Cerpen #401 Chernobyl Nomor Tiga

“Mama tidur lagi.”

Huh, enak sekali Mama bisa malas-malasan begitu, sementara anak satu-satunya ini – bukan, keluarga satu-satunya yang dia miliki harus pergi berkeliling kota hantu ini dan mencari kayu bakar untuk persediaan malam nanti. Benar-benar menyebalkan.

Setelah puas memarahi punggung Mama yang sedang tertidur lelap, aku pergi ke depan pintu dan mengambil sepatu bot milikku. Tidak ada gunanya aku marah-marah terus, ujung-ujungnya aku harus tetap mencari kayu bakar atau kita berdua akan kedinginan.

“Ugh, ada apa lagi dengan pintu ini?” aku mencoba mendorong pintu dengan kedua tanganku. Engselnya sudah tua dan berkarat, pantas saja.

“Dasar…” geramku sambil mendobrak pintunya, “pintu tua…” tubuhku terbanting ke pintu, “dan mobil van…” pintunya bergerak sedikit, “rongsokan – AH!” kali ini pintunya berhasil terbuka dan karena posisi tubuhku yang tercondong ke depan, aku terjatuh ke tanah beku yang dingin dan basah.

“Ayolah, ini baru jam sembilan pagi dan nasibku sudah begini, hah?” aku mendongak ke atas dan berteriak ke langit, seakan-akan ini semua salahnya. “Pintu menjengkelkan… harus diperbaiki…”

Aku berjalan sambil bergumam penuh kekesalan. Lihat, sekarang mantelku basah – di bagian bawah pula. Sekarang aku benar-benar membutuhkan kayu bakar itu untuk mengeringkan pakaianku. Aku tidak bisa menjemurnya di bawah sinar matahari karena sepertinya daerah tempat tinggalku tidak terlalu bersahabat dengan Tuan Mentari.

Aku berjalan seorang diri di bawah langit berwarna abu-abu. Cuaca dingin masih terasa sampai ke tulang, meskipun aku memakai baju sweater dengan mantel dan topi rajut dengan sedikit aksen berbulu. Jika kalian belum pernah ke kotaku, kusarankan jangan pernah berjalan di kota sendirian, apalagi malam-malam.

Kota ini sudah bagai kota hantu. Bangunan-bangunannya ditinggalkan dan ditutupi oleh lumut dan tumbuhan menjalar. Beberapa lampu jalanan sudah roboh dan papan nama jalanan sudah hancur oleh karat. Terdapat kursi-kursi jalanan yang sebagiannya sudah hancur karena dimakan rayap. Tak terbayang olehku bahwa dulu kursi-kursi itu sering diduduki oleh orang lain, digunakan untuk berbincang-bincang sambil membawa peliharaan mereka jalan-jalan. Juga tak terbayang bagiku bahwa gedung-gedung itu dulu pernah diisi dengan kesibukan sehari-hari, terus bangunannya terang saat malam karena lampu-lampu yang dihidupkan oleh para perkerja yang berkerja sampai larut malam.

Kepalaku sudah lumayan dingin dari masalah-masalah tadi (entah karena pikiranku sedang kemana-mana atau karena suhunya yang dingin). Aku mengambil belokan kanan, jalan yang mengarah keluar kota menuju hutan.

~”~”~”~

“Woah…”

Saat itu aku sedang bersembunyi di balik salah satu pohon, mengamati seekor beruang dari kejauhan. Bukanlah hal yang baru jika bertemu dengan beruang di daerah ini. Beruang itu sepertinya haus dan datang untuk minum dari sungai di samping hutan. Aku sedang mengumpulkan kayu bakar dan tidak terlalu memerhatikan jalanku, hingga sampai di sungai.

“Dia minumnya banyak sekali.” Gumamku pelan. Sebenarnya aku terkejut sekali bahwa aku masih hidup dan sedang tidak berada dalam kondisi dimangsa sekarang. Posisiku beberapa meter di belakang si beruang dan katanya beruang memiliki indra penciuman yang tajam. Kurasa dia sudah kenyang, karena disekitar mulutnya ada bekas darah.

“…”

Tunggu. Bukannya sungai itu tercemar?

Beruang itu sudah selesai minum dan hendak kembali ke hutan. Sejenak kami bertukar pandang, lalu tiba-tiba gaya jalan beruang itu mulai oleng. Setelah 10 meter berjalan dari sungai, beruang itu pingsan. Dari perutnya, aku bisa melihat bahwa dia sedang bernafas terengah-engah.

Aku hanya bisa berdiri di balik pohon tanpa melakukan apa-apa karena aku tak punya nyali untuk mendekati beruang sekarat itu. Mataku mulai panas, menyakitkan sekali untuk menyaksikan adegan ini. Di umur 13 tahun aku menyaksikan kematian seekor makhluk hidup untuk yang pertama kalinya.

Setelah 5 menit, perut beruang itu sudah tidak bergerak – dan kurasa tidak akan pernah lagi.

~”~”~”~

Kota ini misterius, terlebih lagi karena aku tidak tahu namanya.

Aku sering bertanya pada Mama, tapi dia selalu bilang kalau akulah yang seharusnya tahu nama kota ini. Aku sungguh tidak paham kenapa Mama berkata begitu. Aku juga bertanya kenapa tidak ada orang di tempat ini dan Mama bilang Mama tidak tahu kenapa. Tapi aku yakin ketidaktahuan Mama itu bohong.

   ‘Kenapa aku tidak boleh bermain di sungai?’ tanyaku kepada Mama suatu hari. ‘Sungainya tercemar, Nak.’ Jawab Mama begitu. ‘Tercemar oleh apa?’ ‘Tercemar oleh banyaknya kejahatan di dunia ini.’ 

Entah kenapa Mama menyukai perkataan yang bijak. Mungkin agar kata-katanya seperti sebuah nasehat? Entahlah.

Tapi ada satu nasehat yang selalu Mama berikan kepadaku setiap kali aku mau pergi keluar. Mama selalu menasehatiku agar jangan sekalipun masuk ke dalam bangunan-bangunan manapun. Padahal Mama tak perlu repot-repot mengomeliku soal itu – siapa juga yang mau masuk ke dalam gedung yang seperti digentayangi arwah.

Tapi siang itu, aku melupakan semua nasehat Mama. Melupakan semua larangannya. Kenapa? Karena aku ingin tahu yang sebenarnya.

~”~”~”~

Aku ingat sekali kejadian siang itu, seolah-olah baru saja terjadi kemarin.

Setelah menyaksikan kematian seekor beruang di hutan, aku berjalan pulang dengan tujuh bongkahan kayu di tanganku dan dua mata yang bengkak dan memerah akibat menangis. Siang itu merupakan siang yang tak terlupakan, terlebih-lebih karena cuacanya yang lebih dingin dari tadi pagi. Suhu dinginnya lebih terasa dan jika aku punya bulu tangan, pasti sudah berdiri sekarang. Angin dingin berhembus, lalu membawa topi rajutku terbang bersamanya dan terjatuh di depan sebuah gedung.

“Aduh…” aku terhenti di depan pagar gedung. Sekarang bagaimana?

‘Apa aku panjat saja pagarnya?’ separuh hatiku berkata.

‘Jangan. Apa kamu tidak ingat nasehat Mama?’ separuhnya lagi mengingatkan.

‘Biarlah, Mama kan tidak ada di sini. Lagipula, itu topi rajut kesukaanmu kan? Kamu menghabiskan semalaman membuat topi itu.’

   ‘Kamu bisa membuatnya lagi. Kita harus pulang, mungkin Mama sudah bangun.’

   ‘Sebentar saja tidak apa-apa. Ya kan?’

Sudah jelas siapa pemenang argumen itu. Aku akan mengambil topi rajutku. Lagipula, memanjat pagar itu mudah jika kamu sudah sering memanjat pohon-pohon di hutan seperti aku. Aku menjatuhkan semua kayu bakarku ke tanah lalu mulai memanjat. Semenit kemudian, aku sudah berada di sisi sebelah.

“Kamu jangan nakal-nakal lagi ya…” kataku kepada topi rajutku sambil membersihkannya dari tanah yang menempel. “Nah, ayo pulang. Tempat ini mengerikan.”

Aku belum pernah mendekati gedung manapun di sini – dan sepertinya aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Jendela-jendelanya gelap, seolah-olah kegelapannya bisa menyedotmu ke dalam. Lumut-lumut di dinding menambah kesan mengerikan dan angin yang dingin bertiup malah menambah kengeriannya. Sudah, sudah, ayo kita cepat-cepat pulang –

‘Tunggu.’ Kata separuh hatiku yang tadi. ‘Kamu dengar itu tidak?’

   Benar juga. Ada suara seseorang…

… dari dalam?

‘OH TIDAK, TIDAK.’ separuhnya lagi berkata marah. ‘Kita tidak akan masuk ke dalam situ. Ayo pulang.’

   ‘Tapi… kamu tidak penasaran sedikitpun?’ kata separuhnya lagi dengan licik.

“Tentu saja aku penasaran.” Kataku dengan suara tertantang. “Ayo masuk.”

~”~”~”~

Percayalah, aku yakin suatu hari nanti rasa keingintahuanku akan membunuhku.

Tempat itu benar-benar mengerikan. Gedung itu memiliki banyak sekali ruangan di kanan dan kiri koridor, rasanya bisa saja ada hantu atau monster yang bisa menyergapmu dari ruangan manapun. Koridornya gelap dan sempit (dan rasanya semakin lama aku berjalan, semakin sempit koridornya). Di ujung koridor, aku menemukan tangga. Aku memutuskan untuk ke atas karena kupikir suaranya berasal dari sana. Setiap kali aku melangkah, suara langkahku menggema di udara. Sangat mengerikan.

~”~”~”~

Aku menemukan sebuah ruangan yang memiliki pintu terbuat dari kayu. Suara orang yang kudengar dari luar tadi terdengar lebih jelas. Ada seseorang di dalam ruangan itu.

Hidupku selama 13 tahun di sini sudah mengajarkanku fakta bahwa tidak ada seorang pun di kota ini kecuali aku dan Mama. Jadi, menemukan seorang manusia lagi di sini rasanya mustahil sekali. Tapi lihat dimana aku sekarang, di depan sebuah ruangan yang terdengar suara seorang manusia di dalamnya.

Tanganku yang gemetaran perlahan-lahan meraih gagang pintu. Lalu pintu sempurna terbuka – menampilkan sesosok –

 

 

– meja, kursi, dan berbagai perabotan lazim lainnya.

Tidak ada siapa-siapa di sini. Seperti yang sudah kuketahui selama 13 tahun. Lantas dari mana suara itu datang?

Setelah mengumpulkan keberanian, aku melangkah masuk ruangan itu. Ruangan itu sepertinya sebuah kantor. Ada meja kerja, sebuah kursi dibelakangnya, pot tanaman yang tanamannya sudah mati dan potnya sudah pecah dan jatuh ke lantai, dan beberapa lemari di pojokan.

Lalu, saat merunduk untuk melihat ke bawah meja, aku menemukan sebuah tabung aneh yang terbuat dari logam. Ukuran tabung itu mungkin sebesar tabung sereal jagung. Dari tabung itulah sumber suaranya. Kurasa benda itu seperti radio berbentuk tabung, karena terdengar suara yang terpatah-patah khas radio dari benda tersebut.

“Tabung ini aneh dan keren sekali.” Gumamku. Tabung itu memiliki desain yang sangat futuristik. “Oh, ada tombol.” Kataku saat membalikkan tabung itu. Terdapat dua tombol, salah satunya berwarna merah. Nah, kurasa kalian bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya – aku menekan tombolnya, tentu saja.

“…mem-pro-ses pe-san, harap tu-nggu.” Kata benda itu. Tiba-tiba muncul sebuah hologram dari ujung tabung – hologram seorang pria yang sedang terduduk di kursi. Aku mundur dua langkah karena kaget, tak sempat memerhatikan bahwa kursi yang diduduki pria hologram itu sama dengan kursi yang ada di ruangan ini.

“Halo… ji-jika kalian – maksudku, jika ada siapapun yang mendengarkan…” kata pria itu sambil melambai-lambaikan tangannya seolah-olah sedang mencoba menyadarkan orang yang sedang melamun. Pria itu canggung sekali, kurasa tabung ini teknologi baru karena hologram ini jelas-jelas pesan hologram pertamanya.

“… ehem, uh, jika ada yang mendengarkan pesan hologram ini, saya asumsikan bahwa, siapapun anda atau kalian, kalian selamat dari peristiwa yang bernama ‘Bencana Chernobyl Kedua. Juga kalian tertinggal oleh kami di Bumi. Dengan itu kami mohon maaf.” 

   Tu-tunggu, apa?

“Ya, Bencana Chernobyl Kedua. Mungkin kalian bertanya kenapa dinamakan begitu. Alasannya bisa ditelusuri jauh di masa lalu, pada tahun 1986. 

   Pada tahun itu, reaktor nomor empat di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl meledak, ratusan kilometer terpaksa ditutup dan para penduduk di sekitar daerah tersebut harus dievakuasikan dan 500.000 pekerja meninggal akibat kecelakaan itu. 

   Kejadian yang sama terulang lagi pada tahun ini – tahun 2031. Hanya kali ini disebabkan oleh teroris. Kelompok teroris idealis yang ingin menyingkirkan setengah populasi Bumi demi ‘keseimbangan’. Dua reaktor nuklir meledak, dan kami terpaksa meninggalkan Bumi. Tetapi, bukan hanya karena ledakan dua reaktor nuklir yang menjadi alasan kami meninggalkan planet itu. Bumi sudah tidak aman ditinggali lagi. Karena keserakahan manusia, 60% sumber air tercemar, kepunahan hewan meningkat, dan lahan hutan semakin menipis, dan masih banyak lagi. 

   Sekarang kusarankan agar siapapun yang sedang melihat pesan ini, untuk segera mengirim sinyal – dalam bentuk apapun – agar kami dapat menjemput Anda dan membangun masa depan di Kapal Luar Angkasa terbesar bersama-sama.”

Hologram itu selesai menyampaikan pesannya. Suara pria tersebut sudah hilang, digantikan oleh kesunyian mengerikan yang sama saat aku pertama kali masuk ke dalam gedung misterius ini. Ternyata inilah rahasia yang disimpan di dalamnya.

Tahun 2031 – itu sekitar 15 tahun yang lalu.

~”~”~”~

“Mama!” teriakku setibanya di depan pintu rongsokan tua mobil van. Aku lupa membawa kayu bakar – semuanya tertinggal di depan gedung tadi – ah, lupakan, saat ini aku punya urusan yang lebih penting.

“Mama, Mama tidak akan percaya apa yang aku temukan di salah satu gedung yang ditinggalkan – aku tahu, aku tahu, Mama sudah melarangku masuk ke dalam – tetapi ini sungguh luar biasa dan aneh sekali, pokoknya dengarkan saja dulu…” aku mulai berceloteh panjang lebar.

“Mama?” tanyaku saat Mama tidak merespons kepada ceritaku. Wah, benar-benar Mama, ya. Masih tidur sampai siang!

“Mama… Kenapa Mama masih tidur? Mana ada seorang Ibu yang meninggalkan perkerjaan rumahnya dan tidur terus sampai siang.” Aku mengguncang-guncang bahu Ibu. Aneh, biasanya Mama orang yang mudah bangun.

Kenapa… kenapa aku punya perasaan buruk?

“M-Mama… Ayo bangun, ini tidak lucu.”

“…”

“Mama!” teriakku panik. Aku mengguncang bahunya lebih kuat. “Apa Mama tidak mau memarahiku? Aku kan sudah melanggar peraturan Mama…” Mataku kembali panas, tapi kali ini rasanya pedih sekali.

“…”

“Mama…” Air mataku tak bisa ditahan lagi. Aku menangis terisak-isak disamping tubuh Mama yang kaku.

Langit, ini baru jam tiga sore dan kenapa nasibku sudah begini?

~”~”~”~

Mama benar-benar ya, dia tertidur pulas, sementara anak satu-satunya ini, yang sudah kurang ajar memarahi punggungnya sebelum pergi, harus mencari kayu bakar persediaan untuk malam nanti.

“Benar-benar menyebalkan…” kataku sambil terisak, sekali lagi berjalan seorang diri – dan kali ini benar-benar seorang diri – di bawah langit senja.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mama masih terbaring di kasur. Aku tidak tahu cara menguburnya karena tanahnya yang sebeku es. Menangis tergugu adalah usaha yang bisa aku lakukan sekarang.

Berjalan tak menentu tanpa arah, aku menemukan diriku berdiri di depan gedung tempat aku menemukan pesan hologram itu. Tujuh balok kayu sedang tergeletak di depan pagar gedung. Kurasa itulah alasan kenapa aku pergi ke sini.

Aku sempat terpikirkan pesan si pria hologram tadi, untuk mengirimkan pesan kepada mereka. Lalu aku menoleh ke belakang. Memandangi kota senyap tak bernama ini. Tempat aku tinggal selama 13 tahun.

Aku menghela nafasku. Baik, ayo kita pergi dari sini.

~”~”~”~

Ingat saat aku bilang aku tidak akan pernah kembali lagi ke gedung itu? Lupakan saja sekarang. Aku kembali masuk ke dalam gedung itu lagi, kali ini sedikit lebih berani karena aku tahu tidak ada arwah gentayangan. Naik tangga sambil mendengarkan gema langkah kakiku, lalu masuk ruangan tempat aku menemukan tabung hologram.

“Pria itu tadi tidak bilang bagaimana caranya mengirimkan sinyal…” gumamku sambil membolak-balikkan tabung itu. Padahal kupikir ini teknologi baru, tapi ternyata benda ini dibuat 15 tahun yang lalu.

“Ingin mengirimkan pesan sinyal?” tabung itu tiba-tiba berbicara. Aku hampir saja menjatuhkan tabung karena kaget. “Jika ingin mengirimkan sinyal, tekan tombol hijau untuk mengaktifkan mic. Harap untuk menekan tombol terus selama berbicara agar mic tidak mati.” Tabung itu menyelesaikan penjelasannya. Tombol yang berada disebelah tombol merah kemudian menyala menjadi berwarna hijau.

Huh. Tabung ini praktis juga, ya. Tidak buruk untuk sebuah teknologi lama yang diciptakan 15 tahun yang lalu.

Baiklah. Waktunya mencoba fungsi tombol hijau ini.

“Ehem,” aku berdeham canggung. Sekarang aku mengerti perasaan pria hologram tadi saat menggunakan tabung untuk pertama kali. “h-halo…”

Aku terdiam menunggu balasan. Selama 5 menit, hanya ada keheningan. Entahlah, sepertinya benda ini rusak, mungkin sudah terlalu lama –

“Halo – halo, ada orang di sana?” aku benar-benar terkejut saat itu. Ada yang mengirimkan respons!

“Ya, ya, a-apa Anda bisa mendengar saya?”

“Ya, bisa. Bagaimana dengan Anda?” tanya seorang pria dari seberang.

   “Suara Anda terdengar jelas.” Kataku kepada tabung. Intonasi suaraku meninggi – aku benar-benar senang sekali ada orang di luar sana. “Em, a-aku sendirian di Bumi… Apakah kalian bisa datang menjemputku?”

“Tentu saja. Kami akan segera datang.” 

Dan percakapan kami terhenti di situ.

Kupikir akan butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di Bumi, karena pasti kapal luar angkasanya besar sekali, dan kemungkinan besar mereka jauh di tengah alam semesta sana. Tapi empat jam kemudian, mereka sudah sampai.

Oh, jika ada peristiwa yang akan kukenang seumur hidupku, pasti adalah momen dimana kapal luar angkasa mendarat di kotaku. Bayangan kapal itu sendiri sudah seperti memayungi seluruh kota dari sinar matahari. Aku ingat berpegangan erat-erat kepada sebuah pohon agar tidak terpental ke belakang. Yah, usahaku itu tidak begitu baik, karena aku didorong oleh angin sebanyak empat langkah ke belakang. Mesinnya yang besar itu mencairkan es pada tanah, sehingga tidak beku lagi.

Itu benar-benar keren sekali.

~”~”~”~

“Apakah Anda yang tadi mengirim pesan?” seorang pria berpakaian ala musim dingin menuruni tangga yang terhubung dengan kapal besar. Tangganya sendiri adalah sebuah hologram.

“Iya. A-ah, salam kenal.” Kataku sedikit canggung (maklum, satu-satunya orang yang pernah aku interaksi adalah dengan Mama).

“Ternyata tidak terlalu dingin di sini, ya. Kudengar daerah ini dulu sangat dingin.” Komentar pria itu sambil melihat-lihat sekeliling sebelum beralih padaku. Benarkah katanya? Padahal menurutku di sini sudah cukup dingin. “Apa Anda sendirian?”

“… Ya. Saya sendirian.” Kataku sedikit sedih. “Apa mungkin Anda bisa membantu saya? Saya butuh bantuan untuk mengubur Mama saya yang baru saja meninggal hari ini.”

~”~”~”~

“Saya turut berduka cita.” Dia menepuk pundakku. Kami sedang berdiri di depan makam Mama. “Pasti susah tinggal sendirian.”

“Terima kasih.” Aku tidak tahu jika responsku nyambung dengan kalimat terakhirnya. Aku sedih sekali.

“Ayo, kita pergi.” Pria itu berbalik ke kapal. Aku mengikutinya dari belakang.

“Apa ada kemungkinan kita bisa tinggal di sini lagi?” tanyaku pelan.

“Entahlah.” Jawabnya setelah terdiam sebentar.

Aku mengepalkan tanganku. “Aku akan mencari caranya.”

“Apa?”

“Aku akan mencari cara untuk menyembuhkan Bumi.” Kataku mantap. “Dan itu adalah janji.”

Pria itu tersenyum. “Tentu saja. Akan kupegang janjimu.”

“Omong-omong, siapa namamu?” tanyanya.

“Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Chernobyl. Kalau Anda?”

~”~”~”~

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *