Cerpen #409 Rona

Seratus, Seribu, dan Bertahun-Tahun Setelahnya, Apa yang Tetap? 

Rona, Hanya Rona…

Hampir setengah jam dirinya menunggu, menunggu pria tua itu sekaligus sebuah ruang dimana pertemuan dibarengi lalu lalang manusia yang akan/tengah bergerak dari dan ke tempat berbeda, mungkin agak terlambat.

Ia tak gelisah, hanya kurang sreg pada suasana pemberhentian ini, agak kuno kurang terawat, tidak punya anggaran mungkin dimakan petingginya, bukan….bukan….kata mungkin tidak tepat tapi harusnya kata pasti yang digunakan, pasti dimakan petingginya, memperbaiki gumamannya sambil berjalan menuju sudut pilar untuk bersandar sejenak, tidak cukup bangku untuknya mengendurkan otot⸺hanya mereka yang benar-benar kaya dan menunjukkan kekayaannya boleh mendudukinya 2 bangku panjang berhadapan di depan petugas loket, hanya untuk 5 orang masing-masing⸺untuk kesekian kalinya ia menerawang, masih tak habis pikir perihal kualitas fasilitas pelayanan publik di negeri (kata pemerintah) tengah menuju tahap lepas landas, memiliki kenyataan berbeda; atap dengan lubang-lubang mengangga, tempat duduk reyot, lantai penuh debu, bau tak sedap yang mengeruak seketika mendekati toilet di ujung lorong, dan yang terburuk, tidak terdapat satupun tanaman hidup disini, biasanya beberapa tanaman asli satu atau dua jadi hiasan sebagai pengganti pelayanan penuh kemasabodohan para pegawainya, tetapi disini, ditempat ini, dan (sekali lagi) di negeri yang akan segera kaya⸺kata para petinggi negara⸺hanya isapan jempol belaka, tanpa pembuktian.

Sejak turun tadi terlihat banyak dari mereka ingin cepat melangkahkan kaki keluar, meninggalkan tempat tak kerasan dimana sekalipun diri anda pemegang tiket kelas VIP, pelayanan disini tak berbeda dari keadaan tempatnya. Frustasi akan gaji yang kecil mungkin bisa dimaklumi namun pemberhentian Bandungan, seperti yang tertera pada plakat usang di samping tembok kotor itu sudah pasti menjelaskan bahwa tempat ini milik negara. Pasti ada sebab lain, ia mencoba mencerna, mengalihkan pandangan pada pria paruh baya di seberang, setelan seragam resmi pemerintah bergaris-garis itu memang berada di tempat strategis lalu lalang orang namun siapa juga yang mau bertanya pada pria berwajah galak, tanpa senyum dengan alis tebal itu, pikirnya.

Hampir pandangannya teralihkan tapi tiba-tiba tanpa aba-aba, keributan terjadi.  Ditempat ini dirinya tak mendengar begitu jelas, namun dari gesture tubuhnya pria ini sedang memaki selagi membersihkan kotoran pada sepatu mewah miliknya⸺simbol dari kehidupan penuh hegemoni di ibukota⸺yang lebih berharga dari kakinya sendiri kalau boleh perlu, terinjak secara tidak sengaja oleh seorang anak dalam gandengan ibunya. Tidak berlangsung lama hadir satu pria dengan badan lebih besar dan tegap⸺agaknya suami si perempuan⸺mengampiri si pria petugas itu, perkelahian tidak berelakan, hanya 5 menit saja usai, mereka sepertinya kesulitan bernapas, urat nadi yang menegang dan kerubungan orang-orang membuat panas di radius sekitar mereka naik dua tingkat, mereka menyerah tapi tak saling melupakan, sekilas sorot mata dari kejauhan menjelaskan.

Hawa panas memang begitu menyebar tak karuan, membuat orang-orang mudah tersulut, terlebih di tempat kumuh dengan dua kipas besar yang tidak berarti apa-apa, terkalahkan berjumbelnya orang dan saling serobot antrian⸺lumrah terjadi. Pusat kota masih jauh, di sini hanya tersedia padang gersang dengan angin yang kadang kala berhembus kuat menerbangkan beberapa debu pasir dari sebuah gurun yang baru terbentuk 2 tahun silam. Air sebagai penopang kehidupan jarang teraliri, kering sana-sini, membuat senyum merekah yang dulu di miliki petugas itu kini berubah menjadi emosi yang mudah meluap, makiannya untuk kali ini sebenarnya tidak ditujukkan pada anak itu, tapi pada ketidaknyamanan akan kondisi hidupnya yang harus dimutasi ke daerah gersang, dimana tak cukup air tersedia.

Fenomena ini sering terjadi, dialami banyak orang. Kehidupan bisa jungkir balik hanya dalam satu malam, dari satu kejadian atau kesalahan tunggal yang sepenuhnya bersumber dari keputusan pemerintah pusat, yang berjarak 3-4 hari perjalanan kaki dari sini (tergantung cuaca), semakin panas, semakin jauh saja rasanya ibukota berada. Beranjak, hari semakin sore dan matahari tak kunjung menyerah, terus menyilaukan pandangan, dirinya semakin tak kerasan, sampai kapan lagi akan menunggu, macetkah atau sebab lain, pikirannya semakin tak menjadi, kekhawatirannya sedikit terobati selepas si Pria Tua yang selalu dianggap orang-orang sebagai pembantu ayahnya akhirnya kembali jua.

“Huh…..kemana saja kau Pak Tua?!” liriknya seketika pada paras Cina peranakan itu yang selagi berusaha bersisihan dengan dirinya “O… maaf…. Pria Tua ini terlalu lama. Aku menunggu paket yang ayahmu kirimkan lewat seorang teman di gurun sana, ia pandai, sangat hati-hati dan tak menarik perhatian penjaga militer. Berhasil menyelinap hingga kemari, hebat bukan….” nafasnya agak terengah-engah, namun nampaknya cukup sehat bagi seorang berumur hampir ¾ abad sebari memperlihatkan bungkusan biru tua dengan simpul temali senada, “Kau mencium bau?” selanya, sedikit menaruh curiga dia sekarang bertanya, “Kenapa bersih sekali, tak berdebu?” tanyanya sekarang dengan sedikit perhatian. “Hmm….karena mungkin di simpan di koper kumal penuh sampah miliknya” tawanya sedikit mereka, “Apa?!” Pungkasnya sedikit meringis. Si trayek lurus itu akhirnya datang jua.

Kini si Pria Tua dan anak Tuannya⸺anak temannya, sopannya⸺agak jauh dibelakang mengikuti. Mereka memasuki sederet ruang sempit bertempat duduk 2 dan 3 deret di sebelah kiri dan kanan dengan bantuan pemuda krempeng pembawa barang, si poter itu berkata, “Tuan-tuan tampaknya salah masuk pintu, sini saya antar menuju kelas VIP”. Di sisi samping, orang-orang dari kelas ekonomi sudah selayaknya ikan yang tengah dijemur dan berjubel saling serobot, agar teratur hanya pentungan yang bisa mendiamkan, tapi masih punyakah hati penjaga itu untuk tidak memukul bocah kecil berambut cokelat di tepi garis kuning, nyatanya tidak. Lewat kejadian itu ia semakin benci akan dua hal, pemerintah dan segala yang mewakilinya. Pemerintah yang membuat negeri ini layaknya neraka alih-alih valhala dan yang mewakilinya, orang-orang berseragam sombong yang berlagak seperti malaikat di depan yang berkuasa dan bertindak layaknya begundal di depan mereka yang lemah, negeri ini butuh ratu adil, butuh. Pikirannya masih larut pada kejadian itu, ”Heh….mau kemana kau?!”, ujar Si Pria Tua itu. Hanya kata O keluar dari mulutnya yang langsung terkatup setelah beberapa langkah melewati bilik yang seharusnya dirinya dan orang tua itu tempati. “Barang-barang yang tidak begitu perlu dibawa oleh si Poter di bagian lain, jika kau butuh kau tinggal berbicara kepadanya, di ujung barat sana.” Ujar si Pria Tua, “Heh… sana! Itu Timur”. Selanya lagi. “Aku tahu, tapi disini rasanya panas sekali, ya?” Bela pemuda itu. Tak ada jawabanya hanya desiran semata, “Kau belum ke Adondya, ini bukan apa-apa…”

Si pemuda itu tak mendengarkan perkataannya. Lantas mendekatkan tangannya pada AC, tak terdapat hembusan dingin, bingung sekaligus agak kecewa. “Hitung-hitung mengulang masa kecilmu di ujung Barat pulau makmur ini, kau tau. Coba lihat apa yang aku temukan, kipas angin kecil. Mungkin bisa menolong”, tanpa ditanya di Pria Tua itu nampaknya dengan perasaan yakin berhasil mengatasi pemasalahan anak Tuannya itu. Lewat lirikan, si Pria Tua dengan topi koboi yang baru ia lepaskan tau maksud pemuda itu, “Kau semakin mirip ayahmu tapi kau harus hati-hati, ini barang berbahaya…..berbahaya bagi dictum pemerintah, kau tau mereka selalu menggunakan kebenaran alternatif layaknya Bung Besar, kau ingat kisah 1984, bukan?”, kepala di Pria Tua itu sekarang agak mendekat dan membuka ikatan yang membelit barang itu.

PERANG BERARTI KEDAMAIAN KEMERDEKAAN ADALAH PERBUDAKAN, dan KETIDAKTAHUAN IALAH KEKUATAN

“Hush…Jangan keras-keras, siapa tahu bilik sebelah mata-mata pemerintah dari sebrang pulau sana mengintai, kau tahu novel hebat itu dilarang terbit hampir 50 tahun yang lalu, ketika Ordo Keimanan yang ternyata serakah memenangkan pertempuran saudara dengan golongan Nasionalis pembela bumi pertiwi, dan kita terutama ayahmu sebagai pihak yang kalah sudah cukup beruntung bisa hidup agak mendingan dengan sedikit berkhianat layaknya Padre Rodrigues”. Nasehat Pria Tua itu padanya. “O sekarang kau bahas itu, kau tahu Orwell, Endo hingga umur 22 tahun lebih, diriku belum pernah membacanya. Coba kuingat-ingat, Dostoevsky, Kundera, Gabo hanya nama dan sedikit kutipan yang kudengar, hanya itu, tidak seluruh kisahnya. Kau tahu apakah bacaan yang disediakan dan diwajibkan pemerintah; kisah roman picisan dan sederet kemegahan maupun pengkhianatan perang, omong kosong, darimana kita agaknya belajar, hanya kisah berulang dimana yang nampak dimana si klimis itu menang dan si buruk rupa jadi pesakitan!” tangkis si pemuda itu. “Heh…tapi kau akhirnya dapat membaca koleksi-koleksi ayahmu yang telah menjadi daftar hitam pemerintah setelah konferensi membosankan itu. Kau, kau bisa lihat sisi baiknya.”, jawabannya berbisik hingga hampir membuatnya kehabisan nafas.

Pandangan pria muda itu menerawang, sekilas melihat replika gambaran kedua kakak lelakinya yang selalu memandangnya bodoh dan si cantik, Elia gadis pegunungan Neval, yang tinggal jauh diatas rumah mereka tapi tak kunjung dirinya berani tuk membicarakan pada ibunya, dan ingatan itu mengingatkan dirinya atas rasa takut dan cemas milik adik perempuannya dan tentu ibunya ketika ia hendak menghadiri konferensi di ibukota yang membuatnya sebal bukan kepalang, kenapa Elijah saja yang tertua tuk menggantikannya tapi secara dominan, sosok ayahnya yang masih berwatak keras pada semua orang terhampar, rasa sakit hati yang menjalar akibat kekalahan perang dan jua kehilangan banyak teman membuatnya berubah, jiwa penuh kasih dan belas telah hilang, kata ibunya ketika suatu waktu ia mendapat giliran pelampiasan kemarahan ayahnya atas berbagai hal namun secara pribadi karena kekuatan finansial yang disokong oleh pemberian beberapa ladang subur oleh wakil Pusat⸺sekaligus penjaga wilayah Timur Pulau Utama⸺ditengah bertambah pesatnya gurun-gurun di wilayah kaki gunung Neval, semua orang di wilayah itu menghormatinya, entah sebagai lawan maupun kawan, namun agaknya bagi para pemuda dialah salah satu kapitalis keparat yang harus disingkirkan sebelum kejadian Ida yang Terberkati, seorang perempuan yang dianggap haram oleh konstitusi negara karena disinyalir ras campuran, Pak Hansi, di detik-detik akhir sebelum hukuman pembakaran dimulai, datang membawa bukti dan terselamatkanlah nyawa si gadis berambut pirang dan bermata semu keabu-abuan itu dari perasaan termarjinalkan dari masyarakat di akhir hidupnya, kondisi ujung kehidupan yang dihindari mayoritas orang, namun lucunya disepanjang hidupnya mereka justru telah dimarjinalkan menjadi golongan kelas dua. Namun sosok ayahnya layaknya siluet yang jauh, tak tergapai, otokrasinya kuat dengan kumit lebat layaknya Nietzsche, tatapan tajam yang terpigura pada ruang kerja rahasia ayahnya yang baru 3 kali dirinya menapak.

Udara menjadi agak dingin dan senja telah pergi meninggalkan ufuk, malam menyingsing dan barang itu masih setia terbungkus pada untaian temali bewarna keruh. Dalam bilik dengan sofa empuk berbau tungau, si Pria Tua itu sudah tertidur tidak sampai setengah jam setelah deru peluit memperingatkan semua orang untuk bersiap. Tiar kita seperempat penasaran menebak, agak menyelidik, “itu pasti buku, tapi buku apa?”. Dia ingat betul orasi, ceramah selain agama mayoritas tidak diperbolehkan, apalagi sebuah buku yang dalam satu alinea-nya terdapat satu patah kalimat yang tafsiran MKB, Majelis Kemaslahatan Bersama merendahkan, menertawakan, beda pendapat dengan butir-butir perjanjian Ordo Keimanan bahkan melawan siapapun itu yang baik menulis, membaca, memiliki dan tengah memegang akan hidup penuh ketidakpastian pascanya.

Paket itu mengusik dirinya, dengan s deheman keras, bujang lapuk itu akhirnya terbangun dan melihat altar langit yang telah berubah, sudah malam dalam hati ia membatin setelah menimum seteguk air dirinya juga berusaha menggapai beberapa butir buah anggur yang langka di era sekarang, tapi gerakan mata anak Tuan-nya itu membuatnya sadar, lewat helaan nafas panjang dia berkata, “Ini sebenarnya dikirim oleh ayahmu pada hari keberangkatan namun kau tau sendiri bagaimana dirinya, seorang penyayang namun sulit mengungkapkan, dikirim lewat jalur tak resmi, diriku rasa dia membayar mahal agar paket ini menyusul perjalanan kita. Hansi memberitahuku lewat pesan singkat tuk menemui Borus di tepi bangkai palka, tapi buku adalah jawaban paling masuk akal mengenai isi paket yang tidak diberitahukan ayahmu.”

Simpul dan kertas pembungkus terbuka, benar berisi sebuah buku. Agak usang dengan tiga garis lipatan di ujung atas dan sisi yang telah terbakar membentuk bidang bergelombang datar pada bagian bawah tapi guratan ketegunan Willum tua itu membuatnya bingung, bagian judul buku ini tidak diketahui tapi beberapa pertanyaan lantas melintas dalam benaknya, “Hmm….buku ini berbahaya salah satu penimbul gejolak perang mengerikan yang tidak perlu itu, apa gerangan ayahmu mengirimkannya, sangat berisiko bagi perjalanan ini, jika polisi militer mengetahuinya tamat riwayat kita.”, pikirannya menguap pada pilar-pilar yang tengah ditatapnya. “Memangnya tentang apa?” tanyanya heran. Pria tua itu tidak menjawab dengan segera namun memberikan 1 ekslempar buku kumal itu dan lantas berlalu dari bilik itu dan berkata, “Kau untuk sekarang hanya perlu membaca bab keempat, tidak sampai tengah malam kau akan menyelesaikannnya tapi polemik didalamnya akan menghantui dirimu mungkin selamanya, percayalah. Aku akan ke bar mencari penyegar mulut. Malam”.

Pria Tua itu menutup pintu, samar suara tanya si poter menyeruak namun sekelibat, tidak ada pekerjaan tambahan untuknya setelah 4 jam penuh mondar-mandir menghampiri keluhan, permintaan aneh dan sedikit makian dari penghuni ruang “mewah” yang heboh mengatasi peluh di penghujung hari, malam tampaknya membuat damai tuk sekejap karena area sisi terluar tambang yang berisik beberapa jengkal waktu yang akan datang, 1 jam penuh kesunyian didapatkannya, dan ia mulai membaca bagian dari bab keempat yang dianjurkan Pria Tua itu, sebenarnya dia penasaran tiba merujuk daftar isi buku ini, hanya di bab itulah bahasa sehari-hari tak pernah terdengar, Dictum, termuat dalam agak megah diantara tulisan hitam yang muram.

Kacamata telah terpasang, sembari meluruskan niat dirinya memposisikan tubuh senyaman mungkin namun hanya ketegangan yang bisa didapatkannya, komat-kamit, sesekali mengerutu, sekali mengeluh, dan berkali-kali mengalihkan pandangan pada lanskap datar dengan sedikit cahaya jingga pada guratan-guratan petir yang menyambar punggung bukit, hujan akan tiba atau hawa panas lainnya akibat proyek tambang ilegal tapi gerah kembali menghinggapinya. Kisah itu terus mengalir hingga kita tidak diberi sedikit ruang untuk sekedar menengok sedikit kisah didalam buku itu.

Di bar Willum agak kecele, hanya anggur yang tersedia itupun imitasi tapi tak mengapa, ada hal yang lebih penting, kenapa sekarang buku itu diberikan, dan kenapa Tiar muda yang diberi kesempatan pertama, dia memang mirip tapi tak sekokoh Hansi muda. Ditemani iringan denting piano, ia mencoba mengingat bab keempat pada buku itu, buku yang selalu dipegang oleh Komandan Her, ayah Hansi temannya sekaligus mendiang kakek Batchiar, samar namun pasti dirinya mencoba mengingat satu kisah yang selalu di bicarakan oleh Komandan Her, tentang pilihan hidup menderita tapi hidup terasa nyata atau hidup bak bintang namun hanya impian semata, tanpa makna. Dirinya walau hanya pernah sekali membaca kisah itu, tak pernah lupa, ia selalu mendengar kisah Hans si Tukang Listrik dan Iwu si Anak Manja, merekalah yang membangun kisah ini, kisah yang tiap malam didongengkan oleh Komandannya, begini garis besar kisah didalamnya;

Hans si pria jujur, tidak pernah sekalipun berdusta, sekalipun dusta adalah bagian dari kewajaran kehidupan di tahun 2100. Dusta telah memiliki pengertian lain, lelucon. Willum mencoba mengingat contoh lelucon itu tapi tak menemukan padanan yang tepat, mungkin demikian, di suatu masa di depan sebuah pertemuan besar, tiap orang mendengarkan sebuah lelucon sekalipun itu dusta banyak orang yang menganggapnya sebagai banyolan, diterima sebagai fakta yang ditertawan namun lebih sering dibelokkan menjadi sebuah omong kosong. Jadi dimana Hans kita berpijak ketika orang-orang menertawakan seorang kandidat yang diwartakan pernah memakan kotoran kuda karena saling laparnya setelah acara pacuan yang melelehkan tanpa hasil, dia sebenarnya jijik tapi mencoba tersenyum, Hans merupakan salah satu dari sedikit orang dimasa itu yang urat syarafnya masih berfungsi setengah agak baik, jika setengahnya berfungsi maka tidak akan ada kejadian rancu seperti itu.

Mekanisme kasta yang kembali hadir setelah kudeta kaum Kusri, golongan keagamaan yang baru nan ganas, ayahnya yang seorang anak buah kepercayaan jenderal di pusat, menepatkan ayahnya sebagai pemuka agama distrik Maumer, seorang dengan otak dengkul itu nyatanya hanya bisa berorasi penuh kutuk, tapi anaknya yang pendiam itu tidak memiliki bakat menghujat MEREKA yang berbeda dari KAMI, dia hanya gemar pada barang elektronik dan senang merakit jadi karena perusahaan listrik adalah pemegang kontrol dan monopoli paling kuat setara korporasi korup di bidang penyediaan sumber air dirinya masuk didalam jajaran teknisi senior, sebuah ketidaksimbungan namun masih bisa di telorir dan Hans menerimanya.

Kisah masih panjang namun Willum yang sudah hampir setengah abad tidak pernah mendengarkan kisah itu secara penuh, ingatan mulai tergerus lupa tapi kurang lebih demikian dalam lamunnya, tiba-tiba karena suatu kesalahan dalam distribusi aliran listrik, wilayah-wilayah miskin di distrik Maumer itu mendengar dari pemberitaan di televisi akan ada rencana relokasi permukiman mereka menuju distrik Norse; yang benar memang memiliki panorama sore menakjubkan namun daerah itu adalah sarang para golongan agamis yang dikenal sebagai golongan kafir, karena memeluk agama yang sudah menjadi minoritas, mereka tidak ingin disamakan dengan si sesat.

Mereka rela hidup penuh dengan debu dan kesulitan air namun menentang sepenuhnya relokasi ini yang semakin berubah menjadi kenyataan karena disinyalir di bawah tanah yang telah mereka duduki dan perjuangkan di masa-masa kudeta itu ternyata memiliki kandungan bauksit yang melimpah, distrik dan negara akan kaya namun dari para tetua kecewa.

Setelah bertahun-tahun percaya akan dibayar tuntas pengabdian selepas kudeta itu dengan kelimpahan dan kejayaan harta benda mereka justru hanya mendapatkan sebuah tanah kosong yang kering dan tandus dengan padang gurun yang seakan-akan semakin mendesak mereka, perang besar terakhir telah menghancurkan peradaban namun mereka tetap bertahan karena sebuah janji, tapi tidak kali ini, amuk masa terjadi, semua orang angkat senjata dan Hans entah bagaimana kisahnya berkhianat membela kaum ini tapi Willum mencoba mengingat dengan yakin untuk kali ini disebabkan sebuah pernyataan ayahnya yang menyinggung dan merendahkan markat dan martabat kelompok miskin ini, dia sadar dan lantas berbalik menyerang orang-orang yang seharusnya dirinya dukung.

Hans diakhir kisah meninggal dan kaum itu akhirnya tetap meyingkir namun dengan dendam yang terus turun ditemurunkan, dan kisah Hans yang membelot itu selalu dikisahkan bahwa suatu saat ratu adil yang benar-benar bijak akan menuntun mereka menuju zaman yang lebih baik dan meninggalkan dunia penuh cemooh, tapi kisah ini ditutup dengan Iwu seorang gadis rumahan dengan kacamata dan teknologi yang selalu mengitarinya, gadget paling menonjol justru memaki kakaknya yang dengan sengaja mengubah unggahan kisah roman picisannya dengan kisah Hans yang tidak masuk akal, dimana keadaan bumi berubah menjadi tandus, tidak layak huni, dan pertumpahan darah terus terjadi, “kita tidak hidup di zaman Mad Max, kau tau kak kita hidup di zaman Golden Age, dimana realitas virtual akan semenarik Tron, dan kau tak tau apa-apa”, gerutunya pada kakaknya seorang pengusaha tembikar yang berbau pengap itu namun mengandrungi kisah distophia macam 1984, yang nyatanya tidak terjadi dan dunia di era Uwi begitu mudah untuk terhubungan secara teori tapi secara harfiah, seorang pencari suaka susah setengah mati untuk bisa menyebrang menuju negara yang dia harapkan.

Hari telah berganti, kaos putih longgar sekalipun bukan tandingan suhu 45ºC, terlebih tengah berada di dalam sebuah bilik⸺panas dan sumpek pilihan kata yang tepat⸺sekalipun tersedia kipas kecil dengan pergerakan kaku, pendingin itu masih Bachtiar harapkan agar segera menyala, hanya hembusan angin pada jendela yang menyelamatkan paginya.  Pukul 8 lebih seperempat dan peluh telah menetes lebih deras dibandingkan hari-hari nyaman di Pegunungan Hijau, kawasan perumahan elit milik orangtuanya. Pagi sama dirinya tidak memiliki kegiatan hanya konferensi iklim nasional⸺menggantikan ayahnya yang tengah terbaring sakit⸺besok malam yang menuntunnya pada perjalanan menyiksa ini tapi kini ia lantas ragu dalam gerutu, “Omong kosong, tanpa hasil, hanya simbolis dan hura-hura semata.”

Tak ada teman mengobrol. Willum belum kembali, tengah mencari kesibukkan pada secangkir kopi, pikir Bachtiar. Praktis hanya hidangan makanan yang ia tunggu di pagi ini sebelum pandangannya teralihkan pada sudut meja itu, ia memandang lekat, agak lama. Sedikit berfikir atau lebih ke merenung tepatnya. Pohon Kehidupan, tertera kukuh dan dalam pada cover buku kumal yang ia tamatkan salah satu babnya tadi malam. Kisah didalamnya membuat malamnya tak nyenyak, membentuk ketakutan, kebimbingan, selebihnya harapan tipis yang ia angan-angankan. Aura malam itu belum berubah dan memorinya, mencoba meraba sebuah tutur kisah bahkan dimungkinkan kisah akan masa lalunya. Entah apa, tapi nuansa sendu tiba-tiba menyeruak dari sorot matanya. Agak aneh, sebab di sisi lain enam dari tujuh deret bilik tak henti-hentinya bunyi dering bel. Berisi suara-suara komplain mengarah pada makian; sajian pesanan tak kunjung datang, sebotol brandi yang tertukar jahe kencur (agak ceroboh untuk satu ini), selebihnya mengarah pada gaduhnya bilik sebelah. Sayup-sayup suara asing ini belum sanggup memecah lamunan Bachtiar, kecuali satu ini;

“….KAU pikir untuk apa aku pesan bilik VIP ini, untuk apa coba hah, supaya AKU dan ISTRIKU bisa nyaman, tapi apa yang KAMI dapatkan, satu malam suntuk hawa panas dan lebih panas di pagi ini, KAMI gerah!!!…Cepat panggil siapapun itu, SI…A…PA…PUN mengerti!!!!! Yang penting pendingin keparat ini hidup kembali!!!!” Samar diawal namun semakin meninggi suara itu, semakin jelas dan gamblang tiap kata yang masuk ke telinga Bachtiar. Dirinya memperkirakan, tiga atau empat bilik di sisi lain dimana suara itu berasal, pasti milik pria paruh baya dengan tongkat komando dan muka bengis itu sebagai biang keributan, ia sangat yakin akan tebakannya ini. Tak selang lama didengarnya suara si manager mencoba menjelaskan;

“Sebelumnya, saya yang bertanggungjawab disini. Mohon maaf sebelumnya Tuan, suplai listrik disini harus dibagi, orang-orang di kelas bisnis perlu mengeces hp mereka, perlu juga sedikit pendingin, begitu juga mereka di kelas ekonomi, kami perlu mengaturnya agar adil bagi semua, itulah keputusan manajemen. Maaf sekali lagi…” Jelasnya sopan, namun agaknya pria itu tetap tidak terima dan kembali mengomel tidak begitu jelas.

Butuh beberapa menit menunggu gema kejengkelan “Pria Berwajah Bengis” tergantikan deru mesin-mesin proyek. Semua orang mengalihkan pandangan mereka dalam porsi yang berbeda; di bilik VIP terbelah, pada dudukan nyaman⸺tanpa privasi⸺kelas bisnis pun terbagi, tapi secara garis besar ada dua tipe tergambar di tempat itu; memandang sekelebat; orang-orang berdasi di cafe dengan pantauan pergerakan pasar di ponsel mereka mewakili bentuk persepsi ini.

Selebihnya berupa tatapan terpaku, anak kecil berambut coklat di sudut kaca itu gambaran yang pas. Bocah dengan pakaian lusuh dan alas kaki tak layak pakai itu tengah melihat lubang-lubang tanah menganga, lalang kendaraan berat yang tengah bergerak menuju pabrik pengelolaan di balik bukit Godan, selebihnya orang-orang berompi dan bertopi kuning seketika berubah jadi semut diantara roda-roda besar kira-kira setinggi pohon akasia yang 4 tahun lalu bibitnya kakek tanam; pohon berkayu terakhir di kampung mereka, selebihnya hanya gulma dan lahan tandus di segala penjuru. Sebenarnya bila kisah ini fiksi mungkin ia sedang mengadakan suatu liburan tambahan menuju ibukota, germelap lampu dan dunia tanpa jeda tuk terlelap, menanti kedatangan mereka namun kita harus jujur sebab di bangku sempit⸺berbau pengap⸺kelas ekonomi, Tomi sebut saja demikian punya hal lain dalam suara-suara yang tertahan. Ia kini di usia 10 tahun, telah kehilangan hal ikhwal dalam dirinya, keceriaan. Emosi yang harusnya masih bersemayam pada raut muka anak-anak seumurannya; seharusnya masih bercerita tentang ikan-ikan yang telah ia dan pamannya pancing, atau sepatu baru yang dirinya pamerkan ke semua orang namun dunia sekarangnya tengah muram, satu suara dengan bapak dan beberapa belas dari ratusan warga di bagian paling memilukan di tempat ini.

Mereka punya kisah, setelah 2 tahun berkonflik dengan Green Future, perusahaan pertambangan biji nikel itu membuat orang-orang Limbongan ini menelan pil pahit, mereka kalah. Green Future Limbongan akhirnya berdiri, perusahaan milik korporasi asing Pure Energy yang berpusat di seberang laut sana justru jadi pemilik segalanya di negeri ini. Menyakitkan. Setali tiga uang pada daerah ini⸺dimana orang-orang didalam tempat ini memandang secara sekelebat ataupun terpaku hebat antara takjub maupun memendam kebencian layaknya Ho Chi Min pada tentara Prancis⸺Green Future Laksia baru saja berdiri, mereka bernomer empat, dan sukar dipercaya hanya terletak 2 jam perjalanan darat dari ibukota, sungguh ironis dengan dua sisanya terletak di masing-masing ujung pulau ini mereka mengepung dan merebut hajat hidup orang banyak, seperti Tomi yang harus rela hidup berdesakan dalam dinding-dinding sempit di tepi ibukota hingga mungkin sisa usianya, tempat dimana sekarang mereka tengah menuju, didasari dictum urbanisasi yang sekarang tengah gencar digalakkan pemerintah, agar komando lebih terpusat katanya tapi dalih halus pengusiran warga dari tanah penuh mineral berharga.

Ibukota layaknya sepotong tumpeng, fokus kita hanya berada di bagian tengah yang megah dan melupakan sisi-sisi pinggir yang memang tertata namun dipandang pun tak pernah, dan Tomi, si anak kecil itu terbuang didalamnya, di permukiman kumuh, penuh tikus got, dan panas luar biasa⸺50ºC suhu rata-rata di daerah itu⸺oleh sebabnya dihindari pejabat-pejabat negeri, kegetiran ayahnya tuturkan dalam tangis setelah memandang reruntuhan rumah mereka tuk terakhir kalinya, tempat dimana kenangan tertambat dan sulit terhapuskan tapi kini hanya helaan napas tak berkesudahan telah menanti mereka, diantara penuh sesak orang-orang memperebutkan ruang dan wilayah.

Untuk Bachtiar kita kurang tahu bagaimana cara merepresentasikan pandangannya pada gundukan pendulang kekayaan bagi sebagian orang dan penyumbang kesengsaraan bagi mayoritas lainnya. Dirinya hanya menantap sekilas lalu menunduk namun lekas lekat kembali pada lamunannya. Tiba-tiba mentari yang sepanjang waktu bersinar terik itu redup, walau sepersekian detik gangguan ini membuat upayanya kembali terhenti, mencari gerangan penyebab kejadian, baliho besar itu jawabannya yang baru ia ketahui setelah agak menongak tinggi, dengan menebak remeh slogan didalamnya, Sayap-Sayap Kemajuan, telah bertebaran dimana-mana, di seantero negeri. Satu dari ribuan baliho lain dari capres ambisius itu; dengan senyum ramah mengembang yang justru semakin lama diperhatikan, semakin menjemukkan, tipe manusia yang hanya bisa membuat janji dan omong kosong hasil terbaik usahanya. Misal saja mereka berada di sebuah kampanye dapat dipastikan akan mendapat tepuk tangan paling riuh dari kumpulan orang berotak kosong, kolot dan bersumbu pendek, pikir Bachtiar.

Hari menjelang sore dan Kereta terus melaju, ibukota masih beberapa puluh kilometer. Bilik itu kini tentram, masalah pendingin sudah teratasi. Tidak ada lagi sayup-sayup kegelisahan bernada makian, hanya riuh rendah layaknya omelan yang tak kunjung putus dari gerbong bisnis tapi berfrekuensi rendah, tidak begitu menganggu. Batchiar tidak tahu persisnya bahwa wakil manager, pria muda itu hampir saja kena amukan massa sebab mematikan kedelapan pendingin dari empat gerbong kelas menengah, diskusi penuh urat syaraf terjadi, mereka tidak terima diputus secara sepihak, terlebih penyelamat hidup mereka dari suhu hampir 50ºC yang membakar tengkuk dan sekujur tubuh. Setengah jam proses negoisasi, masalah selesai cukup adil⸺hanya 4 pendingin yang berhasil dihidupkan⸺itu memakan korban, dimana kipas-kipas reot yang menangungi orang-orang kelas praia itu akhirnya dipaksakan untuk dimatikan, jika mereka punya kedudukan lebih pasti akan memberontak tapi sudah bisa menumpang gerbong ini saja mereka sudah pantas untuk bersyukur, masih banyak kawan-kawan mereka yang terkatung-katung tanpa kepastian di tanah yang tandus penuh debu dan sederet binatang liar mematikan yang sudah berevolusi semakin ganas berburu darah panas manusia sebab minim makanan yang tersisa di beberapa deret gurun yang semakin meluas. Tapi Bachtiar bisa merasakan, ia yang kini hidup diantara rasa ketidakpuasan hanya terbenteng status kelas, hidup dimana hukum yang memihak si kaya berlaku, terlebih apabila orang itu seorang kaya sekaligus saleh, taat beragama pastinya tidak ada satupun pribadi yang berani bermacam-macam dengannya. Dalam perjalanan itu Bachtiar sebenarnya cemas namun sedikit angin sepoi-sepoi berhasil menidurkannya.

Pintu bilik itu terbuka, dan sedikit membangunkan Batchiar yang tengah terlelap, “Suara gaduh di gerbong sebelah begitu menganggu, disini agak tentram hingga kau bisa tertidur di siang menjelang sore ini. Ini minum dulu”. Willum memberikan kepadanya sebotol anggur, sama persis yang ia cicipi tapi rasa masam disini terlalu kuat. “Kurang enak ya?” tambahnya selagi memperhatikan raut kecu anak Tuannya itu, mereka seperti sedia kala duduk berhadapan, membahas berbagai hal, perjalanan, masakan yang kurang rasa namun percakapan pada buku itu alot untuk dimulai, mereka perlu jeda agak panjang hingga beberapa menit sebelum pemberhentian di dekat ibukota itu ada suara terkesiak, “Kau tahu kisah didalamnya ambigu, ada beberapa detail yang mungkin agak aku lupa, tapi masa mana yang kau akan pilih, hidup penuh kenistaan dengan sederet kenyataan pahit atau kemegahan yang terkesan nyata namun penuh utopia itu?” Bachtiar mulai berfikir, “Kisah yang berakhir sedih bukan jalan sebuah keyakinan, namun kisah yang mengandung pertanyaan itu sungguh merisaukan.”

Bachtiar menjeda ucapannya dan mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang tengah berlalu lalang di tepi danau kering di selatan ibukota itu, “Aku tidak tahu, kehidupan Iwu lengkap, dengan kamar yang berderet beberapa piagam penghargaan dan kemewahan yang terkesiap dan menetap di dalamnya, jangan lupa teknologi pesat orang-orang dizaman itu, tapi kisah Hans, si manusia malang yang berjuang layaknya seorang ratu adil tapi itu terlalu berat buat kita atau saya sendiri, kenapa kita selalu diberikan pilihan yang sulit,”. Keluh kesah itu berakhir tanpa klimaks setelah kereta tiba dan mereka berdua bersiap-siap dengan perasaan bimbang meninggalkan gerbong beraneka warna kehidupan itu, orang-orang dengan jas dan berderet koper, wanita pekerja yang turun dengan tergesa-gesa, dan beberapa deret pria dengan pakaian ala kadarnya menghiasi pemberhentian itu, batas-batas mereka sebenarnya tipis tapi jalur-jalur khusus yang dibentuk sedemikian rupa ternyata memisahkan mereka tapi menimbulkan tanya kadang kebencian akan pertalian nasib.

“Mungkin ayah mengutusku karena suatu hal, bukan untuk konferensi, tapi lanskap dan realitas yang benar-benar terjadi, diluar kententraman villa kita, tidak terkungkung pada tembok-tembok pendidikan moral yang hanya bisa berucap tentang pentingnya toleransi namun tetap saja pertentangan antar kelas semakin terperosok dalam menuju perpecahan yang berkepanjangan. Aku akan pergi ke Barat Daya, sore ini juga.” Pada deretan bangku itu Willum yang semula termangut-mangut kemudian terperanjat, “Apa kau bilang, kau akan dicap sebagai pemberontak, melawan pemerintah pusat sana, pemerintah yang telah menyokong kehidupan keluargamu.”

Anak berambut coklat itu melewatinya, Tiar mencoba memperhatikan tanpa mengundang kecurigaan, “Beberapa tahun yang lalu aku berfikir tuk meninggalkan kemewahan ini, hidupku terasa kosong dan realitas yang tergambar pada negeri ini sungguh benar-benar berbeda dari berita-berita panen raya dan kemakmuran yang telah digaung-gaungkan pemerintah pusat, aku tidak sanggup lagi hidup dengan menginjak-nginjak hak sesama, aku akan pergi, berat memang tapi harus aku lakukan, sampaikan salamku pada semua, pada ayah terutama, yakinkanlah mereka, inilah pilihanku.” Willum tak tahu harus menjawab apa, tapi ia bersedia mengantarakan anak Tuannya hingga keluar stasiun, “Bila kau butuh bantuan kartu hijau ini akan menolongmu, hubungi aku kapanpun kau mau, semoga aku masih hidup dan melihatmu mengubah dunia ini.” Bachtiar memeluk Willum, “Kartu ini, beberapa lembar uang, dan tentunya keyakinan, doakan aku”, Willum mengangguk, “Heh… kau yakin, kau akan kehilangan kesempatanmu membaca kisah-kisah hebat itu” usahanya sekali lagi, “Aku akan menuliskan kisahku sendiri. Selamat tinggal aku akan pergi ke terminal hingga menuju perbatasan, semua urusan konferensi aku wakilkan kepadamu.”

Terlihat si anak berambut coklat itu dari jauh dan semakin jauh, namun anggukan kecil yang dirinya lakukan entah kenapa meyakinkannya tuk bisa merubah penghidupan anak itu dan anak-anak lain yang kehidupannya terenggut buah perang mubazir yang menghasilkan kehancuran separuh biodiversitas tahun 2046, pertikaian tidak perlu yang justru melukai setengah abad didepannya dan dalam tekad dirinya tidak ingin generasi selanjutnya, mengecap ia dan segala raut muka tua era sebelumnya sebagai bagian besar pengacau nasib mereka.

Langkahnya berat agak kurang menyakinkan namun sorot matanya berusaha mengingkari, ada keyakinan saat dirinya meninggalkan Willum di stasiun Oika, Pria Tua itu teringat akan raut muka Hansi muda yang membara. Mereka telah berpisah dan paspor hijau adalah pegangan kuat bagi Bachtiar untuk mengarungi separuh lautan gurun pasir dan seperempat padang ilalang di kawasan Barat Daya sebelum sampai pada permukiman terakhir di dekat Laghor, dimana perbatasan imaginer terbentuk tapi untuk sekarang kita tahu Willum tengah mengamati tubuh tegak tak terlalu tinggi itu, semakin mengecil dan hanya bintik terlihat, tapi dalam titik itu terdapat rona yang memancar, menyeruak keluar layaknya ekor merak, didalamnya Willum tahu ada suatu hal yang paling berharga di era kini⸺dimasa sulit dimana yang kuat kembali menindas yang lemah dan alam tidak kuat lagi menolongnya⸺dan mendatang yakni sebuah harapan. harapan akan rasa kasih dan kemanusiaan yang lebih manusiawi berhasil membakar lebih sengit selagi terik dan peluh terus menggerangi langkah Tiar muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *