Cerpen #429 Sekte Petani

Ketika masih ada saja sebagian warganya yang terlibat sekte petani, walikota 8th Dome City (Kota Kubah Kedelapan) menjadi resah. Ia tak mau dikatakan lambat mengatasi kelompok petani sesat yang kian mengancam kemajuan kota itu.

“Kalau begini caranya,” geramnya, “bisa-bisa aku karirku berhenti sampai di sini. Dasar orang-orang primitif! Kurang apa aku menjamin kebutuhan mereka, ha?” sembari tangannya melemparkan stik remote ke wallscreen yang terpampang di depannya.

Tayangan video ratusan orang melakukan ritual Sembah Bumi itu seketika padam, bersamaan timbulnya retakan dan kilat api pada layar hitam disertai bunyi yang memantul ke seluruh penjuru dinding Grand Capytown, kantor walikota. Tak butuh waktu lama, pejabat kota yang teknokrat itu mengumpulkan kepala-kepala dinas beserta segenap anggota presidium Dewan Pertimbangan Kota. Pada waktu yang sudah direncanakan, segenap undangan hadir di Town Ball, balaikota berbentuk mirip bola raksasa yang melayang ditopang pancaran air mancur serupa menara, dikelilingi danau berair asin dengan kanal raksasa yang menghubungkannya dengan laut. Seperti yang sudah-sudah, ia tumpahkan sederet rencana strategis disertai data-data pendukung guna membasmi sisa-sisa pengikut sekte petani sampai ke akar-akarnya.

“Bapak dan ibu yang terhormat,” demikian ia memulainya,” bertahun-tahun kita semua hidup berdampingan dengan damai di kota yang serba teratur ini. Tak ada hal sekecil apapun yang tidak tertata dengan baik. Tidak hanya jalan, taman, dan blok-blok hunian yang selalu tampak asri. Segala sesuatu seakan terjadi menurut jadwal yang sudah pasti. Pemerintah juga telah menjamin tak ada satupun warga yang kelaparan, telantar, ataupun terabaikan kesejahterannya, termasuk para manula, pelaku sejarah yang telah berjasa mewariskan generasi terbaik untuk masa depan kota ini. Sekalipun kita pernah kehilangan mata air terakhir, tetapi berkat kepiawaian para ahli, kita telah dapat ciptakan watercon yang kita konversi dari udara kotor. Dan atas keseriusan kita mengelola itu semua secara profesional, keberkatan sepenuhnya menyertai hari-hari warga 8th Dome City. Matahari tak pernah ingkar, terbit tepat ketika seseorang di kota ini bangun paling dini. Begitu pula saat senja tiba, nyaris bisa dipastikan matahari terbenam pada saat semua orang telah duduk rapi menghadap meja makan bersama keluarganya.” Seperti sengaja, walikota itu memanjangkan pidato pembuka agar bisa memberi penekanan pada hal-hal yang berhubungan dengan perasaan pendengarnya.

Hadirin tentu saja terpukau dengan penjelasan selanjutnya yang begitu rinci, canggih, serta melibatkan perasaan yang dalam seperti itu. Terlebih warga kota, yang bisa ikut menyaksikan tayangan langsung pertemuan itu di setiap tempat mereka beraktivitas. Termasuk para penyimak berita real time yang bisa mengakses tayangan itu dari seluruh penjuru dunia, akan dapat segera saja mengambil penafsiran atas apa yang terjadi di 8th Dome City. Kota yang dicitrakan modern dan terbuka itu sekan sedang menunjukkan kesan penting atas ancaman eksistensi segelintir penganut Sekte Petani terhadap kemajuan peradaban mutakhir warganya.

“Bapak dan Ibu tentu masih ingat dengan pelajaran dari para pendahulu,” lanjut walikota, “bahwa kota ini dibuat dengan sangat cermat oleh para ahli di bidang masing-masing. Semua hal dirancang agar publik tak mengenal kata susah dan repot. Setiap kesalahan seakan langsung diperbaiki dengan cekatan, tak perlu menunggu timbulnya keluhan apalagi kecaman dari banyak orang,” dengan mimik muka serius, di kalimat terakhir walikota menambah lantang suaranya.

Sementara itu, sebuah Capsy Car (mobil kapsul) melesat di jalan utama, menyusuri jalur penghubung antar cluster di pusat kota, setelah melintasi alun-alun tempat town hall berada. Tampak seorang ibu muda bersama anak laki-lakinya di dalam kabin. Perempuan itu menjelaskan tentang keadaan di luar kota yang memprihatinkan.

“Kita beruntung tinggal di sini ya, Mam.” Celetuk Momon—nama bocah laki-laki itu, sembari tak henti mengedarkan pandangannya.

“Oh, begitukah menurutmu?” si ibu menanggapi.

“Memangnya ada yang salah? Momon balik bertanya keheranan, kepalanya berpaling dengan pandangan tajam ke arah ibunya.

“Aku harap kamu tahu pada saatnya nanti,” tandas perempuan itu.

Pidato walikota terdengar lirih dari siaran yang menyala di dalam kabin. Sampai pada penjelasan mengenai ancaman membahayakan dari keberadaan Sekte Petani di 8th Dome City, perhatian bocah laki-laki itu terpusat ke layar kecil di atas dashboard.

“… Akankah kita biarkan generasi muda kota ini diperdaya oleh tahayul dan klenik peninggalan peradaban kuno seperti itu, yang jelas-jelas menyelisihi upaya kita sejauh ini?” tanya walikota ke segenap hadirin, “Sedangkan kita sedang berjuang keras memperbaiki kualitas hidup dan kehidupan kita secepatnya, selekasnya, bersama teknologi aktual yang kita punya dan kembangkan seterusnya,” tegas walikota disambut tepuk tangan hadirin.

Rapat terbuka di Town Ball sore itu ditutup dengan penandatanganan persetujuan oleh presidium Dewan Pertimbangan Kota yang mengizinkan walikota bertindak untuk dan atas kepentingan warga kota.

Tanpa menunggu lama, malam harinya, walikota memerintahkan komandan militer untuk mengerahkan sejumlah pasukan terlatih ke daerah-daerah yang diduga menjadi tempat persembunyian anggota Sekte Petani. Setiap personil dipersenjatai dengan alat tembak dan detektor canggih—dapat meleburkan tanpa sisa sasaran tembak dari jauh, sehingga kecil kemungkinan siapapun orang yang tertangkap akan selamat. Tetapi sayang, laporan yang diterima walikota keesokan harinya justru mengabarkan penemuan seragam dan peralatan tentara di tempat-tempat hiburan elit.

Tak kurang akal, walikota lantas berinisiatif merangkul para cendekiawan dan pemuka-pemuka agama untuk melakukan pendekatan persuasif kepada kelompok sesat itu, berharap tradisi kuno mereka terpatahkan oleh argumentasi ilmiah dan ketuhanan. Tetapi lagi-lagi laporan yang kembali adalah kegagalan. Para ahli penyandang otoritas keilmuan itu justru berbalik memihak Sekte Petani, hanya gara-gara mendengar bermacam-macam suara serta melihat langsung pelbagai jenis serangga dan hewan melata di cluster pemukiman mereka. Para ahli itu seakan tersadar bahwa selama ini hanya dapat mempelajarinya dari buku dan ensiklopedia tanpa pernah menyaksikannya langsung di kehidupan nyata.

Sementara malam itu walikota dibuat cemas oleh kegagalan beruntun yang dideritanya, Momo sedang mendengarkan ibunya mendongengkan cerita, setelah seharian berkebun menanam benih warisan nenek-buyutnya.

“Nyai Danyang Kaki Danyang, Nyai Bodho Kaki Bodho, anggenipun kula tanem dinten puniko, nyuwun pandungo wilujeng slamet saking kersane Gusti Kang Kawasa. Suket teki padha mati, tandure ijo royo-royo kaya mendhung. Yen kasil tuwuh, ya sithik edhing iki lho bageanmu, kukuhana kang dadi rejekiku. Ila-ila dina mugi katampi atur pangapura kula, Dhuh Gusti Kang Hakaryo Bhawono,” senandung si ibu terdengar merdu, sembari tangannya mengelus-elus dahi Momo.

“Itu lagu apa, Mam?” tanya bocah itu dengan mata terpejam, seakan meresapi keindahannya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *