Cerpen #426 Terlarang

Dua orang gadis duduk di sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu. Dekorasi rumah didominasi oleh material kayu yang tampak telah usang, beberapa Mandau dan senjata tajam tergantung di dinding dengan rapi. Sebuah kepala binatang juga melengkapi interior rumah panggung. Nampak seorang pria paruh baya mengantar mereka keluar.

“Hati-hati ya nak, ingat pesan bapak.” Pria itu melepas mereka dengan senyuman dan lambaian tangan.

“Siap pak,” Balas Inka sembari menganggukkan kepala. Ranti menatap senyuman pria itu penuh kecurigaan.

“Kamu percaya sama yang dikatakan bapak?” tanya Ranti.

“Ya percaya aja, kan beliau tetua disini.” Beberapa warga yang sedang membawa kayu melewati mereka.

“Mari pak.” Sapa Inka ramah. Tak ada jawaban dari mereka. Mereka hanya berlalu seolah tidak ada yang menyapa mereka.

“Ka, kamu ngerasain aneh ngga sih sama warga sini. Dari kita sampai nyaris ngga ada yang nyao akita kecuali Bapak.”

“Kamu nih kebanyakan nonton horor jadi parno sama orang-orang.”

“Tapi…..”

Inka berjalan cepat mendahului Ranti memasuki hutan. Mereka melewati papan kayu usang bertuliskan ‘Hutan ini milik Adat’ yang tertutupi semak dan lumut. Tak butuh waktu lama, Inka dan Ranti telah lenyap ke dalam gelapnya hutan. Pepohonan yang tinggi dan rapat membuat cahaya matahari malu-malu menembus hutan. Suara owa dan burung saling bersautan menjadi latar suara alam yang syahdu. Inka terus menerabas dahan pohon yang menjulur di depannya, tujuan mereka masih cukup jauh. Segerombolan monyet ekor panjang melintas di atas Inka dan Ranti.

“Astaga, aku pikir orang. Inka tunggu. Jangan tinggalin aku, Ka”

“Mumpung masih pagi Ran, ntar kalo kita santai bisa-bisa kita terjebak di sini sampe malem. Kamu mau ?”

“Ih jangan lah, ntar kita ketemu sama Bahijau,” Inka menatap Ranti penuh tanya.

“Kamu ngga tahu Bahijau? Menurut cerita, beberapa orang yang masuk hutan ini ngga bisa keluar dari sini karena diculik sama Bahijau. Makanya ada larangan untuk pergi sendiri di hutan ini karena Bahijau akan menculik orang yang berjalan sendiri di hutan ini tepat waktu maghrib.”

Inka sebenarnya tahu hutan ini penuh dengan larangan dan mitos mungkin karena hutan ini masih milik adat. Beberapa kali ia diingatkan temannya untuk mengganti tempat penelitiannya. Namun ia tetap ingin melanjutkan topik penelitiannya di sini.

“Kalau bukan karena kamu bantuin penelitianku, aku ngga bakal mau masuk hutan ini sih, Ka.” Ranti berjalan terengah-engah di belakang Inka.

“Iya iya, kubayarin sate payau deh.”

“Ah elah udah bertaruh nyawa nih masak dibayar sate doang.” Mereka tertawa bersama.

Inka berhenti sejenak. Ia memperhatikan sebuah tumbuhan yang menempel di pohon meranti di depannya. Kemudian ia menggeleng.

“Bukan ya , Ka? Ke mana sih itu bunga sembunyinya.”Segerombolan monyet ekor panjang melintas di atas Inka dan Ranti.

“Astaga, aku pikir orang.”

“Lah emang bukan, wkwk” Lucu sekali melihat wajah takut Ranti.

“Ih ga lucu, Ka. Di sini ngga boleh becanda…”

“Ntar diculik Bahijau.” Inka memotong kalimat Ranti.

“Tenang Ran, kita itu ga berniat jahat jadi harusnya Bahijau juga paham.” Inka yang kesal membuang wajahnya. Seketika pandangannya tertuju pada sebuah pohon.

“Ka, itu simbol apa ya?” Tangan Ranti gemetar menunjuk simbol segitiga merah yang ada di batang pohon.

Inka mendekat ke pohon Ulin yang berdiri kokoh di depannya. Sebuah simbol segitiga digambarkan dengan cat berwarna merah dmenempel di batangnya. Inka sudah beberapa kali masuk hutan, namun baru pertama kalinya ia melihat simbol pada pohon.

“Kayaknya kita masuk area terlarang deh, puter balik aja yuk.” Untuk ertama kali nya Inka setuju dengan usulan Ranti.

“Kita coba menyusuri arah lain ya, jangan balik dulu.” Ranti pasrah mengiyakan.

Bunga yang Inka cari hanya berbunga di bulan ini. Ia hanya mekar dalam beberapa hari. Ini adalah kesempatan emasnya menyelesaikan penelitian yang sudah tertunda hampir setahun. Kalau saja habitatnya tidak terbakar habis dan bunga nya tidak diperdagangkan secara bebas, mungkin penelitiannya akan selesai dalam satu bulan. Ranti memegang bahu Inka tiba-tiba.

“Ka, ini aku ngga salah liat kan? Bunga nya warna hijau ada hitamnya kan?”

Inka segera menoleh ke arah pandangan Ranti. Ia segera berlari ke pohon meranti di depannya.

Sebuah bunga berwarna hijau dengan lidah bunga berwarna hitam menempel erat di batang pohon meranti. Inka mengamatinya dengan jeli untuk memastikan bahwa ini bunga yang ia cari. Ia segera mengeluarkan alat-alat penelitiannya, dan melakukan pengamatan. Tak lupa ia menggambarkan lokasi bunga pada catatannya.

“Akhirnya ketemu juga.” Ranti segera meluruskan kakinya, beristirahat.

Mereka butuh waktu setengah hari untuk sampai di lokasi ini. Meskipun Bapak sudah menjelaskan rute dan titik penting arahnya namun sepertinya rute yang mereka lewati berbeda. Jika sesuai arahan Bapak seharusnya mereka sudah menemukan bunga ini dalam waktu dua jam perjalanan.

“Kayaknya kita nyasar jauh sih Ka. Kalau disuruh balik, jujur aku ngga tahu jalannya.”

“Tenang, Ran. Aku hafal jalan pulang.”

Setelah dua jam melakukan pengamatan menyeluruh Inka dan Ranti bersiap untuk pulang. Tanpa ragu Inka melangkah ke arah Barat, ia yakin sekali jalan pulang mereka ada di sana. Hingga beberapa menit perjalanan.

“Ka, kamu denger ada gemericik air ngga sih?” tanya Ranti.

“Iya, aku denger.”

“Perasaan tadi kita ngga ngelewatin sungai. Kamu yakin ini jalannya?”

“Yakin Ran, aku udah catat rutenya.” Jawab Inka mantap.

Semakin mereka melangkah, semakin keras suara gemericik air.

“Fix kita nyasar, Ka.”

“Ngga Ran, ini kita di arah yang benar.”

“Coba deh lihat ke sebelah sana. Sejak kapan kita ngelewatin pohon durian sama rambutan.” Ranti menatap kesal pohon durian dan rambutan di depan matanya, meskipun buahnya terlihat menggoda.

“Hmm iya juga.” Inka menatap lesu catatan rute nya.

“Aduh udah sore lagi, kita harus cepet balik, Ka.” Ucap Ranti.

“Okai tenang, coba kita ingat-ingat lagi rute yang kita lewati ada apa.”

Suara Owa bersautan memecah keheningan.

“Kayaknya kita harus ikutin asal suara Owa deh Ran.” Seketika hening. Tak ada jawaban dari Ranti.

“Ranti?” Inka hanya melihat pepohonan di belakangnya.

Inka melihat jam tangannya. Tepat pukul enam sore. Suara Owa tiba-tiba lenyap, hembusan angin terasa lebih dingin, lalu sekelebat bayangan menghampiri Inka.

Pandangan Inka kabur. Ia hanya melihat kegelapan di sekitarnya dengan kerlip cahaya lampu. Ia sedang berbaring di sebuah kasur. Inka mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastika ia tidak sedang bermimpi.

“Hai Ka, kamu akhirnya bangun juga.” Terlihat Ranti sedang menikmati semangkuk sup.

“Kita ada di mana?” tanya Inka.

“Di hutan.” Ranti menjawab cepat. Ia terlihat lahap dengan makanannya.

“Hah?”

“Tadi aku juga kaget kayak kamu. Tapi ngga buruk juga nginep di hutan.”

“Ini tempat siapa?” Inka bertanya lagi.

“Bahijau.” Satu kata itu mengejutkan Inka.

“Tenang kita ngga diculik, kita diamankan.” Untuk pertama kalinya Ranti membahas Bahijau dengan santai. Inka yang mendengarnya justru panik. Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu.

“Permisi semangkuk sup datang lagi.” Ranti dengan sigap membuka pintu.

Seorang pria berpakaian serba hitam dengan ikat kepala hijau masuk ke ruaangan membawa semangkuk sup yang masih mengepulkan uap.

“Hai, perkenalkan saya Djata. Saat ini kamu ada di rumah Bahijau.” Inka memperkenalkan diri lalu menerima sup yang dibawa Djata.

“Malam ini sepertinya suhunya akan semakin dingin, lebih aman kalian beristirahat di sini. Kami akan berjaga di luar.”

Empat orang termasuk Djata sedang berjaga di luar ruangan. Seseorang membawa teropong, dua orang lainnya menyiapkan makanan. Mereka berpakaian lengkap hitam dari atas sampai bawah dengan ikat kepala hijau tak lupa dengan radio panggil di tangan mereka. Inka mengintip mereka dari jendela, ia butuh air minum. Dengan hati-hati Inka melangkah keluar.

“Boleh minta air?” ucap Inka. Djata mengambil segera memngambil sebotol air untuk Inka.

“Apakah kamu baik-baik saja? Maaf kalau kami harus membiusmu.”

Sore itu Djata melihat Inka dan Ratna sedang berjalan kebingungan. Djata sudah tak terkejut lagi jika pendatang banyak yang tersesat sampai ke wilayahnya. Sesuai aturan, mereka perlu diamankan karena sudah tidak mungkin mereka pulang saat malam tiba. Ada banyak hewan liar seperti macan dahan atau beruang yang bisa saja menyerang mereka.

“Kami terpaksa melakukannya untuk menghindari perkelahian. Dalam banyak kasus, banyak yang salah paham dengan kami. Kami tak punya banyak waktu untuk menjelaskan.”

“Berarti rumor yang ada selama ini tentang kalian itu salah.” Djata tertawa lepas. “Cerita horor memang selalu berhasil menakuti kalian ya?”

“Kami sengaja menyebarkan berita itu. Semua itu agar banyak orang berhati-hati memasuki hutan kami. Karena ini satu-satunya hutan yang tersisa di kampung kami.” Ungkap Djata.

“Banyak dari hutan kami sudah menjadi tanah pertambangan batu bara. Bapak salah satu orang yang bersikeras mengumpulkann pemilik lahan yang tersisa untuk menjadikan hutan ini, hutan adat. Agar masyarakat masih bisa mengambil hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi hanya untuk beberapa area.”

“Maksudnya?” tanya Inka.

“Di perjalanan tadi pasti kamu menemukan simbol aneh di pohon?” Inka mengangguk.

“Simbol lingkaran hijau artinya masyarakat boleh mengambil buah ataupun batang dari pohon itu, namun untuk simbol segitiga merah mereka dilarang. Hal itu kami lakukan untuk menjaga ekosistem hutan ini.” jelas Djata.

“Oh berarti semua keanehan di hutan ini ada maksudnya ya? Terus kenapa kami menemukan buah-buahan di hutan, kalian sengaja tanam?” Djata mengangguk,

“Setiap pohon itu punya masanya dan manfaatnya masing-masing. Kalau satu jenis pohon roboh, jenis yang lain menguatkan. Selain itu, dengan banyaknya buah yang kami tanam di sini, kami juga bisa mendapatkan banyak buah gratis. Salah satunya ini.” Djata menyodorkan segelas cokelat hangat ke Inka.

“Wah, keren sekali kalian. Aku jadi merasa belum melakukan apa-apa.”

“Bukannya kamu sedang meneliti anggrek hitam? Bapak memberi tahuku. Itu salah satu aset hutan kami. Kami butuh bantuanmu untuk melestarikannya.”

Inka dan Djata pun menatap hamparan hutan di depannya. Meski gelap namun dari cahaya lampu mereka dan bintang di langit menunjukkan gagahnya hutan di depan mereka.

“Seru juga ya memandangi hutan di malam hari. Bayangan pepohonan menari mengikuti backsound hewan-hewan hutan. Oh wait, dari mana sumber listrik kalian?”

“Kami manfaatkan sisa tanaman hutan ini jadi listrik. Karena kami perlu mengawasi penyusup hutan yang masuk atau pendatang yang tersesat.” Djata tersenyum menatap Inka.

“Tapi kedepannya kami harap listrik ini bisa digunakan masyarakat.” Sambung Djata.

“Karena kamu sudah mendengar banyak hal, jangan lupa pesan bapak.” Inka dengan mantap menjawab,

“Jangan ceritakan apapun yang kamu lihat, dengar, dan temukan di dalam hutan.” Kali ini Inka memahami sepenuhnya maksud larangan Bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *