Cerpen #413 Senja Telah Mati

Ibuku telah mati. Aku yang membunuhnya. Sembilan belas tahun lalu ketika mataku belum sanggup menikmati cahaya, aku ketakutan setengah mati. Sedang rumah yang kudiami selama sembilan bulan telah sepenuhnya mati. Aku yang membunuhnya. Meski begitu, dia meninggalkan tumpukan buku dan tulisan. Buku-buku yang setiap hari dibacakan Bapak di telingaku sejak kulitku berwarna merah. Ketika aku bisa membaca, aku membacanya sendiri dengan bibir kiri terangkat. Ibu tidak pernah melewatkan kisah tentang indahnya senja di sore hari. Jika aku bisa menebak, Ibu dan Bapak dulu bertemu di sore hari saat menikmati senja yang Ibu maksud. Senja yang berkilau dan merdu. Mungkin karena itu pula namaku Senja. Ibu tidak tahu, ketika aku beranjak dewasa, menatap senja akan membuat mataku buta.

Singkatnya, aku tidak percaya semua tulisan Ibu. Aku juga tidak merasa penting untuk memahaminya. Tidak sebelum kemarin sore. Ketika aku pergi ke tepi bengawan Solo untuk membuang setumpuk pecahan piring karena Bapak menjatuhkannya. Kemarin sore, bengawan masih sama seperti biasanya. Airnya masih berwarna hitam pekat seperti oli bekas. Baunya masih bacin. Tanah yang kujejaki masih becek dan amis. Sehingga aku harus menghindari jalur setapak yang dibuat orang-orang desa. Aku memilih untuk menginjak tanah di sekitaran akar pohon bambu yang tumbuh subur di pinggir bengawan.

pohon-pohon di pinggir bengawan ini sudah habis. Kecuali jajaran pohon bambu yang katanya bebal ditebang, basah ketika dibakar, dan ‘marah’ jika manusia mengusiknya. Sebagai manusia yang hidup di tahun 2121, aku menolak mempercayainya, tetapi aku senang orang lain masih percaya. Setidaknya, ketika pohon-pohon jati ditebang dan jalanan menuju bengawan becek seperti sekarang, aku masih bisa memijak akar pepohonan bambu dan kakiku aman dari bau yang menjijikan.

Aku tiba di tepian bengawan dengan berpegangan tangan di salah satu batang pohon bambu. Rimbun membuat percikan cahaya matahari yang hampir tenggelam malu-malu untuk kutangkap. Aku menyingkap daun bambu yang menghalanginya. Aneh, cahaya matahari belum pernah seperti ini sebelumnya. Cahaya itu berwarna jingga cerah dan berkilau. Rasanya hangat seperti melembutkan udara yang kemudian menyelimutiku. Matahari tidak pernah sebaik ini. Inikah sore yang dituliskan Ibu sebagai senja?

Tanganku gemetar. Aku menelan ludah dan menguatkan kembali genggamanku pada pohon bambu. Mungkin aku salah lihat. Aku memejamkan mata dan berusaha mengusir ingatan tentang tulisan-tulisan Ibu. Membacanya sejak kecil telah membuat imajinasiku terbatas. Halusinasiku akhirnya berkutat tentang senja dan matahari sore. Di tengah usahaku untuk tenang, membersihkan ingatan, dan mencari kewarasan, sebuah suara teriakan membuatku terbelalak.

Seorang perempuan dengan pakaian bergaya kuno dengan jarik terpleset di lapisan lumpur yang amis. Kulitnya yang bening seperti fondan diolesi coklat. Kakinya tertekuk dan aku melihat dari telapaknya sebuah aliran merah bercampur dengan air pekat di tepian bengawan. Dia meringis. Menepakkan kedua telapak tangannya dan mengerutu. Aku tidak sempat mendengar apa yang diucapkan dalam gerutuan itu. Mataku terpaku dan lidahku tiba-tiba beku. Dia menengok ke atas, ke arahku.

“Kau buta?!” Sentaknya dengan kening berkerut. Sedetik kemudian dia mengulurkan tangannya ke arahku. “Aku terjatuh.”

Aku masih terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu dan membantunya berdiri. Aku melihat beberapa goresan di kakinya yang tadi tertindih dengan lebih jelas sekarang. Dia mengibaskan jariknya  dan aku melihat keningnya diterpa cahaya berwarna jingga. Mataku terpaku dan dadaku panas sekarang. Matahari yang hangat sore ini tidak mungkin membakarnya. Sesuatu yang lain pasti. Perempuan itu memeriksa setiap jengkal tubuhnya yang tergores.

“Itu menyakitkan,” ucapku tiba-tiba. Entah kenapa aku berbicara. Padahal aku tidak terluka.

Dia kemudian menoleh ke arahku dengan tajam. Seolah berkata, ini bukan urusanku. Bibirku terangkat menatap maniknya yang berwarna cokelat karamel. Sebelum kehilangan kewarasan, aku memalingkan wajah dan memilih menatap matahari. Aneh, matahari sore tiba-tiba lembut dan megah seperti yang dituliskan Ibu.

“Kau tidak bisa menikmatinya tanpaku.”

Sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal, tetapi bodohnya aku percaya.

“Kau sebaiknya berhenti membuang benda-benda itu ke bengawan,” perempuan itu menunjuk kresek berisi pecahan piring yang kubawa, “Aku selalu sakit karenamu!”

Tanganku refleks menyembunyikannya kresek itu. Entahlah, tiba-tiba aku merasa ingin menyimpannya di balik dipan kayu di kamarku saja sekarang. Aku mengangguk pelan. Perempuan itu tersenyum dan keringatku jatuh dari kening. Dia tertawa tiba-tiba. Jika kau pernah melihat film yang diberi efek lambat demi estetika objeknya semakin bisa dinikmati, kau akan merasakan aku saat ini. Ibu, senja yang kau tuliskan begitu gila di tepi bengawan ini.

Sore kemarin, aku pulang dengan mata yang dipenuhi kerlip cahaya. Bahkan ketika aku keluar dari rimbun bambu, matahari berubah lagi seperti semula. Ia menyengat seperti hendak membuat badanku matang dan disajikan di meja Tuhan. Namun, dalam ingatanku, matahari kemarin sore tetap seperti selimut lembut yang hangat dan nyaman. Aku mengingat senja sebagai cahayanya berupa berlian. Aku melihat langit barat seperti istana yang megah dan mewah. Hingga aku ingin menemuinya setiap hari. Sesering mungkin seperti Ibu menuliskannya pada buku-buku yang ia tinggalkan padaku.

Hingga hari ini, aku masih teringat sore kamarin. Senja dengan perempuan bernama Parwati. Dia memanggiil ke arahku sebelum pergi. Sore itu, aku percaya kepada Ibu.

***

Aku pergi ke bengawan untuk melihat senja setiap hari. Setiap pagi, aku berhenti menggerutu dan udara panas dari matahari jika mengingat bahwa sore nanti aku melihat senja. Sejujurnya, aku merasa dunia sekarang tidak waras. Matahari sangat terik hingga membuat beberapa daun terbakar sendirinya. Hujan yang sejuk tidak pernah turun, kecuali badai melanda dan beberapa perkakas terbang karena angin membawanya. Namun, sejak sore itu, senja selalu indah di tepi bengawan. Cuaca berubah ketika aku menyibak rimbun bambu. Tiba-tiba secerah binar mata perempuan yang menungguku di baliknya. Aku merasa hidup di portal yang berbeda, tetapi nyata karena aku dapat menyentuhnya. Aku dapat merasakan sinar jingga yang hangat secara nyata. Bukan dari senja yang dituliskan Ibu sebatas kata-kata.

Aku dapat mendengar Parwati bercerita dan menikmati senja bersamanya. Dia mengisahkan cerita-cerita yang tidak pernah masuk akal, tetapi aku akan dengan mudah mempercayainya. Pada dasarnya, aku memtuskan untuk berpikir secara tidak nyata seperti bagaimana aku mempercayai bahwa senja itu benar-benar ada. Suatu ketika, Parwati tampak ragu, tetapi bercerita tentang ngenger. Dia hanya mengarang seperti Ibu, tetapi lagi-lagi aku akan menikmati alurnya.

Dia bilang datang dari masa yang berbeda. Menemui orang dari masa yang terus berjalan dan silih berganti pergi. Dia bilang, dia memiliki tugas yang mulia dan nasib orang-orang, termasuk aku, ada di tangannya. Percayalah dia bercanda. Perempuan memang suka memainkan cerita, dan aku akan melakukan tugasku sebagai lelaki untuk mendengarkannya.

Hari ini aku sangat bersemangat. Langit tertutup mendung tipis berwarna abu muda dengan beberapa kilat seperti lampu hias. Namun, angin sedang berbaik hati untuk tidak menyertainya. Menciptakan udara sejuk yang langka. Aku melangkahkan kakiku dengan ringan. Kali ini aku membawa kamera. Di perjalanan menuju bengawan, aku sudah membayangkan pose-pose yang bisa kucoba bersama Parwati. Aku sudah membayangkan fotonya akan kucetak dan keberi bingkai di dinding atas tempat tidurku. Bapak akan bertanya siapa itu dan dia akan menerka-nerka, lalu menyamakan Parwati dengan Ibu.

Tidak seperti biasanya, hari ini orang-orang bergerumul keluar rumah. Membuat jalanan menjadi ramai. Sejenak aku memikirkan apakah akhirnya mereka menemukan senja yang sama dan berbondong-bondong ingin menuju kesana. Namun, aku percaya mereka keluar karena menikmati sejuk yang langka ini. Mereka adalah aku yang dulu tidak percaya senja.

Aku menyibak rimbun daun bambu dengan perasaan senang, tetapi tiba-tiba aku kehilangan Parwati. Dia tidak ada di tempat biasanya. Namun, menatap matahari yang masih megah membuatku lega. Dia terlambat sejenak. Aku melangkahkan kakiku, tetapi entah kenapa akar-akar dari pohon bambu ini menjebaknya dan membuatku terjungkal. Aku terjatuh dan terlempar entah kemana. Baju dan penampilanku kacau sekarang. aku kesal dan memaki. Namun, tawa renyah seorang perempuan membuat kekesalan itu lenyap seketika,

Parwati berdiri di balik rimbun bambu sampil menertawakanku. Dia kemudian berjalan menuju kameraku yang telah pecah berkeping di atas batu. Kemudian mengambilnya dan senyumnya hilang tiba-tiba.

“Kau tidak akan bisa menggunakannya lagi. Sayang sekali.”

Rupanya kau juga kesal, Parwati. Meski aku kacau, kami tetap duduk bersama dan menikmati senja yang nyata sore itu. Seperti biasanya. Namun, hal yang berbeda adalah Parwati berlebihan hari ini. Bajunya seperti pengantin dengan riasan segar di wajahnya. Aku tiba-tiba gusar. Dia masih bercerita tetapi pikiranku mulai menolak untuk mendengarkan.

“Apakah kau –,”

“Tidak!” Jawab Parwati sebelum aku selesai bertanya. Ada kelegaan dan aku mengucap syukur dalam hati. “Tapi kita tidak akan bertemu lagi setelah ini.”

Aku tersentak. Mencoba tetap tenang meski pikiranku telah kacau melebihi penampilanku sekarang. Parwati tiba-tiba kehilangan senyum dan wajahnya murung. Aku tidak mengerti. Dia menatapku dengan iris karamelnya. Mata itu bersinar dengan kilauan yang tiba-tiba menjadi jingga.

“Mengapa?” Aku bertanya dengan ragu-ragu.

“Aku tidak bercanda tentang tugas yang kuceritakan padamu. Aku berhenti, Senja.”

Parwati mulai gusar. Dia memainkan jarinya sendiri dan matanya mulai berembun. Aku bisa melihat hidungnya memerah dan mendengar suaranya bergetar.

“Aku akan mendengarkan,” kataku dan dia kembali berbicara.

“Aku dhanyang, Senja!” Dia mengatakan itu setengah berteriak dengan nada yang putus asa. “Berbicara denganmu saja seharusnya tidak kulakukan sejak dulu. Aku hanya membuatmu berhenti membuang pecahan piring itu.”

Aku tiba-tiba tertawa setengah cemas, “Kau terlalu menghayati dalam mengarang cerita, Parwati.”

Sesuatu dalam diriku meronta. Aku menahan nafasku yang mulai panas. Parwati masih tidak bergeming. Dia cukup terlalu dalam merangkai cerita, bukan. Namun, melihat sesuatu menetes dari mata kirinya tiba-tiba membuat keyakinanku bahwa dia membual sirna. Aku merasa setelah ini, kami benar-benar tidak akan bertemu. Aku merasa yakin bahwa sore ini, aku akan berpisah dengan senja. Tanganku mengepal dan rahangku mulai bertaut. Aku tidak siap kehilangan senja yang megah seperti yang dituliskan Ibu, dan Parwati.

“Aku menyukaimu.”

Parwati terkesiap dan aku malah melihat kesedihan yang dalam dari dirinya. Bibirnya gemetar dan mukanya merah menahhan tangis. Ada apa Parwati? Mengapa? Sambil mengusap pipinya sendiri dia membuang tatapannya menuju matahari yang tertutup sedikit awan putih.

“Apakah dengan menyukaimu, aku bisa hidup, Senja?”

Keningku berkerut dan aku bertanya-tanya tentang banyak hal. Siapa? Siapa yang membuat Parwati memikirkan hidup sekarang ini? Aku berusaha meraih tangannya yang sekarang memakai gelang berwarna emas. Aku menggengamnya dengan erat dan siap berbicara dengan penuh keyakinan sebelum ramai mengusikku.

Satu batang bambu menimpaku dari atas. Aku terkejut dan melepaskan tangan Parwati. Rupanya rombongan orang-orang dijalanan tadi membawa parang dan menebas bambu-bambu itu hingga berjatuhan. Aku melihat mereka kalap dan aku berusaha melindungi Parwati. Namun, ia sudah berada jauh dari sisiku.

Aku melihat Parwati dibungkus dengan pakaian yang mewah dan mahkota dari cahaya senja. Satu batang jatuh menimpaku lagi. Di saat yang sama mataku melebar. Lengan Parwati tiba-tiba mengucurkan darah dan tersayat seiring bambu-bambu itu berjatuhan. Tubuhku bergetar dan separuh dari oksigen di darahku hilang. Aku kalap. Dengan gila aku menyerbu orang-orang yang menebangi bambu itu. Namun, mereka sigap mengamankanku. Seorang lelaki tua memukuli tubuhku dan tiba-tiba kesadaranku hilang.

Parwati, dalam sayup-sayup kesadaranku itu, aku masih melihat tubuhnya tersayat-sayat dan dan tiba-tiba kilau senja hilang dari pandanganku. Orang-orang ramai dan riuh. Batang-batang bambu tumbang dan mataku tidak bisa menangkapmu lagi. Parwati, dadaku disayat parang yang sangat tajam, tidak ada darah mengucur dari sana. Namun, segala hal tentang kita hancur dan aku kehilangan pandangan. Senja telah benar-benar hilang.

***

Orang-orang di jalanan ini memandangi seorang lelaki yang membawa kamera dengan tatapan kejam. Mereka membawa parang dan hendak menghancurkan bambu-bambu di bengawan. Namun, lelaki itu tiba-tiba menerkam seperti macan. Orang-orang berteriak dan menyebutnya gila. Sebelum beberapa waktu kemudian badai datang. Air bergulung-gulung dari aliran atas dan tepian bengawan menghilang. Manusia-manusia lenyap dan keesokan harinya jasad mereka terbakar oleh matahari di sore hari. Tidak ada senja dalam kamus bumi. Mereka telah merebut kekasih seorang lelaki. Mereka telah membunuh senja. Angin, petir, dan langit murka karenanya.

Senja telah benar-benar mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *