Cerpen #406 Mengasa Masa Depan

Uap air dari dinding gelas minuman milik Denis, Luna dan Caca mengalir turun, menciptakan banjiran kecil di meja mereka. Denis sibuk menatap pemandangan di luar jendela café sedangkan Luna dan Caca sibuk berdiskusi yang bahkan menurut Denis, pembahasan mereka sangat rumit.

“Padahal cuma ganti kebiasaan dari yang biasanya beli minuman dari luar menjadi bawa botol minum sendiri, kok susah banget, sih? Ada banyak hal yang bisa kita bantu untuk mengurangi pemanasan global loh, dengan membawa kantong belanja sendiri, mulai pakai sedotan stainless steel untuk pengganti sedotan plastik, membawa alat makan sendiri, menggunakan transportasi umum, menghemat penggunaan listrik dan air, dan lain-lain yang gak bisa aku sebutin lagi karena terlalu banyak,” jelas Caca kepada Luna.

Luna sendiri hanya mengangguk-angguk setuju dengan penjelasan Caca. Perkataan Caca tadi memang sebagian benar adanya. Disaat maraknya pemberitaan pemanasan global yang menyebabkan bencana-bencana yang sebelumnya jarang terjadi di bumi ini, penghuni planet ini seakan-akan menutup telinga dan mata mereka dan masih berpegang teguh dengan keegoisan masing-masing.

Denis pun memutuskan untuk ikut dalam pembicaraan Luna dan Caca. “Tetapi aku juga salut dengan orang-orang yang sudah berjuang keras dalam gerakan mengurangi sampah loh. Memang akan lama sekali untuk mensosialisasikan gerakan mengurangi pemanasan global, tetapi setidaknya semakin banyak orang yang mulai sadar dengan perubahan bumi yang semakin memburuk ini. Kita juga tidak mau anak dan cucu kita hidup dalam bumi yang semakin rusak ini,” ujar Denis.

Luna dan Caca pun juga tampaknya menyetujui ujaran laki-laki tersebut.

“Yang bisa kita lakukan sekarang ini tentu saja tetap dengan usaha kita untuk mengurangi efek samping dari pemanasan global ini sekaligus memberi pengetahuan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa bumi kita semakin sakit dan sudah seharusnya kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini, untuk terus merawatnya, bukan malah memperparah keadaan,” sambung Denis.

“Oh iya Caca, kok kamu akhir-akhir ini sering terlambat datang ke kantor, sih? Biasanya kamu lebih awal beberapa menit loh,” ucap Luna, sembari tangannya meraih jus melonnya dan meminumnya.

Mendengar pertanyaan dari Luna tersebut membuat Caca langsung menghembuskan nafasnya dengan keras dan wajah yang terlihat sangat kesal. “Haduh, jalanan kota di dekat rumahku itu mulai sering macet Lun, macetnya juga lama banget makanya aku akhir-akhir ini sering telat datang ke kantor. Untung Pak Bos cukup toleransi dengan ketelatanku dan memaklumi.”

“Ohh, orang-orang sekarang lebih sering pakai kendaraan pribadi ya, makanya sering macet,” balas Luna.

“Di dekat rumahku juga sudah mulai macet tuh, untungnya mungkin gak semacet yang di daerah Caca makanya aku masih bisa datang ke kantor tepat waktu,” timpal Denis menanggapi keluhan Caca.

Denis, Luna dan Caca merupakan rekan kerja sejak setahun yang lalu yang bekerja di bidang pekerjaan yang sama, makanya mereka bertiga sangat sering berkumpul walaupun hanya sekedar kegiatan makan atau minum bersama. Sebelum masuk ke dunia kerja yang sekarang ini, Luna dan Caca memang sudah berteman sejak Sekolah Menengah Pertama hingga sekarang ini. Denis juga baru mengenal Luna dan Caca sejak masuk di dunia kerja dan Denis merasa cocok dengan pertemanan bersama Luna dan Caca.

“Berarti jam berangkat kerjamu harus lebih awal lagi, Ca,” canda Denis sambil terkekeh geli.

Membayangkan bahwa dirinya harus lebih awal lagi untuk berangkat kerja, membuat Caca sudah capek duluan saat memikirkannya. Agak susah memang jika Caca harus berangkat lebih awal lagi agar tidak terlambat masuk ke kantor, tetapi Caca juga tidak tahu lagi cara menghadapi kemacetan yang sudah sering terjadi di daerahnya.

“Eh iya, besok kalian jangan lupa bawa alat makan, ya. Denis tuh, kemarin sempat lupa bawa sendok garpu, ‘kan? Untung aja aku bawa alat makan lebih, jadi aku bisa pinjamin ke Denis,” kata Luna, mengingatkan teman-temannya itu.

Denis mengibaskan telapak tangannya dengan enteng. “Ah, aku makan tanpa sendok garpu juga masih bisa, kok. Tinggal makan pakai tangan, dua kali lebih nikmat daripada makan pakai sendok garpu.”

Luna tertawa kecil. “Iya, Denis, yang penting aku sudah mengingatkan, ya.”

Pembicaraan diantara mereka sempat terhenti karena mereka sibuk memakan snack yang ada di meja café tersebut.

“Hmm, kalian sadar gak sih, cuaca sekarang tuh sekarang suka gak menentu. Pas pagi masih cerah, eh tiba-tiba siangnya hujan. Suhu sekarang juga makin panas, kalian merasakan juga gak?” tanya Caca.

“Iya Ca, aku juga merasakan. Itu juga merupakan salah satu efek dari pemanasan global. Suhu di dunia tuh makin naik di setiap tahunnya, makanya suhu sekarang itu gak seadem pas kita masih kecil,” jelas Denis.

“Padahal kalau suhu di dunia semakin meningkat, es di Kutub Utara bakal cepat mencair dong? Nanti makhluk hidup yang ada di sana, bagaimana nasibnya?” tanya Luna dengan raut wajah yang sangat sedih.

Mohon dimaklumi dengan Luna yang suka emosional jika menyangkut topik tentang hewan karena Luna sendiri sangat menyukai hewan-hewan dan selalu penasaran dengan kehidupan hewan.

“Nah iya, aku juga kepikiran yang sama dengan Luna. Apa hewan yang hidup di sana akan cepat punah karena memang habitat mereka di tempat yang dingin seperti Kutub Utara itu?” timpal Caca dengan pertanyaan lagi.

“Hmm aku juga kurang tahu, tapi sepertinya memang akan terjadi kepunahan. Hewan disana memang hanya dapat hidup dan tumbuh di sana, dan disaat habitat mereka perlahan-lahan rusak, maka kehidupan hewan di sana juga akan berkurang. Mereka juga tidak mungkin berpindah ke tempat lain karena akan susah beradaptasi lagi di tempat yang baru,” ujar Denis.

Melihat Luna yang semakin murung, Caca menepuk-nepuk pelan punggung Luna. “Gak usah sedih ya Lun, setelah ini kita ke kebun binatang, deh. Di sana ada kembaranmu, ‘kan?”

Luna mengangkat kepalanya yang awalnya menunduk dan kepalanya menoleh ke arah Caca. “Kembaranku? ‘Kan aku gak punya kembaran Lun, gimana, sih.”

“Kembaranmu kan si platypus,” balsa Caca yang setelah itu malah tertawa terbahak-bahak.

Sadar bahwa dirinya disamakan dengan platypus, Luna langsung menampar lengan Caca dengan keras sambil berteriak melengking khas perempuan. Denis sendiri hanya tertawa kecil menikmati drama antara Luna dan Caca itu.

Sepanjang jam mereka di café tersebut, sudah banyak pembahasan tentang isu lingkungan yang mereka angkat menjadi bahan diskusi disertai dengan solusi-solusi yang dapat mereka pikirkan. Mungkin mereka tidak dapat mencegah akibat dari isu lingkungan yang sangat ramai dibicarakan saat ini, tetapi setidaknya mereka tidak semakin memperparah sehingga bumi ini masih dapat ditempati oleh keturunan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *