, Kaik kerap menenangkannya dengan lagu tersebut. Berharap upaya kecilnya dapat menggantikan kehadiran dua sosok yang seharusnya mengasuh dan mengasihi Enggang.

***

Usai dentang bel sekolah, sekawanan laki-laki dan perempuan menghampiri Enggang yang baru beranjak dari bangku kelas. Ucapan selamat ulang tahun silih berganti mengisi senyap ruangan. Enggang membalas terima kasih.

Ati terlebih dahulu merebut kesempatan. “Ayo main pantun! Yang kalah, kudu nurut sama yang menang.”

Enggang merengut. “Tolonglah, aku enggak ngerti yang begitu-begitu. Mending kerjain soal integral, yuk. Mau yang apa? Tentu? Tak Tentu? Bolehlah yang kalah nurutin maunya yang menang.”

“Tentu tak jitak kepalamu,” ujar Hakim berlagak hendak menoyor Enggang.

“Sepakat ya?” Ati meminta pendapat yang lain. Permainan pantun pun disetujui secara aklamasi. “Kalau gitu, Izan yang kasih soalnya.”

Izan berdeham. “Siap?”

Semua terdiam tanda menyimak. Mendadak suasana berubah tegang.

“Pantai Santolo, Pantai Pangandaran…”

Enggang mengerjap bingung. “Santolo? Sontoloyo, kali?”

Ati menggebrak meja. “Ngakunya solo, padahal udah punya gandengan!”

Kontan sekawanan itu terbahak.

“Nyindir, nih?” Enggang tersenyum kesal. “Skip, Zan.”

“Oke, oke.” Izan susah payah meredam tawa. Ia berpikir sejenak. “Kue cucur anget-anget…”

“Bentar, dari tadi enggak aturan, deh. ‘Kan, sampiran minimal delapan suku kata?”

Tanpa memedulikan protes Enggang, Ati mendekat ke arahnya. Menggenggam kedua tangan Enggang erat. “Jujur, kamu tuh selera aku banget.”

Sorak sorai seisi kelas tak terbendung. Enggang menepis Ati dengan dongkol. “Geli, tahu! Kalian sekongkol, ya?”

Seolah tidak mendengar apapun, mereka menggiring Enggang ke parkiran.

“Ke mana?” tanya Enggang.

“Ikut aja.” Hakim mengedikkan kepala, meminta Enggang naik ke boncengan motor.

Sesampainya di lokasi, semua bersiap mengeluarkan peralatan pancing. Hanya Enggang yang berdiri terheran-heran. “Di sini?”

“Ya, iya. Ayo, mumpung masih cerah,” sahut Ati.

“Memangnya di sini ada ikan?”

“Mungkin? Coba aja.”

Di hadapan Enggang kini adalah kolam eks tambang batu bara yang kerap dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari seperti mengairi sawah dan keperluan ternak. Enggan, Enggang mengambil kail dan senar. Memang sudah lama mereka merencanakan untuk memancing bersama. Hanya belum ditentukan tempatnya.

Satu jam berlalu, mereka belum juga mendapat apa-apa. Menangkap siluet ikan, Ati mengagas ide untuk berenang sampai ke tengah. Ide itu diikuti Hakim. Enggang memutuskan menunggu di tempat semula.

Selang beberapa menit setelah kepergian mereka, terdengar teriakan Hakim meminta tolong. Enggang cepat-cepat berdiri.

“Ati! Ati tenggelam!” Tampak Hakim berusaha menolong Ati. Enggang segera menyusul sampai ke tengah.

Ati yang panik mencekik Enggang dan menendang Hakim. Hakim refleks melepas cengkeraman. Sementara itu, Enggan dan Ati semakin menjauh ke tengah, timbul tenggelam.

Sampai keduanya tidak terlihat sama sekali.

***

Kaik sekali lagi membuka kotak sepatu yang ia beli kemarin lusa, memastikan tidak ada cacat di setiap sisinya. Penyebab nyeri dan ngilu di tumit. Bukan karena dipakai, melainkan karena untuk mendapatkan sepatu dari toko barang bekas tersebut, Kaik perlu menambah beberapa pekerjaan sampingan. Memberi pakan ternak, membersihkan rumah tetangga, dan menjual kerupuk dari warung ke warung.

Adzan maghrib selesai berkumandang. Yang ditunggu belum datang juga.

Kaik menghirup napas dalam-dalam. Ada yang berbeda pada malam ini.

“Burung enggang enda’ nya mati. Ranca’ merista di dalam hati. Namun hilang jangan ha’ hilang si burung enggang….”

Kaik terus memandang pintu, menanti ucapan salam dari seseorang.

Ada satu hal yang ia tidak pernah tahu. Meski Enggang selalu tahu kapan Kaik menyenandungkan Burung Enggang Merista, ia tak selalu datang. Menanyakan apakah Kaik baik-baik saja, atau sekadar mengucap salam. Seperti malam ini.

Pada akhirnya, senandung itu hanya bersambut semur daging yang sudah mendingin.

***

Disclaimer: lirik pantun terinspirasi dari pemilik akun Instagram @karmalogy

14 thoughts on “Cerpen #430 Enggang Tak Selalu Datang

  1. Kaik gak curiga berulang2 senandung gak dateng2? Gak nyoba nyari juga? Sapa tau sang Enggang msh bisa terselamatkan biar to be continued ceritanya

  2. Cerpen ini sangat menarik. Memberi perhatian pada alam. Semoga yg membacanya pun dapat memaknai ceritanya dengan baik.

  3. 2 hal yang ingin digambarkan pengarang pada cerpen ini: kerusakan alam yang berkelindan dengan intervensi manusia dan kiamat dini yang ditandai dengan kepunahan. Tabik!

  4. Mengkritik lewat cerpen dan mengingatkan bagi penulis, pembaca dan semua mahluk.hidup bahwa keseimbangan adalah sumber kesejahteraan agar ekosistem tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *