Cerpen #404 Nyawa Peradaban Hijau

Hilangnya nyawa manusia secara bersama sama halnya seperti matinya ayam yang terkena penyakit flu burung. Datang secara tiba-tiba menghancurkan semua tanpa memilih dan hanya meninggalkan jasad yang tergeletak. Sakit memang, jika yang masih hidup masih belum menerima dan melihat kehancuran jasad yang tak beraturan.

“Pagi itu semua masyarakat sedang melakukan aktifitas gotong royong seperti biasa, namun ada yang beda karena biasanya gotong royong untuk membersihkan kampung namun hari ini gotong royong  membersihkan kotoran dan barang barang yang hanyut sisa  banjir sebelum subuh tadi”

Thalib “ bangun nak waktunya kita ikut warga gotong bersihkan sisa banjir tadi subuh”

Jokpin “ loh beneran banjir pak, memang semalam suara keras yang datang itu suara air yang datang? Korban banyak kah pak?”

Thalib “ ah kamu ini tanya apa nak, lebih baik kamu bergegas buat berangkat biar tau akan kondisi dan korban disana”

Jokpin “ iya pak, aku sarapan dulu pak sembari minum kopi buatan ibu yang buat aku semangat mengerjakan segala hal”

Thalib “ buk, memang sarapan sudah siap serta kopi hitam kelamnnya?”

Marsi “iya pak sudah siap, jokpin ajak sekalian sarapan bareng diruang tengah pak”

Keluarga pak Thalib menjalani kehidupan sehari-harinya berasal dari tanaman yang mereka tanam. Bahkan tanah saja hasil warisan dari kedua orang tua mereka yang dulunya juga petani. Selama ini pak thalib dan bu marsi bukan keluarga biasa layaknya keluarga petani pada umumnya. Mereka pasangan yang hebat karena dulu pada masa kuliahnya sering ikut dalam ruang-rung diskusi kelompok mahasiswa atau bergabung langsung dengan masyarakat. Sudah banyak hal yang dilakukan pak Thalib dan bu Marsi untuk desa dan sekitarnya. Mulai dari mendirikan sekolah petani yang beradab, membantu kelompok tani dalam pembuatan, sampai pernah jadi ketua kelompok menolak berdirinya pabrik susu siap saji di desa sebrang. Berlatar belakang keluarga petani dari nenek moyang, namun dari awal mereka sengaja disekolahkan oleh kedua orang tua mereka masing-masing dari hasil tabungan hasil panen yang pernah mereka rawat diladang. Pandangan kedua keluarga ini hamper sama  bahwa dengan sekolah mereka bisa memiliki harkat dan martabat yang jauh lebih baik. Memang jika ilmu adalah obat kehidupan yang sangat manjur untuk menuntun manusia menjadi manusia yang lebih beradab dengan orang sekitar dan kehidupan makhluk lainnya.

Sampai ke tempat banjir pak Thalib dan Jokpin langsung bergegas  untuk membantu segala hal yang perlu untuk dibersihkan. Namun jokpin sementara waktu diam termangu melihat kondisi dikawasan banjir yang terlalu tragis. Sempat berfikir sejenak dan berangan ketika air lebih besar lagi datangnya, semua bisa apa ketika lari manusia lebih pelan daripada kecepatan air. Seketika itu Pundak jokpin di tepuk oleh tangan pak thalib dengan berucap

“ bukan waktunya berimajinasi dan melamun meratap, ayo dikerjakan apa yang bisa dikerjakan agar bisa Kembali normal seperti sedia kala”.

Jokpin langsung bergegas dan membuang semua pikiran yang membesit.

Dua hari berjalan dengan cepat dan semua porak poranda kotoran akibat banjir sudah dibersihkan oleh warga. Kehidupan normal sedia kala sudah mulai berjalan dengan baik, namun beberapa kesedihan warga masih tampak tergambar dibenak wajah warga yang merasa kehilangan sanak saudaranya akibat dari adanya banjir. Jelas memang bencana membawa banyak kesedihan dan kesadaran kepada masyarakat, bahwa alam bukanlah musuh yang terus dikambing hitamkan ketika malapetaka bencana hadir diantara banyak manusia. “alam adalah teman dan alam adalah keluarga kita yang harus terus kita lihat dan kita perhatikan agar mereka juga memperhatikan kita semua”. Pesan ini selalu disampaikan oleh pak Thalib pada saat kumpul Bersama warga sekitar namun ada Sebagian warga yang kurang sepakat dengan hal itu tapi pak Thalib membiarkan saja.

Malam hari sudah membersamai pak Thalib dan keluarga, waktunya untuk makan Bersama diruang tengah dihadapan televisi yang hidup. Setiap malam televisi yang hidup pasti di stasiun televisi berita.

Pak Thalib : “capek badan ini bu, 2 hari bersih desa banyak batang pohon yang nyangkut di rumah warga yang dekat dengan sungai”.

Bu Marsi : “ sudah pak besok kan pasti sudah hilang capeknya, lagian ibu sudah buat jamu beras kencur. Jokpin minum jamunya juga ya.”

Jokpin : “waduh sudah 1 bulan nggak buat jamu bu, dan gara-gara banjir ibu buat jamu lagi ya?”.

Bu Marsi : “iya nak, memang selain nggak buat juga karena kebun toga dibelakang mulai banyak yang harus diperbarui bibitnya”

Pak Thalib : “ mana bu jamunya, ini makananku sudah habis?”.

Bu Marsi : “ ini pak dan ini nak kamu yang gelas putih”

Tv mulai yang banyak memberitakan terkait bencana yang ada di Indonesia baik dari sabang sampai Merauke di setiap provinsi pasti ada yang terkena bencana. Dari mulai bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung. Masuk musim hujan pasti menjadi primadona banjir yang selalu hadir mengobati kerinduannya terhadap tanah air. Habislah berita harian Indonesia malam ini dan dimatikannya televisi menandakan pergumulan obrolan dimulai

Banyak hal yang menganjal pikiraan jokpin pada saat gotong royong berjalan. Jokpin berkali-kali menemukan potongan tubuh manusia yang bercampur dengan lumpur dan darah. Ditambah lagi berita televisi yang pada saait itu menyiarkan bencana alam di Indonesia. Dominasi berita bencana yang disajikan malam itu membuat pikiran jokpin kemana-mana dan termenung dalam ketakutan. Pada saat itulah jokpin mulai menanyakan mengapa banyak bencana yang terjadi sekarang. Pak Thalib mulai menjelaskan secara detail kenapa bencana bisa hadir selain melalui kehendak tuhan. Kerusakan alam dari ujung sampai ke batas negara di timur diceritakan secara seksama dan jelas mendetail sampai jokpin termenung dalam bayang-bayang kehancuran dunia. Bu marsi selalu memberikan ringkasan dan semangat bahwa jokpin nggak boleh patah atas kondisi saat ini. Jokpin harus jadi orang yang harus bisa mempertahankan ruang hidup utamanya sekitar kita.

Dengan seksama jokpin coba menengok rak buku yang ada disamping televisi. Dari mulai buku yang sudah kusut sampai dengan buku yang masih kinclong ada semua. Semua buku yang ada dirak buah dari pergumpulannya dulu waktu kuliah Bersama dengan bu Marsi dan sampai sekarang tetap membaca. Setiap 1 bulan sekali pak Thalib pergi ke pasar buku yang ada di tengah kota untuk menambah koleksi buku yang ada dirumah. Dari situlah jokpin mulai tercengang lagi.

Pak Thalib : “lihat kesitu nak, semua yang bapak jelaskan ada dibeberapa buku yang ada disitu. Memang belum semua bapak jelaskan barusan, namun jika kamu merasa kurang lengkap coba baca buku-buku disitu”

Jokpin : “bapak kok nggak dari dulu nyuruh aku baca buku dirak ya, padahal aku sendiri kurang merasa pintar karena terbiasa main dan hanya lebih sering baca novel dan komik?”.

Bu Marsi : “memang kok nak, bapak nggak suka nyuruh yang sifatnya memaksa, kamu suka baca ya syukur meski hanya novel dan komik”

Pak Thalib : “ iya nak , memang begitu bapak tapi mulai hari ini momen yang membuat kamu mau membaca hal lain ini Namanya hukum sebab-akibat”

Malam sudah semakin berlarut dan mata sudah mulai tidak bisa untuk di ajak Kerjasama. Keinginan Jokpin untuk membaca buku itu sangat luar biasa tapi tubuh Jokpin sudah lemah letih kecapekan. Dari sini semua angan-angan jokpin tercatat dalam pikiran untuk menyelesaikan beberapa buku dan jika bisa diselesaikan semua akan diselesaikan agar jokpin mengerti Indonesia. Keesokan harinya Jokpin mulai membaca 1 persatu buku hingga 1 bulan lamanya Jokpin sudah membaca beberapa buku. Jokpin kaget karena dari bacaan itu jokpin mengerti tentang permasalahan pokok lingkungan yang ada di negara Indonesia. Ada 1 buku yang membuat jokpin tercengang karena selama ini jokpin tau kedua orangtuanya sangat aktif di masyarakat tentang kegiatan yang sifatnya lingkungan hidup. Ternyata buku filsafat lingkungan hidup alam sebagai sitem kehidupan karya Dr. A. Sonny Keraf membuat jokpin memiliki spirit dari lubuk hati dan untuk menjaga lingkungan semakin kongrtit . dari beberapa karya yang lain jokpin mulai sadar bahwa semakin kesini bukan semakin sehat bumi ini semakin dipaksakan memakai infus untuk tetap bertahan meski bumi sudah diambang kehancuran.

Sore yang hitam dan dentuman air hujan yang tak beraturan membuat warga beranjak untuk Kembali ke rumahnya masing-masing. Saat itu juga keluarga pak Thalib juga berkumpul diruang tengah. Jokpin merasa senang karena dapat momen untuk saling bercerita kepada kedua orangtuanya yang sebelumnya sudah banyak mendapatkan bahan dari hasil bacaannya. Dari sini cerita itu berubah menjadi diskusi karena banyak hal yang ingin di lakukan Jokpin pada waktu dekat ini atau yang akan mendatang.

Jokpin: “ pak saya boleh izin melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan?”

Pak Thalib: “apa memang nak? Beri tahu bapak dan ibu biar kita tau rencana kamu nak mau melakukan apa aja”

Bu Marsi : “iya nak, kita butuh mengerti agar ibu sama bapak nggak khawatir nantinya”

Jokpin diam dan mulai perlahan menjelaskan satu persatu, dari mulai ingin melihat area Kawasan yang dekat dengan konflik lingkungan hidup sampai dengan ingin menyelamatkan lingkungan melalui Gerakan menanam one tree one human. Semua dijabarkan begitu detail oleh Jokpin namun disangkal perlahan oleh pak thalib. Pak Thalib menjelaskan semua itu bukan untuk mencegah Jokpin namun pak thalib khawatir karena jokpin merupakan anak semata wayangnya. Pak Thalib mencoba menjelaskan bahwa resiko dari semua itu adalah nyawa dan keluarga. Pak Thalib mencoba mengarahkan secara sederhana bahwa tidak harus kesana kemari dan jauh untuk menyelamatkan lingkungan. Disekeliling kita dan dari pribadi kita sendiri mulai menerapkan kehidupan yang lebih pro terhadap lingkungan hidup itu sudah bagus. Dari gaya hidup, pola hidup sampai menghijaukan desa tempat tinggal ini bisa kamu lakukan nak, itu juga bagian dari meneruskan keinginan bapak dan ibu sebelumnya.

Jokpin menggerutu dan berpikir, “Indonesia dan bahkan bumi sudah tidak baik. Kedepan ini dunia aka ada bencana lingkungan yang sangat dahsyat dan perlahan manusia akan mati karena ulahnya sendiri. Semua akan merasakan kesusahan mencari kebutuhan pokok dan oksigen bersih akan dijual layaknya Kawasan perumah yang dibuat seasri-asrinya. Lebih asri Kawasan perumahan itu pasti lebih mahal. Dan nantinya uang akan tidak bernilai ketika konflik kebutuhan pokok sudah Nampak di Sebagian besar wilayah di dunia”.

Pesan wajah yang tergambar dimuka jokpin sangat mudah dibaca oleh pak Thalib dan bu Marsi. Mereka mencoba menenangkan jokpin karena sampai saat itu jokpin belum bisa menerima dan menyuruhnya untuk istirahat karena tak terasa jam tidur sudah berbicara

Pak Thalib : “sudahi nak, esok atau lusa bisa kita bahas lagi terkait dengan rencamu ini segera bergegas buat istirahat ya”

Bu Marsi : “iya nak, ibu dan bapak paham keinginan kamu, namun jangan asal langsung jadi untuk melakukan hal itu”

Jokpin : iya pak bu, aku istirahat dulu (dan masih sedikit menggerutu)

Pagi sudah menatap matahari sudah mulai tidak malu untuk memperlihatkan dirinya. Jokpin bangun dan mulai menyalakan smartphone. Smartphone ini hanya digunakan Jokpin untuk mengerjakan ujian kelulusan. Jokpin pergi ke balai desa mencari wifi dan mengunduh aplikasi yang dapat melihat dunia melalui smartphone. Dari situ juga Jokpin melihat youtube mengenai masalah-masalah lingkungan yang terjadi di Indonesia yang lebih terbarukan. Aplikasi itu mulai dibuka dan dilihat bahwa peta negara Indonesia banyak yang berwarna kuning. Itu tanda bahwa yang hijau sudah semakin sedikit.

Sampai pulang Jokpin masih menaruh harapan besar untuk berdiskusi lagi Bersama dengan kedua orang tuanya terkait rencana yang sudah ia bicarakan sebelumnya. Beberapa hari dan bahkan sampai 1 bulan lamanya Jokpin belum bisa berdiskusi Panjang dengan bapak dan ibunya karena memang mereka sibuk panen dan tanam pada saat itu.

1 bulan yang tak lagi ada diskusi dengan kedua orangtuanya jokpin mulai membulatkan tekad dengan menimbang dan mengurangi beberapa hal yang akan menjadi resiko.  Tonggak awal perjalanan kedepan Jokpin memang masih terbelenggu oleh keikhlasan hati orang tua. Semua yang masih jadi belenggu Jokpin coba untuk dimanifeskan melalui kegiatan sehari-sehari menanam dan mengelola sampah yang ada didesanya.

Kepada teman semasa sekolahnya kemarin, Jokpin mengajak untuk bertemu dan membuat kegiatan one tree one human di Kawasan dekat sekolahnya dan Kawasan jalanan yang belum ada poohonnya sama sekali. Berjalan begitu Panjang dan hingga 6 bulan lamanya. Gerakan itu mulai populer sehingga dapat menghijaukan beberapa Kawasan. Jokpin sama halnya bernasib sama seperti bapaknya selalu menjadi pemimpin Gerakan. Jokpin tiba waktu dapat berkumpul dan berdiskusi lagi menegenai keinginan di awal yang sudah ada hasil kongkrit dari Sebagian kecil yang rencana jokpin. Apresiasi besar dan sangkalan untuk mencoba memahamkan Jokpin datang dari bapaknya lagi.

Pak Thalib ; “ aku dan ibu sangat senang nak melihat perkembangan dengan apa yang sudah kamu lakukan beberaapa bulan terakhir. Namun jangan dulu kamu lakukan rencana yang lain ya?”

Jokpin : “kenapa dengan rencana yang lain pak, dari sebulan pasca kita berdiskusi aku sudah menimbang banyak dan aku harus berangkat pak”.

Pak Thalib : “ sudah paham kan nak terkait resiko yang dulu pernah tak sampaikan ke kamu Bersama dengan ibu?”.

Jokpin : “ sudah kutimbang pak, aku punya keinginan untuk membela warga yang sedang memperjuangkan tanah agar tidak dijadikan pabrik, tambang, perumahan dan aku ingin menghijaukan Indonesia pak. Kedepan aku ingin berkeluarga dan aku ingin anakku bisa melihat bumi yang begitu elok keindahannya namun hari ini sudah rusak parah”.

Pak Thalib : “sangat mulia memang cita-citamu nak dan sama halnya dengan kita sekeluarga nak, jika memang kamu sudah paham akan resiko yang akan terjadi silahkan pamitan ke ibu, aku sudah merestui perjalanan Panjang tentang keadilan meperjuangkan rumah kita dan rumah semua makhluk didunia ini meskipun agak berat”

Jokpin : “alhamdulillah, inilah jawaban yang aku tunggu pak”

Beberapa hari setelah jokpin diberikan restu oleh kedua orang tuanya. Malam harinya Jokpin menulis sebuah angan yang sengaja dipajang dalam pigora kamar. Seperti surat dan harapan bahkan pesan juga disampaikan ketika  Jokpin akan tidak kembali. Surat itu berisikan

“ pak bu saya pamit pergi membawa misi besar untuk peradaban masa depan kita dan generasi penerus yang akan meneruskan masalah yang mungkin tidak bisa aku selesaikan. misi ini memang utopis tapi bergerak menjadi jawaban kekejaman lingkungan yang tidak berteman dengan kita hari ini. Semoga bapak dan ibu bisa sehat dan terus melihat aku melalui kabar whatsup yang akan selalu aku kirimkan setiap hari. Semoga aku bisa melihat dunia utamanya Indonesia 50 tahun mendatang. Indonesia akan tetap asri dan jangan sampai ada kejadian yang membuat semua umat manusia mati perlahan karena ulahnya sendiri salam pak bu, bumi sehat manusia kuat-nyawa peradaban hijau”

Keesokan harinya jokpin mulai bergegas untuk berangkat menuju kota tetangga karena disitu terjadi masalah tanah petani yang direbut oleh pabrik karena mau ada perluasan pabrik yang sebelumnya masih kecil. Sebanarnya pabrik yang masih kecil itu juga bermasalah dengan status tanahnya tapi pengadilan sudah menagatakan lain. Dari sebelum-sebelumnya situasi disitu memang sudah memanas karena sering terjadi masalah pengeroyokan bahkan sampai ada yang patah tulang akibat dari pukulan aparat pengamanan pabrik.

3 jam dijalan Bersama dengan bus dan sampailah Jokpin ditempat tersebut, Jokpin tak sulit mencari kawan baru karena Gerakan menanam yang sebelumnya sudah pernah dilakukan mayoritas anak-anak muda yang tergabung disitu mengerti. Dari sinilah Jokpin mulai belajar terkait kondisi lapangan yang begitu kental dengan kekerasan. Membaur, belajar dan praktik. Situasi lapangan hanyalah pengalaman belajar yang paling sederhana karena sebelumnya Jokpin juga pernah banyak membaca buku milik bapaknya.

Masa ketegangan mulai berdatangan lagi, tapi beda kali ini warga mempunyai optimisme untuk bisa merangsek masuk kekawasan pabrik dan menemui petinggi dan pemilik pabrik yang ada didalam. Kebetulan pemilik pabrik hadir karena akan ada investor yang memberikan dana terkait pengembangan pabrik tersebut. Namun kabar itu di dapat oleh warga sehingga warga mengumpulkan seluruh elemen yang sebelumnya sudah terjalin dengan baik.

Jokpin yang sudah lumayan lama membaur dengan warga, ditunjuk oleh warga didepan untukvmemimpin Bersama dengan 1 warga lokal. Mulai datang didepan pagar pabrik dan banyak masyarakat mulai merapat hingga tak disangka bahwa yang hadir akan lebih daripada biasanya.

Warga yang Bersama jokpin didepan Bernama salim dan sempat berbicara mengenai arah kedepannya

Salim : “ gimana ini pin, tetap dipaksakan masuk atau seperti apa pendapatmu? Kalau saya dan semua warga harus masuk dan mensegel seluruh pabrik ini”

Jokpin : “ iya pak salim, dari awal kita sepakat akan menguasai ini dan memberikan efek jera terhadap pemilik pabrik agar kedepannya pabrik ini segera bangkrut dan tutup, sesuai dengan keinginan dan tujuan awal warga”

Salim : “ rapatkan seluruh barisan warga pin, mari segera instruksikan untuk dorong gerbang yang tutup ini”

Jokpin : “ siap pak salim”

Bersama dengan semua warga, warga kompak mendorong pagar hingga perlawanan dari pihak pabrik menuntut warga untuk lebih kompak dalam mendorong hingga pagar mulai terbuka sedikit demi sedikit. Pada saat pagar sudah mulai terbuka kericuhan pun muncul, tongkat pemukul menerpa warga yang ada didepan Bersama dengan jokpin dan pak salim. Sakit memang tapi terus didorong hingga bisa masuk secara perlahan.

Sampai didalam Jokpin tetap berjalan didepan untuk memimpin warga, seketika itu Jokpin langsung disambut oleh seorang dari belakang yang mengayunkan golok kelehernya hingga Jokpin tersungkur dihadapan warga yang banyak. Pak Salim kaget dan langsung menyeret Jokpin kebelakang hingga Jokpin sempat berpesan sebelum ajal menjemput. “ pak salim mintak tolong kabari orang rumah dan antarkan saya pulang Bersama dengan warga”

Kericuhan mereda karena semua warga terpaku dengan jasad dan lumuran darah Jokpin yang ada di leher. Dan orang yang mengayunkan golok pergi dengan cepat. Amarah warga seketika sirna dan mulai menggotong Jokpin. Pasca itu pak Salim sengaja tidak mengabari orang rumahnya namun langsung mengantarkan jasad Jokpin Bersama dengan seluruh warga.

Jasad Jokpin masih dijalan dan pesan yang sempat ditulis jokpin didapat pak Thalib  dipigora lalu dibaca oleh pak Thalib dan bu Marsi sampai mereka merinding. Setelah 1 jam pasca membaca jasad jokpin datang Bersama dengan warga didepan rumah pak Thalib, pak Salim menyampaikan bahwa jokpin telah meninggal karena digolok lehernya.

Seketika itu menangis,menangis dan menangis. Pesan jokpin yang terakhir masih terbenak dalam pikiran

“BUMI SEHAT MANUSIA KUAT-NYAWA PERADABAN HIJAU”

Keihklasan orangtua Jokpin mulai membesar dan mengantarkan Jokpin dengan penuh haru karena angan dan pesan resiko itu sudah terjadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *