Cerpen #396 Sahabat Bangau

“ Bapakmu mau rapat lagi dengan burung putih yang jelek itu?”

Pertanyaan itu mengubah keheningan menjadi tawa yang semarak. Bahkan sangking lucunya, empat orang murid laki-laki memukul-mukul meja.

“ Saya sudah bilang itu tanah kami!”

“ Halah! Sok kaya! Huuuu” lagi, selongsongan caci dan tawa terlepas dari mulut tuan-tuannya.

Lelaki yang menjadi bahan tertawaan itu tetap terdiam. Bukannya tidak bisa berkelahi, ia paham betul apa yang terjadi jika berubah menjadi singa, diantara rusa yang mengerumuninya. Setengah auman sudah ditahan dalam genggam dan kernyitan dahi, ketika suara bell masuk bagaikan badai yang membubarkan peristiwa pagelaran tawa itu.

Kelas pada awalnya dimulai dengan hening dan hikmat. Hari ini mereka belajar tentang simbiosis dan peristiwa alam. Tak butuh waktu lama hingga sebagian murid paham betul, bagaimana mencari celah untuk meramaikan lagi panggung itu.

“ Ibu izin bertanya!” ucap siswa laki-laki yang selalu membuka acara dengan antusias.

“ Ya, silakan Edo”

Semua sudah mengambil ancang-ancang, ada yang sudah menutup mulutnya, mengepalkan tangan, dan satu-satunya dari mereka diam menunduk.

“ Kalau bapak si Beni yang suka berbicara dengan burung bangau, termasuk simbiosis apa Bu?”

Sorak tawa berdentum kembali. Sang guru geografi bahkan tidak bisa meleraikan lebih dari 30 anak di kelas itu.

“ Simbiosis Mutualisme Tolol!”

Tawa berhenti dan semua mata menuju tajam pada seorang siswi berperawakan sangar. Edo yang merasa terhina, memelototi siswi pindahan yang baru sampai kemarin pagi. Nyatanya perempuan itu bukan pendiam, ia hanya mengamati sebentar. Siswi itu merasa puas atas sikapnya, namun kata terakhir cukup membebani.

“ Tapi aku memang cukup penasaran loh,”

“ Tentang apa?”

“ Itu, apa Bapakmu memang bisa berbicara dengan bangau?”

Beni tersenyum. Pertanyaan ini bukan olokan, hanya kepolosan seorang Dayu, siswi yang berani menjawab sang pengusik Edo dan secara ajaib menjadi temannya. Hari ini mereka memutuskan untuk makan di kantin sambil bercerita satu sama lain.

“ Bukan hanya burung bangau, bapakku suka mengerti dengan binatang, tumbuhan, hanya satu yang sampai sekarang tak masuk akalnya.”

“ Siapa?”

“ Manusia..” Beni berusaha menghindari tatapan dari Edo di meja sebelah. Kali ini cemooh Edo bias, terdistorsi oleh kekesalan Dayu. Tentu Dayu anak yang pemberani.

*)

Teriakan itu terdengar lagi. Malam yang seharusnya nyenyak terpaksa terjaga. Beni satu-satunya orang yang bisa menahan amukan bapaknya. Sambil melihat sang ibu yang mengintip dari balik pintu dengan cucuran air mata.

“ Sudah bapak! Sudah!”

“ Kita harus kabur nak!, kita harus pergi ke hutan!”

“ Buat apa? disini sudah nyaman Pak!”

“ Kau mau tertimbun? Orang-orang serakah itu akan kubur kita kalau terus disini!”

Puluhan kali sudah, Beni mendengar kata yang sama dari Bapaknya. Dengan keteguhan hati ia berusaha keras mengucapkan lagi kalimat penenang,

“ Sudah Bapak, sudah ya, besok ceritakan dengan bangau..”

Amukan itupun reda.

Keesokan pagi Beni bangun kesiangan. Tidak ada yang tega membangunkannya karena tau semalaman ia menjaga Bapak. Saat terbangun, ia sudah mendengar suara perdebatan dari ruang tamu. Ia bergegas untuk melihat apa yang terjadi.

“ Sudah berapa kali saya bilang kalau untuk berdebat, silakan cari orang lain saja jangan kami!”

“ Nak! Beni! Jangan begitu pada tamu!”

“ Oh Beni..sudah bangun nak? Kami tidak berdebat hanya berdiskusi sebentar saja..?

“ Tentang apa? pembabatan habis pohon-pohon penyangga tanah di desa ini? Pembelian lahan persawahan untuk digali sebagai tampungan sampah limbah ?”

“ Ah dasar Kampung! Pikiranmu yang lambat itu buat daerah ini tidak maju!”

“ Buk!” amarah itu menyisakan sedikit luka di tangan Beni. Ia meninju meja sebagai pertanda, bahwa tak patut isi otaknya diremehkan.

“ Lihat saja, seisi dunia ini pun tahu siapa yang waras diantara kita. Karena kebodohanmu, segunung nikmat tak akan bisa kau dapat!” tiga orang pemuda berbaju kemeja itu pergi tanpa permisi.

Beni menenangkan dirinya dengan duduk di kursi teras. Ibunya hanya mengelus dahinya yang semakin mengerut. Masalah ini sudah terlampau berat baginya.

“ Bagaimana nak? Kita serahkan saja? Toh juga yang dijaga sudah tidak penting..”

“ Ibu bisa jelaskan padaku dimana titik kebaikan dari rencana proyek itu?”

“ Sebuah lapangan pekerjaan! Menjadi petani dan harus jauh pergi ke kota untuk bekerja akan hilang dari kehidupan desa ini.”

“ Iming-iming yang sama. Kampung sebelah yang sudah hilang, apa perlu aku ceritakan lagi pada ibu? Bahkan rumput liar tak sudi mengakar di tanah itu!.”

Beni beranjak dan mengambil topinya.

“ Mau kemana Ben?”

“ Mau bertemu Bapak!, mau mendiskusikan ini dengan Bangau!”

Pagi yang menjelang siang itu terlampau terik. Sang Ibu menyipitkan matanya untuk terus berusaha melihat Beni yang semakin menjauh.

“ Tuhan tolonglah kami sekali lagi..”

**)

“ Empat Milyar?!!”

“ Ssst.. Jangan ucapkan keras-keras Ben!”

“ Bagaimana bisa ayahmu menghasilkan kekayaan sebegitu banyak hanya dalam waktu dua setengah bulan?”

“ Membunuh mahkluk hidup..”

“ Ha?!! Kriminal, ayahmu kriminal kenapa tidak dipenjara??”

“ Haduuh.. susah.. dia bukan membunuh manusia. Lagipula perilaku itu tidak pernah ditunjukkan secara terang-terangan.”

Beni terlampau serius mendengarkan cerita Dayu, sampai-sampai ia lupa menghabiskan setengah mangkok lagi bubur kacang hijau yang mereka pesan.

“ Dengar Ben, menurutmu tindakan memakan kacang hijau itu kriminal?? Tidak kan, padahal itu adalah makhluk hidup juga. Namun semua itu harusnya memiliki batas. Tanpa adanya pengembangbiakan dan pelestarian, planet ini akan runtuh!!”

Bel lalu berbunyi lagi, Dayu menyodorkan selembar pamflet berwarna dominan hijau. Di halaman depan tertulis dengan besar “KLUB BURUNG BANGAU”.

“ Cepat habiskan buburmu itu! Kau akan menjadi wakil ketua di klub ini, oke. Burung bangau adalah keajaiban.”

Mau tak mau bubur itu harus segera habis.

Hari-hari selanjutnya disuatu sore sepulang sekolah, Dayu sibuk mencatat setiap kata yang terucap terpatah-patah dari burung bangau yang asik menuntun gerombolannya menyusur tanah bajakan sawah dengan mesin.

“ Untuk apa lagi kau memanggilku?”

Mata wanita itu berbinar. Ia yakin pasti ada harapan atas semua usahanya ini.

“ Maaf Pak Bangau yang terhormat. Sudah 2 tahun saya merencanakan ini. Bagaimanapun saya harus membuat tuan raja berhenti mengusik tanah kalian..”

“ Tuan Raja? Itu Ayahmu!”

“ Ya Benar. Tapi bukan ayah yang menunjukan hal-hal baik.”

Seorang lelaki yang sejak tadi sibuk memperhatikan roda mesin pembajak itu menghampiri Dayu yang memaksa bangau itu membuka mulut.

“ Burung bangau bisa terbang. Jika tanah yang disini rusak, ia akan pergi ke hilir atau kembali ke hulu”

“ Mereka tidak bisa membawa manusia “

“ Manusia-manusia yang tidak perduli akan berlari dengan kakinya saja.”

“ Sedang saya perduli Pak. Rencana ini harus berhasil..”

“ Sudah dua tahun.. anakku tak akan suka. Beni itu bisa menjelma hujan asam atau retakan tanah. Kalau kau tidak berhati-hati”

Dayu mengambil sebuah amplop besar yang sepertinya terbawa waktu sejak lama. Amplop itu bahkan tak dijual lagi di masanya kini.

“ Kau masih menyimpan itu ?”

“ Harapan terakhir. Jika banjir bandang yang akan membalas perbuatanku. Maka biarlah hanya aku yang menanggungnya. Warga desa ini harus mencapai puncak.”

Lelaki dengan garis wajah yang tegas itu hanya bisa prihatin dan bersedih.

“ Ini bukan salahku. Aku mengiyakannya karena didesak. Tapi Beni kabur membawa surat tanah ini. Menurutmu apa rumahku yang dulu bisa kokoh lagi?”

“ Saya akan bawa ini pada komunitas. Selanjutnya ke lembaga yang lebih besar lagi. Setidaknya, rumah Bapak tidak akan hancur untuk kedua kalinya”

Dayu berlari menjauh dari kerumunan Bangau dan daerah persawahan. Keputusannya sudahlah pekat. Tiada lagi yang mampu menarik ulur. Barangkali alam akan beri ia imbalan yang tepat. Besok semua akan terungkap.

***)

( Pukul 08.00 Pagi sebelum acara peletakan batu pertama dimulai )

“ Aduh Dayu. Ini hari rabu dan kita membolos kelas ? Apakah club ini memiliki visi mencari poin penalti ?”

“ Ya. Aku sudah berharap kau berhenti dan pulang ke kelas. Tapi selama kau mengomel, selama itu pula kau tetap disini.”

“ Aduh bukannya aku ingin, tapi takut untuk kembali sendiri…”

“ Yasudah. Tetap bersamaku saja sampai ini selesai.”

Ponsel Dayu berdering. Informasi mengenai hujan badai itu muncul lagi hari ini. Ia menatap hamparan pemukiman dan sebuah lahan kosong yang amat besar. Semuanya berwarna tanah. Tandus  mengering.

“ Lihat Beni, lahan-lahan itu dulunya berwarna hijau. Ada pohon yang berusia puluhan tahun, pohon-pohon muda bahkan baru menjadi tunas. Namun demi kesejahteraan katanya, tak usai seminggu mereka habis dibabat.. hanya tersisa lahan sawah dan perkebunan ayahmu.”

“ Saudaraku, perkampungan itu, termakan janji manis pula. Mereka tak menyisakan rasa sakit hati atas pemusnahan pohon-pohon dan tanaman tak bernama itu.”

Dayu mengecek lagi ponselnya. Siapa yang menyangka orang-orang akan berani bertindak setelah sekian lama karena ulahnya.

“ Beni, aku adalah putri satu-satunya ayahku. Akan sama seperti induk pohon pada tunasnya, ia hanya akan menua tanpa penerus.”

“ Apakah kau ikut bersama kami?”

“ Senang mengenalmu. Cuaca di pekarangan rumahku tak pernah lusuh. Bangau selalu mengigatkan bahwa suatu saat aku akan benar-benar berteman dengan mereka.”

Ponsel itu berdering. Tampak muncul kotak dialog kecil yang berkedip-kedip. Dayu sadar alam sudah memanggilnya. Dari kejauhan para pemuda berseragam mulai rusuh menggumam dan berbisik satu sama lain.

Hampir sepuluh menit, langit dan awan sudah berkompromi agar hujan hari ini jauh lebih hebat dari kemarin-kemarin. Beni menatap lurus pedesaan kecil itu. Pada akhirnya burung bangau yang sering menemani ayahnya membajak sawah sudah terbang menjauhi desa itu.

Satu orang hebat, mampu membutakan perasaan sanak saudaranya, atas pentingnya kelestarian alam di muka bumi ini. Seharusnya mereka tumbuh bersama.

Proyek pembangunan itu akan dimulai kembali dibawah hujan deras yang sudah melanda. Seorang bos besar memantau dengan wanti-wanti. Akankan mereka selamat di pekerjaan kali ini?

“ HENTIKAN PEMBANGUNAN! INI SEMUA HANYA KEBOHONGAN! HABIS MANIS SEPAH DIBUANG!”

“ TIDAK ADA PEMBANGUNAN! ITU HANYA KEDOK UNTUK MENGURAS HABIS PEPOHONAN!”

“ PARASIT! PARASIT! PARASIT!”

Dayu dan Beni ikut dalam demonstrasi itu. Orang-orang yang berhasil dia kumpulkan selama bertahun-tahun akhirnya berani unjuk suara, setelah mengetahui siapa dibaliknya. Bos besar hanya tertawa dibalik teropongnya.

Lalu kemudian tanah tempatnya berpijak menghasilkan getaran dan gemuruh.

“ Ah tanah miring sialan!” sumpahnya.

“ Bos bagaiman bos? Dilanjut saja ini?”

“ Kau pikir wajahku menyuruhmu untuk berhenti Hah?! Lanjutkan ! Aku senang melihat rakyat sok tahu itu menjerit-jerit melawan suara hujan HAHAHAH!”

Ia kembali memantau lagi dibalik teropongnya. Mencari sudut pandang yang tepat hingga menemukan wajah yang mirip sekali dengannya.

“ BLAR!!” barangkali itu kali terakhir ia memandangi peristiwa ini.

**

Ayahku pembajak kayu sejati. Ia tahu nama, usia, dan kelebihan kayu-kayu itu hanya dengan menyentuhnya. Sejak kecil kursi-kursi kami menjadi bahan obrolan tamu-tamu kaya. Dia selalu berkata, semua kekuasaan ini terlahir dari sebuah kapak usang yang tajam.

Ia akan berpergian ke berbagai tempat di antah berantah. Kemudian berteman dengan peri-peri hutan. Menggoda lalu menguras hartanya. Kayu-kayu tua beserta tunas tumbuhan muda. Kemudian kayu yang buruk rupanya akan dijadikannya sebuah pabrik besar. Sedang kayu-kayu yang ia inginkan akan pergi dan hilang tanpa meninggalkan keturunan di bekas tebasannya.

Pabrik yang dijadikannya sebagai jaminan pada akhirnya akan kosong dan menjadi santapan jutaan rayap. Peri-peri itupun kehilangan segalanya.

Suatu hari aku bertemu dengan peri laki-laki dan ayahnya. Mereka bisa berbicara dengan burung bangau! Sayangnya karena ayahku menginginkan pohon emas tempat mereka tinggal, tanah menimbun dan membunuh mereka.

“ Hai namaku Beni..”

(2 Bulan setelah peristiwa longsor)

Seorang pengekspor kayu berkualitas sedang menjalani sidang kedua. Ia menjadi tersangka atas terbunuhnya sebagian dari peserta demostran dan masyarakat desa yang tidak beruntung atas penghakiman alam pada rasa sakit yang ia derita. Peristiwa yang sama juga terjadi dua tahun lalu di desa yang cukup jauh dari tempat itu.

“ Menyedihkan, akhirnya aku bisa membawa kalian terbang. Kita akan temukan kejadian yang sama diberbagai belahan bumi ini” Ucap burung bangau pada Dayu, Beni dan Ayahnya.

Siapa yang menyangka, Dayu,  putri yang akan meneruskan perusahaan ayahnya menjadi korban pada longsor hari itu.

3 thoughts on “Cerpen #396 Sahabat Bangau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *