Cerpen #408 Yang Pantas Disalahkan

Kutarik tirai sedikit, matahari di luar makin tergelincir turun. Sebagian orang sekarang sudah malas membedakan mana yang awan mana yang asap, di langit yang diselimuti kelabu itu, aku tahu awan masih belum berkumpul juga. Kumatikan kipas angin di ruangan. Bukan karena ingin sok tahan panas atau sebagainya, melainkan aku perlu memperhatikan penggunaan listrik untuk bulan ini.

Aku menunggu lebih lama lagi. Adikku masih belum pulang juga.

Sebelumnya dia keluar ingin mengambilkan air. Lama terlewat, dia belum kunjung balik. Apakah aku perlu mengeceknya? Bunyi jam dinding terdengar, dan  langit masih sama. Aku bangkit dan meregangkan badan. Mungkin aku bisa lewati jalan samping gedung tinggi agar menghindar terkena panas.

Setelah memastikan barang-barang elektronik mati semua, aku ambil payung baru memakai maskerku. Habis mengunci pintu depan baru aku beranjak menuju elevator. Bunyinya hening dari ia tiba ke lantaiku hingga sampai di lantai dasar.

Di sepanjang suatu jalan, ada bangunan dengan papan digital. Layarnya menjalankan sebuah tayangan channel berita.  Aku menontonnya sebentar. Seseorang sedang diwawancarai oleh wartawan. Aku kenal dia, atau mungkin lebih tepatnya semua orang kenal dia, karena dia adalah salah satu dari politikus ternama di negara. Penasaranku pupus seketika. Tidak ada hal baik yang bisa didapat saat mendengar orang seperti itu.

Meski aku menjauh sedikit, kalimat politikus itu sayup terdengar, “ini bukan salah aku, pemirsa, atau bahkan negara ini! Tidak, kita tahu kalau kita memulainya sendiri, sudah pasti juga kita tidak akan mampu. Kita masih negara berkembang. Sedikit usaha dari kita hanya seperti secuil pasir di pantai. Menyedihkan memang, tapi begitulah nasib kita. Tapi jangan mau kalah! Kita adalah negara yang hebat. Kita pasti bisa mengalahkan krisis ini dan buat negara luar memandang kita kagum!”

Apakah dia tidak lelah bicara selebar begitu? Lagipula kalau membicarakan luar negeri, belahan bumi lainnya sudah berhasil menahan pengaruh perubahan iklim di tanah mereka. Kalau negara kita kota pesisir tenggelam karena naiknya permukaan laut, di sana mereka bahkan mengalahkan laut. Sampai detik ini tanah mereka semakin meluas tanpa henti. Kota ini langit berasap, gelombang panas setiap bulan datang, air tercemar, dan apapun krisis lainnya. Tapi di kota-kota mereka sudah terbuat sistem elektronik bawah tanah yang mendinginkan seluruh permukaan kota! Seratus tahun lalu bilang: ‘maklum karena kita negara berkembang’, seratus tahun kemudian di hari ini, alasannya  belum pernah berubah. Lebih baik aku segera meninggalkan papan digital itu daripada naik darah.

Bunyi kendaraan ngiung di telinga. Kepulan asap tak henti keluar dari mereka setiap detiknya. Oleh panas, debu, dan asap, pandanganku terdistorsi. Warnanya seolah menjadikan semua layar film lama yang mulai kekuningan. Pudar warna bangunan-bangunan itu. Jendela mereka usang ternodai apapun yang tidak bisa kusebutkan namanya.

Tidak ada yang bisa kita lakukan! Begitulah di benak semua orang. Kita harus melewati semua ini tanpa tahu kenapa. Kenapa kita harus lahir dan dihukum seperti ini? Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah berpura-pura menganggap semua baik-baik saja.

Bunyi kendaraan kini mengecil membuatku terbangun dari lamunan. Di depanku ada pertigaan. Kosong, tersisa aku seorang. Pemilik bangunan-bangunan di samping seolah sudah berjanjian bakal menjauh dari sini untuk hari ini saja. Aku mendekatinya.  Kulihat belokan kiri dan kanan bergantian.

Jalanannya hilang.

Itu satu-satunya kata yang paling tepat untuk apapun yang di depanku. Kedua belokan itu jatuh atau bahkan longsor menjadi lubang benam. Puing-puing jalan dan bekas bangunan sebelah ikut tertimbun di liang kedalaman kedalaman 3 meter.  Ada jarak hampir 8 meter dari bagian jalan yang tidak rusak dari sini.

Ini… Aku tahu di belokan kiri memang sudah hancur tidak bisa dilewati sejak lama. Itu kejadian dulu enam bulan lalu. Pemerintah daerah juga seperti biasa mengurusinya hal-hal lain selama itu bukan sesuatu yang produktif. Itu sudah wajar. Sedikit yang bisa diharapkan oleh mereka. Tapi terakhir kulewati jalan kanan masih baik-baik saja. Kapan ini terjadi?

Benar-benar hari yang sial. Bukankah ini artinya aku harus cari jalan lain? Mungkin karena ini juga adikku keluar tambah lama.

Aku teringat ujung bawah kecil yang ditampilkan di layar digital tadi. Meski sudah lewat tengah hari, temperatur sekarang di 36oC. Debu-debu menempel di wajahku dengan mudahnya. Aku beranjak pergi dari sini sambil mencoba tidak menghiraukan tubuhku yang berkeringat.

“Permisi dik…”

Di satu jalan aku dicegat seseorang. Dari samping seorang wanita paruh baya menatap ke aku dengan pakaian yang lusuh. Dia tidak mengenakan masker, dan beberapa detik kemudian dia terbatuk-batuk.

“Tolong bantu saya, dik. Saya punya empat anak di rumah. Salah satu putriku cuma bisa terbaring kesakitan. Tolong, dik. Mereka kelaparan dan kehausan, dik. Sedikit uang saja…”

Sekilas aku melihat gambaran ibuku dari wajahnya yang sudah mulai berkerut. Tapi apa yang bisa aku katakan di keadaan seperti ini?

“Maaf…”

Hanya itu, dan aku sampai berlari kecil untuk meninggalkan wanita itu. Dia tidak berniat untuk terus mengikutiku, tapi aku mendengar panggilannya terus minta tolong dari belakang.

Apakah aku salah? Apakah pejalan kaki di sebelah yang lewat juga memandangku sebagai orang yang bersalah?

Aku kembali teringat bahasan di papan digital tadi. Muncul jawaban interview si politikus sekitar setengah jam tadi. Dulu aku mengira pemanasan global sederhana saja. Aku kira juga pemanasan global hanya berakibat aku bakal semakin lama pakai payung di luar rumah. Jangan salahkan aku, karena dulu aku masih seumuran 5 tahun. Cara mengikat tali sepatu saja masih butuh dibantu. Kalimat para politikus juga manis kesannya. ‘Bukan salah kita’. Itu salah negara maju. Itu salah orang yang buang sampah sembarangan. Sederhana sekali pemikiran seperti itu.

Semakin lama semakin sadar juga orang apa maksud pemanasan global, dan peringatan bahwa itu membahayakan keberlangsungan manusia di bumi ternyata bukan demi menakut-nakuti belaka. Tapi itu terlalu sederhana juga. Kata-kata peringatan tidak bisa mewakili seberapa mengeringankannya maksud ‘kota tenggelam’, ‘puluhan ribu mengungsi setiap bulan’, dan ‘orang bergelimpangan kepanasan’.

Kini ‘panas’ bukan lagi sama seperti yang dulu. Sudah bengis, mengerikan, dan jadi bagian dongeng menyeramkan agar anak-anak bisa segera pulang ke rumah di waktu siang.

Tidak ada juga satu orangpun yang memberitahuku, kalau di masa manusia benar-benar mengalami dampak seluruhnya pemanasan global seperti kini, sekumpulan orang bakal masih bersikeras melakukan hal-hal yang mereka tahu bakal merugikan seluruh spesies manusia, tidak, seluruh kehidupan di bumi.

Terasa sedikit sesak di balik masker. Aku tidak tahu apakah itu karena udara kota atau pengaruh perasaan. Konsekuensi yang kita terima bukan hanya keringat dan ketidaknyamanan belaka.

Kendaraan silih berdatangan membawa datang dan pergi bunyi nyaringnya. Tiba aku di jembatan kecil. Di bawah ada sesuatu yang namanya ‘sungai’. Sayang kota tempatku tinggal punya pengertian lain dari sungai. Di bawah sana tersusun sampah-sampah hingga hilang tampak airnya dari permukaan. Satu-satunya tanda kehadiran ‘air’ hanyalah mereka terkadang seolah bergerak sedikit demi sedikit. Kadang juga naik dan turun. Warga sini menyalahkan pemukiman sungai hulu sebagai penyebab masalah sampah. Andai saja segampang itu menunjuk jari, karena habis itu harus apa?

Di antara sungai itu rumah-rumah panggung terbangun dengan kayu berwarna  cokelat kehitamannya. Sebagian jendela terbuka dan timbul kepala-kepala manusia yang berkeringat. Kulit hangus mereka memantulkan keringat keemasan. Satu dari mereka melontarkan karung yang nampak penuh entah isi apa, jatuh ke sungai, di telan arus sampah-sampah. Sebagian besar menonton sesuatu ke bawah. Aku ikuti pandangan mereka. Muncul dari tepat di bawah jembatan, beberapa perahu kecil melintas. Pendayuhnya dengan sekuat tenaga mengayunkan tangan mereka.

Perhatianku ikut tertuju ke kumpulan perahu itu. Apa yang sedang mereka lakukan? Saat aku sudah terpaku mengikutinya, pundakku tiba-tiba ditepuk oleh seseorang.

Aku terperanjat karena tersentuh. Orang itu muncul dari belakangku. Rambutnya terurai panjang. Wajahnya tidak dapat kukenali karena tertutup penuh dengan kacamata hitam dan masker.

“Maya,” dia memanggil namaku.

Mendengar suaranya, barulah aku kenal siapa orang itu, “Ratri? Sedang apa kamu di sini?”

Bukannya membalas, Ratri hanya mendekat dan ingin memelukku. Bibirku terangkat, meski itu tidak mungkin terlihat dari balik masker.

Ratri kemudian melepas dekapannya dan menjawab, “aku sedang berniat mendatangimu, tapi kita malah berpapasan di sini.”

“Apa ada sesuatu, Tri? Tapi sepertinya aku tidak bisa membantumu sekarang. Ini tentang adikku. Tadi pagi dia bilang ingin mengambil air, tapi dia masih belum pulang juga.”

Aku ingin minta maaf lebih lagi, tapi dipotong oleh Ratri, “jangan cemas kalau masalah adikmu. Ini juga salah satu alasan aku ingin mendatangimu. Adikmu sebenarnya sedang di rumahku. Aku sempat mencoba menghubungimu tapi panggilan atau pesan teks tidak sampai-sampai ke kamu.”

Aku menghela napas lega. Aku sedang berupaya memendam pemikiran ini sedari pagi, kalau aku benar-benar takut adikku sedang kenapa-napa. Di kota ini mungkin sedikit saja tindakan kriminal, tapi siapa yang mau menjamin kalau semuanya aman-aman saja di masa seperti ini? Beruntunglah kalau begini. Yang terpenting adikku baik-baik saja.

“Baguslah… baguslah…” aku kemudian lanjutkan, “ponselku habis baterainya. Aku juga ingin menghubungi dia, tapi kamu tahu sendirilah.”

Ratri mengangguk. Seolah teringat suatu hal, dia menyuruh aku tunggu sebentar dan mengambil sesuatu dari tas yang dia bawa. Sebuah botol air kecil. Aku tidak berniat pura-pura sungkan. Aku segera menerimanya baru minum sampai habis.

“Sampahnya jangan dibuang ke bawah nanti.” Akhirnya candaan hambar dia muncul. Aku berhenti minum gara-gara itu. Tidak lain karena suara dia terlalu nyaring. Seluruh pejalan kaki yang ada di sampingku tak terkecuali menoleh ke sini. Mereka melirik wajahku dan botol air yang setengah habis bergantian. Mata mereka tidak menahan diri untuk menilai buruk aku. Aku menggaruk kepala saja sambil mendengar tawa kecil dari Ratri.

“Jangan dihiraukan, Maya-ku.”

Ratri menarik tanganku dan aku dibawa menuju suatu tempat.

“Kamu pasti juga tidak akan mau kalau dilihat seperti itu, Tri. Lagipula kota ini sudah punya banyak masalah. Orang-orang sudah tidak punya tenaga untuk mencari tahu apa sesuatu itu candaan atau serius.”

“Dan kenapa mereka harus keberatan saat aku bilang jangan buang sampah ke sungai di bawah? Bukankah kamu, dan mereka setuju juga? Kalaupun kamu benar-benar melakukannya, mereka juga tidak akan mencoba menghentikanmu. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa lakukan sekarang.”

Aku terdiam sejenak. Aku masih membiarkan dia menarikku. Dari belakang, aku segera melupakan pertanyaannya. Aku tenggelam dalam ingatan pertama kali aku bertemu dengan dia. Ratri, dia tidak berubah sedikitpun. Kabut asap, sampah, dan hawa panas di kota ini juga tidak pernah berubah. Tapi semua itu menggerogoti pikiran dan tubuh penduduk, bahkan aku termasuk. Di antara semua itu, punggungnya selalu tegak, dan sepasang bola matanya selalu menarik perhatian. Siapapun yang melihatnya, mereka seolah akan mendengar: ‘Jangan takut. Besok akan baik-baik saja.’ Hatiku langsung meminta agar aku juga menjadi seperti dia.

“Maya, Maya, apa kamu baik saja?” Aku terlepas dari lantunanku dan menemukan kalau kita berdua tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ratri melepas kacamata hitamnya dan menunjukkan air muka cemas, “apa kamu marah karena tadi? Maaf… aku tidak berniat begitu. Aku akan berhenti melakukannya, jadi jangan ngambek, ya?”

“Kemarin kamu juga bilang begitu, Tri.”

“Benarkah? Kamu tahu aku ini kan orangnya pelupa. Jadi kamu bisa ingatkan aku lain kali nanti.”

“Itu sudah kamu bilang juga kemarin.”

Ratri pura-pura tidak mendengarkan dan kembali menuntun aku. Aku hanya bisa pasrah melihat kelakuannya. Aku memikirkan kembali tentang pertanyaannya. Apa jawaban yang tepat untuk itu, dan kenapa aku ingin dia tidak bercanda seperti itu lagi?

“Karena mereka peduli, Tri…” Meskipun suaraku berbentuk bisikan, dia ternyata bisa mendengarnya dan menoleh ke belakang. Aku bergegas melanjutkan, “semua orang pasti tidak ingin tempat tinggalnya menjadi semakin buruk. Kita semua sedang merasakannya. Benar tidak separah kota-kota yang tenggelam tapi mereka benar-benar peduli. Kalau mereka tahu kamu bercanda, mereka juga pasti bakal meminta kamu berhenti. Karena sekarang bukan waktunya untuk bercanda.”

Ah… Ini memalukan. Jarang sekali aku berbicara seperti itu. Ratri pasti bakal anggap aku aneh. Lagipula, siapa yang mau mendengarkan pidato seperti itu?

Aku menghadap ke atas pelan-pelan, mengecek air mukanya. Semoga dia tidak kesal. Ah… aku lupa dia juga masih bermasker. Matanya sulit kuterka. Alisnya kelihatan tenang, dan dari kerutan ujung matanya bukankah itu tanda dia sedang senang? Tapi tidak masuk akal kalau dia tersenyum sekarang. Lebih baik aku tidak mencoba menebak-nebak.

“Kamu benar, Maya. Semua orang memang peduli dengan sekitarnya.”

Ah… dia benar-benar marah sekarang. Tapi ternyata kutakutkan ternyata tidak terjadi.

“Kalau aku punya lampu ajaib, dan kalau geni-nya tidak membolehkanku buat memusnahkan semua penderitaan manusia akibat pemanasan global, sudah pasti aku akan meminta seluruh orang jadi punya kepedulian yang sama serperti kamu. Tapi Maya, sekarang yang kita butuhkan bukan hanya peduli dalam hati atau mengatakan: ‘aku peduli!’ saja… Apakah kamu tahu kenapa sungai kita penuh dengan sampah?”

“Karena kota di hulu, bukan?” Semua orang kota ini tahu.

“Mungkin saja, tapi tidak sesederhana itu. Aku sudah pernah datang ke kota yang dituduh si walikota. Bagian sungai mereka juga dipenuhi dengan sampah. Warga sana bilang yang sama seperti kita. Kalau ini salah kota yang lebih hulu. Aku juga sudah pernah ke kota hilir yang sekarang berhadapan langsung dengan air asin. Mereka justru menuduh kota kitalah pelakunya. Yang aliran kecil hingga mulut laut penuh dengan sampah, itu tidak lain adalah berkat upaya dari kota-kota bersama. Sudah pantas harusnya mereka tidak saling tuduh tapi saling bangga—Ah, kita sudah sampai.”

Kita berhenti di sebuah alun luas yang hanya ada pejalan kaki saja. Lantainya terbuat dari beton. Di tengahnya terdapat sisa pancuran, sekarang tidak dialiri lagi. Alunnya diatur lingkaran kemudian dikelilingi apartemen-apartemen bertingkat. Ada satu bangunan yang lebih tinggi dari yang lain. Di dindingnya terpasang papan digital, dan yang ditampilkan sama dengan sebelumnya yang sempat kutonton sebentar. Politikus itu benar-benar memiliki kesabaran dan percaya diri yang kuat sampai bisa bicara satu jam lebih, sedikit membuat iri.

“Apa yang mau kita lakukan di sini, Tri?”

“Sebelum itu aku harus melanjutkan yang tadi, Maya—karena sisa sedikit saja.”

Baru sekarang dia melepaskan genggamannya ke tanganku.

Dia lanjutkan, “sebagian besar orang hanya ingin tahu sederhana ‘betul’ atau ‘salah’ tentang sesuatu. Mereka enggan mencari lebih dari batasan itu. Siapa yang pantas disalahkan, itu yang terpenting. Bukankah itu yang selalu kamu bicarakan sejak awal kita bertemu?

Saat kita di atas jembatan tadi, mereka melihat kita berdua sambil bertanya-tanya, ‘siapa dua wanita kurang ajar ini, berani-beraninya mau menambahkan kerusakan di sungai?’ Setelah puas melontarkan pertanyaan itu dalam hati, mereka satu persatu akan pulang, kemudian tidur pulas.  Puas sudah dapat siapa yang perlu disalahkan. Urusan perbaikan itu belakangan, bukannya seperti itu, Maya?”

Jadi berakhir di situ pembicaraannya. Aku tidak dapat menanggapinya. Bahkan kalau boleh jujur, aku sendiri kurang mengerti apa yang Ratri maksud. Lebih lagi aku ragu meminta penjelasan tambahan. Bukankah bakal menyedihkan kalau aku bertanya tentang sesuatu yang kumulai sendiri? Mungkin ini saatnya mengakui, meski aku suka bicara panjang lebar mengenai apa-apa yang kurasa perlu kukomentari, sebenarnya diriku sendiri hanya sedikit paham mengenai semua itu.

Ratri setelah itu memberitahu alasan kenapa dia membawaku ke sini, “dua puluh enam tahun yang lalu, kurang lebih lima tahun sebelum kita lahir. Hidup satu pohon di sini. Bertepatan di 31 Oktober 2078, pemerintah kota menebangnya tanpa sepengatahuan penduduk kota. Sedikit orang tahu dan mulai memprotes meski itu terlambat. Sayang, lebih banyak penduduk kota yang bahkan tidak tahu kehadirannya. Mungkin sebenarnya tahu tapi dirasa mereka tidak cukup penting. Mengerikan bukan? Meski cukup dekat waktunya, tapi tidak mungkin ada yang akan berani untuk bilang ‘aku akan menebang pohon’ di depan orang-orang.

Kamu harus tahu, Maya. Dua puluh enam tahun genap di hari ini, kita akhirnya kehilangan pohon terakhir yang tumbuh di kota.”

Aku membayangkan pemandangan alun kalau masih ada pohon itu. Batangnya cokelat menjulang, di atas membentuk kanopi oleh dedaunan hijau segar, ada sedikit gugur dengan cokelat keringnya. Sayang aku tidak bisa tahu lebih dari itu.

Aku adalah bagian dari kumpulan orang yang tidak pernah sekalipun menatap sebuah pohon secara langsung. Ada batasan perasaan yang bisa kudapat dari melihatnya melalui gambar saja.

Dimana pohon itu dulu tumbuh di tengah-tengah alun kelabu ini? Barangkali juga di tengah sebelum ada air pancur. Dia tumbuh gagah. Semua orang pasti akan tertuju pandangnya dan akan menarik takjub dari mereka.

Kubiarkan Ratri melamun. Di antara kita berdua, hanya dia-lah yang mungkin tahu bagaimana rasanya. Karena dia sudah pergi jauh ke arah manapun kompas tertuju. Ratri pernah melihat pohon. Dia bilang di setengah belahan bumi lain, negara-negara maju masih memiliki bagian wilayah yang namanya ‘hutan’, dan sedikit demi sedikit terus mereka lebarkan.

Perhatianku menuju ke papan digital. Politikus itu sampai sekarang belum selesai. Bicaranya menggebu-gebu berputar tentang pemanasan global. Ada beberapa baris yang kemudian dia sampaikan, yang mungkin butuh cukup lama untuk dapat kulupakan setelah ini.

“Kita sebenarnya masih dijajah! Dijajah oleh bangsa-bangsa penjajah! Karena merekalah bangsa seperti kita semakin terpukur dan bangsa mereka terus maju. Beratu tahun sudah, mereka tetap tidak berniat untuk minta maaf. Itu karena mereka malu, malu karena mereka tahu mereka masih melakukan yang sama dengan leluhur mereka! Mereka memaksa ini dan itu kepada kita atas nama perlawanan pada pemanasan global. Mudah sekali mereka mengatakannya, tapi kondisi negeri kita tidak semudah itu!”

Ratri tiba-tiba tertawa. Ekspresinya yang tadi muram kini berubah. Dia juga kini ikut memandang ke papan digital.

“Sepertinya dia akhirnya menemukan siapa yang pantas disalahkan.”

Itu keluar dari mulutku. Itu sama sekali tidak mengagetkan. Kalau ditinggal beberapa menit lagi, aku yakin dia justru bakal menyalahkan seluruh warga. Habis itu kembali bilang kita tidak salah. Aku bisa merasakan Ratri tersenyum ke arahku.

“Jadi, coba lihat ke situ.”

Telunjuk Ratri mengarah di salah satu titik di alun-alun. Di situ lantai masih belum dilapisi beton. Tanah cokelat dikelilingi bebatuan menyerupai bentuk persegi hadir di antara hamparan kelabu. Mungkin orang bakal mengira kalau yang membuat alun-alun terlalu malas lagi sampai-sampai menyisakan ruang belum selesai. Benar-benar tidak serasi juga dengan sekitar. Tapi dari keseragamannya yang tampak, sepertinya ini sengaja dibuat. Aku berjongkok dan mencoba merasakan tanah di sentuhan. Ratri berdiri sambil menatap ke jam tangannya.

“…Sebaiknya aku tidak mengharapkan mereka datang tepat waktu.”

“Apa kita mau menemui seseorang, Tri?”

Aku menanyainya, mata masih tertuju ke tanah.

“Kita akan menonton sesuatu, sebentar lagi petak ini bakal ditanam pohon.  Pohon asli, bukan pohon ukir batu atau logam.”

Dia menepuk kepalaku dengan lembut. Aku menatap ke langit. Belum waktu sore, tapi sinaran matahari sudah mulai meredup. Sebuah pencakar langit di kejauhan sana menutupinya. Posisinya berada di ujung barat perkotaan. Dari pandangan sini, posisinya persis menghalangi jalur matahari hingga dia terbenam. Kabut asap justru semakin menebal. Kepulan hitam dari cerobong setinggi belasan hingga puluhan meter yang tersebar di segala penjuru terus naik. Hingga akhirnya mereka terpisah dan menyatu dengan awan kelabu lembut dan sedikit kekuningan.

“Bukankah ini tempat yang buruk untuk pohon tumbuh?”

“Kota ini juga tidak bersahabat saat bayi, kanak, remaja, sampai dewasa kita, Maya.” Dia diam sebentar baru melanjutkan, “alasannya tidak lain karena walikota mulai cemas dengan posisinya. Dia berniat menanamkan pohon kembali di kota sebagai gestur kalau dia adalah pemimpin yang cinta lingkungan… dan seterusnya. Tapi tentang yang kamu tanyakan, Maya, dia dan bawahannya sama sekali tidak peduli tentang itu. Mungkin ini dalam benak mereka: dua generasi sudah tumbuh dewasa dengan kondisi kota seperti ini, maka berdoalah kamu pohon itu juga bisa, begitulah…”

Hampir saja aku mengira mereka kini sudah meninggalkan kelakuan tidak bertanggungjawab mereka. Apa yang dibilang Ratri kemungkinan besar memang begitu, tapi entah kenapa aku kembali merasa kecewa dengan mereka yang seharusnya tidak pantas diharapkan.

“Ratri, apakah pohon benar-benar seindah yang kamu katakan?”

Ratri menguap sebentar dan ikut berjongkok di sebelahku, “aku belum tahu pohon apa nanti yang dibawa. Tapi aku pastikan kalau kamu melihatnya secara langsung, kamu pasti akan mengerti kenapa sejak masa-masa terdahulu pendahulu kita ingin terus menjaganya.”

“Apakah aku akan sampai perlu menelpon seseorang dan menangis tersedu-sedu setelah lima menit menatapnya terus.”

“Sini kamu!” Tangannya meraih ke kepalaku dan gaya rambutku yang lama kuatur kini dirusakinya sampai berantakan.

Tanpa kusadari alun-alun ini menjadi ramai dengan pengunjung. Sebagian kecil datang dan hilang di antara cabang-cabang jalan. Ada yang mengambil tempat di pancuran yang sekarang tiba-tiba beralih fungsi jadi tempat duduk. Awalnya belasan, dan bermunculan pendatang baru lagi yang kemudian ikut berdiam di sini. Pandangan mereka tak terkecuali semua menatap ke petak tanah ini. Mereka juga menunggu kedatangan sesuatu, yang seperti Ratri bilang, pernah direnggut dari mereka pada dua puluh enam tahu yang lalu.

Diam-diam aku menepuk pipiku saat Ratri tidak memperhatikan. Apakah aku cukup tenang? Semoga nanti aku tidak menangis mirip seperti yang terjadi dengan Ratri dulu.

Di dinding bangunan yang paling tinggi di alun-alun itu, layar papan digital sudah dimatikan. Warnanya ternyata tidak hitam polos. Sekian lama belum dibersihkan, itu kini ternodai hingga berwarna kekuningan. Kuning itu membuatku teringat dengan semua suka duka kota ini. Aku harap nanti pohon itu dapat tumbuh sehat. Sebab dia sebentar lagi akan menjadi penghuni kota, menjadi kawan sama sengsara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *