Cerpen #422 Lelaki yang Mati di Balai Houdini

Mata lelaki tukang arloji itu terlalu teduh untuk menatap langit ibu kota. Henlein namanya di ibu kota. Nama aslinya? Entah. Siapa peduli? Mereka yang menetap di Jalan Pahlawan bahkan mereka yang tinggal di gang buntu hanya tahu kalau ia mantan napi.

Lima tahun enam bulan silam ia bersama seorang tetangganya mendekam di bui. Ia diputus bersalah telah melanggar pasal 170 KUHP – mengganggu ketertiban umum. Penegak hukum boleh tidak sepakat dengan suara sumbang yang menganggap dirinya genap dengan hukum yang ganjil, tetapi mereka musti setuju kalau tukang onar di pabrik yang mereka jebloskan ke lapas itu mau tak mau harus belajar ilmu melucu kalau tidak ingin jadi gila. Tak hanya orang-orang yang digaji negara, kawannya semasa ia masih di rutan, seorang bromocorah sambil menunjukkan beberapa bekas luka timah panas dan codet kenang-kenangan baku hantam di tubuhnya pernah mengemukakan nasihat yang sama – menjawab hidup yang tragedi dengan komedi. Ia tak ingin Henlein yang bermata teduh meniti garis nasibnya serupa.

November, Anggoro Kasih. Dua tahun enam bulan ia meringkuk. Ia ingat hari itu hujan yang ia rasakan lebih dingin dari dinding. Ia dibangunkan sipir. Istrinya membesuk lebih cepat dari yang ia kira. Istrinya kuyup. Bibirnya pucat dan mata merahnya. Air mata yang tak terlihat dari paras perempuan terkasihnya itu ia linangkan dari matanya yang lama tak membahasakan duka. Ia dibolehkan cuti mengantar buah hatinya ke surga.

Dua hari, belum juga kubur anaknya kering ia musti kembali, begitulah aturan hukumnya. Tiga sampai lima hari, jarang ia bersuara. Teman satu selnya yang dihukum karena memutilasi seorang penjudi sering mendengarnya mengigau, “Nak, maafkan aku. Kutinggalkan kuburmu yang masih basah. Aku tak punya pilihan dari hukum yang begini kering” atau ia juga mengigau sambil tertawa lirih, “O benar katamu. Hidup adalah tragedi dan kita dipaksa menjawabnya dengan komedi”. Lelaki pelaku mutilasi itu lekas membangunkannya. Nelangsa ia menatapnya. Ia tahu mimpi lelaki yang baru saja kehilangan satu-satunya alasan mengutuk pabrik yang tak pernah tidur di sekitar kediamannya lebih buruk daripada suatu kali mimpinya menerima bingkisan dari genderuwa yang berisi potongan kepala korbannya. Potongan kepala dengan darah yang telah mengering dan matanya yang membelalak.

“Barangkali aku tak berbeda denganmu. Tentu kau menyangkalnya. Ya, garis tanganmu memang tak sama dengan garis tanganku. Tanganku pernah membuang kepala orang ke rumah kosong dimana penjudi itu memperkosa adikku. Ya, kulempar kepala itu hingga kacanya yang bergrafiti dan berdebu itu pecah. Aku keliru. Seharusnya kepala itu kubuang saja di tempat sampah,” ujarnya sambil menatapi garis tangannya. “Barangkali aku memang berbeda denganmu. Tentu kau setuju. Tapi percayalah, tangan ini dulu tangan nelayan. Bukan tangan pembunuh. Bukan tangan penjahat. Meskipun bapak dan ibuku tidak sekolah, mereka mengajariku budi pekerti seperti jangan menjadi pencuri karena laut begitu kaya. Ya, laut begitu kaya waktu umurku baru tujuh. O mereka masih melarangku jadi pencuri bahkan setelah adikku lahir dan ikan sudah jarang aku dapat di pinggir. Bapak sering mengajakku menebar jala hingga ke tengah laut. Jauh sekali sampai pohon kelapa kami di pantai tak tampak lagi. Tangan ini juga tangan petani, meski bukan tani padi. Biar lahan tak seberapa, bapak mengajariku cara menanam dan merawat kelapa. O barangkali benar igaumu, hidup adalah tragedi. Ketika adikku mulai bisa bicara, meskipun masih terbata-bata, cerobong perusahaan yang katanya punya negara itu sudah jadi dua. Waktu adikku mulai belajar menulis dan berhitung di sekolahnya, aku menggantikan bapak yang kena ISPA melaut hingga jauh ke tengah, dua tiga hari ya masih ada yang terjala. Beberapa pohon kelapa kami juga mengering daunnya. Hari demi hari pohon kelapaku susul-menyusul mati. Bulan demi bulan makin sepi tangkapan. Tahun demi tahun seperti menghitung buntung. Bapak dan ibu telah tiada. Dengan modal menjual lahan yang jauh dari harga pasar, kuajak adik pindah ke ibu kota. Uang habis begitu cepatnya. Setuju kau mungkin nasibku apes karena kualat memunggungi laut? Apa yang bisa dilakukan tangan nelayan di jantung ibu kota? Tak kuat bertahan, kami tersingkir. Kami meminggir. Dari kontrakan-kontrakan pinggir kali sampai daerah pesisir langganan banjir. Seorang mahasiswa tetangga saya pernah mengingatkan, ibu kota mungkin akan pindah ke lain daerah, sebab memang dulu sejarahnya ribut ingin dipindahkan begitu. Ia cerita dulu ibu kota jaman kerajaan pindah karena darurat perang, barangkali tak lama lagi akan pindah karena darurat tenggelam? Entah. Aku tak tahu berapa tahun lagi? Ia bilang kalau beratus-ratus orang-orang termasuk dia dan aku telah ikut membuat ibu kota ambles. Apalagi ditambah gedung-gedung baru. Seingat saya kira-kira tiap tahun daerah rumah sewa kami ambles dua jengkal. Katanya, ibu kota itu macam kasur tua. Kalau buat tidur dua puluh orang kan ya ambrol kang? Singkat cerita, dari dia juga aku yang waktu itu kerja mengupas kerang mulai ditawari kerja membadut. Ia punya banyak kenalan orang-orang penting, juga orang gedungan. Setelah membadut aku menengah lagi ke jantung kota. Tidak di pinggir kali tapi di pemukiman. Aku mulai kerja apa saja. Mengamen pernah, jadi kuli panggul pasar pernah, jadi tukang parkir pernah, yang terakhir jadi tukang arloji” paparnya.

Lelaki itu melihat kukunya yang telah panjang. Sekejap ia melihat kuku kawan malangnya dan terpaku lagi pada kukunya sendiri. Kuku yang kini lebih bersih meskipun sama panjangnya. Ia tenggelam sejurus nafas yang ia hirup dalam. Ia ingat kecerobohannya. Ketika menjalankan aksinya, ia lupa memotong kukunya. Darah yang muncrat dan mengucur ke kukunya sulit ia bersihkan. Seperti halnya kini, tiap kali ia ingat matinya jahanam itu ia gigiti kukunya.

“Kau punya bakat kawan. Kau bisa jadi tukang arloji yang lebih baik daripada aku. Lihat tanganmu! Tanganmu, tangan orang benar bukan tangan begundal. Biar tak makan bangku kuliahan, aku tahu, di hidup ini apa yang tidak was-wus kalau uang sudah bicara? Biarpun kau ramai-ramai melaporkan pabrik yang minta tumbal, laporan yang menyangkut hidup orang banyak bakal kalah tanggap dengan laporan bos pabrik yang sebenarnya tak sampai hati pabriknya kau obrak-abrik. Aku orang yang pernah lama hidup jadi kuli panggul di pasar. Aku tahu harga kaca yang pecah kau lempar batu bara tak seberapa dibanding harga hukum dan undang-undang di negara kita,” hiburnya sambil menghela nafasnya yang berat. “Barangkali tiga tahun lagi kau bebas. Sedangkan aku? O tak ada kebebasan bagiku. Kadang aku iri denganmu, terlebih iri kepada maling-maling berdasi yang jago obral pasal dan otak-atik anggaran proposal. Entah bagaimana bisa orang-orang yang sudah bikin orang kere-re tujuh turunan bisa dipilih sama orang kere buat memimpin negeri ini. Dan lagi, entah salah atau benar, aku pernah dengar kalau mereka sudah bebas, mereka bakal jadi guru bangsa yang menasehati orang-orang untuk anti korupsi? Owalah bajul buntung. Lantas bagaimana denganmu kawan?” tanyanya.

Hati lelaki yang didera duka itu belum terbuka hingga azan subuh terdengar oleh telinga.

***

Ditancapkan dalam-dalam pada benaknya hidup adalah suatu tragedi. Gentar ia melangkah ke dunia luar. Barangkali di kurungan bertahun-tahun telah membuatnya jinak.

Tak sanggup ia kembali ke kampung halamannya. Ia cukup berani untuk dicibir hidup-hidup. Hanya saja ia gentar kembali ke rumah mungilnya terlebih memasuki kamar anaknya yang telah tiada. Kamar dimana buah hatinya tabah menunggunya pulang. Kamar dimana buah hatinya terkulai sakit hingga berpulang.

Dengan keberanian hati yang mati-matian ia kumpulkan, menyamar ia menilik kampungnya. Selintas ia tahu tak ada yang berubah. Sejak pabrik itu menggendut, penduduk asli yang bermukim di sekitar pabrik itu tak memiliki baju kerah putih.

Saat ia melintasi rumahnya, ia hanya menoleh. Lalu ia menatap tajam ke langit. Kepulan asap hitam yang menyembul ke langit itu seperti jalan yang mengantar orang-orang mati perlahan. Begitulah kenangnya terakhir kali ia menginjakkan kaki di kampungnya dan mulai mengembara ke ibu kota setelah ia menziarahi makam anaknya.

“Namaku Henlein. Bisa dipanggil Pak Hen atau Pak Le. Terima kasih telah mempercayaiku membetulkan jam tanganmu. Kabar-kabari juga sanak keluarga dan kolegamu yang punya jam dinding, jam weker, jam tangan yang rusak. Saya juga terima jasa panggil. Saya siap dipanggil membetulkan jam-jam yang macet dan mati di rumahmu, di sekolah, di kantor polisi dan tantara, di pasar, di kantor pemerintah, di pengadilan, bahkan di istana,” ujarnya selalu pada pelanggan baru.

Banyak orang menganggap nama itu tidak cocok untuknya. Kalau sudah begini, Paman Hen cuma bisa senyum. Sebagian juga memperingatkan jika dirinya tak kuat dengan nama itu, ia akan sakit-sakitan atau tak berumur panjang.

“Biar saja mereka ngomong seenak udelnya. Mereka mau anggap aku komplotan kurir narkoba atau teroris kek, mau anggap aku pencitraan agar tak tahu catatan hukumku kek, mau anggap ini-itu kek biar saja!” ujarnya padaku meluapkan kesekian kali.

Ya, lelaki yang telah mengenal lahir batin teror di negara hukum ini, selalu mengudar rasa padaku. “Begini-begini aku tukang arloji profesional. Tahu kau siapa penemu arloji? Tidak. Tidak. Aku tidak menyandang nama besarnya untuk alasan pencitraan. Tahu kau, tak kuasa aku menyandang nama lamaku yang sering dipanggil mendiang anakku” jelasnya suatu ketika padaku.

Tapi bagaimana pun benar kata orang-orang, nama itu tidak cocok bagi telingaku. Pernah suatu kali aku membercandainya untuk ganti nama, “Paman, benar katamu seharusnya di ibu kota yang tidak pernah tidur ini banyak jam macet, mati bisa kau benahi. Tapi jaman berubah begitu cepat. Orang-orang pintar bikin jam dinding, jam tangan tidak bisa mati. Waktu harus jalan terus seperti pasar yang tidak boleh tutup. Di gawai orang-orang, sekarang jam hidup terus. Sepertinya paman harus berhenti dari profesi ini dan ganti nama.”

Ia menegakkan punggungnya yang duduk membungkuk. Ia nampak tersinggung. Aku tahu dari pekerjaan ini, ia pernah untung berjibun. Bahkan keuntungan lebihnya ia berikan bagi upaya-upaya bantuan hukum dan pelestarian lingkungan. Ia tak ingin mereka meniti garis sial serupa.

Tapi jaman memang terus menggelinding. Lapak kecilnya di trotoar kian sepi. Bisa makan sehari saja sudah untung. Sambil membetulkan ulang jarum jam ke belakang, seolah ia menjumpai masa silam. Ia ingat kawannya di lapas yang mengajarinya membenahi arloji pernah menghibur sesamanya dan sipir. Mereka melongo melihat keajaiban di penjara, “Lihat tali yang telah kupotong ini. Jangan berkedip. Perhatikan betul-betul. Dalam beberapa detik. Bus-kede-bus-buh! Sudah nyambung lagi!”

Malam hari seurung tidur ia bercerita kalau permainan itu sering ia tampilkan dulu saat membadut. “Mau kau kuajari? Ya, siapa tahu di luar sana bisa berguna. Percayalah di ibu kota orang tak bisa menekuni satu pekerjaan saja. Kau sudah lihai membenahi arloji dan jam-jam mati. Kalau satu waktu kota tak lagi membutuhkan tukang servis waktu, lantas kau mau kerja apa?” pertanyaan itu muncul kembali dalam benaknya.

Seorang pemulung tua yang memikul karung melintas di depan lapaknya. Lamunannya buyar dan jam mati di tangan Henlein telah menunjukkan jarum yang sama seperti miliknya. “O benar katamu kawan, di ibu kota aku akan mengenal lahir batin keputusasaan. Orang-orang kecewa dengan tempat ini. Tempat yang mereka kira bisa wujudkan segala. O hidup adalah keputusasaan, berilah mereka keajaiban.”

Paman Hen mulai membadut. Ia mendatangi tempat kerja kawan lamanya. Tentu saja, tak ia sebut nama pembunuh sadis itu. Paman Hen juga mengatakan, jam yang ia tangani saat pemulung tua itu lewat adalah penutupannya. Kini, ia mulai belajar sulap lain-lain. Di rumah sewanya paling ujung gang buntu, ia menunjukkan permainan koin dan kartu padaku. Aku terhibur.

Hari demi hari, seperti melewati tragedi. Ia sering diundang kemana-mana dan sulit kutemui. Suatu kali ia mengundangku lagi, “Borgol tanganku ini. Ikat juga tubuhku dengan rantai ini. Gembok betul-betul. Coba berapa waktu aku bisa melepaskan dari belenggu ini” perintahnya.

Kukatakan padanya kalau tak sampai dua menit sepuluh detik ia berhasil. “Ah ini masih kurang cepat! Mereka tak mau membayar kelambanan. Mereka butuh satu menit. Tolong ulangi lagi,” ujarnya sambil menggerutu padaku.

Pekan demi pekan, seperti menjauh dari kelaparan. Ia banjir panggilan dan kehilangan mata teduhnya. “Orang-orang tak terhibur dengan sulap murahan. Mereka lebih sudi membayar tontonan penyiksaan. Baik aku akan jual yang ingin mereka beli!” ujarnya suatu kali.

Sejak saat itu ia seperti orang gila. Ia mulai mengenakan jaket kekang untuk berlatih. Ia menggaitku jadi asisten resminya. Ia butuh tangan kanan untuk menembus Balai Houdini.

Ia ingin tampil dan dikenang. Ia ingin bermain head torture di hadapan penonton besar itu. Aku menyanggupi ia bakal tembus manggung di sana. Abu beri ia syarat untuk ganti nama. Kukatakan padanya, “Paman ingin jadi ahli meloloskan diri seperti Houdini kan? Permainan Paman bukan cuma harus memukau, nama Paman juga harus memukau. Paman ingin jadi ahli meloloskan diri, paman harus teliti memperkirakan waktu. Biarlah mereka mengenal Paman sebagai pribadi baru, sebagai Paman Pouzai. Bagaimana?”

Bulan demi bulan seperti memenangkan kekalahan. Ia telah tampil dengan memukau. Ia berhasil menaklukan permainan head torture yang menyiksa. Sebenarnya aku agak khawatir ia dapat membuka gembok terakhir yang mengunci kepalanya dalam kubus penuh air! Ia hampir kehabisan waktu.

Berhasilnya permainan itu membuat namanya diterima di kalangan pesulap dan masyarakat. Namanya selalu masuk dalam daftar rutin pertunjukkan. Lebih-lebih ketika ia bermain Houdini’s Milk Can Escape namanya semakin diperhitungkan. Tak banyak pesulap berani diikat, diborgol, dikunci di dalam kaleng susu penuh air. Mereka yang mengidap claustrophobia bisa mati konyol!

Tapi ini ibu kota! Lahir batin ia kenal betul segala kepicikan. Meskipun tak sampai ia dituduh menganggu ketertiban umum dan dikriminalkan seperti dulu, tetapi ia dicurigai ikut simpatisan organisasi yang membela tapol dan pejuang lingkungan. Kecurigaan orang-orang yang tak senang itu nampak seusai Paman Pouzai menampilkan aksinya yang agak teatrikal.

Ia tampil dengan petani yang membawa bibit pohon berjalan menuju ke Pabrik. Tak ada angin, tak ada hujan, ia diculik beberapa orang di tengah jalan. Tangannya di tarik ke belakang, tubuhnya dipakaikan jaket kekang. Ia dan bibit pohonnya dilemparkan ke kotak besi yang dirantai, digembog dan dikunci. Penjara kotak besi itu digantung dan dipasangi dinamit agar tak ada ruang dan peluang ia selamat dari kematian. Tiba-tiba, “Jedddddddaaaarrrrrrrr!” penjara kotak besi yang digantung itu hancur tapi kosong melompong. Ia muncul dari deretan belakang bangku penonton sambil membawa dan memberikan bibit pohon pada salah satu penonton.

Aku mengenal penonton itu. Ia seorang pentolan organisasi bantuan hukum yang kantornya baru saja dilempar molotov!

Sebagai tangan kanannya, aku memperingatkannya agar ia menjaga jarak. Tapi ia bersikeras menolak, “Kau kan sudah tahu betul ini negara hukum. Setiap orang untuk berserikat dan berkumpul.”

“Ya, Paman. Barangkali kau bisa berlindung dengan nama besarmu. Tapi bagaimana dengan rekanmu itu?”

“Ia dijamin undang-undang pula seperti kita.”

Tapi ini ibu kota! Barangkali lahir batin kini ia lupa segala kepicikan. Ya, pada pertunjukan berikutnya – seusai ia menuntaskan permainan buried alive dikubur hidup-hidup, seorang pesulap baru yang asing di telingaku melakukan permainan lempar pisau.

“Proses menuju kematian merupakan bahan hiburan yang luar biasa,” ungkap pesulap itu. Kemudian ia mencari penonton secara acak. Di panggilnya penonton yang ternyata pengacara orang-orang papa. Aku tahu ia ragu sekaligus malu – ragu karena baru sekali ini ia rasai keselamatan hidupnya tak ada yang menjamin bahkan hukum sekalipun dan malu ia dianggap pecundang jika tak berkenan – sebab ia dikenal telah merasakan segala bentuk represi.

“Benar, katamu. Aku salah. Di luar permainanku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Oh andai aku lebih jaga jarak dengannya,” kata Paman Pouzai kepadaku.

Perempuan itu naik ke panggung. Ia berdiri terpojok di dinding kayu. Pesulap itu melemparinya pisau dengan cepat. Pisau-pisau menancap. Beberapa pisau membentur ke pisau lainnya. Tak ada suara selain pisau yang menancap di sekitar wajahnya.

Orang-orang terhibur. Orang-orang puas. Riuh tepuk tangan pertunjukkan ini melampaui permainan Paman Pouzai.

Ini ibu kota! Lahir batin ia mulai waspada. Di puncak karirnya ia ingin berhenti dan kembali jadi tukang arloji. Ia meminta pendapat kepadaku. Aku tergantung padanya. Tapi pengelola Balai Houdini yang pandai melobi membolehkan Paman Pouzai berhenti setelah kontraknya selesai. Ia harus bermain satu pertunjukkan lagi. Paman harus memainkan russian roulette yang diinginkan pasar.

Sebagai tangan kananya aku menolak. Paman Pouzai juga keberatan.

“Hidup adalah tragedi bung. Kau harus menjawabnya dengan komedi. Kalau tak mau aku bisa perkarakan karena kau sudah mengingkari kontrak kesepakatan” kata pengelola itu.

Singkat kata hari pertunjukkan itu tiba. Malam itu hujan lebat. Panggung lebih dingin dari biasanya. Pistol itu telah tersedia di atas meja. Revolver itu telah terisi dengan satu peluru.

Riuh tepuk tangan lebih riuh dari hujan. Ia harus mengajak seorang penonton untuk bermain. Aku yang telah cukup kenal dengan panggung tahu, penonton yang diajak naik bukanlah penonton asli. Orang itu orang bayaran yang sudah disiapkan.

Di kursi penonton aku melihat seorang perempuan agak tua dipilih. Aku melihat Paman Pouzai tapi air wajahnya berubah. Paman tetap melanjutkan permainannya.

“Di ibu kota, orang-orang putus asa membayar tinggi tidak untuk melihat keajaiban. Mereka membayar tinggi untuk melihat manusia dipojokkan dengan kematian,” ujarnya.

Ia menatap perempuan itu dengan senyum. Entah mengapa matanya yang teduh terpancar juga pada tatapan perempuan asing itu.

Satu, dua, tiga, empat, kali pelatuk itu ditekan. Mereka selamat dari kematian. Kini giliran perempuan itu memilih nomor pada pistol.

Ia memilih angka lima daripada angka dua. Ia bertaruh di angka lima peluru itu bersemayam. Ia bertaruh keselamatan pada angka dua. Paman Pouzai tersenyum padaku.

Sambil menodongkan pistol itu pada kepalanya, ia menggenggam tangan perempuan itu. Katanya, “hujan lebih dingin dari biasanya.”

Yogyakarta, 07 November 2021

10 thoughts on “Cerpen #422 Lelaki yang Mati di Balai Houdini

  1. Cerita yang ditulis sangat bagus dan asyik untuk dibaca sambil menikmati kopi…
    Untuk penggunaan diksi bahasanya kalo bisa di sederhanain lagi agar masyarakat awam mudah memahaminya…

  2. Overall, mantap isinyaaaa. Ditunggu karya terbaik lainnya.
    Barangkali di beberapa alinea bisa dikurangi penggunaan kata yang diulang berkali-kali. Juga penggunaan tanda baca masih ada yang kurang pas pemakaiannya.
    Good luck, broo!!

  3. Bagus banget sih ini asli, apalagi dikata ” menganggap dirinya genap dengan hukum yang ganjil” kayak ngena banget gitu,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *