Cerpen #398 Sebelum Sekolah

I

Apa aku harus juga menanggung segala sesuatu yang bahkan aku sendiri pun tak pernah melakukannya?

Langit kota ini tak pernah lagi terlihat cerah. Ia selalu murung dan muram. Ia kelabu seperti awan-awan mendung yang hendak menurunkan hujan. Namun anehnya, sepengetahuanku air tak pernah turun dari atas sana. Hanya beberapa kali saja dengan durasi yang cukup singkat. Itu pun ketika aku sedang tertidur dan hanya bisa mendapati tanah yang telah terlanjur basah. Menurut hasil pengamatan sederhanaku, warna langit akan cerah ketika kota ini ditinggal pergi oleh sebagian besar penghuninya. Misalnya saja libur panjang akhir semester, libur lebaran dan juga liburan di akhir tahun. Dan kalau sudah di hari-hari itu, hatiku sungguh senang sebab jalanan jadi sepi. Mobil, truk, bus, sepeda motor dan segala kebisingannya itu jarang sekali berlalu lalang.

Meski langit terlihat kelabu di atas sana, namun panas yang amat sengit terus menghantam kehidupan kami yang hidup di bawahnya. Kami sedang bertamsya dengan ibu guru. Ibu guru bercerita kepada kami semua bahwa panas yang menyengat ini karena bumi sedang memanas. Di bawah terik matahari yang kian menjangkit kulit dan terasa semakin cekit-cekit itu, bu guru juga bercerita bahwa bisa-bisa persediaan es yang berada di kutub utara dan kutub selatan lama-lama bisa mencair.

Selesai ibu guru menuntaskan ceritanya, temanku yang gemar makan langsung mengajukan keluhan. Ia takut jika tidak ada lagi es krim yang bisa disantap ataupun es jeruk yang bisa diminum sebab persediaan es di dunia telah mencair. Kami semua terpingkal-pingkal mendengarkannya. Lalu kami semua diajak duduk di bawah rindang pepohonan. Lalu ibu guru memberitahu kami hal-hal apa saja yang dapat membuat persediaan es itu meleleh. Lalu dari situlah masing-masing dari kami memiliki buku catatan dengan tulisan di bagian sampulnya:

“DEMI ES”

Kami berjanji bahwa setiap hari tidak akan berbuat hal-hal yang dapat membuat persediaan es di dunia ini berkurang dan mencatat setiap yang kami lakukakn di buku catatan itu. Kalau dirasa banyak hal-hal baik yang tercatat dalam buku-buku kami, maka ibu guru berjanji akan mengajak kami bertamasya dan berpetualang ke tempat baru lagi di akhir pekan. Oh ya, ibu guru juga punya satu buku catatan juga. Warnanya merah muda dengan stiker Doraemon di sudutnya.

II

Kemarin aku sarapan dengan menonton TV. Tentu saja yang kutonton adalah saluran yang menyiarkan berita-berita, sebab kakak pertamaku adalah seorang mahasiswa yang selalu sarapan nasi dengan lauknya adalah berita-berita di TV. Ia selalu menatap lekat-lekat layar TV itu sambil tangannya aktif menyendok nasi dan mengambil lauk tanpa harus melihat piringnya. Sesekali jari telunjuknya membersihkan nasi yang menyangkut di sela-sela kumisnya.

Telah banjir di kota A, dengan air yang mencapai hingga lutut orang dewasa⎯begitu yang kudengar. Jika air setinggi lutut orang dewasa, dan kakakku adalah orang dewasa maka mungkin tubuhku hampir sepenuhnya tenggelam jika aku berada di kota A. Lalu kudengar mulut kakakku berdecak, lalu menggumam, “kan kedaden!”.

“Air melaju cukup deras dan kini diperkirakan telah mencapai ketinggian hampir menenggelamkan seluruh rumah warga. Hingga saat ini dilaporkan korban yang hilang berjumlah lima orang dan yang meninggal akibat luapan air sungai ini berjumlah tujuh orang. Demikian yang bisa saya laporkan dari kota B,” begitulah kalimat selanjutnya yang kutangkap. Lalu kakakku membanting piringnya. “Kebacut! Inilah akibatnya kalau tidak mau mendengarkan. Sudah diberitahu kalau jangan menggunduli hutan! Masih saja ngeyel!” begitulah selanjutnya kalimat yang terlontar dari mulutnya. Tangannya kemudian menyambar ponsel yang tergolek di sampingnya. Lalu tangannya sibuk menari di atas ponsel itu dan tak lama kemudian ia mulai berbicara dengan seseorang di telepon.

Begitulah keseharian kakak pertamaku, seorang mahasiswa yang aktif sebagai seorang aktivis, dan sejauh yang kuketahui ia adalah orang yang berdiri paling depan di setiap gelaran acara demonstran. Dan setiap pagi adegan-adegan seperti itu selalu menjadi pelengkap sarapanku hingga ia sadar bahwa ia juga memiliki kewajiban untuk mengantarkanku ke sekolah. Kamarnya selalu terlihat penuh. Penuh dengan poster bandband yang ia sukai, poster bintang emas berlatar merah, buku-buku yang berserakan, spanduk-spanduk sisa-sisa, botol-botol bekas minuman bersoda, bungkus-bungkus mie instan, bungkus-bungkus kopi sachet-an dan abu rokok yang berceceran. Pemandangan itulah yang menjadi hal pertama yang menyambutku ketika membuka kamarnya selain bau apak yang menyeruak dari dalam.

Lain cerita dengan kakak keduaku. Ia selalu acuh dengan hal-hal yang ditampilkan TV meski ia sendiri yang menghidupkannya. Ia lebih suka menatap layar ponselnya. Kurasa ponsel itu tak pernah lepas dari genggamannya, seakan-akan ada lem yang teramat kuat yang merekatkan keduanya, dan setiap detik jari-jarinya selalu saja terlihat sibuk mengotak-atik. Ia akan berhenti memainkan ponsel jika teringat bahwa kewajibannya memasak sarapan bagi kami bertiga. Nah, kalau sudah lupa waktu seperti dua hari yang lalu, maka solusi terakhirnya adalah memesan makanan melalui ponselnya.

Sama dengan kakak pertama, kakak keduaku juga seorang mahasiswa dan baru menginjak di tahun kedua. Sama-sama kuliah di kampus yang sama, namun hal yang menjadi pembeda adalah kakak kedua sering terlihat berada di rumah. Aku selalu gembira ketika teman-temannya berada di rumah kami, karena yang kunanti adalah akan banyak ciki-ciki hasil sisa-sisa mereka ngerumpi.

Kalau masalah kamar? Dengan lampu yang selalu berkelap-kelip dari pagi ke pagi. Dengan boneka-boneka yang hampir memenuhi ranjangnya. Dengan botol-botol kecil yang memenuhi meja rias, yang selalu ia gunakan untuk wajah dan kulitnya. Dengan bungkus-bungkus ciki-ciki di meja belajarnya. Maka kurasa kamarnya masih terlihat lebih baik daripada kakakku yang pertama.

Bagaimana dengan tugasku sendiri selama di rumah? Sebagai anak bungu, aku hanya ditugaskan untuk memindahkan sampah-sampah yang berada di dalam rumah untuk dibawa keluar rumah sebelum aku berangkat ke sekolah. Pagi ini, tubuhku terasa lembap sebab matahari masih berselimut kabut. Dan pagi ini, aku melihat telah berjejer kantong-kantong sampah di depan rumah-rumah empunya, telah siap mengantre untuk diangkut oleh petugasnya. Dan pagi ini adalah hal yang mengherankan juga bagiku karena kurasa sampah-sampah di hari kemarin sepertinya masih menginap di sana. Ada yang tercecer terserak agak jauh menjorok ke jalan⎯dan untuk sementara dugaanku mengarah kepada ulah si kucing hitam liar yang suka lalu lalang di daerah ini.

“Kata anaknya sih, kemarin ia sakit, tapi paling tidak mbok ya ada penggantinya kek!⎯Ya itu jeng! Pagi-pagi gini harus lihat sampah. Jadi bikin risih saja!”. Begitulah yang kudengar dari omelan para tetangga di seberang rumah. Meski terhalang kabut tapi kurasa penglihatanku tak salah menangkap, bahwa kendaraan pengangkut sampah itu berdiri di ujung jalan sana. Jadi kutunggu saja ia lewat sambil menyerahkan uang kebersihan selama sebulan. Tapi lima menit yang telah berlalu, kendaraan itu masih saja berdiam diri di tempatnya sedang asap yang dihasilkan knalpotnya mengepul tak karuan dan telah berbaur dengan kabut sehingga telah sempurna menutup jalanan. Kuhampiri saja dengan segenap rasa penasaranku. Ketika aku semakin dekat dan lamat-lamat semakin jelas terlihat, pada akhirnya rasa penasaranku terbayar dengan kengerian yang terus menjelma sebagai mimpi buruk setiap tidurku di hari-hari berikutnya. Ia⎯dengan wajah pucat, dengan kedua mata lebar terbelalak menatap ke arahku, dan dengan mulut mangap megap-megap, perlahan-lahan meregang nyawa.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *