Cerpen #400 20 Hari

“Tomia….. Tomia….”

Mata Tomia mengerjap-ngerjap, namun masih belum sadar sepenuhnya.

“Tomia..Tomia!” Suara itu semakin keras. Seperti datang dari kejauhan.

“TOMIA!” Tomia merasakan tubuhnya terguncang hebat dan sesuatu menghantam kepalanya. Kesadarannya langsung pulih. Tomia duduk dan menggosok-gosok sisi kiri kepalanya yang baru saja di tempeleng Nirana. Jantungnya masih berdegup kencang karena kaget.

“Astaga mimpi apa kamu? Cepat! Kita akan segera sarapan”

Tomia mendengus, dan dengan enggan keluar dari selimut yang menggelungnya. Suara bel empat nada yang membangunkan mereka setiap pagi masih bergema ke sudut-sudut ruangan. Teman-temannya yang lain bergerak sana sini mempersiapkan ini itu untuk memulai hari.

“Sarapan apa kita hari ini?” Tomia bertanya sambil membersihkan kasurnya

“Entahlah. Kamu bertanya seolah-olah kita punya banyak pilihan” Nirana sudah selesai bersiap-siap “Ayo, cepat!”

Tomia mempercepat gerakannya, mengganti bajunya, dan memakai sepatu ruangan. Mereka berjalan keluar ruangan menyusul anak-anak yang lebih dulu pergi.

“Kegiatan kita hari ini apa? Dapat informasi?” Tomia kembali bertanya

“Kamu banyak tanya. Enggak tahu” Nirana cemberut

Dengan kesal, Tomia menyandung kaki Nirana yang sedang berjalan begitu cepat. Lalu tertawa dan berlari setelah berhasil membuatnya jatuh.

Tomia sampai lebih dulu ke ruang makan yang sudah hampir penuh. Menoleh ke belakang, melihat Nirana yang berlari menyusulnya dengan wajah penuh dendam. Bulu kuduk Tomia berdiri. Tapi ia sudah biasa melihat wajah Nirana yang manis namun juga seperti nenek lampir di saat bersamaan. Tidak ingin membuat keributan, Tomia memberi tatapan penuh arti ke mata Nirana. Wajah Nirana melunak, memutuskan untuk menyimpan dulu dendam itu, dan ikut antre di belakang Tomia.

“Hanya ini?” Tanya Tomia pasrah ketika melihat menu sarapan pagi itu.

“Ya” jawab si pembagi makanan sembari meletakkan roti lingkaran dengan diameter 5 cm, beberapa macam pil, dan setengah gelas air putih di atas nampan Tomia.Tidak heran dari tadi terdengar gemuruh keluhan dimana-mana.

“Hanya ini yang kita punya. Di luar sana banyak yang tidak bisa makan. Setidaknya kita harus membagi jatah dan persediaan kita sedikit” Kata si pembagi makanan dengan suara yang sengaja dikencangkan. Mungkin agar anak-anak lain mendengar dan tidak lagi mengeluh.

Tomia dan Nirana saling lirik. Begitu terasa nyata, pikir mereka.

Mereka belalu dan bergabung di meja yang punya kursi kosong. Sarapan memakan waktu amat singkat. Pertama, mereka harus meminum lima pil yang disediakan. Pil hijau sebagai penjaga daya tahan tubuh. Pil merah muda biasa disebut pil ajaib. Karena pil itulah yang dapat membuat mereka tidak lapar siang harinya. Tiga pil lainnya merupakan pil-pil bernutisi tinggi agar mereka bisa terus hidup dan bertahan. Makanan asli hanya selingan agar mereka tidak gila. Roti bundar itu lumayan enak, sedikit manis. Tomia menghabiskan seperempat air putihnya dengan gusar. Ia masih lapar. Meskipun ia tahu beberapa menit lagi perutnya akan terasa penuh hingga senja.

Kegiatan pagi dilanjutkan dengan mandi. Di kasur masing-masing. Tomia mengeluarkan botol gel miliknya, menutup gorden yang menggantung di sekitar kasurnya, dan mulai menggosok badan dan rambutnya. Memang gel itu memberi sensasi segar dan dingin, namun rasanya tetap terlalu berbeda dengan air. Air jauh lebih baik. Untungnya air masih tersedia untuk keperluan buang air, meski juga sangat minim.

“Hanya sekolah” Nirana memberi tahu Tomia setelah mereka memakai pakaian sekolah.

“benarkah? aneh” jawab Tomia. Nirana mengangguk setuju.

Sekolah mereka tidak begitu jauh dari asrama. Hanya saja jalannya menanjak mendaki bukit. Keringat mereka selalu muncul ketika sampai di sekolah dengan napas ngos-ngosan. Satu lagi penggunaan air, tentu saja untuk konsumsi. Mereka disiapkan satu liter air per hari untuk minum. Jika kurang, masih boleh menambah di ruang makan. Tapi tetap terbatas.

Sekolah berjalan dengan normal. Mereka hanya belajar di kelas seperti biasa. Membeli makanan-makanan kecil. Sangat kecil, seperti permen. Hanya untuk memanjakan mulut mereka. Karena mereka tidak merasa lapar. Menjelang siang, langit terlihat mendung dan awan-awan hitam mulai memayungi langit. Satu persatu titik hujan mulai turun.

“HUJAN! HUJANN!” teriak Toru, salah satu teman sekelas Tomia dan Nirana. Anak-anak menghambur menuju jendela dan bersorak riang. “BISA MANDI! KITA BISA MANDI!” Toru kembali teriak dan melompat-lompat. Beberapa anak lain ikut berteriak dan melompat-lompat senang. “Asikk! Ohh terima kasih tuhan!” teiak seorang anak laki-laki. Tawa sekelas pecah demi mendengar kalimat barusan. Satu jam berlalu, hujan yang awalnya lembut dan membuat nyaman, menjadi kian keras dan berisik. Hujan yang tidak normal. Seolah-olah awan sedang marah dan memutuskan untuk menghujamkan ribuan anak panah menuju bumi.

Suasana kelas yang Awalnya girang berubah jadi suram. “mungkin kita terlalu berharap banyak” ujar seorang anak perempuan

“jika kita tadahkan dengan ember, bisa jadi ember kita bolong. Ya kan?” tanya Toru polos.

“ya enggak juga aduhh” sergah anak laki-laki lain disusul mendaratnya jitakan Nanna di kepala Toru. Suasana kelas kembali ramai sejenak.

“mungkin kita masih bisa mandi di sekolah hari ini. Aku yakin guru-guru sudah menadahkan banyak air. Bagaimanapun air itu penting. Tetapi jika terus begini aku enggak yakin kita bisa pulang ke asrama” perkataan Tomia membuat anak-anak menolehkan kepalanya ke jendela.

“ya. Hujannya begitu ganas” timpal anak perempuan lain.

Sore datang, dan malam mulai menjelang. Kabar baik, para siswa dapat mencuci wajah, lengan dan kaki mereka. Meski belum bisa mandi karena persediaan air konsumsi jauh lebih penting, semua itu sebenarnya sudah lumayan cukup daripada hanya menggunakan gel.  Baju ganti juga selalu di siapkan di gedung sekolah. Suasana kembali menjadi ceria. Meskipun di luar hujan badai hingga mereka tidak bisa turun bukit, mereka semua merasa segar dan bersemangat. Malam yang menyenagkan, para siswa di bagi untuk tidur dalam kelas. Mereka bercerita banyak, seakan topik tidak ada habis-habisnya. Ditemani suara hujan, mereka semua tidur nyenyak.

Namun, hujan yang awalnya dianggap sebagai anugerah, malah berubah menjadi bencana. Satu anak terbangun, dan dengan histeris membangunkan teman-temannya yang lain.

“cepat lihat! Asrama kita!” teriaknya panik. Anak-anak lain langsung terbangun. Mendekatkan diri ke jendela. Mata mereka terbelalak. Bagian bawah bukit sudah tidak terlihat, digantikan dengan arus air deras bagaikan sungai. Hujan juga masih belum berhenti dan malah semakin deras. Lantai pertama asrama mereka sudah terendam banjir.

Kinna mencengkram lengan Tomia. Wajahnya menatap ngeri.

“Anak-anak, kita mengungsi sekarang.” Seorang guru memasuki kelas dengan tergesa-gesa    “Cepat! Kemasi barang-barang kalian, segera ke aula” guru itu segera berlari untuk memperingatkan kelas lain. Dengan sigap, anak-anak mengemas barangnya dan bejalan ke aula. Aula sudah ramai saat mereka datang. Satu persatu anak-anak memasuki sebuah transportasi canggih yang akan membantu mereka mengungsi. Tomia sempat ragu sepersekian detik. Amankah? Dalam kondisi seperti ini? Namun ia tia-tiba sadar bahwa semua akan aman saja. Perjalanan itu cukup lama. Sebagian besar anak-anak memutuskan untuk tidur. Mereka terbangun lebih awal karena keributan tadi pagi.

Tomia merasakan transportasi yang awalnya bergerak cepat perlahan-lahan behenti. Mereka mengucek mata dan diminta turun satu persatu. Kaki tomia menapak tanah dengan salju tipis. Udara disini sedikit lebih dingin. Namun ini masih siang hari. Malam pasti akan jauh lebih dingin, pikir Tomia. Anak-anak diarahkan menuju sebuah gedung kosong serbaguna.

“kita akan menginap disini semalaman” tegas seorang guru. “jadi kita tidak begitu perlu membongkar barang-barang. Dan malam ini semua akan tidur di ruang utama. Laki-laki dan perempuan akan diberi batas wilayah masing-masing” guru itu berbalik dan kembali bejalan. Anak-anak mengikuti.

Tomia, dan teman-teman kelasnya memilih tempat di sudut ruangan, dan meletakkan tas masing-masing.

“disini aman kan? Ada yang mau jalan-jalan?” tawar Tomia.

Tidak banyak hal menarik di sekitar gedung tua itu. Hanya rerumputan yang mengering, permukiman penduduk, gunung-gunung dengan es yang sudah meleleh, dan beberapa anak kecil yang bermain bola. Mereka tidak bisa bermain dengan anak-anak kecil itu sepetinya.

“hei! Aku menemukan bola!” teriak Toru sambil mengangkat bola biru itu tinggi-tinggi. “ayo main”

Dua belas anak bermain bersama seperti anak kecil, meski mereka sudah hampir dewasa.. Kini gilian Nirana yang menjaga di tengah. Sisanya membuat lingkaran dan menjaga diri masing-masing agar tidak terkena lemparan bola. Tomia selalu behasil menghindar meski jelas-jelas kadang Nirana melemparkan bola padanya dengan brutal. Para penjaga berganti, Tomia masih belum pernah disentuh bola. Namun saat Tomia sedang berada di atas awan, ia lengah dan serangan yang brutal dari Nirana menghantam kepalanya. Bola itu memantul dan  jatuh dari bukit kecil

“upss. Maaf hahahahah” permintaan maaf Nirana terdengan sangat-sangat tidak tulus.

Tomia mendengus dan berlari menyusul bola yang terus menggelinding menuju sungai.

“aghh” ia tidak melihat batu kecil yang beada di depannya. Tubuhnya jatuh ke depan dengan lutut mencium kerikil.

“kamu baik-baik saja?” tanya seorang anak bersuara lembut. Tomia berdiri dan menatap sosok di depannya dengan kagum. Ia seperti mengenalnya. Perempuan dengan senyum tulus. Sepertinya seusia dengannya.  Sambil menepuk-nepuk lututnya, Tomia mengatakan bahwa di baik-baik saja. Beberapa detik berlalu dan anak perempuan itu menjawab “syukurlah” dengan tawa kecil. Lalu ia balik kanan, membelai kelinci putih di tangannya, dan kembali duduk di bebatuan sambil bersenandung. Tomia  memperhatikan perempuan itu. Hingga matanya menatap bercak kebiruan di lengan atasnya.

Perasaan Tomia mengatakan sesuatu akan atau sedang terjadi. Siapa perempuan ini? Karena penasaran, Tomia mendekat dan memperhatikan wajahnya lebih seksama. Perempuan itu menoleh. “siapa nama mu?” tanya Tomia.

“Tilde” senyum itu kembali merekah

Darah tomia seakan meninggalkan tubuhnya. Dengan cepat ia berlari kembali ke teman-temannya, dan panik mengajak mereka masuk ke dalam. Ia mengerti. Tilde. Desa bersalju dekat kutub. Tomia sudah sadar akan sesuatu. Malam ini, tidak. Sore ini. Akan terjadi sesuatu dan Tomia tidak ingin melihatnya.

“bangkitnya virus purba. Dan kisah Tilde” jelasnya singkat kepada teman-temannya di ruangan gedung tua. Mereka semua paham. Kabar itu dengan cepat menyebar, dan semua anak tahu, bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang.

Dan benar, saat sore menjelang, keributan mulai terdengar diluar. Beberapa anak mengintip dan melihat pemandangan mengerikan saat tubuh penduduk desa itu mulai dipenuhi bercak-bercak biru, dan teriakan serta erangan terdengar. Satu persatu orang gemetar, lemas, lalu meninggal dunia dengan tubuh menjadi biru.

Malam mulai datang dan semakin dingin. Pakaian tebal dibagikan namun masih belum bisa menghadirkan kenyamanan. Suara-suara di luar masih begitu beisik. Bayi menangis, anak-anak yang mengerang, teriakan menyedihkan terdengar kala seseorang gugur dan meninggal dunia. Tomia masih terbayang akan Tilde. Bagaimana kondisinya, dan apa yang akan terjadi padanya, meskipun ia tahu. Belum lagi suara ambulans, yang menambah tekanan di tengah udara dingin mencekam. Anak-anak membuat gerombolan kecil dan melingkar dengan teman masing-masing. Tomia, Nirana, Toru, Kinna, Nanna dan lima anak lainnya membuat lingkaran mengelilingi api. Mencari sedikit kehangatan. Beberapa orang berusaha membuka percakapan, berusaha mengenyahkan suara-suara yang begitu mengganggu. Namun gagal. Suara diluar begitu berisik, dan menyedihkan. Tomia menatap api yang berkobar, sembari merapatkan selimut dan berusaha memejamkan mata untuk memikikan hal menyenangkan. Tubuhnya bergerak maju mundur dan pikiannya mulai tenang saat tiba-tiba teriakan histeris terdengar ke seisi ruangan. Begitu besar, dekat, dan memilukan.

“MAMAAAAAA!” Suara seorang anak perempuan. Tilde. Mereka mengenali suara itu. Bersahut-sahutan dengan suara lain. Bayi dan anak-anak yang semakin kencang menangis. Teriakan panik tenaga medis yang mengorbankan diri, dan lagi-lagi, sirine ambulans. Sebuah televisi dalam ruangan tersebut meliput berita mengenai vius purba yang bangkit ini. Dan bahwa pemerintah langsung mengambil tindakan cepat dengan mengisolasi desa tersebut dari dunia luar. Suara Tilde kembali terdengar. Memohon, menangis, dan berteriak. Meski dalam bahasa yang tidak mereka mengeti, suara itu bagaikan jarum-jarum kecil yang seketika menghujam hati mereka. Untuk pertama kalinya, Tomia mulai menangis.

Malam itu terasa begitu panjang dan air mata Tomia menolak untuk behenti. Isakan tangis yang berusaha diredam terdengar dimana-mana. Semua anak beusaha tidur namun tidak bisa. Rombongan melingkar itu berusaha tidur di tempat. Nirana dan Tomia saling bersandar. Di tengah kesunyian ruangan, isakan pelan, dan keributan yang terjadi di luar, Kinna melantunkan nada-nada indah tanpa lirik. Mereka mengenali lagu itu. Lagu yang seluruh dunia dengarkan setiap hari bumi. Bahkan jauh lebih sering dari sekali setahun. Lagu yang diperuntukkan untuk mengenang leluhur dan pendahulu mereka yang menjadi korban bencana iklim. Lagu perjuangan penduduk bumi. Suara lembut Kinna menenagkan banyak orang, Tomia salah satunya. Suara berisik dari desa yang sekarat, berpadu dengan suara menenangkan milik Kinna, Tomia pun diantar tidur. Pikirannya mulai terbang. Menjauh, keluar dari ruangan besar itu, pergi dari daerah desa sekarat itu, memalingkan tatapan dari mayat-mayat bergelimpangan. Menjauh. Menjauh. Hingga hanya terlihat manusia-manusia kecil, api unggun, dan cahaya sirine. Hingga tidak ada lagi suara tangis dan erangan yang terdengar. Hanya suara napasnya, dan suara merdu Kinna.

Seperti biasa, Nirana menepuk-nepuk pipi Tomia menyuruhnya bangun. Sudah pagi. Sunyi. Suasana terasa lebih sunyi dari seharusnya. Seorang anak laki-laki membuka pintu gedung dan berjalan keluar, diikuti ratusan anak lain. Pemandangan yang begitu suram menyambut. Desa itu kini sudah kosong, menjadi desa hantu. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Suara sirine Ambulans, tangisan, dan erangan kesakitan sudah hilang. Meski begitu, masih belum ada yang cukup bersemangat untuk mulai bercakap-cakap. Saat itulah bel empat nada kembali terdengar, namun tidak berasal dari dalam gedung. Diikuti suara ting dari langit, dan muncul hologram raksasa bertuliskan  “SELAMAT”

Ting. Tulisan berganti

“ANDA TELAH BERHASIL MELEWATI SIMULASI PERUBAHAN IKLIM 2121”

Perkataan para alumni memang benar. Segera setelah tulisan tersebut memudar, tangisan pecah dimana-mana. Anak-anak saling memeluk. Dulu Tomia berpikir bahwa menangis setelah simulasi itu sedikit berlebihan. Mereka kan tahu kalau semua ini hanya simulasi? Tapi sekarang saat Tomia dan teman-temannya merasakan secara langsung, mereka tahu bahwa simulasi tidak semenyenagkan dan sesantai yang mereka kira. Semua bencana ini seakan benar-benar terjadi pada mereka. Bagaikan mimpi buruk. Dan sekarang akhirnya mereka dibangunkan.

Beberapa menit kemudian, setelah tangisan dan pelukan mulai reda dan digantikan canda tawa dimana-mana, Wali kota, guru-guru, para aktivis, orang- oang penting, dan semua yang terlibat dalam melancarkan simulasi memasuki ruangan. Musik yang indah dan menenangkan terdengar, dan orang-orang penting itu bertepuk tangan untuk anak-anak, dan diri mereka sendiri.

“Selamat, anak-anakku sekalian” walikota mulai berpidato di atas podium yang entah muncul dari mana.

“kalian telah berhasil menjalani simulasi perubahan iklim tahun ini. kegiatan yang sebenarnya kalian tunggu-tunggu. Namun saat menjalaninya kalian berharap agar cepat selesai. Dan saat selesai, seperti kata orang-orang, cara kalian memandang dunia akan berbeda. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu dua puluh hari demi kegiatan ini. Waktu tersebut tentunya tidak sebentar. Oleh karena itu, buatlah kegiatan ini menjadi hal yang berguna dan membekas pada diri kalian. Jangan biarkan sebukit uang yang kami habiskan tiap tahunnya, dan dua puluh hari kalian yang berharga menjadi sia-sia”

Wali kota berhenti sejenak. Berdeham “Silahkan duduk di rerumputan” ujarnya. Mereka yang sudah berdiri di atas bukit rumput luas mulai duduk, dan mengatur posisi masing-masing.

Walikota melanjutkan. “tentunya kalian sadar pesan apa yang ingin disampaikan oleh simulasi yang sudah dilakukan rutin selama hampir 40 tahun ini. Kalian anak-anak cerdas. Saya yakin. Hmmm, dulu simulasi dilakukan hanya kecil-kecilan dan sederhana dan belum dipraktekkan ke kurikulum pendidikan di seluruh dunia. Namun saat ini, kalian seolah bisa merasakan secara langsung apa dampak perubahan iklim baik yang pernah terjadi di masa lalu. Seperti banjir besar dan badai, kebakaran hutan, kekeringan panjang maupun gagal panen di banyak tempat di bumi, dan semalam kalian merasakan suasana desa Tilde. Satu-satunya orang yang selamat dari desanya, lalu menjadi relawan untuk di teliti dan menjadi bahan pecobaan demi menyelamatkan ratusan juta nyawa manusia. Karena Tilde lah, virus tersebut tidak sempat menyebar ke seluruh dunia” Hati Tomia kembali terguncang mendengar nama itu.

Walikota kembali berhenti. Memberi mereka waktu untuk melayangkan pikiran pada hari-hari simulasi. Kebakaran hutan terjadi pada hari ke sebelas. Api sengaja dibuat jauh dari anak-anak. Meski hanya rekayasa, hawa panas dan asap yang membuat mata pedas benar-benar dapat mereka rasakan. Tomia mengingat betapa saat itu semua anak-anak sangat terpukul saat melihat para penduduk tepaksa meninggalkan rumah dan kenangan mereka untuk terbakar, dan hewan-hewan terbakar hidup-hidup. Terutama Nanna. Malam itu tidak ada yang berselera untuk makan dan bersuara.

Kekeringan dan gagal panen dapat mereka rasakan sendiri karena pembatasan makanan. Dan tentang wabah, tidak ada yang ingin mengenang kejadian semalam. Kejadian yang paling menguras emosi selama simulasi.

“Maupun dampak perubahan iklim yang hampir terjadi seperti kota-kota yang tenggelam, matinya terumbu karang, punahnya hewan-hewan, dan kenaikan suhu hingga 3 derajat. Untungnya kalian hanya menjalani simulasi bagian itu sebentar saja.” Wali kota tersenyum.

Tomia menyikut Nirana. Nirana tersenyum malu namun juga menyiratkan pembelaan diri. “berarti aku peduli, kan?” maksud tatapannya. Sebagai anak yang terbiasa menyelam dan dekat dengan laut sejak kecil, Nirana paling panik saat hari ke lima mereka menyelam di laut simulasi- yang sebenarnya rendah, dan melihat karang-karang sudah memutih dan mati, dan ikan-ikan yang biasa bermain di antaranya tidak ada lagi.

“namun, bukan berarti hal-hal itu tidak terjadi. Ingat, sebuah kota di bawah khatulstiwa sudah tenggelam sebagian, dan bebapa kota lain juga. Objek wisata edukasi bawah laut itu masih ada hingga kini.”

Para pendengar mengangguk. Mereka sering mendengar tentang kota-kota ini.

“seratus tahun lalu, terumbu karang juga sudah mulai memutih. Seratus tahun lalu, bumi kita sudah mulai menunjukkan bahwa ia akan segera rusak dan mati. Namun kini, seratus tahun kemudian, kita hidup sejahtera dan aman. Kita masih bisa menikmati alam, gunung, hutan, laut dan salju.” Ruangan raksasa itu kini dihiasi ratusan senyum

“jadi, apa poin penting yang bisa kita pelajari?” ia bertanya, lalu menjawab sendiri pertanyaannya “ Seandainya puluhan tahun yang lalu, ketika kebakaran hutan terjadi dan pendahulu kita memilih untuk diam. Ketika es di kutub mulai mencair dan pendahulu kita pura-pura tidak tahu. Dan ketika virus purba bangkit, atau ribuan orang meninggal karena kelaparan dan dehidrasi, atau ketika orang-orang tersapu banjir bandang dan badai, dan pendahulu kita memilih untuk egois, lepas tangan, dan menolak untuk peduli,” walikota menunjuk-nunjuk dengan wajah  sungguh-sungguh.

“andai….” suaranya berbisik. Lalu matanya menyapu setiap sudut ruangan dan wajah anak-anak. “andai pada saat itu generasi pendahulu kita tidak mengambil aksi. Saya pastikan. Jika tidak punah, kita hidup dengan sangat menderita saat ini. Populasi manusia tidak akan sebanyak sekarang, dan hewan-hewan yang bisa kita lihat di kebun binatang, hanya akan bisa kita lihat gambar dan rekamannya. Tidak akan ada makan enak. Penyakit dan wabah dimana-mana. Udara yang kita hirup pun akan menyesakkan”

Ruangan itu senyap total. Ekspresi wajah wali kota kembali melunak

“oleh karena itu, mari kita pastikan agar tidak ada kota yang tenggelam lagi. Tidak ada hewan, rumah, dan hutan yang terbakar lagi. Tidak ada lagi karang yang rusak. Tidak ada lagi kekeringan. Tidak ada lagi Tilde-Tilde lainnya. Demi pendahulu kita, demi anak cucu kita, demi Tilde, dan jiwa-jiwa yang tersapu bencana perubahan iklim di masa lalu, demi bumi dan seluruh penghuninya, mari kita rawat rumah kita. Masa depan bumi, ada di tangan kita semua .Terima kasih” Walikota membungkukan badan, tersenyum dan kembali ke posisi barisan di belakangnya setelah menyalami beberapa orang. Gemuruh tepuk tangan berlangsung cukup lama.

Setelah kata-kata motivasi dan pidato lainnya, anak-anak dipersilahkan untuk mengambil barang-barang bawaan mereka yang memang sedikit. Lalu dengan teratur, anak-anak mulai keluar dari lapangan dan ruang simulasi raksasa menuju aula raksasa. Waktu berjalan begitu lambat saat perasaan sedang tidak sabar. Mereka hanya perlu menunggu sekitar lima belas menit namun rasanya seperti menunggu lima belas tahun. Obrolan pecah disana sini demi mempersingkat waktu.

“apa yang akan kalian lakukan setelah keluar?” Tomia memulai percakapan.

“mandi. Gel-gel itu menjijikan” jawab Toru, anak-anak lain mengangguk setuju.

“kembali ke laut. Aku rindu warna warni karang” timpal Nirana yang begitu terguncang saat melihat karang dan ikan-ikannya mati pada lima hari pertama simulasi.

“Aku akan makan banyak-banyak. Aku rindu masakan ibuku”

“Aku akan mengajak keluargaku ke kebun binatang minggu ini. Kalau kamu?” Nanna balik bertanya.

“kalau aku… yah aku akan melakukan semua yang kalian ingin lakukan. Tapi yang paling penting, sepertinya aku tahu akan jadi apa aku besar nanti”

Mereka semua tertawa. Tentu saja/mereka tahu mimpi seperti apa yang Tomia maksud. Itulah mengapa simulasi ini dilakukan saat mereka duduk di bangku kelas sebelas. Waktu dimana para siswa masih merangkai mimpi. Tidak jarang para peneliti dan aktivis lingkungan lahir dari kegiatan dua puluh hari ini.

“aku juga” timpal Nirana dan anak-anak lain.

Gemuruh celotehan di aula raksasa itu terhenti ketika gerbang yang membatasi mereka dengan dunia luar tebuka. Sorot matahari yang cantik mengintip. Hawa sejuk sehabis hujan menerpa ratusan wajah yang menatap dengan tidak sabar. Bukan main leganya mereka saat  kembali melihat pepohonan, dan bukit-bukit yang diselimutinya. Saat kembali menghirup udara segar, dan saat telinga mereka menangkap suara kicau burung. Yang menandakan bahwa mereka tidak punah. Yang menandakan bahwa bumi baik-baik saja.

Tomia membisikkan terima kasih. Entah kepada siapa. Mungkin kepada tuhan, dan para penduduk bumi beberapa generasi sebelumnya, atau yang bisa disebut, para leluhurnya. Ratusan kaki itu melangkah keluar, langkah pelan yang lalu berganti menjadi langkah cepat. Diiringi sorak sorai dan tawa senang, mereka mulai berlari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *