Cerpen #427 Surat dari 2121

Perkenalkan, nama saya Edwin Quark dari Kelas 7A. Usia saya 11 Tahun 4 bulan 9 hari. Ini adalah tugas saya untuk mata pelajaran komunikasi. Bu Rosalind memberi tugas untuk melakukan komunikasi imajiner dengan orang-orang yang hidup 100 tahun lagi via surat. Isi dari surat tersebut adalah harapan dan peringatan bagi mereka yang hidup di masa lampau agar mereka tidak menapaki jalan yang keliru yang menyebabkan kerusakan bumi dan mempercepat terjadinya perubahan iklim yang semakin parah.

Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada kalian. Terima kasih karena telah mewariskan bumi yang telah rusak kepada kami. Memang, ada saat-saat dalam 100 tahun terakhir ini yang terasa seakan dunia tidak memiliki harapan lagi. Namun, seperti kata Pak Oscar di pelajaran sejarah, “Zaman yang sulit menghasilkan generasi terbaik sementara zaman yang mudah menghasilkan generasi terburuk”. Karena ulah tangan kalian, generasi terburuk yang dilahirkan oleh zaman yang mudah, maka lahirlah generasi ayah ibu kami yang merupakan generasi terbaik yang mampu membuat kami selamat dari perubahan iklim ekstrim dan kerusakan lingkungan yang parah. Ya, terima kasih sekali lagi karena telah membuat zaman yang sulit.

Beberapa hari yang lalu saya melihat film dokumenter tentang orang utan. Saya amat menyukainya. Ada sesuatu dengan cara mereka menatap yang membuat saya merasa bahwa mereka bukan hewan. Ada kedalaman jiwa dan kecerdasan dalam tatapan mereka. Sungguh disayangkan bahwa kami di masa ini tidak dapat lagi berjumpa secara langsung dengan mereka. Ya, kabar untuk kalian di masa lalu, orang utan sudah punah sebelum tahun 2100. Anggota keluargaku yang terakhir melihat mereka secara langsung adalah nenek dari ibu yang merupakan peneliti. Ia menolong seekor orang utan betina yang terkena jebakan, namun sayang nyawanya tidak tertolong lagi. Padahal orang utan itu adalah individu terakhir yang ada di alam, begitu menurut cerita nenek. Sungguh kehilangan yang teramat besar bagi bumi dan bagi umat manusia.

Aku mendengar dari pelajaran sejarah kalau salah satu penyebab kepunahan orang utan adalah alih guna hutan menjadi kebun sawit. Aku tidak pernah tahu apa itu kelapa sawit dan apa gunanya bagi manusia. Di masa kami ini minyak sudah tidak diproduksi dari tanaman, namun dari makhluk bersel tunggal, semacam ragi, dan dari sampah organik, sehingga bumi tidak hanya diuntungkan karena sampah berkurang namun juga tidak ada hutan yang dikorbankan hanya untuk menghasilkan minyak.

Tentu saja, dari beberapa artikel yang kubaca, jelas bahwa kelapa sawit adalah salah satu penghasil minyak nabati di daratan yang paling efisien dan murah. Mungkin itu sebabnya kalian tidak beralih ke sumber minyak nabati lain seperti misalnya bunga matahari yang ternyata sama-sama membutuhkan lahan yang luas dan menghasilkan minyak yang jauh lebih sedikit dari kelapa sawit. Saya pun tidak bisa menyuruh kalian untuk meninggalkan kelapa sawit begitu saja, mengingat betapa ekonomi kalian bergantung kepadanya dan belum adanya pengganti yang setara dengannya. Saya hanya meminta kalian untuk membatasi konsumsi minyak kalian agar tingkat konversi hutan tidak meningkat dengan cepat. Kalian tentu tahu kan gorengan itu tidak sehat. Jadi untuk apa mengorbankan kesehatan kalian untuk sesuatu yang bisa merusak hutan juga. Pikirkanlah para satwa di hutan, terutama orang utan. Sayangilah mereka sebelum mereka hilang dari sisi kalian. Peluklah mereka selagi kalian bisa.

Karena saya berasal dari masa depan, maka perlu kuberitahu bahwa kejayaan kelapa sawit akan berakhir sebelum kalian menyadarinya. Negara-negara maju akan menemukan proses pembuatan minyak dari makhluk bersel tunggal dan, ketika saat itu tiba, mereka akan berhenti membeli dari kalian. Produksi kelapa sawit kalian yang menurun tiap tahunnya karena hantaman perubahan iklim hanya akan semakin merugi karena tidak ada negara yang akan membelinya lagi. Sementara kalian akan terus mengkonversi hutan, dengan harapan dapat meningkatkan produksi kelapa sawit, namun semua itu akan sia-sia. Saat itu tiba, penyesalan kalian akan sangat terlambat karena kerusakan yang parah sudah terlanjur terjadi dan hutan kalian sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Orang utan pun akhirnya hanya menjadi korban sia-sia dari tindakan panik kalian itu.

Oh ya, akan kuceritakan bagian terkelam dari sejarah yang terjadi dalam 50 sampai 20 tahun terakhir: perang memperebutkan air. Iya, air. Mungkin di zaman kalian air tersedia dengan mudah, khususnya bagi kalian yang hidup di perkotaan. Namun sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah kami yakni lebih dari satu perang untuk memperebutkan air. Aku tidak perlu menyebutkan di mana tepatnya perang-perang itu terjadi, kalian pasti sudah bisa melihat wilayah-wilayah di zaman kalian yang paling sering mengalami kekeringan dan memiliki populasi yang besar.

Namun, bukan cuma karena memperebutkan air. Ada juga peperangan yang terjadi karena perebutan area penangkapan ikan di laut. Yah, kalau dipikir hal itu adalah hal yang lumrah di dunia kami ini. Pada zaman kami sumber daya alam adalah sesuatu yang sangat berharga dan sering menjadi alasan suatu negara memulai peperangan dengan negara lain hanya untuk bisa menghidupi rakyat mereka. Tentu saja, di zaman kalian sumber daya alam juga sesuatu yang berharga. Namun sejarah peperangan atas dasar sumber daya alam di zaman kalian paling-paling terbatas pada perebutan sumber tambang atau minyak bumi.

Kondisi dunia pada awal Abad ke-22 dapat digambarkan sebagai dunia dimana jurang perbedaan antara negara maju dan negara tidak maju adalah bagai bumi dan langit. Negara maju telah berhasil memiliki koloni yang berkelanjutan di Mars dan juga memiliki stasiun pemberangkatan di bulan untuk misi-misi eksplorasi angkasa yang jauh. Mereka juga telah menggunakan energi bersih terbarukan yang ramah lingkungan. Dengan energi bersih itu mereka juga telah berhasil memperbaiki kondisi alam mereka sehingga kondisi hidup mereka jauh lebih baik dari kami.

Kami yang hidup di negara tidak maju harus berjuang keras mengejar ketertinggalan kami. Generasi kakek dan ayah kami harus memperbaiki alam sambil membangun industri yang bersumber dari energi bersih terbarukan. Tidak mudah bagi mereka untuk menggunakan energi yang terbatas itu sementara batu bara masih tersedia dalam jumlah banyak. Jika mereka nekat, maka negara maju akan segera mengembargo kami dan ekonomi kami pun akan mundur lagi. Keseimbangan, begitu kata ayah, adalah filosofi untuk maju.

Sementara itu segala upaya perbaikan yang sudah dilakukan tidak semerta-merta menghilangkan segala kerusakan yang sudah terlanjur terjadi. Perubahan iklim sudah terjadi dan dampaknya amat dahsyat, terutama bagi negara kepulauan. Tidak terhitung betapa banyaknya area pesisir yang sekarang tinggal sejarah. Tempat kakek lahir misalnya di pesisir barat Sumatera kini sudah hilang ditelan lautan karena es di kutub sudah mencair. Badai super dahsyat dan kekeringan yang berkepanjangan datang silih berganti menghantam manusia yang hidup di zaman ini. Belum lagi dengan frekuensi gempa bumi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu yang menyebabkan tidak hanya kerusakan secara langsung terhadap bangunan namun juga menghasilkan tsunami yang menyapu kawasan pesisir.

Oh ya, hampir lupa. Saya kemarin membaca di buku sejarah tentang wabah Covid-19 yang mencapai puncak 100 tahun yang lalu. Menurut saya, wabah itu adalah wabah yang mudah untuk dilawan. Bayangkan, kita hanya perlu tidak keluar rumah selama dua minggu hingga 1 bulan, secara global, maka virus itu pun akan kalah oleh antibodi yang kita miliki. Namun karena kalian memiliki terlalu banyak orang ekstrovert, maka wabah itu menjadi tidak terkendali dan sulit dikalahkan.

Perlu saya informasikan bahwa epidemi Covid-19 itu bukan satu-satunya wabah yang terjadi di Abad ke-21. Ada lebih dari 3 epidemi besar yang terjadi dalam 100 tahun terakhir ini yang semuanya disebabkan oleh pembukaan hutan yang tidak terkendali. Saya mendengar kalian berfikir, apa hubungannya pembukaan hutan dengan epidemi? Nah, jawabannya adalah dua hal tersebut sangat berhubungan.

Jadi wabah-wabah yang terjadi dalam 100 tahun terakhir semuanya adalah dari jenis corona dan dengan penyebaran yang dilakukan oleh kelelawar, hampir sama seperti Covid-19. Akibat hutan yang dibuka tanpa perhitungan, kelelawar yang biasanya mencari makan hanya dalam batas hutan menjadi terpaksa menjelajah keluar hutan. Perubahan pola mobilitas ini menjadi berbahaya ketika mereka jadi bersinggungan dengan permukiman manusia. Kelelawar secara alami memiiki strain coronavirus yang unik dalam tubuh mereka,. Bagi mereka yang sudah hidup bersama selama ratusan ribu tahun, virus itu tak lebih dari virus flu biasa. Tapi bagi kita, virus itu adalah sumber bencana. Dari satu pertemuan antara manusia dan kelelawar itulah timbul pandemi lain yang lebih besar dalam 100 tahun terakhir yang menjadikan korban akibat Covid-19 nampak seperti penyakit ringan.

Oleh karenanya, jagalah hutan kalian. Jangan biarkan pembukaan hutan yang tanpa perhitungan membuat kalian selangkah lebih dekat dengan epidemi lain yang jauh lebih berbahaya dengan yang kalian alami saat ini.

Tentu saja, saya menulis surat ini bukan sebagai pembawa berita buruk semata. Saya hanya tidak ingin kalian mengalami apa yang kami alami selama 100 tahun terakhir ini. Jika ada mesin waktu, saya berharap surat ini bisa benar-benar menjangkau kalian. Semoga kalian bisa belajar dari kesalahan kami dan memperbaikinya untuk dunia yang lebih baik bagi anak cucu kalian. Ya bagi kami-kami ini di dunia 100 tahun mendatang.

Demikian surat ini saya tuliskan. Saya, Edwin Quark berharap kebaikan bagi bumi ini dan bagi kalian yang hidup di dunia 100 tahun yang lalu. Bijaklah dalam bertindak. Ingatlah, bumi ini cuma ada satu. Jagalah ia.

Edwin Quark – 7A.

7 November 2121

3 thoughts on “Cerpen #427 Surat dari 2121

    1. Gagasannya sangat Bagus dan gaya penulisan nya yang mudah dipahami membuat artikel ramah untuk dibaca banyak kalangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *