Cerpen #402 Nyiur yang Tak Lagi Melambai

Sorak-sorai bergemuruh begitu anala membara. Percikannya yang tinggi mengajak angkasa ikut menari bersama beberapa orang yang berlenggok-lenggok mengikuti tembang tanpa kendang. Suara Lastri tak merdu, tetapi tak menyurutkan kebahagiaan yang terlukis di wajah-wajah legam yang tersorot bara dari tumpukan dahan dan daun. Kegembiraan itu menular kepadaku yang kesal karena Indah rewel, mungkin karena suhu tubuhnya sedang tidak stabil. Sejak pagi tubuhnya panas tinggi, petang sudah dingin karena kubaluri bawang merah yang sudah dijampi Mbah Kun, wanita paling tua di pemukiman sehingga warga sepakat mengangkatnya sebagai dukun. Selain membantu orang sakit, Mbah Kun juga membantu wanita melahirkan. Kelahiran dua anakku juga dibantu olehnya. Malam ini suhu Indah memanas lagi, padahal aku sudah semangat mengikuti pesta malam ini. Tak mungkin aku meninggalkan Indah yang belum genap setahun bersama Irma, kakaknya yang baru lima tahun di bambaru.

Suara orang menaiki undak-undakan kayu mengalihkan perhatianku yang sedang fokus menyusui Indah dalam pangkuan.

“Terima kasih,” ucapku seraya mengambil secangkir kopi panas dan singkong bakar dalam nampan besar yang disodorkan Endang.

“Kamu nggak turun?”

“Indah panas lagi, padahal pengin juga membaur bersama teman-teman. Kangen goyang bokong.” Aku nyengir.

Gelak Endang tenggelam oleh riuh orang-orang yang mengikuti tembang yang dinyanyikan Lastri.

“Aku paham perasaanmu. Terakhir kita pesta begini setengah tahun lalu. Oke, aku mau mengantar kopi untuk lainnya.”

Aku cuma mengangguk dan mengiringi langkahnya dengan tatapan menuruni undakan.

“Sebentar lagi jam bacakan. Kalau anak-anakmu nanti sudah pulas semua, jangan lupa bergabung,” seru Endang sebelum meninggalkan bambaru tanpa dinding tempatku duduk.

Bacakan yang dimaksud Endang adalah semua yang hadir pada pesta malam ini makan bersama dengan duduk berbaris. Nasi, ikan bakar dari mancing di sungai, tempe dan tahu bacem,  sambal terasi buatan Endang yang sudah terkenal karena paduan terasi dan minyak jelantah sangat memanjakan lidah, apalagi lalapnya pucuk pepaya muda. Membayangkan hal itu, saliva mengalir di sudut bibir. Segera kuseka sebelum ada yang memergokinya.

Kupastikan Indah telah terlelap saat tak kurasakan lagi mulutnya mengisap. Perlahan kutaruh ia di samping kakaknya yang sudah pulas beralaskan jarik yang telah usang. Aku memutar tubuh menghadap bara yang makin membara pada malam yang mulai merangkak. Meniup kopi sebelum meneguknya, diselingi mengunyah singkong bakar yang empuk, seraya menikmati tarian para tetangga yang makin tak beraturan, itu cuma sepenggal surga yang mewarnai hidup. Hampir tujuh tahun aku bernapas di kampung yang belum terjamah listrik dan akses ke jalan raya memakan waktu satu hari satu malam, tetapi hari-hari kulalui dengan riang.

Ada lima puluh kepala keluarga yang tinggal di sini dan hampir seluruhnya bertani kelapa sawit, hanya beberapa orang saja yang memilih menanam padi, itu pun tidak dijadikan mata pencaharian utama karena harga beras jauh lebih murah daripada minyak kelapa sawit. Karena lahan sudah terkikis, warga sepakat membuka lahan baru yang terletak agak jauh dari pemukiman. Sudah hampir dua tahun ini warga aktif menebang hutan yang akan dijadikan lahan. Jika dahan dan dedaunan itu sudah kering, warga bergotong-royong menumpuknya menjadi beberapa bagian. Lalu inilah pestanya. Pembakaran itu sebagai gerbang menuju penanaman kelapa sawit di lahan baru. Merayakan dengan minum kopi ditemani singkong bakar, lalu dituutp bacakan adalah tradisi baru yang seru.

Irma terbatuk beberapa kali, mengalihkan pandanganku dari puncak api yang kadang melambai ke bambaru karena ditiup anila. Setitik iba merayap di kisi-kisi hati saat menepuk-nepuk paha sulungku untuk menenangkannya. Ia mesti terbiasa menghirup asap sejak orang tuanya membuka lahan baru. Namun, iba segera berganti harap. Asap-asap ini akan menjadi saksi kesuksesan yang diraih anak-anakku di masa mendatang. Karena walau aku cukup merasa damai dengan kehidupan seperti ini, tetapi memimpikan anak-anakku menjadi orang, setidaknya menjadi juragan minyak kelapa sawit yang punya toko besar di pasar.

“Rahayu.”

Aku melaurkan leher mendengar panggilan Kang Darmin di bawah undak-undakan.

“Anak-anak sudah tidur?”

“Sudah.”

“Turunlah. Sebentar lagi pada mau makan.”

Karena Irma sudah pulas kembali dan Indah sepertinya tak terganggu oleh batuk kakaknya, gegas kuturuni empat undak-undakan tanpa suara setelah kupastikan kain jarik lainnya rapat menyelimuti tubuh mereka. Penuh semangat aku menggandeng tangan Kang Darmin menuju para tetangga yang sudah duduk tak jauh dari pondok. Daun pisang panjang membentang. Aku menelan saliva saat menghidu aroma ikan bakar.

“Ayo, mulai makan. Maaf, agak malam karena sengaja menunggu anak-anak pada tidur agar kita nggak terganggu,” seru Endang mengurai pucuk daun pepaya di piringnya. Polahnya mengundang tawa.

Aku memejamkan mata saat pucuk dau pepaya yang telah dicocol sambal terasi khas buatan Endang bertemu lidah. Sedap nian! Tak peduli mata yang mulai perih karena asap yang bergulung-gulung.

“Panen sawit di lahan ini nanti kugunakan untuk membeli tanah di kota ditambah tabunganku dari panen sebelumnya,” cerita Lastri yang duduk di kananku.

“Kamu akan meninggalkan kampung ini?” Aku menncuil ikan dan dicocol sambal sebelum kumasukkan ke mulut bersama nasi.

Lastri menggeleng. “Aku sudah telanjur cinta dengan kampung ini. Tanah itu untuk anak-anakku. Itung-itung bayar pengorbanan mereka sudah mengisap asap tiap orang tuanya buka lahan baru.”

Bibirku membirai senyum, mimpi yang sama.

“Kalo kamu bagaimana?” Lastri menoleh ke arahku dengan mulut berkecipak. Ia memang tak bisa makan tanpa suara.

“Hampir serupa denganmu, aku juga akan membeli tanah di pasar, bukan untuk membangun rumah, tapi toko.”

“Toko? Anakmu mau disuruh jualan apa?”

“Bukan jualan, tapi jadi juragan minyak kelapa sawit,” ujarku semringah.

“Amin,” seru banyak orang yang rupanya mendengar pembicaraanku dengan Lastri.

Aku tersipu, tetapi terharu. Saling dukung antara satu dengan lainnya juga menjadi alasanku enggan pindah mencari rezeki di daerah lain.

“Keinginan yang mulia. Bagus!” Lastri manggut-manggut.

“Kalau aku pengin buka pasar di sini biar kalian nggak susah-susah ke kota,” ujar Endang yang membuat semua mata memandangnya.

“Pasar? Bagus niatnya, nanti anak-anakku jualan di pasarmu, ya.”

Segera kupukul lengan Kang Darmin pakai tangan kiri. “Enak aja. Anak-anakku nggak jadi penjual, tapi juragan!”

Orang-orang pada tertawa mendengar ucapanku dengan nada sewot.

“Apa bedanya, toh?” Kang Darmin bertanya tanpa menoleh karena sibuk mncuil ikan.

“Kalau juragan itu yang punya perusahaan, kalau penjual itu orang yang menjual. Beda jauh, toh? Gini-gini aku pernah kerja sama juragan cengkih sebelum nikah denganmu.”

“Oalah gitu. Yowis terserahmu kalau begitu anak-anak mau dijadikan apa, asal jangan kayak orang tuanya. Capek jadi petani sawit itu, apalagi kalau lahan habis, terpaksa buka lahan baru. Aku jadi sering batuk sejak ada bakar-bakar begini.”

“Tapi, kan, seru Kang!” timpal Pak Iqbal yang dinobatkan warga sebagai ketua RT membuat yang lain terkekeh.

“Seru, sih, soalnya nggak ada hiburan selain bakar-bakar.”

Tawa keras membahana mendengar lelucon suamiku. Kekonyolannya—selain sabar dan royal—yang membuatku jatuh hati kepadanya.

Malam kian menua. Si jago merah masih menyala, tetapi mulai redup. Mungkin karena dahan-dahan sudah mulai habis atau nyiur yang berada di belakang lahan ini kian kencang melambai.

***

Batuk Irma terdengar kembali kala aku sedang menyiapkan piring untuk makan Kang Darmin. Sejak pesta membuka lahan baru pada dua minggu lalu, batuk Irma semakin menjadi padahal sudah dua kali dipijat Mbah Kun. Aneka pengobatan alami atas saran Mbah Kun pun sudah kulakukan. Dari memberi minum air hangat yang dicampur garam, meminumkan satu sendok teh madu—aku menitip sebotol besar madu dengan tetangga yang kebetulan akan ke pasar—minum air jahe hangat, makan bawang putih sampai di-kerok, batuk Irma malah kian menjadi.

“Kang, sudah dua minggu lebih Irma batuk, aku jadi khawatir. bagaimana kalau kita bawa Irma ke puskesmas di kampung sebelah?”

“Siapa yang mengantar? Kamu, kan, tahu besok mau mengambil bibit sawit bersama teman-teman,” ujar Kang Darmin sambil menyendok sayur lodeh ke piringnya. “Lagi pula, sudah lama motor nggak ada bensin, mau naik apa ke sana?”

“Minta tolong Kang Hasan.” Aku menyebut nama tetangga satu-satunya yang memiliki mobil pikap. Warga di sini kerap menitipkan catatan kebutuhan rumah tangga jika Kang Hasan akan ke pasar. Sebelum menitip madu, aku sering menitip kebutuhan lainnya. Kang Hasan tak pernah keberatan dititpi oleh warga karena dibayar.

“Kalau untuk berobat, aku masih ada uang, tapi untuk bayar bensin Kang Hasan, nggak ada. Tabungan yang cuma sedikit sudah kupakai untuk patungan dengan teman-teman membeli bibit sawit.”

“Bagaimana kalau motor kita diisi bensin dulu, Kang?”

“Sejak kapan kamu bisa bawa motor?”

Aku terdiam, lupa kalau Kang Hasan sudah bilang tidak bisa mengantar. Bimbang menyelimuti jiwa. Minimnya fasilitas pemerintah di dusun ini, kadang membuatku ingin pindah ke kampung sebelah.

“Nanti juga sembuh, apalagi sudah dipijat Mbah Kun. Siapa coba yang nggak sembuh kalau sudah diobati tanga saktinya?”

Dalam keadaan biasa, aku akan tertawa mendengar kelakar itu. Warga sepakat menjuluki Mbah Kun si Tangan Sakti. Namun, dalam keadaan kalut begini, jangankan bercanda, menelan sarapan saja tenggorokan terasa sakit. Ibu mana yang tidak stres melihat buah hatinya sakit, tetapi tidak mampu melakukan apa pun.

Batuk Irma masih terdengar diselingi celotehan Indah yang bermain boneka dari bahan sandal jepit yang sudah tidak terpakai hasil karya Kang Darmin, sungguh menyesakkan dada.

***

“Irmaaa! Kenapa, Nak? Ya Tuhan!” jeritku histeris ketika mendapati Irma sesak napas. Pakaianku masih basah karena sedang mencuci. Rencananya ke kamar ingin mengecek masih ada baju kotor atau tidak, tetapi malah pemandangan yang memompa jantung kudapatkan.

Segera kudekap Irma dan membaluri dadanya dengan minyak gosok. “Jangan pergi ya, Nak, Ibu mohon, jangan pergi ….” Isakku sudah menganak sungai.

Karena Irma tak kunjung membaik, gegas aku berlari ke rumah Kang Hasan yang berjarak dua puluh meter dengan telapak kaki telanjang sambil menggendong Indah. Pandangan sedikit kabur karena mata dipenuhi air.

“Kang! Kang Hasan! Tunggu!” teriakku melihat Kang Hasan baru saja ingin masuk ke mobil bersama istrinya.

“Loh, Rahayu? Kenapa menangis?” Mbak Surti turun dari mobil dan memandangku tegang.

“Irma, Mbak, Irma ….” Tunjukku ke gubuk kami.

“Kenapa Irma? Mbok ngomong pelan-pelan, tarik napas dulu,” saran istri Kang Hasan.

“Irma sesak napas, Mbak. Aku minta tolong antar ke puskesmas, tolong.” Aku menangkupkan kedua tangan dengan air mata terus berderai.

“Astaghfirullah, kebteulan aku mau ke pasar membeli kebutuhan untuk makan kita bareng-bareng,” kata Mba Surti yang membuatku menarik napas lega. Makan bareng tiap malam selama mengeksekusi lahan adalah tradisi bapak-bapak. Uangnya dari patungan. Ibu-ibu yang memasak bergiliran.

“Ayo cepat ke rumahmu,” ajak Mbak Surti membuatku langsung naik ke mobilnya dan duduk di sebelahnya.

“Tapi ….” Aku menggigit bibir ragu mengingat tak ada uang untuk bayar ongkos.

“Kenapa?” Mbak Surti menoleh.

“Aku ngutang dulu ongkosnya ya, Mba. Uang Kang Darmin tinggal sisa untuk berobat aja,” kataku lirih.

“Jangan dipikirin dulu soal itu yang penting anakmu cepat sembuh. Kang Darmin sudah di lokasi?” tanya Kang Hasan.

Aku mengangguk. “Habis sarapan dia langsung ke sana.”

***

Gorden kamar dibuka. Kang Darmin masuk sambil menggendong Indah yang menangis kencang.

“Kukasih makan nggak mau, diajak main juga nangis, mungkin mau menyusui.”

Aku menjeremba, lalu menyusui Indah dengan tatapan kosong ke dinding bambu.

“Kamu belum makan, ya? Piringmu masih penuh.”

Cuma gelengan lemah kuberi sebagai jawaban. Terdengar Kang Darmin menarik napas berat.

“Sudah seminggu kamu begini, kalau kamu sakit kasihan dengan Indah, nggak ada yang ngurus.” Kang Darmin meremas-remas bahuku.

“Aku kangen dengan Irma, Kang.” Kristal-kristal bening itu berkumpul cepat tiap aku menyebut nama si sulung.

“Kamu pikir aku nggak? Walau aku jarang ada waktu untuk kamu dan anak-anak, aku juga kangen dengan Irma, tapi aku harus bagaimana? Ikhlaskan, Rahayu. Anak kita sudah menjadi bidadari surga.

Kristal-kristal itu jatuh cepat dan menganak sungai. “Mengapa kita ditakdirkan menjadi petani sawit yang kekurangan lahan ya, Kang? Mengapa kita nggak jadi orang kaya?”

“Istighfar, Rahayu. Kamu pikir anak-anak orang kaya nggak ada yang kena pneumonia? Banyak! Sebaliknya, anak orang miskin yang hidup di sini dan sering menghirup asap dari pembakaran hutan sehat-sehat aja. Buktinya sudah tujuh tahun kita di sini, baru Irma yang kena. Namanya sudah ajal. Ajal bisa karena apa saja. Tanpa menghirup asap dari pembakaran hutan, kalau memang sudah waktunya mati ya mati.”

Kang Darmin benar, tetapi aku tak menyahut.

“Aku mau tidur biar bangun pagi, besok sudah mulai kerja, nggak enak sama teman-teman kalau istirahat lama-lama.” Kang Darmin berdiri dan meninggalkan kamar.

Aku bergeming. Karena sudah tidur, Indah kubaringkan di balai-balai beralaskan kasur tipis yang sudah usang. Lalu aku duduk bersandar di dinding dengan lutut ditekuk.

“Anak-anak mestinya tidak tinggal di daerah yang iklimnya tidak bagus seperti area yang sering terjadi pembakaran hutan karena usia mereka masih rentan terhadap risiko kesehatan. Kekebalan tubuh mereka masih terus berkembang sehingga mudah terserang penyakit dan zat polusi lingkungan,” ujar dokter setelah aku menjelaskan detail mengapa Irma sampai sesak napas.

Sehari setelahnya Irma mengembuskan napas terakhir di ruang UGD dan sejak itu duniaku gelap, memaki takdir yang tak berpihak.

***

Warna langit berubah keperak-perakan terkena api yang kian membubung. Sorak-sorai bergemuruh menemani tembang tanpa kendang yang dilantunkan Lastri. Karena Indah sudah tidur bersama anak-anak tetangga lainnya, aku turut melenggok-lenggokan tubuh di samping Kang Darmin bersama teman-teman. Kami baru saja membuka lahan baru lagi, pertama kali setelah meninggalnya Irma enam bulan lalu. Karena tak sempat membangun pondok, para lelaki mendirikan dua tenda besar dengan dinding terpal yang cuma separuh. Sempat trauma karena asap, aku mencoba bangkit tertatih-tatih. Hidup terus berjalan, bukan? Bergelung dengan asap bukan hal baru dalam hidupku.

Ajal bisa karena apa saja. Tanpa menghirup asap dari pembakaran hutan, kalau memang sudah waktunya mati ya mati.

Ucapan Kang Darmin itu menjadi penyuntik semangatku menata hidup kembali. Walau bagaimanapun, menjadi istri petani sawit adalah pilihanku.

“Sudah dulu joget-jogetnya, sambal sudah siap!” teriak Endang yang sontak menghentikan goyangan kami dan berlari menuju ke arahnya yang sedang menata lauk di daun pisang yang membentang ditemani beberapa tetangga.

Hidangan di depanku adalah terenak setelah aku tak nafsu makan setelah kepergian Irma. Karena itu, aku makan dengan lahap walau kali ini berbeda karena tak ada ikan bakar. Sungai dekat dusun kami sudah lama kerontang karena hujan tak kunjung datang. Namun, ikan asin goreng sebagai penggantinya tak menyurutkan kegembiraan kami bersantap sambil berbincang ringan tentang masa depan yang masih abu-abu.

Usai makan kami duduk-dudk sebentar menghadap api yang mulai redup. Saat malam mulai menua, kami bubar. Bersama Endang, lastri, dan teman-teman wanita lainnya aku menuju tenda. Para wanita tidur bersama anak-anak agar para lelaki tidak terusik tidurnya.

Aku tersenyum memandang Indah yang pulas. Kuciumi pipinya sebelum merebahkan tubuh di sampingnya. Dingin. Ya, pipi Indah terasa seperti es. Ketika ingin menciumnya lagi, baru kusadari tak kurasakan embusan di lubang hidungnya. Panik, kuraba tangan dan kakinya. Semuanya dingin.

“Indaaah! Bangun, Nak. Bangun, Sayang!”

Teriakanku sontak membuat gaduh. Teman-teman segera menrubungi. Para lelaki sudah pada masuk ke tenda wanita.

“Kang, Indah kenapa?” jeritku melihat Kang Darmin menerobos kerumunan.

Tak cuma Kang Darmin yang memeriksa bungsuku, tetapi beberapa orang lainnya juga. Mereka saling berpandangan dengan Kang Darmin, lalu menggeleng lemah.

“Innalillahi wa innailaihi rajiun,” desis semua orang.

“Kenapa, Kang? Indah kenapa? Ayo, kita bawa ke puskesmas.” Aku mengguncang-guncang lengan suamiku. Namun, ia malah menarikku ke dalam dekapannya.

“Indah sudah pergi, menyusul kakaknya.”

Bisikan itu bak godam yang menghantam jantung. Kulepaskan dekapan Kang Darmin dan mengguncangkan tubuh Indah.

“Nggak mungkin! Indah memang batuk minggu lalu, tapi sekarang sudah sembuh setelah dipijat Mbah Kun. Nggak mungkin!” Aku menggeleng-geleng dengan isak yang kian banjir.

***

Malam sebentar lagi menghilang berganti arunika. Tembang melantun tanpa kendang. Kali ini bukan dari mulut Lastri, melainkan dari mulutku. Tanpa sorak-sorai dan kobaran api, bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Di belakang dusun sana, kupastikan nyiur-nyiur juga turut mati.

SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *