Cerpen #428 2121

Aya masuk ke dalam tenda dan Kenzi langsung menubruk—memeluknya. Aya membuka masker dan serpihan es berjatuhan saat ia menurunkan tudung jaket tebalnya.

“Benar kan, Kakak tidak lama,” katanya, berlutut pada Kenzi dan mengacak-acak rambutnya. Aya tujuh belas tahun dan Kenzi tujuh tahun dengan rambut panjang sebahu. “Besok kita potong rambut, ya?”

“Seperti rambut Kakak?”

“Ya, pendek seperti rambut Kakak.” Panas matahari yang menyengat membuat Aya selalu memangkas pendek rambutnya. Ia lantas mengeluarkan beberapa roti kemasan dari dalam jaketnya. Kenzi semringah dan langsung menyobek kemasannya.

“Maaf ya, tidak ada roti keju,” kata Aya. Kenzi tertawa, tahu Aya bergurau. Aya mengawasi Kenzi memakan roti dengan gigitan lahap. Keduanya memakan roti tanpa isi. Keju dan susu sudah lama menjadi barang langka. Seperti kerang yang menjadi beracun dan ikan-ikan menghilang, setelah laut tak seasin dulu, akibat semakin hangat dan asam. Ribuan ikan mati terdampar di teluk-teluk, karena fitoplankton, yang sebenarnya produsen separuh oksigen di bumi, kini justru menghasilkan toksin.

Aya mengunyahnya perlahan. Hanya itu yang tersisa di supermarket, jauh di bawah bukit. Terlantar, terendam air, dan terjarah.

Sementara butir-butir es sebesar kelereng terus memberondong dinding tenda. Awan cumulonimbus gelap menjulang sampai stratosfer, berisi badai yang siap mengamuk. Diawali kilat, petir datang menggelegar.

Kenzi menutup kedua telinganya. “Kira-kira berapa lama badai hari ini?” tanyanya, berusaha mengalahkan suara gemuruh.

“Sebentar,” kata Aya, berusaha menenangkan Kenzi yang takut petir. “Mungkin lima menit.”

Lima menit ternyata memanjang menjadi semalaman. Mereka berdua menghangatkan diri di dalam kantong tidur dan Aya memohon pada Tuhan agar pasak-pasak tenda mampu bertahan.

“Kakak ada sesuatu buat kamu,” kata Aya, bangun dan mengenggam apel merah. “Sebenarnya Kakak ingin simpan untuk Kakak perlihatkan pada Theo. Simpan bijinya ya, nanti.”

“Apa ini?” Kenzi bingung. Aya menyuruh Kenzi memakannya. Kenzi menggigit, mengunyah, dan menelannya. Aya menunggu. “Enak Kak.”

Aya tersenyum. “Ini apel. Dulu ini buah kesukaan Kakak. Kakak temukan pohonnya dalam perjalanan pulang. Kakak kira apel sudah…” Aya mencari kata-kata yang tepat. “sudah punah.”

“Kenapa bisa begitu, Kak?” Kenzi menggigit lagi apelnya. “Aneh.”

“Kenzi,” desis Aya. “Kamu besar di pengungsian. Kamu hanya tahu dunia yang sekarang. Kamu bahkan tidak pernah tahu kalau bumi kita pernah indah.”

Raut wajah Kenzi semakin bingung dan tampak nyaris menangis. Aya menjadi frustasi lagi merasa bersalah. Ia merangkul Kenzi dan keduanya terisak. “Kakak minta maaf,” kata Aya, mendekap semakin erat. “Kenzi tidak salah, Kakak cuma capek.”

Di luar, angin berdesing kencang. Dinding tenda bergoyang dan berkelepak.

Pada tengah malam Kenzi akhirnya terlelap. Aya sendiri tak bisa tidur. Ia ingat hari itu dan rasa air putih yang ia teguk dari gelas di kamarnya. Airnya terasa dingin dan murni.

Menonton televisi, Aya terkesiap. Berita menayangkan bongkahan es Antartika seluas pulau kecil terdampar di Pantai Bopong. Dari Kutub ke Kebumen. Orang-orang berkerumun mengambil foto dan video.

Aya buru-buru menuruni tangga. “Ibu!”

Akan tetapi ia lupa, Ibu tak ada di rumah saat itu. Rumah kosong dan sepi. Ibu adalah peneliti dan aktivis lingkungan dan mereka sedang sibuk di suatu tempat. Ibu dan kawan-kawannya sudah lama memperingati ini akan terjadi. Tapi tak semuanya mau mendengar.

“Sekarang atau akan terlambat!” Itu yang sering Ibu katakan pada orang-orang.

Aya merasa takut. Ia ingin memeluk Ibu. Ibu pernah bilang, banyak virus purba terjebak dalam lapisan es yang sudah membeku ribuan tahun. Virus-virus yang bisa menyebabkan pandemi di seluruh dunia. Kini, es itu mencair ….

Aya tersentak bangun dari tidurnya.

Lama ia berbaring dan mengatur napas. Sudah lupa, telah berapa lama ia terbangun memandang langit-langit tenda, alih-alih atap kamarnya yang nyaman. Semua berubah setelah segalanya terendam air yang tak pernah surut.

Tak ada Ibu yang membangunkannya. Tak ada kecupan atau susu hangat. Ibu tak akan kembali. Kapalnya menabrak bongkahan gunung es di Selat Fram, dekat Greenland. Ibu dan kawan-kawannya dari berbagai negara sedang meneliti bakteri. Bakteri yang bangkit dari tidur seratus ribu tahun akibat es mencair, yang menjadi tersangka dari kematian sepuluh ribu orang di Islandia dan Siberia.

Dari kejauhan, Aya mendengar kicau burung yang jarang ia dengar. Kenzi masih nyenyak dan Aya melangkah keluar tenda dengan maskernya. Menyaksikan riuh kehidupan pengungsi dari seratus tenda di sekitarnya.

Seorang anak menyeret jeriken penuh berisi air sungai. Suara tangisan bayi menjerit dari dalam tenda, menunggu sang Ibu di depan, memasak entah apa pada panci, dengan kayu bakar dari hutan bambu yang mereka tanam sendiri.

“Kenapa bambu?” Aya pernah bertanya pada Theo.

“Bambu menyimpan jauh lebih banyak air dan karbon, fotosintesis efisien, dan tumbuh cepat semeter per hari. Seharusnya sejak dulu orang-orang menanam lebih banyak bambu.”

Theo kini bersama para lelaki dewasa mendirikan kincir angin untuk pembangkit listrik. Aya mengernyit, menantang silau. Mengamati kincir angin yang akhirnya tegak. Dahulu Ibu membuatkan kincir angin kecil untuknya, yang ia bawa lari-lari sambil tertawa. Mirip tawa orang-orang saat ini. Kincir angin itu dibangun untuk menggerakan turbin listrik. Kehidupan baru untuk seratus tenda pengungsi.

Kenzi keluar dari tenda sambil mengucek-ngucek mata.

“Kamu mau Kakak buatkan kincir angin kecil?” tanya Aya, dan Kenzi menjawabnya dengan tersenyum tipis. Aya membalasnya. Ia menyayangi Kenzi selayaknya adik sendiri.

Kicauan burung di kejauhan terdengar seperti alunan musik. Orang-orang dengan masker bermunculan dari dalam tenda, memandangi kincir setinggi sepuluh meter dengan takzim. Beberapa bertepuk tangan.

“Ibu titip ya,” Aya mengingat kata-kata terakhir Ibu sebelum pergi.

“Titip apa, Bu?”

Ibu tersenyum. Aya tahu apa yang Ibu maksud. “Lakukan apa yang bisa kamu lakukan,” katanya.

Sekarang atau akan lebih terlambat lagi. Pagi itu, terasa berbeda. Pagi itu sinar matahari keemasan, di balik baling-baling kincir yang mulai berputar, tampak seperti sebuah harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *