Cerpen #414 Pindah Rumah

“Aku akan ikut dalam koloni baru.” begitu katanya sore itu. Aku hanya mengangguk dan sesekali menggerakkan daun-daun di salah satu lenganku. “Beberapa hari lagi kami akan pergi.”

“Apa kalian sudah mempersiapkan ratu baru?”

“Ya, tapi aku khawatir dia tidak bisa tumbuh baik.”

Aku melihat gerak mata besarnya yang menerawang langit. Belakangan, langit terlihat sangat silau, udara pun semakin panas. Jauh berbeda dengan saat aku masih muda dulu. Ia menunjuk pada beberapa kawannya yang muncul dari kejauhan. “Dari yang dikatakan seniorku, biasanya kami baru mencari tempat pindah saat kami sudah berangkat. Tapi karena keadaan belakangan, ratu sudah mengirimkan beberapa orang untuk mencari tempat baru.”

Aku tidak perlu bertanya untuk tahu hasilnya. Kawan-kawannya itu datang dengan formasi rapi yang makin sering kulihat beberapa tahun terakhir. Formasi yang bagus, tapi kabar yang dibawa sama sekali tidak bagus. “Dan calon ratu baru yang akan memimpin sarang ini, aku hanya bisa berdoa semoga dia kuat. Kami tidak bisa memberinya banyak makanan, apalagi yang mewah.”

“Sejak nenek meninggal, kalian semakin sulit, ya.” Aku membuka percakapan saat beberapa kawannya ikut singgah di bahuku. Beberapa di antaranya muram dan tidak menjawab, salah satunya hanya tertawa. “Seperti kau tidak kesulitan saja. Kalau kami pergi bisa-bisa kau semakin mandul.”

Aku tertawa miris. Tidak bisa kuingat kapan terakhir kali aku menimang buah hatiku. Sepertinya lama sebelum nenek jatuh sakit, ia pernah beberapa kali bergumam betapa ia rindu melihatku subur dan memberinya kebahagiaan yang manis. “Ada kalian pun aku tetap begini. Mungkin juga akan disingkirkan oleh penghuni rumah yang baru. Aku sudah terlihat kurus sekarang, tidak menarik.”

“Kau gemuk pun tidak ada yang akan tertarik, karena tidak ada bangsamu yang lain dalam beberapa kilometer. Jangankan bangsamu, yang berbeda bangsa saja tidak bisa kami temukan.”

Aku tidak menjawab lagi, menggerakkan beberapa jari-jariku untuk menaungi mereka. Jumlah yang kembali ke dalam istana jauh lebih sedikit daripada yang duduk-duduk menemaniku. Itu jelas berarti hanya sedikit dari mereka yang bisa menemukan makanan. Saat nenek sehat, beliau selalu rajin mengurus kebun. Beberapa tanaman yang ada di sana dulu bisa mencukupi kebutuhan mereka. Aku masih ingat betapa canggungnya situasi saat terakhir kali nenek memberi makanan mereka, lewat karangan bunga belasungkawa yang ditinggalkan di halaman belakang rumah.

“Apa kalian…” aku terdiam sejenak. Beberapa burung yang melintasi langit membuatku tersadar akan sesuatu. “Apa kalian akan baik-baik saja nanti?”

Mereka juga melihat kawanan burung itu, tersenyum pahit. “Ah, soal kabar waktu itu, ya.”

Pekan lalu dua ekor burung layang-layang singgah sebentar di halaman. Selain beristirahat, mereka juga memperingati ratu agar membatasi perjalanan prajuritnya untuk beberapa waktu. “Akan ada gelombang panas. Kami sudah melihat kawanan yang nekat menembusnya, tapi tidak ada yang berakhir baik.” kata mereka kala itu. Kabar yang buruk, tapi tarian lemas yang selalu kawan-kawanku ini lakukan sepulang perjalanan juga bukan kabar yang bagus.

“Aku akan merindukan kalian,” bisikku.

“Jangan khawatir, ada banyak adik-adik baru yang akan mendengarkan cerita membosankanmu sepulang bekerja. Kami juga akan singgah disini sesekali, lalu menceritakan padamu soal rumah baru kami.”

Aku menatapnya lekat, begitu pula kawan-kawannya. Ia tersenyum sambil mengajak kawan-kawannya kembali ke istana. Kata-kata tadi tentu dimaksudkan untuk menghiburku, tapi aku bisa merasakan keraguan dari suaranya. Beberapa hari yang terik pun berlalu hingga aku mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Ini bukan kali pertamaku berpisah dengan kawan-kawan mungilku itu. Tapi beberapa tahun terakhir, apalagi sejak nenek berpulang dan makanan semakin sulit, tidak ada satupun dari mereka yang pernah kembali untuk menyapa. Aku yakin Sang Ratu juga menyadari hal itu. Aku melihat tubuh anggunnya yang dengan tegar meninggalkan rumahnya tanpa kepastian akan ditemukannya rumah baru.

Tapi kegundahanku tentang mereka tidak berlangsung lama. Siang itu, beberapa anggota junior yang ditinggalkan untuk mengurus istana lama harus terkejut dan bersembunyi di belakang leherku. Kami melihat empat manusia dewasa dan seorang anak kecil di antara mereka. Seingatku dua di antara mereka adalah keluarga baru yang membeli rumah nenek. Mereka sudah beberapa kali datang ke sini, tapi hari ini mereka diikuti dua manusia dewasa lain. Gambar di baju kedua orang asing itu sudah lama tidak kulihat, tapi aku pernah melihatnya. Lama, lama sekali.

“Penghuni baru itu khawatir dengan keselamatan anaknya.” Jelasku pada pembantu ratu yang dikirimkan keluar setelah salah satu anggota junior terbirit-birit (dan gemetar) mengabari pengurus istana. “Dan mereka akan menyingkirkan kalian dan rumah kalian, aku tidak tahu kemana atau bagaimana.”

Aku kasihan dengan ratu baru di dalam sana. Ia masih muda tapi sudah harus menghadapi urusan serumit ini. Seekor burung murai yang saat itu sedang merenggangkan otot di lenganku, juga merasakan hal yang sama tentang sang ratu muda. Tapi ia juga tidak yakin tentang nasib kawan-kawanku yang sekarang sepertinya sedang ribut berembug. Murai itu berpikir sebentar, “Aku pernah mendengar tentang orang-orang yang mengirimkan asap ke dekat istana. Lalu kawanan mereka akan terganggu dan segera meninggalkan istana. Kau bisa menebak akhirnya, kan.”

“Apa tidak ada yang bisa memindahkan mereka beserta istana mereka dengan aman, lalu membawa mereka ke tempat baru. Tentu saja yang jauh lebih baik dari disini.”

“Manusia bisa melakukan banyak hal.” Murai itu menatap istana yang menggantung di salah satu bahuku. “Tapi teman kecil kita itu, kau tahu, agak sedikit cepat marah. Sepertinya mereka akan langsung berontak dan membuat masalah sebelum para manusia itu bisa memikirkan harus berbuat apa.”

“Mereka hanya ketakutan.” sanggahku. “Keadaan sudah cukup sulit belakangan ini.”

“Kenapa kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri? Apa kau akan tetap dibiarkan di sini?” Murai itu berkata pelan dan tidak berani menatapku. “Maksudku, kau sudah lama tidak berbuah dan sekarang pun tampak tidak terurus. Aku rasa halaman ini akan mereka lapisi batu atau apalah itu, untuk rumah bagi benda besar yang mereka kendarai itu.”

Aku tidak menjawab, menatap matahari yang terlihat semakin kuning. Bohong jika aku tidak merasakan akar-akarku melemah. Hujan semakin jarang turun. Kalaupun ada, terlampau lebat. Air yang menggenang berlebihan sering membuat beberapa akarku membusuk. Tanpa banyak air keadaan semakin sulit. Hari-hari terasa makin panas dan mencekik. Aku harus lebih sering menggugurkan daun-daun yang tidak sanggup aku beri makan. Aku juga tidak punya cukup tenaga untuk melebarkan cabang-cabangku, apalagi melebatkannya. Tumbuhan lain di sekitarku pun sama kesulitannya. Aku sebagai satu-satunya pohon di sini harus berkali-kali menyaksikan tumbuhan kecil mengering atau menjalari halaman dengan harapan tipis untuk menemukan lebih banyak air dan nutrisi.

“Nenek pernah bilang, air kadang tidak mengalir dan tagihannya naik.” ujarku sambil mengangguk, berterima kasih pada segumpal awan yang mampir menaungiku. “Merawat dan menyirami pohon tua sepertiku tidak akan menghasilkan apa-apa untuk pasangan baru itu.”

“Aku tidak paham kenapa manusia tidak menyadari hal seperti ini.” Murai kembali menanggapi. Ia tampak lebih rileks setelah matahari dihalangi awan di atasku. “Apa mereka tidak kepanasan? Aku tahu mereka punya sesuatu yang bisa memberi udara dingin di dalam rumah. Tapi saat mereka keluar, apa mereka tidak terganggu? Kalau saja mereka bisa terbang bebas, pasti mereka paham bedanya matahari sekarang dan dulu.”

“Aku tidak yakin ini salah matahari.” jawabku sambil menahan terik ketika awan tadi perlahan berpindah. “Dulu nenek pernah berkata tentang beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan hal seperti ini. Ia meminta maaf padaku dan tumbuhan lain, karena bangsanya menyebabkan banyak hal buruk.”

“Aku tidak tahu harus berkata apa soal itu.” Murai itu memalingkan wajahnya ke langit. Ia tampak ragu melintasi langit yang berkilau terang itu. Perlahan ia mengembangkan sayapnya, namun tiba-tiba melemaskan otot sambil menoleh padaku. “Soal koloni lebah yang bermigrasi beberapa hari lalu…”

Kami bertatapan cukup lama setelah kalimat yang menggantung itu. Aku menundukkan dahan-dahanku lemah, menahan duka cita yang semakin banyak tertoreh di batangku. “Mereka sudah melakukan yang terbaik, demi adik-adik mereka di dalam sana.”

“Aku harap mereka bisa hidup dengan lebih baik. Tidak, aku harap kita semua bisa hidup dengan lebih baik.” Murai itu kini sudah melepaskan kaki kurusnya dari rantingku. “Bertahan hiduplah, aku mendoakanmu dan kawanan lebah itu. Aku akan datang lagi, semoga bisa membawa dan menerima kabar baik. Kabar buruk hanya membuat keadaan semakin mengerikan, kan.”

Aku mengangguk. Angin kering menghembus dari daun-daunku, meluncurkan murai kawanku dengan lembut. Para lebah belum ada yang keluar dari sarang mereka. Andai saja aku masih bisa berbuah, masih bisa menjatuhkan biji di dekat akarku, menjaganya hingga cukup kuat…

“Ah, tidak. Ia hanya akan semakin tersiksa atau bahkan mati muda.” Aku merenungkan nasibku dalam sunyi, perlahan menundukkan pucuk-pucukku pada matahari. “Aku akan merindukanmu, merindukan kalian semua.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *