Cerpen #399 Sebuah Cerpen Heroik yang Gagal

Pada awal 2129 Masehi, ketika Presiden Jayanesia semakin gencar mengampanyekan program “Revolusi Intelektual”, sebuah program yang mewajibkan penduduk Jayanesia untuk menanggalkan organ dalam tubuh mulai dari jantung, liver, paru-paru, dan ginjal, untuk kemudian dipasang kembali pada robot seri 2-XX-2129 sebagai penadahnya—sebuah model robot yang digarap selama dua tahun oleh Institut Kemajuan Bangsa Jayanesia guna meminimalisir krisis ekonomi dan pangan, terjadi demonstrasi besar-besaran di halaman Istana Negara. Sepanjang hari di Jayanesia menjelma teror tak berkesudahan; kericuhan benar-benar tak terkendalikan; di halaman Istana Negara aparat membabat para demonstran yang enggan keluar dari barisan dan mengejar semua yang tunggang-langgang kelimpungan. Udara tak lagi steril. Uap gas air mata bercampur cairan gama htdroxybutyraye (C4H8O3) menjelma kabut, mengaburkan pandangan dan membikin pingsan ratusan demonstran. Di jalanan, mayat-mayat bergelimpangan tak ubahnya guguran dedaunan.

Beberapa kilometer dari situ, di sudut perpustakaan tua negara, sambil menyesap kopi meski tak lagi terasa nikmat di mulutnya, Eric Halid menyaksikan kericuhan tersebut melalui siaran langsung berita di tabnya, dengan bulu kuduk yang meremang dan peluh yang mengucur di dahi sekaligus dadanya.

Kendati dirundung kegelisahan, pemandangan tersebut, bagi Eric Halid, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Sejak satu dekade lalu, lebih tepatnya ketika ia masih asyik-khusyuk bergumul dengan buku-buku bertemakan ekologi di perpustakaan kampusnya, ia telah memperkirakan kericuhan tersebut akan terjadi. Melalui analisanya terhadap krisis iklim Jayanesia yang mencapai titik darurat, ia membuat beberapa hipotesis tentang pelbagai kemungkinan fenomena yang akan terjadi satu dekade ke depan. Dan analisanya yang cemerlang itu, hampir tidak meleset sedikit pun—untuk tidak menyebutnya sempurna.

Yang mengejutkan baginya—dan bagi hampir seluruh penduduk Jayanesia, tentu saja—adalah keputusan yang dipilih oleh Presiden Jayanesia di tengah kericuhan tersebut. Alih-alih mendinginkan suasana, kebijakan—atau bagi Eric Halid adalah kedunguan—yang disahkan pejabat pemerintahan Jayanesia justru membikin keadaan kian kisruh.

Semua bermula ketika pada 2126 lalu, melalui pidatonya di Hari Kesehatan dan Ketahanan Iklim Jayanesia, Presiden Jayanesia menggagas program “Revolusi Intelektual” guna meredam kritik-kritik yang dilontarkan para akademisi dan aktivis lingkungan terkait krisis iklim di Jayanesia yang berdampak pada krisis ekonomi sekaligus pangan.

“Setelah setengah abad yang lalu kita memisahkan diri dari bangsa Indonesia yang mengalami resesi ekonomi dan diboikot oleh mayoritas negara PBB karena tak mampu menanggulangi wabah Covid-19, kita mesti rela mengorbankan lahan pertanian kita yang tersisa tak lebih dari sepuluh ribu hektar luasnya. Seperti Indonesia, saat ini kita tak bisa mengharap bantuan pasokan pangan dari negara mana pun. Namun demikian, berkat kerja keras para ilmuwan dan insinyur kita, Institut Kemajuan Bangsa Jayanesia berhasil memproduksi jutaan robot seri 2-XX-2129 yang dapat digunakan oleh seluruh penduduk Jayanesia sebagai penadah organ-organ dalam tubuh kita.

“Dengan mengandalkan robot ini sebagai penadah, untuk ke depannya kita hanya perlu memanfaatkan minyak bumi kita yang tak akan habis sampai ratusan tahun yang akan datang sebagai sumber daya utama tubuh dan kehidupan kita. Untuk itu, mulai dari sekarang, dengan segenap cinta, saya wajibkan kepada warga Jayanesia untuk menggenapi Revolusi Intelektual ini! Bagaimanapun, kita mesti jadi bangsa yang mandiri!”

Dengan atau tanpa alasan, isi pidato Presiden Jayanesia yang berulang-kali disiarkan melalui berbagai media dan pada akhirnya membuat jutaan orang dari berbagai penjuru Jayanesia serempak turun ke jalan menolak gagasan revolusi tersebut, secara tidak langsung telah menyuratkan perubahan bentuk pemerintahan negara yang semula demokratik menjadi otoritarian.

Konon, menurut seorang filsuf, tragedi melulu berulang; pertama sebagai tragedi dan kedua sekaligus setelahnya menjadi lelucon. Tetapi tidak ada yang bisa dijadikan lelucon di Jayanesia. Sebab segalanya telah menjelma tragedi, begitulah pikir Eric Halid  beserta jurnalis senior Jayanesia lainnya yang turut memprotes gagasan revolusi tersebut. Meskipun mereka yakin bahwa usaha mereka menentang gagasan tersebut akan sia-sia belaka, mereka tetap melayangkan gugatan dengan menuliskan puluhan esai di media massa. Sebab mereka merasa perlu melecut semangat para demonstran yang bergelut di jalanan.

Dalam salah satu opininya, Eric Halid menyatakan bahwa “Revolusi Intelektual” yang digagas Presiden Jayanesia saat itu tak ubahnya upaya penyeragaman paradigma masyarakat yang kurang lebih satu setengah abad lalu gencar dikampanyekan oleh seorang diktator bengis bangsa Indonesia dengan dalih kemajuan serta pembangunan bangsa.

“Kita mesti menapaktilasi sejarah kelam bangsa Indonesia sebagai salah satu acuan utama sebelum menerapkan kebijakan-kebijakan publik agar bangsa Jayanesia tak terjerembap di lubang yang sama,”

Tetapi jalan yang ia pilih tentu bukan sama sekali tanpa resiko. Eric Halid sadar tulisan-tulisannya serupa peluru—atau mungkin bumerang? Entahlah—dan setiap peluru yang ia tembakkan, sejatinya hanya akan mengenai dirinya seorang.

***

Ketika kericuhan di hampir setiap penjuru Jayanesia, khususnya di muka Istana Negara tak terbendung lagi, bertentangan dengan yang Eric Halid harapkan—meski ia sudah menduga hal ini akan terjadi, Presiden Jayanesia memerintahkan ribuan polisi yang telah berevolusi menjadi manusia-setengah-robot untuk tidak hanya menangkap para demonstran yang membikin ricuh di halaman Istana Negara, tetapi juga memburu para jurnalis-jurnalis serta membredel puluhan media massa yang punya pengaruh besar, baik yang berbasis daring atau luring sekalipun.

Ini kali kedua nama Eric Halid masuk daftar utama buronan negara. Tiga tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya ia membaui sikap otoriter Presiden Jayanesia, ia menulis sebuah esai. Ia mengkritik rencana Presiden Jayanesia membuat Perppu yang berkaitan dengan undang-undang jurnalistik. Saat itu, dengan bahasa yang disamar-samarkan, Presiden Jayanesia berencana membuat suatu kebijakan yang dapat menginterupsi kebebasan pers. Usai melancarkan kritik tersebut dan tulisannya ramai diperbincangkan warga, ratusan surel dan pesan suara anonim masuk ke dalam tabnya. Kebanyakan pesan itu memiliki muatan yang sama: sebuah ancaman.

“Kau mulai gila, Bung.” demikian komentar Syaifudin Gozali saat itu, karib terdekatnya, dan satu-satunya orang yang menyapanya dengan sapaan ‘Bung’, setelah berhari-hari mendapat teror serupa di gawainya.

Sejak teror-teror tersebut berdatangan, keduanya meninggalkan kantor media tempat mereka bekerja sekaligus tinggal. Mereka memutuskan untuk menyewa sebuah rumah—dengan identitas palsu tentu saja—di bilangan Molokasi, tak jauh dari pusat Kota Eskolokarta dan bermukim di sana dua bulan lamanya.

Namun, sebagaimana telah keduanya duga, bahwa berpindahnya tempat tinggal mereka sejatinya tidak akan mengubah apa-apa. Berada di tempat tinggal baru, teror-teror baru pun berdatangan. Raut wajah tetangga atau siapa saja yang berada dekat rumah mereka, selalu mengundang rasa waswas. Keduanya merasa hidup di tengah barikade dalam sebuah medan peperangan, hanya mampu mengawasi apa yang tampak sejauh mata memandang, mencurigai hampir setiap gerakan-gerakan yang mengundang rasa curiga, seraya bersiap diri mencegah berbagai kemungkinan buruk yang akan datang; karena mereka yakin bahwa ratusan peluru dan puluhan granat akan sampai jua, namun mereka akan menghadapi hal itu meski tanpa informasi, tanpa aba-aba atau komando yang dapat memantau dan membantu mereka dari kejauhan.

Ketika hari silih berganti, dan waktu selalu terasa berjalan lamban—bahkan sesekali keduanya merasa bahwa waktu seolah-olah telah berhenti berputar, di tengah kegamangan itu, Syaifudin Gozali sampai pada titik jenuhnya. Ia muak menjalani hari dengan tidur yang tak pernah tenang, diiringi lapar yang tak pernah terpuaskan; sebab kendati dikelilingi makanan yang tampak nikmat semua yang ia makan selalu terasa hambar di lidah dan perutnya. Dan, sialnya, hal itu diperparah dengan tekanan darah dalam tubuhnya yang terasa kian meninggi tiap harinya. Maka sepanjang hari ia melulu mengeluhkan keadaan.

Tetapi berlainan dengan Syaifudin Gozali, Eric Halid tetap berusaha tenang menghadapi situasi itu. Bukan berarti sama sekali ia tak pernah mengeluhkan keadaan tersebut, namun ia adalah seseorang yang berpegang teguh pada prinsip. Ia telah siap menerima segala konsekuensi, meski tak jarang terbesit dalam pikirannya untuk menyudahi segala derita itu, lalu pergi dan bersembunyi di antah berantah.

Hingga tiba suatu hari, Eric Halid muak mendengar keluhan-keluhan yang dilontarkan sahabatnya.

“Aku ingin melakukan apa yang harus aku lakukan. Kalau kau takut, pergilah dari negara ini seperti yang dilakukan para jurnalis pengecut yang pernah bekerja sama dengan kita.”

Eric Halid tak pernah menyangka bahwa ucapannya tersebut menjadi semacam ucapan perpisahan terakhirnya dengan Syaifudin Gozali. Sebab sampai saat ini ia tak pernah mendengar kabar perihal keberadaan Syaifudin Gozali lagi. Laiknya perjumpaan pertama mereka, kepergian Syaifudin Gozali pun meninggalkan kesan misterius di benaknya.

Eric Halid ingat, suatu pagi saat sedang khusyuk membaca opini yang ia tulis dan kirimkan pada surat kabar ternama dengan nama samaran di pelataran tukang koran, seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.

“Tulisanmu bagus, Bung. Saya suka. Sangat bernas dan cergas. Panggil saja Syaifudin Gozali. Saya penggemar berat Anda. Boleh duduk?”

Eric Halid belum lagi sepenuhnya sadar atas keterkejutan itu saat seorang lelaki berdada bidang dengan raut wajah serta nada bicara yang ramah, yang memperkenalkan dirinya sebagai Syaifudin Gozali itu duduk di sebelahnya. Ia ingat betul, tak pernah memberitahukan pada siapa pun perihal nama samarannya. Ia punya puluhan nama samaran dan ia yakin tak seorang pun tahu bahwa nama-nama itu hasil gubahannya.

Tetapi Eric Halid seolah tak ingin ambil pusing saat itu. Ia bersikap sewajarnya dan mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Mulai dari bunuh diri para novelis terkenal hingga ekspansi Alien ke Bumi yang gagal empat dasawarsa lalu. Meskipun diam-diam, bahkan sampai saat ini, Eric Halid masih memikirkan kejanggalan pada pertemuan awal mereka tersebut.

Tentu saja ia pernah bertanya secara langsung pada Syaifudin Gozali terkait hal itu dalam beberapa kesempatan. Tapi selalu dengan mudahnya Syaifudin Gozali mengalihkan pembicaraan mereka, dan dengan mudahnya pula membikin ia tak memedulikan kembali pertanyaan-pertanyaan yang sejatinya terarsip rapi di kepalanya. Dan tak dapat ia mungkiri, dengan kepergian Syaifudin Gozali, daftar pertanyaan di kepalanya makin bertambah.

Namun kehidupan mesti berlanjut, dan perjuangan melawan pemerintah otoriter tak boleh berhenti, dengan atau tanpa Syaifudin Gozali, pikir Eric Halid. Bukan berarti ia tak bersedih dengan kepergian Syaifudin Gozali, tetapi perasaan cintanya akan bangsa Jayanesia jauh lebih besar. Pikirnya, seorang terpelajar memang mesti tabah menghadapi dilema semacam itu.

Akhirnya, sejak kepergian Syaifudin Gozali, Eric Halid mulai memikirkan tempat persembunyian yang aman. Ia merasa rumahnya sudah tak aman lagi. Semakin derasnya pesan-pesan teror yang ia terima tiap harinya, semakin ia ingin cepat minggat dari rumahnya. Dan pada momen-momen itulah, ketika ia mengerahkan segala pikiran cerdiknya untuk memikirkan tempat persembunyian di kota kecil ini, terlintas di benaknya kisah seorang proklamator Indonesia yang pernah sesumbar mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah merasa kesepian saat berada di penjara seandainya ditemani buku-buku.

Sebelum benar-benar memutuskan tempat persembunyiannya, dengan mengesampingkan rasa kecewanya, Eric Halid meminta saran kepada rekan-rekan jurnalisnya yang telah kabur dari daratan Jayanesia. Tetapi rekan-rekannya justru membalas pesannya lewat pesan singkat dengan pin-hologram-biru, yang berarti pesannya sangat rahasia dan hanya bisa dibaca oleh penerima pesan, dan menganjurkan Eric Halid untuk segera kabur dari Jayanesia. Alasan rekan-rekannya hampir seragam: karena keadaan di Jayanesia semakin tidak kondusif dan tak ada lagi ruang bagi seorang jurnalis dan tentu saja untuk keamanan serta keselamatannya.

Tapi Eric Halid tetap teguh pada pendiriannya.

Beberapa hari usai membaca pesan-pesan dari rekan jurnalisnya, Eric Halid telah memilih tempat persembunyian yang menurutnya akan sulit ditemukan oleh para polisi negara, baik yang telah berevolusi atau yang belum sekalipun. Karenanya, di dalam sebuah gedung di sudut kota Eskolokarta, saat ini, tanpa sedikit pun merasa gamam akan tertangkap, Eric Halid duduk bersantai ria membaca sebuah kumpulan cerpen karya penulis Indonesia berinisial SGA.

Gedung itu adalah sebuah perpustakaan tua milik negara. Di dalamnya tersimpan arsip-arsip tulisan beberapa abad lalu karya penulis-penulis belahan dunia. Di tempat itulah Eric Halid membaca arsip-arsip penting yang kertas-kertasnya telah meruapkan bau tak sedap dan membikin ruangan itu terasa sumpek. Dan di tempat itu pula ia berhasil menelurkan opini-opininya yang mampu memobilisasi massa untuk memprotes gagasan “Revolusi Intelektual” Presiden Jayanesia.

Tentu saja Eric Halid percaya bahwa ia akan merasa tentram memenjarakan dirinya di sebuah perpustakaan, tetapi itu bukanlah satu-satunya alasannya memilih perpustakaan sebagai tempat persembunyian. Bagaimanapun, ia telah meneliti sejumlah riset dari arsip-arsip kuno yang banyak mewartakan kabar bahwa sejak puluhan abad lalu sampai saat ini, dari berbagai daftar kelompok orang yang malas membaca, polisi selalu menduduki daftar teratas. Adapun alasan lainnya, dan yang terpenting, perpustakaan tua ini belum dilengkapi kamera pengintai dan hanya dijaga oleh seorang penulis tua—seorang ekspatriat Indonesia—yang telah lama menjadikan perpustakaan itu sebagai tempat tinggalnya. Maka di sebuah gedung tua, di tengah-tengah arsip kuno yang, ia percaya, baik Presiden atau bawahannya pun tak pernah menengoknya sepanjang hidup mereka.

Tetapi pertaruhan ini hanya masalah waktu. Jika Eric Halid beruntung, maka ia bisa tinggal untuk waktu yang cukup lama.

***

Tibalah malam itu. Suatu malam di mana saat asyik-khusyuk membaca cerpen-cerpen penulis Indonesia, tiba-tiba terbesit di benak Eric Halid untuk menulis sebuah cerpen. Ide itu melintas ketika ia baru saja merampungkan cerpen bertajuk “Pembunuhan” dan “Corat-Coret di Toilet”. Tanpa sadar, kedua cerpen itu berhasil membikin ia terobsesi menulis cerpen. Sebab, pikirnya, dua cerpen itu terasa begitu relevan dengan cerita yang ingin ia gubah selekas mungkin untuk kemudian ia sebarkan kepada para demonstran.

“Lagi pula tak ada salahnya seorang esais sesekali menulis cerpen,” batinnya.

Tak berlama-lama, ia mulai mengguratkan pena di tabnya. Ia berencana menulis kisah seorang diktator yang ditembak dari belakang oleh seorang aktivis oposisi yang menyamar jadi polisi bawahannya ketika sang diktator itu sedang terpaku membaca tulisan-tulisan subversif di tembok-tembok yang mengelilingi Istana Negara. Ia telah menemukan alur, latar, sudut pandang serta berbagai anasir yang ajek. Dan tak luput juga, ia telah mendapatkan gambaran tokoh-tokoh yang akan memainkan peran signifikan dalam cerpennya. Namun demikian, nahas baginya, semua itu seperti tak membantu pikirannya yang tiba-tiba saja membeku ketika ia hendak menuliskan paragraf pembuka.

Selagi ia masih berusaha untuk menulis kalimat pembuka cerpennya, tiga orang polisi manusia-setengah-robot mendobrak pintu perpustakaan tua itu. Ruang yang semula hening seketika bising. Langkah-langkah datang menghampiri jiwa yang resah. Lantai pualam beradu gesek dengan kaki-kaki aluminium, meninggalkan decit yang membikin telinga ngilu, juga tetes cairan yang tak sedap dihidu.

Tak lama kemudian, seorang di antara tiga polisi itu telah menodong senjata laser seri 9-P-2108 ke dahi Eric Halid yang tampak masih asyik-masyuk berpikir. Polisi itu berbisik dengan suara yang terdengar mirip desing pesawat terbang.

 “Sudah cukup menulisnya, Bung!” 

Di tengah keterkejutannya itu, Eric Halid hanya bergeming. Ia memandangi tiga polisi yang menciduknya. Ia merasa telah mengenali sesuatu, tapi ia luput. Kelebatan-kelebatan ingatannya serupa helai-helai benang yang kusut: tapi ia mencoba menarik sehelai. Dan sehelai ingatan yang melela di kepalanya adalah sepotong kalimat pembuka cerpennya yang belum lagi rampung, sepotong kalimat cerpen pertamanya, sepotong kalimat cerpen yang tak akan pernah bisa ia selesaikan:

“Pada awal 2129 Masehi, ketika Presiden Jayanesia semakin gencar mengampanyekan program ‘Revolusi Intelektual’…”  (*)

Serang,  2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *