Cerpen #411 Desa Cerobong Asap

Aku mengemasi buku-buku baru yang sudah ku sampul tadi malam untuk dimasukan ke dalam tas. Dengan hati-hati aku memindahkannya agar tak ada yang sobek ataupun lecet walaupun sebesar kuku. Setelah semua beres, aku bergegas ke belakang rumah, memanggil Bapak yang sedang membersihkan motor kesayangannya.

“ Sudah siap nak?’ tanya Bapak.

“ Sudah, ayo kita pergi Pak! Weni tidak sabar bertemu teman-teman di sekolah.” Kataku dengan antusias.

***

“ Ian, kok datang sendiri, Aldi mana?” tanyaku.

“ Aldi ngga masuk Wen, katanya bantu  Bapaknya melaut. ” Jawab Dian.

“  Tapi kenapa harus hari ini? sekarangkan hari pertama masuk sekolah.” Bantahku dengan nada sedikit tinggi.

“ Ya, aku tidak tau, itukan mau dia, kalau kamu mau protes, sana ke Emak  Bapak Aldi kenapa kasih izin anaknya bolos!” Raut muka Dian sedikit kesal.

“Maaf, Maaf, ya ampun jangan emosi dong Ian, aku kan cuman nanya, hihihi.” Jawabku dengan gelak tawa agar suasana tidak jadi serius.

Assalamu’alaikum anak-anak.” Sebuah suara tiba-tiba muncul dari balik pintu membuat anak-anak berhamburan lari ke bangku masing-masing.

Wa’alaikumussalam.” Jawab kami serempak, Aku dan Dian saling tatap, mengisyaratkan  siapakah orang yang ada di depan. Orang baru itu terdiam sejenak dan tersenyum melihat tingkah kami.

“ Selamat pagi semua.” Sapa Pak Ilmi.

“ Selamat pagi Pak Guru.” Jawab kami dengan suara lantang.

“Wah,  semua tampak bersemangat ya hari ini.” Pak Ilmi.

“Iya Pak Guru.” Jawab kami kembali dengan serempak.

Beliau adalah Pak Ilmi,  seorang guru relawan yang datang dari Pulau Jawa. Sebuah pulau yang berada jauh dari tempat tinggal kami. Beliau tak datang sendiri, tapi juga ditemani teman-teman relawan lain namun mereka sudah berpencar di daerah masing-masing. Kami senang dengan kedatangan Pak Ilmi karena telah membuat belajar kami menjadi menyenangkan.

Pernah satu waktu kita diajak belajar  di luar ruangan, tepatnya ke pantai dekat sekolah. Aku dan teman-teman tentunya sudah sering bermain di pantai ini, namun bedanya sekarang kami kesini untuk belajar. Belajar IPA tepatnya, pelajaran yang ditakutkan anak-anak sebelumnya. Namun tidak dengan Pak Ilmi, beliau punya cara tersendiri membangkitkan semangat belajar kami.

Kami menghabiskan waktu sampai sore disini, sekalian menikmati pemandangan sunset. Pak Ilmi merebahkan badannya di atas pasir, menatap langit yang kini berwarna orange.

“ Indah sekali.” Pak Ilmi terkagum.

“ Pak guru tidak pernah melihat matahari terbit?” tanya Dian. Aku menyikut bahu Dian, mana ada orang yang tidak pernah lihat matahari. Pak Ilmi tersenyum.

“ Di tempat Bapak mataharinya tertutup gedung-gedung tinggi jadi tidak terlihat.” Jawab Pak Ilmi.

“ Bawa saja matahari kami pak, kalau untuk Bapak tidak apa-apa.” Canda Dian.

“ Kalau  bapak bawa pulang, nanti Emak kamu jemur ikan pake apa Ian?” Pak Ilmi.

“ Huhuhu ngga jadi deh, nanti saya tidak bisa makan ikan kering lagi.” Candaan Dian mengundang gelak tawa anak-anak.

***

Memasuki bulan keenam Pak Ilmi mengajar di sekolah kami, nampak perubahan yang terjadi, terutama pada Aldi. Anak ini  paling tidak suka pelajaran IPA, ia lebih milih bolos daripada mengikuti kelas. Namun semenjak belajar di pantai beberapa waktu lalu ia tertarik dengan pelajaran ini.

“ Al, kok tumben absenmu centak terus?” Tanyaku dengan nada becanda.

“ Halah Weni, giliran Aldi ngga masuk dicariin.” Nyeletuk Dian. Aku melototinya.

“  Aku suka belajar bareng Pak Ilmi. Guru terbaiklah, ngga kayak ibu kelas kita tahun lalu. Aku salah mulu deh kayaknya, tiap hari dimarahin.”

“ Ya, itu salah kamu ngga nyatat.” Kataku .

“ Siapa pula yang kuat mencatat satu papan tulis, bisa keriting tanganku.” Aldi

“ Ngomong-ngomong kok tumben Pak Ilmi belum datang?” tanya Dian memotong pembicaraanku dengan Aldi.

“ Iya juga si, ini sudah jam 8, padahal biasanya Pak Ilmi selalu tepat waktu.” Aku ikut khawatir karena ini keadaan yang jarang terjadi pada Pak Ilmi. Akhirnya kami bertiga nekat mendatangi rumah Pak Ilmi.  Sesampainya di sana kita tidak menemukan siapa pun. Kami menggedor pintu dan jendelanya namun tidak ada yang menjawab. Karena tidak ada orang, kami pun berniat mencari ke tempat lain. Di tengah jalan kami melihat kerumunan warga di lapangan dengan satu orang berpenampilan rapi sedang berpidato di atas panggung. Ia diawasi oleh para ajudannya yang berjaga-jaga dengan pakaian jas hitam. Di samping  kerumunan itu berjejeran mobil-mobil mewah,.

Kami tak tertarik dengan kerumunan, kami fokus mencarian Pak Ilmi. Menelusuri jalan-jalan desa, menanyai orang-orang yang lewat namun tetap saja tidak ditemukan. Kami pun menyerah, memutuskan kembali ke sekolah dan menunggu Pak Ilmi di kelas. Sesampainya di kelas , Pak Ilmi tidak juga muncul.

***

Dikemudian hari aku baru tau bahwa Pak Ilmi tidak masuk kelas karena sedang berada di kantor kepala desa. Beliau mendapat kabar dari ketua RT bahwa di Desa Mali akan dibangun pabrik PLTU.  Pak Ilmi berusaha mencegahnya. Beliau mengetahui bahwa pabrik ini sangat merusak. Belum lagi lokasinya dekat dengan pemukiman warga. Panjang lebar beliau menjelaskan dampaknya bagi masyarakat ataupun lingkungan sekitar desa. Namun itu tidak benar digubris oleh Pak Kepala Desa.

Merasa tidak puas dengan reaksi Pak KADES, Pak Ilmi pun mengumpulkan massa dan memberitau maksud beliau. Namun belum selesai menjelaskan, seorang warga telah memotong perkataannya.

“ Hey Pak Guru, kau jelaskan polusi, perubahan iklim itu apa gunanya? kami hanya perlu makan sekarang.“ Warga lain mengiyakan. Kemudian seorang ibu maju ke depan dan ikut bersuara.

“ Asal bapak tau, ini kesempatan bagi desa kami. Kalau ada perusahaan disini, anak-anak kami bisa bekerja, menggunakan jas rapi, tidak seperti kami yang jadi petani dan nelayan. “

“ Bapak Ibu, ini tidak seperti yang anda pikirkan. Tidak semua anak Bapak Ibu bisa bekerja disana, jika tidak ahlinya  mereka akan jadi pekerja kasar. Anak Bapak Ibu juga berisiko terpapar  polutan dari pembakaran batu bara, termasuk warga Desa Mali karena lokasinya dekat dengan pabrik. Jika dibiarkan, dalam jangka waktu tertentu warga disini dapat terjangkit penyakit pernapasan. Sungguh percayalah Bapak Ibu, lebih banyak dampak negatifnya daripada positif, belum lagi generasi selanjutnya sangat dirugikan.” Jelas Pak Ilmi.

“ Jadi maksud Pak Guru kami tidak peduli warga desa? Wah bagaimana bisa warga baru kita ini sok tau tentang keadaan desa. Yang paling tau keadaan desa adalah kami, kenapa warga baru harus ikut campur. Udahlah yang kayak gini dikeluarkan saja dari desa.“ Suara provokatif itu muncul di belakang warga membuat suasana memanaskan.

“ Setuju setuju!” seru para warga.

“ Pak Guru ini juga udah ngga benar, semenjak diajar dia, Aldi jadi anak durhaka, ia tidak mau membantu Emak Bapaknya seperti dulu, kalau saya ajak melaut alasanya selalu takut ketinggalan kelas Pak Ilmi.” Jelas Bapak Aldi.

“Mohon Bapak Ibu kita selesaikan ini secara baik-baik, Ini sudah melenceng kemana-mana, mohon untuk semuanya tenangkan diri.” Pak Ilmi merasa suasana semakin memanas, warga terlihat marah dan tidak terkendalikan lagi.

“Bacot!” Seseorang yang ada di belakang kerumunan melemparkan batu ke arah Pak Ilmi. Hanya hitungan detik, warga lain ikut melempar. Posisi Pak Ilmi benar-benar terdesak, beliau di kepung amukan warga.Sungguh aku ingin mengutuk orang-orang yang ada di lapangan saat itu. Mereka benar-benar sudah termakan rayuan buaya para pebisnis yang menjanjikan kesejahteraan bagi Desa Mali. Padahal mereka tak benar-benar peduli dengan kami.

Kerumunan itu akhirnya dibubar paksa oleh polisi setelah mendapat laporan dari warga yang tinggal di sekitar lapangan. Sedangkan Pak Ilmi dibawa ke puskesmas terdekat dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Mukanya dipenuhi luka lebam, aku nyaris tidak mengenalinya. Tulang tanganya juga patah karena mendapat tendangan keras dari warga.

Pak Ilmi terpaksa harus dipulangkan ke Jawa demi keselamatannya.  Desa Mali tidak aman lagi baginya, para warga mengancam akan melakukan hal serupa jika Pak Ilmi masih menentang keputusan mereka.  Aku tau bagi beliau tidak mudah untuk  menyerah,  perjuangan belum usai, bahkan beliau masih ingin menyelesaikan satu tahun mengajar di sekolah kami. Namun demi keselamatannya, teman-teman  Pak Ilmi merekomendasikannya untuk kembali.

Tak ada acara perpisahan, bahkan anak-anak lain tak bisa melihat Pak Ilmi untuk terakhir kali. Orangtua mereka tak mengizinkannya, termasuk Aldi dan Dian. Sunggguh kecam, hanya keluargaku dan teman relawan  yang menemani beliau sampai pelabuhan.

***

Ingatanku tentang peristiwa itu tak akan terlupakan bahkan ketika aku dewasa. Bagaimana kejamnya warga Desa Mali yang memperlakukan seorang yang memihak mereka, membela keselamatan dan kehormatan mereka. Namun kepercayaan mereka mudah sekali dibeli dengan iming-iming  kesejahteraan. Lantas sekarang, apakah desa ini telah mendapatkan kesejahteraannya setelah kerusakan demi kerusakan mereka lakukan?

Bahkan persoalan pabrik PLTU hanya satu dari masalah lain di desa ini.  Pemilik perusahaan itu membuka pabrik lain di desa kami. Pabrik jagung, karena daerah kami terkenal dengan kualitas jagungnya  yang bagus. Akhirnya warga berlomba-lomba membuka lahan, menebang pohon-pohon sesuka hati, seolah-olah Tuhan memberikan hutan itu untuk mereka  dinikmati sendiri. Mengubah hutan menjadi lahan jagung milik pribadi.

Namun Ketika musim kemarau tiba, disitulah peringatan Tuhan turun. Gumpulan asap  menjulang tinggi di langit, yang mana berasal dari uap PLTU dan pembakaran hutan di Gunung T. Jika dilihat dari atas, desa kami seperti cerobong asap.

Hal ini membuat para warga tidak tahan lagi, mereka ingin menghentikan asap ini namun sangat sulit karena tiap hari pabrik PLTU beroperasi, hutan-hutan pun terbakar karena cuaca panas. Mereka tak punya pilihan lain kecuali  dua yaitu bertahan dengan risiko kesehatan atau keluar dari desa. Sungguh miris sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *