Cerpen #421 Kebakaran Hutan

Alkisah hidup sekelompok jenis hewan-hewan di hutan besar Australia. Koala kecil bernama Koko hidup dengan ibunya. Koko adalah koala kecil unik yang terlahir dengan kaki yang sedikit pincang.

Suatu ketika di musim panas di bulan November.

Koko bermain dengan Revo, seorang kangguru kecil yang merupakan teman dekatnya.

Koko dan Revo sedang berbincang tentang betapa panas sekali musim ini.

Saat sedang berbincang asik ibu dari Koko juga bilang bahwa tahun tahun sebelumnya pun selalu panas dan seperti itu.

Selang beberapa jam ibu Koko pamit untuk keluar untuk mencari makanan dan beberapa jam kemudian akhirnya pulang dengan membawa beberapa ikat daun eucalyptus untuk Koko.

“Teettttt” “teeenngggg” suara mesin memotong pohon eucalyptus sering terdengar hampir setiap hari.

“Bagaimana cara kita menghentikan manusia itu? Andai saja kita tahu cara memperingati mereka.” Kata Revo.

Koko menggangguk, “ayo kita pukuli mereka!” Ajak Koko.

Mereka dengan inisiatif membawa bebatuan kecil di kedua tangan. Termasuk di kantung perut Revo.

Bletakkk.

“Hey! Hey! ” Teriak manusia itu.

Koko cepat-cepat bersembunyi dari mereka.

“Revo cepat sembunyi. Kau bisa ditangkap !” Teriak Koko.

Revo dengan cepat berlari dan bersembunyi di dedaunan pohon yang cukup tinggi.

Koko dan Revo melihat manusia itu mencari mereka dengan kedua mata mengitari pepohonan.

Mereka terlihat kesal.

Koko memberi petunjuk agar Revo menghujani bebatuan kecil lagi pada mereka.

Revo menggangguk dan ia kemudian melempar satu per satu bebatuan dari kantongnya.

Para manusia itu terlihat memegangi kepala nya dan mengusap-ngusapnya.

“Yes, mereka sepertinya kesakitan.”

Koko melihat mereka dengan sedikit kasar menjatuhkan beberapa benda tajam yang ia tak tahu namanya apa, kemudian berteriak dengan bahasa yang Koko dan Revo tidak mengerti.

“Revo, mereka bicara apa?” Tanya Koko heran.

Revo hanya mengangkat bahu,

“Aku tak tahu. Mereka sepertinya marah dan memaki kita.”

“Dasar manusia.” Ejek Koko.

Ia melihat mereka tiba tiba melihat kelangit dan menunjuknya.

Ekspresi mereka sedikit berubah dan memasang wajah yang serius.

Koko dan Revo tak tahu kenapa mereka seperti itu.

Dengan bergegas Koko melihat benda besar yang mengangkut beberapa pohon itu mulai bergerak dan bersiap untuk meninggalkan hutan.

Koko tersenyum senang dan bahagia kemudian ia lihat Revo pun melakukan hal yang sama .

‘yes akhirnya kami mengusir mereka.’

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah itu Koko pulang.

Ia bersemangat karena akan ada cerita yang menarik saat diceritakan kepada ibunya.

“Ibu tadi aku bermain cukup jauh.”

Ibu Koko tersenyum,

“Kau dari mana saja dengan Revo?”

“Kami melihat manusia.”

Ibu Koko tiba tiba terdiam dan menengok kearahnya.

“Kau mendekati mereka? Jangan lakukan itu” katanya.

Koko sedikit bingung dan ragu untuk melanjutkan,

“Memang kenapa? Kami tidak mendekati nya, hanya kami menjaili dengan melempar batu kearah mereka.” Kata Koko.

Ibu Koko yang sedang menyiapkan makanan tiba tiba mendekati Koko dan memegang erat tangan nya,

“Jangan mendekati manusia, mereka adalah musuh kita.” Katanya.

“Ayahmu mati karena diburu mereka.”

Koko sangat terkejut mendengar hal itu.

Ke esokan harinya Koko seperti biasa bermain dengan Revo sampai akhirnya mereka melihat sekawanan burung yang terbang secara berkelompok. Para burung itupun terlihat sangat terburu-buru.

Sampai salah satu burung turun dan memberi tahu Koko,

“Api! Api! Habislah kita!”

Koko terkejut dan belum menyadari apa yang dikatakan oleh burung itu. Sampai akhirnya ia terbang kembali dan menyusul para kawanan nya.

Koko dan Revo melihat satu sama lain,

“Mereka datang dari arah Utara menuju selatan.”

Koko merasa sangat takut.

Terlebih ia cukup jauh dengan sang ibu.

Revo dan Koko kemudian berlari kencangĀ  menuju arah Utara dimana ibunya dan ibu Revo berada.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat sudah hampir berada dekat dengan rumah Koko dan Revo justru melihat banyak sekali hewan yang berlarian ke segala arah dengan paniknya.

Koko dan Revo dengan cepat masuk ke dalam rumah dan disana ibu mereka sudah tidak ada dan pergi meninggalkan rumah.

Koko dan Revo pun kebingungan.

“Aku akan mencoba memanjat pohon dan melihat apa yang terjadi.” Kata Koko.

Ia pun memanjat salah satu pohon yg cukup tinggi dan dia melihat…

Lautan api melalap hutan yang telah menjadi rumah mereka selama ini.

Disana langit terlihat begitu gelap dan kobaran api lambat laun menyebar ke segala arah.

Angin yang cukup kencang makin mempercepat kobaran api memakan apapun yang ada di depannya.

Koko dengan kaki yang lemas turun.

Revo melihat Koko terlihat sangat syok dan ketakutan.

“Bagaimana?”

“Sangat buruk. ” Kata Koko.

“Lautan api ada dimana mana Revo! Mereka makin mendekat dan sebentar lagi akan mendekat.” Teriak Koko ketakutan.

Revo juga sama takutnya dengan Koko.

“Tenanglah, Kita harus tenang.” Kata Revo

“Cepat Kita cari ibu kita sebelum api itu datang. Mereka mungkin masih di dekat sini” kata Revo.

Koko mengangguk dan mencari ibunya. Setelah ke rumahnya, kemudian ke rumah yang lain ibunya tak ada dimanapun.

Koko dengan kekhawatiran nya mencari keberadaan ibunya, sampai akhirnya sekawanan kangguru melewatinya yang membuatnya terjatuh dan terinjak-injak.

Revo terkejut dan langsung menghampiri,

“Koko, kau tak apa?”

“Iya, aku tidak apa apa.”

Angin bertiup lebih kencang, membuat kobaran api makin membesar dan melebar.

Koko dan Revo kembali berjalan cepat menuju ke arah selatan.

Dalam perjalanan koko terlihat kesakitan karena kakinya yang telah terinjak-injak.

Ia kemudian melihat seekor anak koala yang tertindih oleh ranting pohon yang cukup besar.

“Koko, kita tak ada waktu untuk menyelamatkannya.”

Koko khawatir dengan keadaan anak koala itu,

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku tak bisa bergerak.”

Koko mencoba untuk mendorong ranting yang menindih kaki anak koala malang itu.

Sementara yang lain terlihat banyak sekali hewan yang berlarian dari segala arah.

Kemudian Revo dengan ketakutan menghampiri Koko,

“Koko, bagaimana ini?”

Koko tak bisa meninggalkan anak koala ini begitu saja,

“Revo pergilah. Aku harus menyelamatkan dia terlebih dahulu” kata Koko.

“Tapi bagaimana dengan kau?” Kata Revo mulai menangis.

“Aku akan menyusul. Cepat pergi.”

Revo mengangguk. Ia pun pergi.

Setelah itu Koko mencoba dengan semangat menggeser ranting ranting yang menindih anak koala itu.

Angin berhembus lebih kencang dan ia melihat dibelakangnya api mulai menjalar ke pepohonan yang hanya berjarak puluhan meter.

Crakk.

“Akhirnya. ” Kata Koko.

Anak koala itu menangis bahagia.

“Terimakasih banyak. “Katanya sambil menangis.

Iya pun kemudian langsung berlari dalam keadaan panik.

Ketika Koko akan bangun ia merasakan sakit yang teramat pada kakinya.

Kakinya sulit untuk digerakkan karena akibat dari terinjak injak oleh sekumpulan kangguru.

Sampai akhirnya api mulai menjalar ke belakang pohon dan memakan habis dedaunan yang tumbuh subur tersebut.

Koko mencoba untuk bangkit sampai akhirnya ia terhenti karena tidak sanggup untuk berjalan.

Angin yang kencang membuat api menjalar dari sisi kanan dan kirinya.

Koko berusaha untuk berlari lebih cepat.

Sampai akhirnya api sudah melahap rerumputan dan juga sampai di badan Koko.

Ia meringik kesakitan.

Ia tak bisa berjalan lagi karena sakit.

Koko yang kebingungan hanya bisa berlari sekuat tenaga ke depan.

Nafasnya terengah engah karena udara yang kotor dan kurangnya oksigen.

“Ibu, kau dimana?” Koko meringis kesakitan.

Koko mencoba untuk melewati beberapa titik api dan memanjat ke pohon eucalyptus.

Sampai akhirnya ia hanya bisa terduduk dengan wajah yang ditutupi kakinya.

Koko yang menangis sangat berharap kiamat ini segera berakhir.

“Apa ini perbuatan manusia yang ibu ingin coba jelaskan?” Kata Koko dengan mata berlinang air mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *