Cerpen #403 Time Capsule Itu Bukan Untuk Masa Lalu

Untuk umat manusia seratus tahun yang lalu.

Mari kita mulai kisah ini dengan sebuah tebak-tebakan. Tempat di mana penduduknya sangat sedikit, sangat kekurangan, dan sangat putus asa. Yang tanahnya begitu gersang sehingga membuat pohon-pohon yang tersisa seakan-akan jadi pujaan. Yang musim hujannya terlampau dingin dan musim kemaraunya terlampau panas. Yang setiap paginya, alih-alih mendengar kicauan burung, terdengar kicauan bayi dan anak-anak yang kelaparan. Di manakah gerangan tempat tersebut?

Itu adalah kota tempat di mana saya tinggal. Seratus tahun yang lalu, orang-orang mungkin akan membayangkan gedung pencakar langit, jalan raya yang megah, dan alat transportasi yang membuat kebul di mana-mana jika kata “kota” terlintas. Maaf saja, tetapi semua itu tidak akan bisa ditemukan di sini.

Pada tahun 2053 bulan November, PBB sepakat untuk melarang pembangunan gedung, pengaspalan jalan, dan penggunaan kendaraan bermotor secara serempak. Semuanya merupakan upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim ekstrem yang terjadi menjelang akhir tahun itu. Namun nahas, sepertinya bumi sudah muak dengan kutu berkaki dua yang selalu berbuat onar di atasnya. Miliaran orang meninggal di tahun yang sama, sementara keadaan belum membaik hingga sekarang.

Untungnya, nasib kota saya, Kota Slamet, masih lebih baik jika dibandingkan dengan nasib kota-kota lainnya. Meski dapat terhitung, masih ada pohon yang tumbuh di sini. Air yang dikonsumsi masih termasuk bersih. Masalah kelaparan juga tidak separah di tempat lain. Yah, begitulah kota saya.

Di kota inilah saya bekerja sebagai seorang guru untuk anak SD kelas tiga.

“Bapak mulai mengabsen yah.”

“Siap Pak guru,” sahut lima anak yang berada di kelas saya.

Saya tertegun. Sedikit sekali murid yang hadir pagi itu. Rasanya anak kelas saya yang semakin hari semakin berkurang bak diterkam ombak banjir.

Seakan belum terklarifikasi, Saya bertanya, “Ini cuman berlima?”

“Awalnya cuman berempat, Pak,” ucap Ina, anak yang paling muda dan paling pemalas di kelas, “Aku dipaksa sekolah sama si Inta-Aduh!” Intan, teman dekatnya, menyikutnya dengan kesal.

Saya menggelengkan kepala,”Dodit, Mamad, dan Rusli kemana?”

“Semuanya sakit, Pak.”

“Sakinah dan Mawadah?”

“Mereka juga sakit.”

“Rinai?”

“Ibunya sakit, dia harus ngurus toko.”

“Bambang?”

Kelas tiba-tiba hening. Suasana muram yang mencekik tiba-tiba saja menghantui ruangan kecil dan tua tersebut. Air muka anak-anak yang sedih dan pucat membuat saya khawatir. Namun sesungguhnya saya lebih khawatir karena di saat itu, saya bagaikan peramal yang ahli dalam menebak masa depan.

Saya menyadarinya, tetapi saya tidak ingin mengakuinya.

“A-ada apa semuanya?” Dengan ragu, saya bertanya.

Setelah jeda yang terasa amat lama, salah satu murid saya, Kamal, akhirnya meretas sunyi, “Dia m-meninggal kemarin Sabtu, Pak.”

Yang diucapkan anak itu terasa seperti petir yang menyambar lubuk hati. Kamal, walau memiliki awak yang lebih tinggi dan besar dari teman-teman sebayanya, pecah dalam tangisan yang mengundang teman-temannya untuk ikut dengannya. Refleks, saya langsung menghampiri anak-anak murid saya dan mendekap mereka berlima, tidak tahu hal lain yang bisa dilakukan untuk mereka.

“Setidaknya sekarang bapak tahu yang lain benar-benar sakit dan kalian tidak berbohong, ‘kan. H-hahaha,” saya mencoba bergurau, berusaha untuk memperbaiki suasana. Tentunya saya menyesalinya. Itu bukanlah kata-kata yang sesuai di saat seperti ini. Yang saya lakukan justru memperparah ledakan tangisan dari kelima anak yang berduka itu.

Sambil menghela napas, saya mengambil posisi untuk merangkul anak-anak saya dengan lebih baik. Air mata mereka yang merembes kemeja saya tidak saya hiraukan.Setidaknya sampai mereka berhenti menangis, saya harus memberikan yang terbaik yang saya bisa untuk kelimanya.

Tanpa sadar, tangisan anak-anak itu menular kepada saya.

Cuaca yang tidak menentu sudah memastikan banyaknya penyakit yang mewabah. Manusia tidak memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Suami-istri kehilangan pasangannya, orang tua kehilangan anaknya, seorang anak kehilangan temannya. Yang semacam itu sudah biasa saya lihat dan alami.

Setiap kali saya melihatnya, saya selalu menyalahkan semua ini kepada orang-orang dahulu yang tidak pernah merawat bumi ini dengan baik. Mereka selalu saja memiliki cara untuk merusak bumi ini kemana pun kaki mereka berpijak. Selalu saja mereka mementingkan kesenangan pribadi. Sementara itu, yang merasakan murkanya bumi ini adalah kita yang hidup di masa mendatang.

Seusai jam sekolah berakhir, saya menyobek secarik kertas dan menyiapkan sebuah pulpen. Sebenarnya, saya mempunyai kebiasaan aneh sedari kecil, yaitu menulis segala kejengkelan saya tentang perbuatan manusia seabad yang lalu. Tulisan itu nantinya akan saya masukan ke dalam sebuah kotak, lalu dikuburkan di bawah pohon di taman kota. Sewaktu kecil, saya suka berangan-angan bahwa kisah saya dalam tulisan tersebut akan terkirim ke masa lalu, menyadarkan penduduk dunia di masa lampau.

Sekalipun saya tahu itu sebuah khayalan belaka, kebiasaan yang kekanak-kanakan ini masih saya lakukan hingga sekarang. Saya juga tidak mengerti kenapa. Yang pasti kebiasaan ini memberikan kepuasan yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata.

Sang rembulan pun mulai menampakkan kehadirannya. Di bawah langit sore yang kemerahan, saya menggenggam kardus kecil yang berisikan hasil kegusaran saya. Bergegas, saya berangkat menuju taman kota. Saya tidak mau ketahuan paman saya yang tinggal seatap dengan saya. Terakhir kali beliau tahu saya masih melakukan kebiasaan ini, beliau menertawakan saya dan menganggap saya bocah. Makanya saya harus bergerak cepat sebelum paman saya pulang.

Taman Kota Slamet, dengan lampu-lampunya yang berpendar dan bertabrakan dengan sinar mentari yang tenggelam, sungguh nampak indah. Sayang sekali, taman itu gersang. Di taman itu, hanya terdapat satu pohon besar di tengahnya, begitu kesepian.

Saya menggerutu, “Andai saja dulu orang-orang tidak membakar hutan, taman ini pasti lebih hijau.”

Saya melihat ke sana dan ke mari, memastikan tidak ada orang lain di taman itu. Di saat saya membungkuk hendak menggali, suara seseorang menggali lebih dulu terdengar. Telinga saya berkeliaran mencari sumber dari suara tersebut. Kutemukan suara itu berasal dari balik pohon besar di depan saya. Perlahan saya menengok ke balik pohon dengan heran. Terlihat seorang wanita berpakaian putih dengan rambut hitam panjang…

“Ibu Indah?”

“AAHHH!” Wanita itu terkejut dengan saya. Hampir saja dia tersungkur, tetapi berhenti setelah melihat saya dengan jelas.

“E-eh, Pak Jackson,” sapanya dengan senyuman malu. Wanita itu menggenggam sebuah kaleng hijau yang sepertinya baru saja ia gali.

Meskipun agak canggung, kami berdua menyempatkan diri untuk terkekeh-kekeh. Kami pun duduk di kursi taman untuk saling berbincang.

Ibu Indah adalah ibu kandungnya Bambang. Saya sendiri tidak menyangka akan bertemu beliau di hari itu. Hari yang sama di mana saya pertama kali mendengar berita kematian anak murid saya, Bambang.

“Saya turut beduka, Bu,” ucap saya sedih. Ibu Indah hanya membalas dengan senyuman kecil. Matanya terlihat sayu. Dielus-elus olehnya kaleng hijau yang dari tadi ia bawa. Hening. Ibu mana yang tidak sedih jika ditinggal mati oleh anaknya.

Saya mencoba menghiburnya, “Bambang anak yang baik di sekolah. Kadang kelakuannya nggak kira-kira, tapi dia anak yang sangat baik, Bu.”

Jantung saya terdengar berdecak-decak karena takut malah memperparah duka yang dialami ibundanya Bambang. Sering kali setiap saya ingin membangkitkan suasana, saya malah meperburuknya.

Syukurlah, reaksi Ibu Indah adalah tawa yang membuat ketegangan saya mencair.

“Terima kasih, Pak. Saya senang anak saya baik di sekolahnya. Mohon maaf kalau anak saya merepot-“

“Sama sekali saya tidak merasa repot, Bu. Tidak perlu meminta maaf,” sanggah saya yang langsung kewalahan. Ibu Indah kembali tertawa.

Kehening kembali muncul.

Beberapa saat kemudian, Ibu Indah bertanya, “Apakah Bapak juga baru mau menanam time capsule?”

time capsule?”

Ibu Indah menunjuk kardus kecil yang saya bawa.

Saya gelagapan, “Eh, ini… anu…”

Ibu Indah memulai, “Bambang juga dulu suka membuat time capsule lalu menguburnya untuk digali nanti. Selalu penuh kaleng time capsule yang dia buat dengan harapan-harapannya,” dia pun membuka tutup kaleng hijaunya, “Ini time capsule yang dia buat dua bulan yang lalu.”

Kaleng tersebut berisi beberapa lembar kertas berwana yang penuh dengan tulisan ceker ayam. Ajaib sekali, Ibu Indah dapat membacanya dengan lancar.

“’Aku mau nilaiku lebih bagus dari Intan,’’Aku mau ada banyak pohon di rumah,’’Aku mau melihat sungai yang bersih,’ dan masih banyak lagi, semuanya dia tulis di sini.”

Senyum simpul melekat pada wajah wanita yang sedang mengenang itu, “Setiap dia menggali kembali time capsule-nya, dia begitu bangga saat sebagian dari harapannya itu terwujud. Saya pun bangga dengannya. Tidak sabar saya melihat masa depan anak yang penuh dengan mimpi itu, sampai dia jatuh sakit tiga hari yang lalu,” Ibu Indah menghapus air matanya yang hampir terjatuh. Saya memegang pundaknya untuk menguatkannya.

“Mungkin Tuhan telah menyediakan tempat yang lebih indah di sana untuk Bambang, penuh dengan pohon dan sungai yang bersih,” harapnya.

Saya berkata dengan dendam, “Ini semua ulah orang-orang dulu yang merusak lingkungan. Andai saja mereka merawat lingkungannya, pasti kita di sini akan hidup lebih baik, lebih sehat.”

Ibu Indah menatap saya, “Apa?”

Saya melanjutkan, “Ibu tahu sendiri bukan? Sudah sering ada di berita. Dulu, orang-orang membakar hutan, menebang pohon, plastik dan bahan kimia berbahaya lainnya ada di mana-mana. Mereka selalu mementingkan diri sendiri! Kita yang jadi korban karena perubahan iklim yang disebabkan oleh mereka!”

Ibu Indah lagi-lagi tertawa, “Hahaha, benar juga sih. Orang-orang itu memang menyebalkan, yah.”

Saya mengangguk penuh kesetujuan. Ibu Indah melanjutkan, “Tapi saya selalu berpikir dulu, apakah kita sendiri akan menjaga lingkungan dengan baik?”

Seketika saya termenung. Mengapa Ibu Indah bertanya hal demikian? Tentu saja kita telah melestarikan lingkungan jauh lebih baik dari dahulu. Setidaknya, kita tidak berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi, membuat jalanan beraspal, atau menggunakan kendaraan bermotor. Kita selalu menghindari kesalahan-kesalahan yang dulu orang-orang perbuat. Banyak juga pabrik-pabrik yang diberhentikan. Pemerintah Kota Slamet bahkan membatasi penggunaan internet. Bukankah begitu?

Muka saya yang terlihat kebingungan mendorong Ibu Indah untuk menjelaskan lebih lanjut.

“Maksud saya, jika saja semua bencana iklim ini tidak pernah terjadi, mungkinkah kita menjaga bumi ini seperti sekarang? Atau mungkinkah kita berlaku seperti orang-orang dahulu? Saya selalu kepikiran.”

Mendengarnya, saya terdiam. Perspektif-perspektif lain lantas terbuka di bayangan saya. Gedung-gedung pencakar langit, jalanan beraspal, dan variasi kendaraan bermotor, semua itu merupakan gambaran kemajuan satu abad yang lalu. Bukan tidak mungkin jika terdapat kesenjangan sosial yang berperan di sana. Akibatnya, seperti rombongan semut yang mengerumuni sirup gula, semuanya berlomba-lomba untuk menggapai kemajuan tersebut.

Untuk itu, orang-orang mengeksploitasi bumi ini, baik dengan cara yang aman untuk lingkungan maupun tidak. Dan di antara orang-orang itu, ada sebagiannya yang malah merusak bumi. Pohon mereka tebang. Hutan mereka bakar. Ekosistem mereka cemari. Semuanya tersusun menjadi domino yang berakhir dengan perubahan iklim, datang untuk membantai kehidupan manusia itu sendiri.

Bagaimana dengan saya? Jika saja bencana iklim terjadi lebih akhir, akankah saya menjadi bagian dari domino tersebut? Saya tidak berani untuk menjawabnya.

“Yang namanya manusia pasti ada saja masalahnya, dulu ataupun sekarang sama saja,” ujar Ibu Indah. Ditutupkanya kembali time capsule anaknya.

Dia pun bercerita, “Di masa krisis sekarang ini, banyak dari kita yang berputus asa. Ketakutan kita untuk melihat ke depan membuat kita mengeluhkan yang sudah berlalu. Sebagian dari saya juga ingin menyalahkan kematian Bambang kepada orang lain. Namun untung bagi saya, saya teringat akan time capsule ini. Di saat orang-orang lain berpikiran ke masa lampau, anak saya, dengan time capsule-nya, berani memikirkan masa depan.”

“Tanah di rumah saya sangat kering, sama sekali tidak mungkin layak untuk ditanami pohon. Namun, bagi Bambang itu mungkin. Setiap kali sarapan tomat, anak itu pergi ke halaman belakang rumah untuk menanam biji tomat yang dia sisakan. Dia bahkan mengabaikan baju sekolahnya kotor dengan tanah.”

Raut wajah Ibu Indah berubah sedih.

“Saya sering memarahinya dan mengatakan kepadanya kalau biji itu tidak akan pernah tumbuh. Dan tahukah, Pak? Kemarin saya menemukan sepucuk dari bibit itu di halaman rumah saya. Bambang berhasil, Pak!” Ibu itu berseru dengan girang sekaligus haru. Saya pun ikut bahagia mendengarnya.

Ibu Indah dengan matanya yang penuh determinasi berkata, “Masih banyak harapan anak saya yang belum tercapai. Mulai sekarang, saya akan berani untuk melanjutkan harapannya.”

Kelanjutan kisah ini agak antiklimaks. Menjelang magrib, saya dan Ibu Indah berpamitan. Saya mengurungkan niat untuk menguburkan kotak amarah saya. Di rumah, paman saya yang sudah pulang menertawakan saya karena tahu apa yang awalnya saya ingin lakukan. Saya hanya menjawab kepadanya, “Mulai sekarang tidak akan lagi.”

Iya, mulai sekarang tidak akan lagi saya berfokus pada masa lalu. Saya harus melakukan apa yang terbaik untuk melalui masalah yang sekarang sedang dihadapi. Saya, Ibu Indah, dan yang lainnya pasti akan melalui krisis iklim ini. Untuk kita sendiri, juga untuk generasi yang akan datang. Kitalah yang akan menjadi pucuk baru yang siap tumbuh ke masa depan.

Kisah ini bukan lagi untuk umat manusia seratus tahun yang lalu.

Dari: Ilham Jackson

Untuk umat manusia 100 tahun yang akan mendatang

05 November 2115

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *