Cerpen #397 Keberanian Linda

Masa indah kehidupan kecil Linda benar-benar berubah 180 derajat dalam kurun waktu 1 jam saja. Ia yang selalu dipenuhi senyum kini harus bertarung sendirian. Bukan hanya ibu dan bapaknya, sahabat dan beberapa keluarga besarnya harus gugur secara bersamaan akibat peristiwa paling menggemparkan kala itu.

(2 tahun yang lalu)

“Beri dia minum cepat!” ujar salah seorang regu bazarnas meminta tim seregunya untuk membantu Linda yang terlihat linglung tak berdaya.

Dengan cepat Linda meminum habis botol berukuran 1,5 liter itu nyaris tanpa jeda. Bagaimana tidak? Sudah sekitar 10 jam ia terjebak direruntuhan rumah sembari menunggu bantuan datang. pikiranya terlintas ia tidak akan tertolong dan mati kedinginan sendirian di bawah beton besar yang memaksa untuk tidak melakukan apapun selain menunggu seseorang datang menemukannya.

Ia masih ingat dengan jelas pagi itu berjalan berjalan seperti biasanya. Anak-anak berkumpul dan bermain bersama, bercanda dan sesekali mengambil plastik bekas untuk dimasukkan ke dalam karung goni yang disiapkan orangtua mereka.

Linda sendiri tengah berdiri di depan rumahnya, sedang bapak dan ibunya berada tepat 700 meter darinya sambil membersihkan botol-botol yang sudah berhasil dikumpulkan. Ia bahkan sempat bertanya apa orangtuanya butuh bantuan, namun dijawab dengan senyuman dan gelengan kepala orang sang ayah.

“Tugasmu belajar. Urusan uang biar bapak.” Jawabnya singkat yang selalu terngiang dipikiranya…

Buku-buku besar itu terus saja dibacanya hingga menghitam. Ia pikir satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini adalah menjadi orang yang berpendidikan dan mencari tahu apa yang salah dari kasus yang dialaminya 2 tahun lalu.

Suara dentuman besar dari TPA tempat ia tinggal tentu bukan sesuatu yang timbul begitu saja. Ia yakin hal itu bisa diminimalisir bahkan dihindari jika seseorang berani bertindak atau mengambil langkah.

Keyakinan itu semakin kuat kala salah satu stasiun TV menayangkan peristiwa tersebut dan meminta pertanggungjawaban dari pemerintah. “Akibat Kelalaian Pemerintah” kurang lebih itu headline yang disampaikan dan ditangkap oleh Linda yang berumur 14 tahun saat itu.

Ia mulai mengumpulkan lembaran koran-koran dari 2 tahun lalu beserta buku-buku besar yang dipinjamnya dari balai pustaka besar di daerahnya. Matanya tertuju pada tulisan asing yang menarik perhatiannya ‘gas metana’.

Sekelibat ingatannya kembali kemasa dimana kejadian naas itu belum terjadi. Kumpulan sampah plastik, botol, bekas makanan, nasi, hingga popok bayi yang sulit terurai bergabung menjadi satu dan terus berdatangan setiap 6 jam sekali ke TPA tempatnya tinggal.

Waktu itu ia berpikir itu adalah hal yang wajar. Ia yang hidup selama 12 tahun dan berteman dengan sampah tentu berpikir tidak pernah ada hal lain diluar sana kecuali sama saja dengan apa yang ia lihat sekarang. Namun panti asuhan tempat ia tinggal sekarang bahkan memintanya menaruh bekas kue yang dimakan kedalam 2 tempat berbeda yang bertuliskan sampah organik dan non-organik.

“Gas metana bisa yang terus menerus ditumpuk dari sampah rumah tangga, bisa membuat ledakan berbahaya bahkan menyebabkan korban jiwa,” ucapnya sembari melihar gambar tumpukan sampah di dalam buku yang ia baca.

“Selain itu pemanasan global yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah plastik, maupun pembuatannya membuat kerusakan pada lapisan ozon.” Sebut Linda kini terlihat marah.

Bagaimana ia baru tahu akan hal ini setelah 14 tahun hidup? Mengapa ia baru mengetahui hal ini saat orangtua dan keluarganya menjadi korban dari kelalaian para manusia yang hidup di bumi? Matanya kini mulai berair dan memikirkan bagaimana seharusnya hal ini bisa ia atasi. Ia mencarik selembar buku tersebut untuk menunjukkan pada pengasuhnya di panti tersebut.

Hatinya berdegup kuat dan yakin mungkin ini jawaban yang selama ini dia cari. Alasan mengapa Tuhan membuatnya hidup sendirian. Ia pasti ingin aku memberitahukan hal besar ini pada semua orang.

“Bu Indah, lihat ini…lihat ini…” ucapnya setengah  berteriak.

“Ada apa Linda?” tanyanya sembari meminta untuk tenang. Diusapnya pala Linda sambil meminta sang anak untuk menarik nafas sebelum memulai ceritanya.

“Ini bu. Orangtua saya, saudara saya, teman-teman saya meninggal karena gas metana ini bu. Ini yang membuat suara ledakkan dan merusak masa kecil saya. Sampah ini yang merusak semuanya bu.” Isaknya cepat tanpa henti.

Ibu Indah segera memeluknya erat. Usapan tangannya pada kepala Linda kini makin kuat. Beberapa kali juga ditepuknya pundak Linda untuk membuat sang anak merasa aman.

“Ia Linda. Tidak apa-apa Linda boleh menangis sekuat dan sepuas yang Linda mau.” Sebut bu Indah. Beberapa anak juga lalu lalang mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada kakak tertua mereka di panti tersebut yang langsung dihalau bu Indah.

“Beri kakak dan ibu waktu ya sayang.” Ucapnya pelan sembari membawa Linda menuju ruangan terpisah. Ditatapnya wajah anak kecil itu sembari berkata, “Banyak hal yang terjadi dari Tuhan dengan maksud baik Linda sayang. Meskipun semua ini telah berlalu, ayok kita lakuin hal kecil yang bisa membuat Linda senang. Ibu janji bakal bantu Linda untuk mengabarkan kepada orang-orang sekitar tentang bahaya dari hal ini. Kita bakal mulai ketika Linda siap.” Ucap bu Indah kemudia memeluk Linda.

“Aku bakal membuat orang-orang sadar akan hal ini. Membuang sampah sembarang dan tidak mengolahnya dahulu bisa menghilangkan nyawa orang lain, dan mereka semua harus tahu itu.” pikir Linda dalam hati.

Sembari kembali ke kamarnya, Linda membawa salah satu buku pengolah sampah. Diselipan buku tersebut diletakkanya foto orangtuanya. Janjinya kini semakin bulat, “Sampah akan menjadi musuh besarku. Siapapun yang melakukan kesalahan yang sama, tidak akan aku tinggal diam.” Ujarnya dalam hati.

Sejak itu, saat anak-anak seusianya sibuk berkumpul dengan kawan-kawan atau bermain bersama, Linda sibuk membagikan hasil kompos sisa tumbuhan dan nasi kepada para petani secara gratis dengan syarat mereka akan membuatnya sendiri dari sampah rumah tangga yang dihasilkan.

Linda juga mempelajari cara membuat kerajinan tangan dari botol bekas bersama anak-anak panti asuhan yang dijualnya setiap minggu dalam acara car free day. Beberapa orang kini mulai menyebutnya sebagai anak ajaib pembawa perubahan. Ia juga melakukan kerjasama dengan kepala desa didekat panti asuhannya untuk menanam buah anggur yang dipelajarinya dari pak Asep, tetangganya yang berhasil membuat tanaman anggur sehat dan manis.

Tidak perduli apapun yang orang lain lakukan, Linda tidak akan gentar. Ia sudah meletakkan dalam nadinya bahwa hal dahulu yang ia alami, tidak akan terulang kembali sebagai pengingat kasih sayang orangtuanya.

Kini Linda benar-benar mencapai apa yang ia mimpikan. Ia bahkan dipanggil menjadi salah satu pembicara terbaik untuk membahas tentang isu lingkungan. Saat naik kepodium dan memegang pengeras suara ia tersenyum sembari berkata, “Perubahan tidak terjadi secara instan. Hal itu dimulai dari dirimu sendiri. Jika ini menjadi mimpimu, jangan pernah ragu untuk terus berjalan apapun risikonya…”

Selesai mengutarakan pikirannya, ia kembali duduk dan tersenyum. Dipangkuannya masih terlihat jelas buku pertama yang dibacanya lengkap dengan selipan foto orangtuanya. “Aku berhasil, mak, pak.” Ucapnya lirih sembari tersenyum lebar.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *