Cerpen #405 Bumi yang Kurindukan

“Pasien membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak segera! kau ambilkan 1 tabung di tempat penyimpanan! Kondisi pasien kritis!” seruku diiringi dengan dentuman kaki perawat yang perlahan menjauh.

“Maaf dok, sudah tidak ada simpanan lagi oksigen bagi pasien. Semua tabung oksigen telah dicadangkan rumah sakit untuk beberapa tahun kedepan.” jelas perawat sekembalinya dari ruang penyimpanan

“Bagaimana ini… nyawa pasien tetap harus diselamatkan! …. Kalau begitu, kau ambilkan tabung oksigen di ruang kerjaku! Pakai saja pasokan oksigenku. Segera! Detak jantung pasien semakin menurun!”

3 menit kemudian perawat itu kembali, bersamanya dibawa tabung oksigen kemudian langsung diberikan padaku. Semua tenaga medis di ruangan pun bergegas memberikan oksigen diimbangi dengan tindakan CPR (cardiopulmonary resuscitation) untuk pasien.

Waktu kematian pukul 20.13. Selasa. 12 Januari 2125 waktu asia bagian selatan.

Sudah tidak asing lagi informasi itu ditelingaku, setidaknya dalam satu hari pendengaranku akan menangkap satuan maupun belasan ucapan itu di tempat ini. Tangisan ‘pengiring’ pun tak luput dari keseharianku. Banyak korban jiwa yang telah berjatuhan di belahan bumi ini semenjak 8 tahun yang lalu. Kekrisisan bumi yang semakin parah seiring berjalannya waktu membuat semua makhluk hidup mengalami penurunan populasi yang cukup drastis.

Aroma teh menguar dari gelas menelusup indra penciumanku. Duduk di balkon apartemen, menikmati kesunyian malam dengan menyaksikan teramnya perkotaan. Dinginnya udara malam yang terasa menusuk hingga ke tulang, membuat tubuh ini menggigil kecil. Sekelebat pikiran masuk ke kepalaku. Tatapan lurus dan hampa, melihat banyaknya bangunan kubah yang menjulang tinggi di atas permukaan tanah. Kurasakan air mata perlahan mengalir di pipiku tatkala bangunan itu beranjak kosong setiap harinya.

Kualihkan padangan ke bawah, dimana semua tanaman dan pepohonan hidup di tanah. Tangisku semakin terisak saat netraku menangkap beberapa makhluk hidup itu kian menghitam.

15 menit berlalu untuk menumpahkan tangisku. Lantas aku beranjak masuk ke kamar. Mengambil foto peninggalan uyutku dari dalam laci. Senyumku terukir untuk satu hari ini hanya dengan melihat tempat itu.

Potret bumi 105 tahun yang lalu, tempat itu sangat berbeda dari masaku sekarang. Terlihat banyak daratan yang bersih dan hijau, air laut yang belum tercemar, keragaman hewan dan tumbuhan unik yang tidak kuketahui namanya, bebas menjelajahi belahan bumi kemanapun yang diinginkan. Dan satu hal yang sangat membuatku iri, semua makhluk hidup saat itu memiliki kondisi kesehatan yang terjamin.

Jika dibandingkan dengan bumi masaku. Maka, bagaikan kue yang ditaruh di etalase toko dengan kue yang tidak sehat di pinggir jalan. Sangat jauh perbedaannya bukan? Mau tau mengapa? Kesini biar ku ceritakan bagaimana kondisi bumi zaman ini.

  1. Tahun masehi bumi saat ini. Telah banyak yang terjadi pada 1 abad belakangan. Kini, di belahan bumi manapun, semuanya telah memiliki sebuah kaca pelindung yang sangat besar dan tebal untuk keberlangsungan makhluk hidup dan ekosistemnya. Didalam kaca inilah, kami hidup dengan keterbatasan.

Tidak ada lagi lautan bersih dengan pesonanya, sekarang hanya tersisa air yang tercemar bau dan hitam di luar kaca. Daratan pun kian menurun jumlahnya, dalam kurun waktu 80 tahun yang lalu hingga sekarang, yang tersisa sekarang hanya 3 benua saja, yaitu asia, eropa dan amerika. Tidak ada lagi negara dan pemerintahan. Sekarang, wilayah ditentukan dari nama benua dan bagiannya.

Pemerintahan digantikan oleh pihak yang berwenang. Semua tanggung jawab warga menjadi tanggungan pusat. Itu pun menurut bidangnya masing-masing bukan satu kesatuan semua bidang. Penghuni disini rata-rata bekerja sebagai ilmuwan, dokter, jenderal, mayor, polisi, guru, dan tentara. Adapun masyarakat biasa yang bekerja sebagai petani dan peternak untuk menjaga tatanan kebutuhan pokok.

Di era ini, kami membangun wilayah dengan konsep Smart City, sebuah pengelolaan kota yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menjalankan roda kehidupan warga yang lebih efisien.

Bangunan perkotaan dirancang dan diatur sebaik mungkin untuk menciptakan tempat yang efektif dan efisien, semua tempat dibangun di atas permukaan tanah agar tumbuhan dan hewan dapat hidup dibawahnya.

Beberapa macam bibit tanaman dan pohon yang terselamatkan puluhan tahun yang lalu, kami tanam dan kembangkan dilihat dari kecocokan tanahnya. Sedangkan hewan laut, primata, dan spesies burung semuanya punah, tidak dapat kami pertahankan karena habitat yang tidak memungkinkan untuk mereka tinggalli. Hanya hewan ternak saja yang masih bisa diperkembangbiakkan karena hewan ini dibutuhkan untuk kebutuhan pokok hariannya.

Para ilmuwan pun memberikan alat pendeteksi di setiap sudut gedung dan jalan, alat ini digunakan untuk mensurvei data kesehatan makhluk hidup setiap harinya yang akan langsung menuju pusat untuk diprediksi dan dilakukan segera pelayanan.

Sudah tidak ada lagi kendaraan yang menimbulkan asap pada bagian belakangnya, tidak ada lagi roda dan bahan bakar yang diperlukan. Berkembang pesat, kini kendaraan yang digunakan adalah kendaraan umum dengan medan magnet sebagai jalannya. Terdapat skateboard terbang yang diperuntukan bagi para ilmuan dan dokter saja. Kendaraan pribadi tidak diperbolehkan disini, hal ini untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan dan kerusakan dalam wilayah yang terbatas ini.

Kala itu,

Uyutku dengan tatapan sendu dan senyum mirisnya memandang ke luar kaca “padahal dunia yang dulu saya tinggali tidak seburuk ini.”

Dialihkan pandangannya yang kini tertuju padaku, lalu diraihnya tanganku. “kutitipkan benda ini untukmu dan generasi seterusnya.”

Aku terheran dengan sebuah benda mini hitam dan barang berbentuk kotak yang sangat asing di penglihatanku “ini apa eyang?”

“Itu flashdisk dan laptop, berisi dokumenter bumi puluhan tahun yang lalu, penyebab dari semua ini terjadi. Simpan dan jaga baik-baik, ini akan sangat berguna untuk generasimu nanti. Lihatlah jika kamu sudah siap”

Itulah pesan terakhir yang diberikan uyutku sebelum dia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. 

..

Sangat lama kusimpan berkas ini, belum kuputar sekalipun dokumenter ini. Walau menyimpan tanda tanya besar dalam diriku, tidak membuatku berani untuk memutarnya.

Sekarang, sudah saatnya aku mengetahui fakta dibalik ini semua. Melihat latar belakang penyebab bumi ini hancur dan tidak mengulangi kecerobohan manusia terdahulu. Lantas ku bergegas menyalakan laptop peninggalan uyutku, kumasukan flashdisk itu kedalamnya. Kuputar berita dokumenter dimulai dari 95 tahun yang lalu.

“Fenomena Greenland kian menjadi sorotan. Temuan fakta bahwa lapisan es di Greenland meleleh 10 kali lebih cepat sejak tahun 2000an, mendorong sejumlah peneliti untuk mengembangkan studi tempat es kedua terbesar di dunia setelah antartika ini. Sebagian beberapa peneliti berpendapat pemanasan global adalah pemicu utama yang mengakibatkan miliaran ton es meleleh hanya dalam 1 hari. Namun, perkiraan untuk seberapa tinggi dan seberapa cepat kenaikan air laut akan sangat bervariasi karena para peneliti tidak memiliki kejelasan seberapa cepat pemanasan lautan akan mencairkan es.”

“Beginilah kondisi laut jawa, Indonesia pasifik. Laut yang berwarna hitam pekat serta berbusa diduga tercemar limbah pabrik minyak bumi dan gas. Tak hanya berwarna hitam pekat air laut jawa juga menimbulkan bau yang tidak sedap. Tentunya kondisi tersebut merusak ekosistem di sepanjang pesisir pantai hingga laut luas yang menyebabkan banyak hewan laut mati.” 

“Penebangan pohon-pohon atau penggundulan hutan amazon meningkat secara signifikan, data satelit menunjukan dalam belasan tahun terakhir tercatat sebanyak 40% penggundulan yang terjadi di hutan ini. Antisipasi akan hilangnya hutan hujan tropis terbesar di dunia ini kian mengkhawatirkan. Tingginya kebutuhan dan harga komuditas pertanian membuat petani menebang pohon-pohon untuk membuka lahan baru bagi pertanian. Disamping itu terdapat pihak-pihak yang mengeskploitasi hutan ini untuk keperluan infrastruktur Negara.” 

“Rusaknya habitat hingga perburuan liar masih menjadi tantangan pemerintah dan tim konversasi untuk menyelamatkan keberadaan harimau di Indonesia. Tangan-tangan pemburu liar yang mengincar bagian-bagian tubuh harimau untuk diperjual belikan turut mengancam kelestarian hewan ini di area konservasi maupun di alam liar.”

Hanya 4 berita dokumenter saja yang baru kulihat, namun rasa emosi dan kesedihan sudah memuncak dalam diriku. Betapa individualisnya manusia saat itu, hanya mementingkan keberlangsungan hidupnya sendiri, tidak peduli makhluk hidup lain yang menjadi imbasnya akibat ulahnya. Mereka berlomba-lomba merusak alam hanya untuk menempatkan posisi mereka di atas rantai makanan dan mengaturnya sesuka hati mereka. Tidak ada kesadaran bahwa lingkungan yang mereka tinggali telah terkena dampaknya. Hanya demi kepuasan manusia semata, satu dunia dikorbankan.

Disana mereka sesukanya menghamburkan alam untuk keberlangsungan hidup, sedangkan disini kami mati-matian menjaga alam untuk bertahan hidup. Tidak diindahkan bayangan generasi penerus mereka akan hidup bagaimana nantinya. Terlarut dalam kesenangan yang sia-sia hingga tidak memikirkan kedepannya. Lantas bagaimana dengan tanggung jawab mereka? Merusak tanpa mau memperbaiki.

Kami pun yang terkena imbasnya. Udara kotor, air yang mengandung racun didalamnya, hewan-hewan bergelempangan terkena penyakit, tidak ada tempat yang signifikan untuk berlindung. Puluhan tahun berjuang melawan alam yang ingin melahap kami hidup-hidup.

Hingga akhirnya, kami mampu bertahan hidup dengan melakukan riset dan mengisolasi sejumlah wilayah dari kekrisisan yang terjadi. Kerusakan alam ini sudah tidak bisa dihentikan dan diperbaiki karena sudah terlalu parah dampaknya, kami hanya bisa memperlambat dan mempertahankannya saja.

Tetapi, sudah 8 tahun ini kami semakin tidak bisa mengendalikan kekrisisan yang ada. Telah banyak manusia, hewan dan tumbuhan menjadi korbannya. Wilayah yang kami pijak, kini perlahan tercemar kerusakan dunia. Krisis oksigen, air, dan makanan puluhan tahun lalu kini kembali menghantui kami.

Para penelitipun berlomba-lomba menanggul dan mencari solusi atas perisitiwa yang terjadi. Tapi apadaya, seperti nasi yang telah menjadi bubur, kami mengangkat tangan untuk bumi ini. Tidak ada solusi untuk memperbaiki dan bertahan, satu-satunya jalan ialah meninggalkan tempat ini dan menempati planet yang sudah dikaji keberlangsungan hidupnya.

Terhitung sudah 5 tahun statement itu dikeluarkan oleh para ilmuwan. Sudah kurun sebulan pelaksanaan perpindahan itu. Raut kesedihan tertera di paras mereka, sulit sekali rasanya meninggalkan bumi yang sudah ratusan tahun menjadi rumah dari generasi ke generasi.

Rela atau tidak, kami harus pergi. Kupandangi pemandangan bumi untuk terakhir kalinya, kenangan akan tempat ini kembali menyeruak masuk dalam pikiranku. Tetes demi tetes air mata terjun bebas dari mataku ke permukaan, segera ku menghapusnya dan berusaha tegar atas apa yang terjadi.

“Sudah tidak ada waktu lagi cepat! Kalian rombongan terakhir, kapsul akan berangkat 10 menit lagi!”

Terdengar seruan pertugas di seberang sana, kami pun langsung bergegas menaiki kapsul.

6 jam lamanya perjalanan ini. Kini, kami telah tiba di planet mars, planet yang sudah dikembangkan dan difasilitasi seperti bumi. Kami akan memulai kehidupan baru disini.

Dengan teknologi dan sumber daya manusia yang mumpuni. Kami berharap planet ini akan berdampak baik untuk keberlangsungan hidup setiap makhlunya. Sekuat mungkin kami akan mejaganya dan tidak mengulangi sikap individualis manusia terdahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *