Cerpen #410 Tanah Sepenggal Ini

Ini sudah bulan ketiga kau menjadi kepala desa di sini. Kau mulai tak banyak cerita tentang apa yang terjadi. Semalam, sehabis yasinan di rumah Rofiah, kau langsung pergi. Padahal, biasanya kau akan tahan melanjutkan obrolan sampai larut malam, bahkan pindah ke warung kopi, jika kau merasa tidak sopan pada tuan rumah.

Tidak banyak yang menyadari apa yang terjadi di desa, bahkan jika hal itu benar-benar terpampang di depan mata mereka. Tapi, yang jelas, kau pasti sadar, Sukri, bahwa ini menjadi satu hal penting yang harus diselesaikan. Rofiah kini menjanda dan, barangkali saja, kau berpikir untuk menjalin asmara seperti yang pernah terjadi satu setengah dekade lalu. Meski begitu, tentu bukan itu yang membuatmu mengacir dari kerumunan—walau semua orang lihat kau menyampaikan sambutan sebagai kepala desa di hari ketiga meninggalnya Yahya.

Orang-orang di rumah duka membicarakanmu. Kau tahu, mereka butuh kau. Maskudnya, sebagai kepala desa, kau seharusnya bisa bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi di desa ini, bukan? Begini, sedikit yang bisa dijelaskan, bahwa meninggalnya Yahya bukan karena sakit, dan kau tahu itu. Tanah di bukit telah menggulung tubuhnya masuk ke bumi, hingga dia tak bernapas lagi.  Orang-orang semalaman mencarinya dan, sebagaimana yang orang-orang lihat, kau juga ada di sana. Beberapa anggota tim SAR dari kabupaten telah diturunkan dan kau berkali-kali menjelaskan kepada wartawan tentang apa yang terjadi di sana. Pada akhirnya, Yahya ditemukan meninggal dunia.

Pembicaraan di rumah duka lebih dari sekadar kematian Yahya, teman dekatmu sejak kecil. Mereka juga menanyakan desa. Kepala desa yang mereka pilih dari pemilihan umum beberapa bulan lalu justru tidak ada di sana. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang kau lakukan.

“Janji kepala desa sudah sama dengan janji pejabat-pejabat lainnya. Kebanyakan janji.”

“Iya, lihat sekarang, batang hidungnya pun hilang.”

Percakapan semacam itu terdengar beberapa menit setelah kau pergi. Barangkali, jika kau tidak berubah, mereka akan menagih janjimu di kantor desa, atau—lebih parahnya jika itu terjadi—mereka bisa saja mendatangi rumahmu dan melakukan protes besar-besaran di sana. Sebaiknya kau datang saja, terlepas bagaimana mereka akan menanggapimu.

***

“Kami masih pertimbangkan. Saya akan rapatkan dulu ke jajaran.”

Cukup lega ketika kau tidak langsung menyepakati kontrak menggiurkan itu. Seperti yang kau tahu, mereka selalu menyiapkan banyak hadiah ketika ada orang yang mau bekerja sama dengan mereka. Apa lagi orang sepertimu yang telah memiliki jabatan sebagai kepala desa. Mereka bisa menyiapkan puluhan juta sebagai uang muka bisnis mereka untukmu.

Kau masih cukup mempertimbangkan janjimu dulu, bukan? Itu sebabnya kau masih dilema, meski uang itu sebenarnya cukup untuk mengobati sakit parah Zulkifli, ayahmu yang masih terbaring lemah. Namun, janjimu sebelum menjadi kepala desa menjadi beban yang berat yang harus kau pikul. Akan banyak hal yang harus kau hadapi dalam lima tahun jabatanmu sebagai kepala desa.

Kini telah sepekan Yahya meninggal dunia. Polisi menyimpulkan dia meninggal karena kecelakaan kerja. Kau bisa saja berkilah bahwa itu bukan salahmu. Tapi, sebagai kepala desa, kau harus mempertanggungjawabkan apa pun yang ada di desa, termasuk kecelakaan kerja yang dialami sahabatmu itu.

Orang-orang itu pasti akan datang lagi untuk mempertanyakan keputusanmu. Kau harus bertanggung jawab atas lahan yang penuh emas di desa: tanah adat desa. Kau mungkin bisa menjualnya dan, tentu saja, komisi dari orang-orang itu cukup untuk mengobati ayahmu. Tapi, ingatlah, masa depan desa ada di tanganmu. Apa pun yang terjadi hari ini, akan berdampak di masa depan. Kau tidak bisa seenaknya mengambil keputusan. Bahkan jika kau mengambil keputusan dengan pertimbangan pun, kau tidak boleh mengambil keputusan yang salah.

Kau bertanggung jawab atas apa yang dilakukan kepala desa sebelummu. Dia mengundang banyak orang ke sana, memaksa Tuhan membalikkan tanah kalian secara tidak langsung. Dampaknya, tanah-tanah dilepas dengan harga murah, setelah dia mengantongi keuntungan dari orang-orang yang menawarkan kerja sama itu.

Sebagai kepala desa yang hendak membawa perubahan, kau berjanji tidak akan bersikap sama dengan apa yang dilakukan orang sebelumnya. Meski Yahya telah tewas di timbunan tanah, kau juga tidak berniat mengambil jandanya. Kau telah menganggap Rofiah sebagai adik sendiri, bahkan berkali-kali memintanya melarang Yahya dan teman-temannya melakukan pekerjaan itu. Sayangnya, kata-katamu hanya angin lalu.

***

Tanah-tanah desa di Jambi, khususnya di dataran tinggi, adalah tanah-tanah yang kaya. Di bawahnya bersembunyi gunung emas yang dikejar-kejar orang-orang dari segala penjuru. Mereka datang dengan alat-alat berat dan menjanjikan banyak hal, termasuk kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Namun, kenyataannya, hutan-hutan di atasnya habis dibabat. Alat-alat berat mengeroyok di sana, mesin-mesin dompeng berjejer, dan tanah-tanah desa dihancurkan.

“Saya berjanji akan mengusir orang-orang itu,” demikian janjimu, sebelum pemilihan kepala desa, beberapa bulan lalu.

“Tanah kita tanah yang beradat. Tak satu pun orang berhak merebut tanah kita. Hutan kita luas, dan ini adalah nyawa bagi kita.”

Kau tahu, tutupan hutan di Provinsi Jambi terus turun dari tahun ke tahun. Itu berdampak pada lingkungan sekitar. Sebagai kepala desa, kau bertanggung jawab atas hutan adat yang ada di desamu, di kawasan bukit. Tutupan hutan akan memengaruhi iklim bumi ke depannya. Betapa banyak karbon yang bisa dimanfaatkan bagi kehidupan manusia.

Pelantikanmu sebagai kepala desa tiga bulan lalu secara langsung menjadikan kau sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas hutan di desa. Kau tidak menginginkan kerusakan alam terus-menerus terjadi. Apa yang terjadi di hulu akan berdampak ke hilir. Kerusakan hutan di hulu sudah terlihat dari aliran Sungai Batanghari. Mesin-mesin dompeng dan alat-alat berat itu sudah merusak semuanya.

Lebih dari 39 ribu hektare lahan di Provinsi Jambi telah disalahgunakan menjadi lokasi penambangan emas tanpa izin. Mereka juga melakukan penambangan pasir, batu-batuan, dan mengeruk hasil bumi lainnya. Lebih parahnya, untuk mencapai itu, mereka merusak hutan. Tak ada yang tersisa. Dampaknya, daya serap tanah berkurang, banjir terjadi di banyak titik, dan kondisi air semakin buruk.

Kau harus bertanggung jawab, Sukri, bahkan jika orang-orang itu datang lagi.

***

Penepatan janjimu sebagai kepala desa benar-benar dipertanyakan sekarang. Mayoritas masyarakat desa menuntut agar kau bisa menutup semua akses PETI di desamu. Sayangnya, sebagian mereka tetap ingin hidup dari sana dengan alasan tidak ada pilihan lapangan pekerjaan.

Sukri, kau pernah dengar dari ayahmu ‘kan, mencari emas sudah dilakukan orang-orang di Jambi sejak dulu. Mereka menyebut itu dengan istilah mendulang. Namun, itu tidak pernah merusak lingkungan. Kini kau harus tegas pada janjimu.

Rofiah menemuimu tadi malam dan dia menangis. Perempuan yang pernah kau kasihi itu mengenang suaminya.

“Aku sudah ikhlas suamiku pergi, tapi tolong jangan biarkan banyak orang harus mengalami nasib sama lagi.” Rofiah menitikkan air mata ketika pengharapan itu dia sampaikan padamu. Sorot matanya tulus, buah dari kasih sayang yang selama ini dia genggam.

Kini kau sadar bahwa kisah masa lalu kalian tidak akan terulang. Kau hanya bisa tersenyum dan menyanggupi permintaannya.

“Saya akan perjuangkan untuk desa kita. Saya tidak biarkan satu alat berat pun masuk lagi.”

Kau tahu betul, hal-hal seperti itu dalam jangka panjang dapat memengaruhi iklim di bumi. Kesanggupanmu tidak sekadar demi sahabat atau mantan kekasihmu. Lebih dari itu, kau memilih untuk menyelamatkan desa dari ancaman degradasi lingkungan.

Rofiah bangkit dari duduknya, ditemani anaknya yang masih kecil. Dia pamit.

Tak lama kemudian suara ayahmu terdengar. Cerita tentang orang-orang yang hendak menanamkan modal ke desa itu ternyata sudah meluas. Ayahmu, Zulkifli, menanyakan keputusanmu. Kau bilang, kau bimbang. Ayahmu tersenyum.

“Kau tidak bisa mempertimbangkan keputusan setengah-setengah. Tegaslah, kau seorang pemimpin.”

“Tapi, Bapak, mereka menjanjikan uang yang cukup besar. Saya hendak membawa Bapak berobat juga.”

Ayahmu tertawa. “Sukri, Sukri … aku juga tidak sudi menerima pengobatan dari uang seperti itu.”

Suasana hening sejenak. Kau tertunduk.

“Kau diajarkan sejak kecil. Sebagai pemimpin, kau harus mementingkan kemaslahatan orang banyak. Menjaga desa ini menjadi satu di antara tanggung jawab yang kau pikul. Kalau kau dapat uang yang cukup untuk mengobati aku, apa itu cukup untuk mengobati orang-orang yang harus mengalami penderitaan setelah kerusakan lingkungan desa kita semakin parah?”

Kau hanya bisa tertunduk. Beberapa kali kau mengangguk pelan. Ayahmu terus memberi nasihat. Kau menyadari, sedikit kerusakan lingkungan saat ini akan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan yang akan datang. Tapi tantanganmu ke depan semakin besar untuk mempertahankan tanah yang sepenggal ini.

***

Kau tidak tidur dengan nyenyak. Setelah istri dan anakmu meninggal dua tahun lalu, kau selalu kesepian. Hanya ayahmu yang menjadi teman di rumah. Tapi malam itu, berbeda. Kau mendengar suara bising dari jalan. Langkah kakimu cepat melihat jendela. Beberapa mobil pengangkut sedang membawa alat berat, tidak tahu mau dibawa ke mana. Kau bergegas, hendak keluar. Namun sampai di depan pintu, suara batuk ayahmu semakin parau. Kau mengurungkan niat.

Esok paginya, berita itu ramai di desa. Katanya, orang-orang dompeng sudah datang dan semua izin darimu.

“Pak Kades, apa cerita?” Mukri, bawahanmu tiba-tiba menghampirimu di ruangan.

Kau hanya diam. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutmu.

“Kata mereka, masuk sini sudah izin kades.”

Kau terperanjat. Itu buruk. Kau meminta warga untuk berkumpul di kantor desa, menanyakan siapa yang memberi izin masuk alat-alat berat tersebut. Sayangnya, tidak satu pun di sana yang mengaku pernah memberi izin atas nama desa, termasuk jajaranmu.

Hari itu juga, kau beramai-ramai mendatangi lokasi. Orang-orang di sana kalian usir. Alat-alat yang tersisa langsung dibakar.  Kau benar-benar berusaha menepati janjimu. Kau tidak mengizinkan siapa pun masuk, tapi mereka datang tanpa izin. Kau hanya lupa, Yahya, kepala desa sebelum kau, adalah orang yang terlanjur memberikan izin bagi mereka.

Malam harinya, kau ditangkap entah oleh siapa. Tidak ada yang mengetahui itu. Kau dibawa entah ke mana, dan tidak ada yang tahu kapan kau kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *