Cerpen #425 Bonbon dan Pohon Eucalyptus Terakhir

Sudah tiga tahun Bonbon dan adiknya hidup sebatang kara. Tubuh mereka jauh lebih kurus dibandingkan koala berumur lima dan empat tahun pada umumnya. Hal itu terjadi karena kedua orang tuanya sudah mati akibat kebakaran hutan yang membumihanguskan rumah mereka. Semenjak kejadian mengerikan itu, Bonbon dan adiknya mulai mencari makan sendiri dan harus bergerak lebih banyak daripada sebelumnya. Hari demi hari mereka lalui dengan menelusuri hutan, memungut setiap helai daun dari pohon eucalyptus yang masih bertahan.

Hidup begitu keras bagi mereka. Keadaan semakin memburuk, kebakaran hutan terjadi dimana-mana. Suhu bumi naik sangat drastis akibat kelebihan karbon dioksida yang berimbas pada keberadaan makanan mereka, pohon eucalyptus.

Cuaca hari ini sedikit lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Walaupun tidak ada yang bisa dikatakan benar-benar baik, namun hari ini cukup membuat Bonbon dan adiknya dapat bersantai dan tidur dengan perut yang tak lagi keroncongan. Hari ini mereka menemukan sebatang pohon eucalyptus yang cukup besar dengan daun yang rimbun. Untuk beberapa hari ke depan mereka masih bisa bertahan di sana, melahap setiap helai daun  tanpa khawatir. Sudah sangat lama mereka tidak mendapatkan pohon eucalyptus dengan daun seperti itu.

Setelah tiga hari, pohon eucalyptus itu mulai meranggas. Bonbon dan adiknya harus kembali berusaha mencari pohon eucalyptus yang lain. Namun, dimana hutan dan pohon-pohon yang dahulu mereka tempati? Semuanya sudah menjadi debu, digantikan bangunan bangunan pencakar langit yang mereka sebut sebagai benda pemusnah kehidupan. Entah sampai kapan mereka dapat bertahan dalam situasi seperti ini. Manusia tak lagi peduli terhadap lingkungan mereka, yang mereka pikirkan hanyalah uang, pertumbuhan ekonomi, dan segala tetek bengeknya.

“Kak, bagaimana kita bisa bertahan hingga besok? Aku kelaparan, aku butuh makananku,” adik Bonbon merengek memeluk dahan pohon eucalyptus yang sudah tak berdaun.

“Tenanglah, kita pasti menemukan pohon yang lain. Kita sudah melalui banyak hari yang melelahkan seperti ini dan selalu menemukan pohon yang baru,” jawab Bonbon dengan nada sedikit bergetar. Ia bahkan tak tahu bagaimana hari esok dapat mereka lalui.

“Hmmmm, aku sungguh berharap semua ini hanya mimpi, aku tak ingin mati kelaparan, kak, manusia benar-benar kejam,” adik Bonbon menimpali dengan kalimat yang selalu ia ucapkan setiap kali mereka kelaparan.

“Kakak tak akan membiarkan itu terjadi, pasti masih ada banyak pohon eucalyptus di luar sana, kita tak boleh mennyerah begitu saja,” Bonbon mencoba meyakinkan adiknya.

“Semoga saja, jika pun sudah tak ada, aku sudah siap mati, menyusul ayah dan ibu dan meniggalkan dunia yang menyiksa ini,” adik Bonbon mengutarakan semua isi hatinya dengan putus asa. Bonbon hanya bisa meratapi nasib mereka dalam diam. Jika ia ikut mengeluh, apa yang akan terjadi pada adiknya? Siapa lagi yang akan menyemangatinya? Tidak ada.

Setelah matahari terbenam, Bonbon dan adiknya mulai menyusuri satu-satunya hutan yang masih tersisa. Hari ini mereka belum mendapatkan makanan sedikit pun. Tubuh mereka mulai terasa lemah, untuk memanjat pohon pun terasa tidak lagi bisa.

“Kak, dimana makanan kita? Apakah semuanya sudah mati? Jika iya, aku juga ingin mati,” adik Bonbon semakin putus asa setelah mereka sampai di pinggir hutan, menandakan mereka tak menemukan satu pun pohon eucalyptus yang masih hidup. Bonbon tak berkutik, tubuhnya juga mulai terasa lemah, memeluk dahan pohon dengan tenaga seadanya.

Tiba-tiba suara mesin penebang pohon terdengar mulai mendekat, membabat habis setiap batang pohon yang dilaluinya. Bonbon dan adiknya berusaha menyelamatkan diri namun tenaga mereka tak cukup kuat untuk itu. Tubuh mereka ambruk ke tanah bersama dahan pohon tempat mereka bergantung. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, usaha mereka mencari pohon eucalyptus berakhir. Tak ada lagi koala yang tersisa. Bonbon dan adiknya adalah koala terakhir yang masih bertahan hingga hari itu, namun hidup mereka berakhir bersama pohon eucalyptus yang juga punah.

Manusia dengan segala keserakahan dan ketamakan mereka tanpa ampun membabat dan membakar hutan demi sesuatu yang mereka katakana untuk ‘kemajuan ekonomi dan kehidupan’. Mereka bahkan tak menyadari bahwa peluang hidup mereka di masa mendatang juga sudah mereka kurangi bersama setiap pohon dan hutan yang mereka habisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *