Cerpen #412 Bumi Tahun 2100

Kelabu menghiasi sekujur langit menyeluruh, ia bagai kehilangan warna-warna selebihnya. Langit biru? Tak pernah terpampang lagi entah kapan terakhir aku melihatnya, langit yang biru itu kini sebatas gambaran pemandangan lukisan yang seolah seperti fatamorgana, tak pernah nyata. Anak-anak tak ada yang percaya, mereka mengira langit biru itu hanyalah sebuah bualan dongeng fiksi yang diceritakan oleh orang tua-tua agar mereka lebih menghargai lingkungan dan alam semesta. Langit kelabu ini tergambar monoton buruk rupa bagai gambaran yang dipenuhi coretan tak karuan. Tak menarik dipandang.

 

Di tengah suasana yang kelabu penuh polusi, aku berjalan menyusuri kota yang di ambang berbagai anomali. Merangkaki pedestrian inci demi inci seperti siput, lambat, pikiran pun menerawang kebelakang jauh pada masa-masa bumi yang lestari itu. Matahari yang sama namun tak terasa bertahun-tahun kini bulatan sinarnya membesar, menghangat, mempanas seolah berada ditengah bara api yang berkobar-kobar. Aku dan orang-orang berpakaian begitu tipisnya, bahkan untuk laki-laki bertelanjang dada dan perempuan berpakaian bikini adalah pemamdangan yang biasa berseliweran disana-sini.

 

Bangunan tinggi, semakin terus ditinggikan seolah hendak mencapai langit. Aku yang bergerak-gerak di bawahnya bangunan tinggi itu merasa kagum sekaligus heran, apalah yang mereka hendak kejar dan raih, menggapai langit? Bukankah seperti mengejar kepuasaan yang fana itu, begitu teraih malah meronta-ronta ingin mencapai kepuasan yang selanjutnya bagai menaiki tangga tak berujung?

 

Aku lewati puluhan blok hanya untuk sebatas melihat-lihat gedung dan tata kotaku ini yang terlihat kontras antara tempat yang kumuh, miskin dan bersih, kaya, seraya melamun berpetualang dengan pikiran jauh kemasa-masa yang silam itu. Jam hologram di tanganku bergemerincing menadakan tibanya waktu makan siang. Aku hiraukan ocehan alarm. Langit yang kelabu di atas sana kini mulai diselimuti mendung yang gelap dan hitam. Gerimis pun perlahan tiba hingga tak lama akhirnya hujan.

 

Aku duduk di bawah halte bus begitu hujan membersihkan jalanan. Hujan turut memberi jeda istirahat untuk manusia dari segala aktivitas di luar ruangan. Huh hujan akhirnya, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya turun, kira-kira 7 bulan yang lalu itupun hanya sesaat saja. Langit gelap mengeriput, hujan datang bergemuruh dengan derasnya tak tertahankan seolah telah lelah memendamnya terlalu lama. Di antara jatuhan butir air yang turun dari langit, Ia datang kehalte yang sama tak berjarak jauh dari posisi aku berpijak, dengan baju yang begitu kuyup dibasahi air hujan, muka familiarnya itu kini dipenuhi kerutan dan rambutnya yang hitam panjang yang selalu menggoda libidio syahwat pria pada saat dikucir kini berubah menjadi putih pekat. Salma sahabatku, idaman mahluk bernama laki-laki itu menua, mempudar tiada tersisa lagi bekas-bekas kecantikannya bagai tumbuhan yang telah layu. Namun meski ia berubah sederastis itu, aku masih mampu mengenalinya.

 

“Salmaa,” teriakku memanggilnya. Mendengar namanya berkumandang, sosok yang terpanggil itu menengok kekanan-kekiri mencari sumber suara.

 

“Hei..Hei..” aku mengayunkan tangan berusaha meraih perhatian dan pandangannya. Ia tersenyum. Senyum yang itu juga. Senyum yang selalu saja menggaet hati para kaum adam.

 

Aku bergerak kearahnya, menyalami dan duduk di sebelahnya.

 

“Apa kabar salmaa?”

 

“BAIKKKK-BAIK BANGET. KAMU GIMANA?” Ia tersenyum lebar dan ramah. Nampak sikapnya yang cerewet itu tak pernah berubah.

 

Kami mengobrol panjang bernostalgia, tentang betapa indah dan terpuruk masa-masa pada saat dimana kita sekolah bersama. Ia juga bercerita bahwa setelah ia lulus ia tak lagi tinggal di Indonesia, baru beberapa tahun belakangan ini ia kembali memutuskan hidup menetap di indonesia. Selama hidupnya, ia pernah tinggal di berbagai negara dan menurutnya negara yang paling buruk terdampak perubahan iklim dan pemanasan global adalah Indonesia.

 

Betul saja, pulau kecil Jawa yang diapit samudra lautan luas itu kini berada di titik paling buruknya. Di berbagai tempat, air bersih adalah barang yang sangat langka, dan mahal. Mereka yang berlimpah kekayaan cenderung egois menyimpan air untuk kepentingan mereka sendiri, mereka yang hidup susah berada di bawah garis kemiskinan mengais akan datangnya manusia dermawan yang rela memberi secercah air. Kesenjangan antara kaya dan miskin seperti magnet kutub utara yang didekatkan dengan magnet kutub utara lain; tolak-menolak, selalu menjauh. Lebih dari 80 persen populasi Indonesia bisa dikatakan sebagai miskin.

 

Semenjak 30 tahun terakhir pesisir Jawa sudah tergirus oleh lautan sepanjang 50km dari garis pantai semulanya. Ia hanya menyisakan sedikit bagian daratan. Provinsi Banten kini sudah sepenuhnya terendam berada dibawah air laut. Sementara Jakarta masih berdiri diperkokoh dengan tanah reklamasi dan tanggul-tanggul yang mengintarinya. Jawa tengah menjadi propinsi terbesar di Jawa.

 

Obrolan kami terhenti begitu mobil besar mewah muncul di hadapan kami. Ia bilang itu suaminya. Pria tak berambut, bertato, gagah keluar dari mobil membawanya masuk. Sebelum Ia pergi memasuki mobil Ia dan Suaminya itu menyalami aku dan tak lupa memberi alamat rumahnya, sehingga kapan-kapan aku bisa mampir.

 

Selang beberapa saat aku pun di jemput oleh mobilku. Dari kaca jendela mobil mata dan pikiranku terpaku, bocah-bocah tetaplah bocah tak ada yang berubah seperti tahun-tahun dimana langit yang biru itu eksis. Bocah-bocah itu bermuka riang gembira bermain dengan genangan air, keadaan lingkungan yang tak pernah dalam kategori sehat seolah bukan suatu alasan, malah agaknya mereka telah mampu beradaptasi hidup berdampingan dengannya.

 

Ponsel pintarku berdering, menghentikan lamunan dan pandanganku pada bocah-bocah itu. Dari tulisan yang muncul di layar ponsel itu terlihat nama “Nuri”. Oh Nuri..Teman seperjuanganku yang diberi kesempatan bertemu langsung dengan para politikus terkait semakin rusaknya alam. Ia diminta berpresentasi memberi solusi sehingga dampak terkikisnya alam tidak memparah.

 

“Haloo nuri,” Ucapku pada orang yang berada didalam video hologram yang dihasilkan dari layar ponselku.

 

“Haii, aku baru saja selesai. Tolong jemput aku ya, sekalian mau ngobrolin hasil pertemuanku dengan para politikus barusan.” Ia mematikan video call. Aku berteriak pada mobilku, memintanya menjemput temen yang baru saja menelponku itu. Mobilku merespon, dan langsung memutar arah menuju alamat yang telah dikirim nuri.

 

Mobil bergerak cepat bagai cahaya, setelah 5 menit aku dapat melihat nuri berdiri di pinggiran jalan dengan anaknya yang masih berumur 7 tahun. Mereka menungguku di depan gedung parlemen yang begitu mewahnya, paling besar di antara bangunan lain yang ada di seisi kota. Halaman gedung parlemen itu mungkin sebesar 10 kali lapangan bola, entahlah ada apa saja yang mengisi halaman sebesar itu.

 

Mobil berhenti di depannya, pintu terbuka otomatis keatas. Aku keluar, dan mengiringi mereka masuk kedalam mobilku. Sepanjang perjalanan kami berbincang basa-basi tanpa topik khusus. Anaknya itu cerewet bersuara seolah tak mengenal lelah, aku yang sejak awal ingin mengobrol dengan ibunya malah teralihkan. Sampai tibanya di tempat tujuan, jane(nama anaknya nuri) masih bercerocos dengan polosnya, dan jawabanku pun tak kalah polos.

 

“Kenapa kaubawa kami kemari, sahabat?” Sekumpulan pohon berkumpul dengan begitu lestarinya nampak belum terjamah oleh tangan kotor manusia. Di bawahnya, ditopang oleh pohon-pohon itu membekasi bayang-bayang hasil terpaan dari sinarnya matahari.

 

“Sudahlah ikuti saja. Aku penat dengan kota itu,” ucapku seraya menggandeng tangan kanannya hingga bertemu dengan tempat favoritku; alam yang lestari.

 

Kami duduk di bawah pohon yang begitu rindangnya, daun-daun pohon itu melingkar menyeluruh serupa seperti payung yang menghalau panas dan sinarnya laksana mentari. Di belakang pohon sana menghadap pada kali berair-terjun berlawanan arah dengan keramaian, jane sibuk mengejar kupu-kupu, berlari-lari riang gembira dengan raut putih mukanya yang kini kemerah-merahan bertabrakan dengan pancaran teriknya matahari. Di belakang pohon juga terdapat hamparan bunga, membentang luas hingga mata tak lagi mampu menangkapnya dan di ujung ufuk, bayangan dempetan berbagai bukit batu besar menjulang tinggi. Semuanya menyatu menjadi satu kesatuan yang menyejukan mata serta raga, aku melihatnya seolah seperti gambaran keindahan cerita-cerita tentang negeri dongeng.

Sepi, tak ada orang lain selain kami. Merugi orang-orang itu. Keindahan tak ada duanya ini teracuhkan kalah saing dengan gedung-gedung beton perusak alam. Gedung buatan manusia itu memanglah megah, mewah, dan tanda semakin majunya peradaban. Semakin banyak dan tingginya gedung-gedung itu, entahlah negara dan warga menganggap seperti dalam perlombaan dan alam berimbas dikorbankan.

 

Tak ada yang mampu memberhentikan waktu, mereka bilang dunia yang maju ialah suatu kepastian duniawi akan ada saatnya apa yang lalu berganti dengan apa yang baru. Waktu tak pernah berhenti bergerak ke depan, tapi apa perkembangan zaman musti selalu dibayar dengan hancurnya alam?

 

Ketika daratan, lautan dan udara tercemari kemudian akan datang pada masanya bumi bergejolak membalasnya mendatangkan bencana alam bagai karma. Maka siapa yang akan disalahi? Manusia sendirilah yang membawa kiamatnya dengan penuh kebanggaan.

 

Suara-suara yang dihasilkan alam mengisi keheningan, dan menyuguhi ketenangan. Tak ada yang memulai percakapan, terlalu menikmati suasana. Suara alam berseru bagai musik dari negeri para dewa, begitu menenangkan raga. Waktu berlalu cepat tanpa terasa. Matahari perlahan terselip hendak tenggelam di antara gunung batuan jauh di depan kami. Aku pandangi mukanya dan tersenyum, ia bales pandangku dan menjawab:

“Mereka terlalu menuhankan uang”

10 thoughts on “Cerpen #412 Bumi Tahun 2100

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *