Cerpen #395 Sumur Tua

Aku sering menemani ibuku menanam bawang di ladang milik ayah. Nyaris setiap hari aku menemani ibu berladang. Aku berangkat bersama ibu pada pukul 05:30 dan ibu mengantarku pulang pada pukul 07:00 karena ibu tahu aku kelelahan dan kepanasan. Aku merindukan hal-hal itu. Aku merindukan ibu.

…__…

Terima kasih telah menghubungiku. Kabarku baik-baik saja. Keadaanku sangat baik daripada tahun lalu. Sangat baik. Aku harap demikian denganmu. Oh ya, kini aku tinggal di Apartemen Bima di Gang Tulip dekat Bakso Pak Rum yang kita pernah makan bersama. Aku ingat sekali ketika terakhir kali kamu mengunjungi kotaku dengan membawa bingkisan dari desa yang membuatku mengingat-ingat tahunku yang jauh. Tahunku yang penuh kebahagiaan bersama ibuku. Namun, sekarang aku sedang tidak ingin membahas itu. Bagaimana kabar Wira? Apakah ia sudah bisa memakai baju sendiri tanpa bantuanmu? Apakah olesan mentega ke rotinya sudah rapi? Terkadang aku merindukan anak itu. Aku kangen menciumi harum bajunya sepulang ia dari sekolah.

Dua tahun sudah berlalu ketika kamu menjengukku. Ketika itu, aku sedang diterpa badai besar. Ya seperti engkau tahu, badai besar senantiasa menungguku di bulan-bulan terakhir di setiap penghujung tahun. Entah mengapa badai besar senantiasa menyerangku ketika aku sedang ingin bahagia dalam melewati pergantian tahun. Entah.

Aku ingat ketika kamu menyodorkan koran harian dengan headline “Harga Tanah di Desa Sudah Gila” di hari kamu menjengukku. Entah mengapa di hari kamu mengunjungiku kamu menyodorkan koran dengan headline demikian.

…_…

Bi Eem adalah perempuan baik hati lagi sabar yang pernah kujumpa. Bersama Paman Ari, Bi Eem membesarkan Arya dan merawat ladang warisan Kakek Rifai. Di kampung kami, sudah biasa bila perempuan juga ikut bekerja di ladang. Kampung kami menerima pembaruan zaman, namun kekeuh mempertahankan nilai lama. Di kampung kami tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan kecuali pada tutup kepala yang dipakai ketika berladang. Seringnya, ibu-ibu memakai capil, sejenis anyaman rotan berbentuk kerucut dengan diameter 20an senti. Sedang bapak-bapak lebih nyaman memakai topi dan menutupi topinya dengan kaos yang sudah tak dipakai lagi.

Setelah menjalankan ibadah salat Subuh, kami berangkat menuju ladang yang 15 menit perjalanan mengayuh sepeda. Aku senantiasa dibonceng ibu untuk menuju ladang ayah, sedang ayah akan bersiap menuju tempat kerjanya di tengah kota. Sementara ayah menuju kota, aku dan ibu menuju ladang. Jarang sekali ayah mengunjungi ladang seperti ibu, mungkin hanya ketika bawang sudah masak, ayah bertemu dengan beberapa orang dewasa, mereka bertemu untuk saling bersalaman ketika hendak pulang. Aku menuju ladang bersama ibu,  Bi Eem,  Paman Ari serta Arya dan banyak orang kampung lainnya. Setelah sampai ladang, ada Paman Maji yang sudah menunggu kedatangan kami. Paman Maji adalah orang kepercayaan ayah untuk membantu kami menanam bawang. Sementara orang-orang mulai bekerja terhadap kebunnya, seperti biasa, aku dan Arya akan bermain di tepian ladang dengan anak-anak lain. Sebenarnya, ini adalah tujuan kami mengikuti orang tua kami ke ladang, bermain di ladang.

Kami bermain di ladang milik Haji Marbun yang jarang dirawat, mungkin dua minggu sekali ada orang yang membersihkan rumput yang meninggi. Kami semua diperbolehkan untuk bermain di sana, namun para orang tua benar-benar melarang kami untuk mendekati sebuah sumur tua di dalamnya.

“Jangan dekat-dekat sumur ya, nak, kalau main. Nanti ada yang nganggu,” ibuku senantiasa berpesan kepadaku sebelum bermain.

Namun, Ardi, temanku satu ini, teramat pemberani. Hampir segala hal yang menjadi pantangan di kampung kami, ia melakukannya. Seperti halnya kami senantiasa dilarang pulang magrib, Ardi sering melakukan. Lain kali dilarang kencing di dekat rumah kosong, ia melanggarnya. Kali ini, sebelum permainan kami, yakni petak umpet, Ardi berseoloroh,

“Apakah dari kalian tidak ada yang berani mendekati sumur tua itu? Ha ha ha, pengecut-lah.”

Nyaliku menciut. Aku takut. Takut ketika Ardi akan menantangku mengunjungi sumur tua itu satu persatu. Itu yang sering Ardi lakukan dalam pertemanan kami, menantang melanggar larangan para orang tua.

Benar-lah. Ketakutanku terjadi. Sebelum permainan dimulai, Ardi kembali berseloroh,

“Akan aku mulai permainan ketika satu persatu dari kalian berani menengok sumur tua itu. Kalau tidak, akan kulaporkan kalian semua kepada para orang tua bila kalian telah melanggar larangan menengok sumur tua. Ha ha ha, lelaki kok penakut.”

Aku takut. Aku menjerit. Aku menangis. Semua itu hanya bisa kulakukan dalam hati. Aku malu. Malu dengan kelaki-lakianku bila tak menuruti perintah Ardi.

“Arya! Sekarang giliranmu. Sebentar lagi kau, Mam!”

“Ardi, bolehkah aku dan Arya menengoknya bersamaan? Itu akan mempersingkat waktu.”

“Apa? Kau tak berani, Mam, menengoknya sendiri? Akan kulaporkan Imam kepada para orang tua bila ia sudah menengok sumur tua itu. Ha ha ha.”

Hatiku amat kalut. Aku ingin berontak. Tapi Ardi dengan tubuhnya yang besar bisa saja menghajarku saat ini juga. Aku takut.

Rian adalah anak pertama yang menengok sumur tua itu. Dia lari terbirit-birit setelah menengoknya. Raut mukanya sangat pucat sekembalinya ke gerombolan kami. Mungkin, itu adalah kali pertamanya melanggar aturan orang tua. Menunjukkan bahwa ia benar-benar mematuhi aturan orang tua.

“Arya, giliranmu!”

Arya melenggang tenang menuju sumur tua Haji Marbun. Ia berbisik kepadaku,

“Jangan takut, Mam. Kau hanya butuh menutup mata ketika sampai di sana tanpa sepengetahuan Ardi.”

Arya kembali dari sumur dengan raut muka yang sangat tenang. Seperti tak merasa bersalah telah melanggar aturan orang tua. Namun, bukankah dengan cara itu kita bertahan dari Ardi?

Akhirnya kini giliranku tiba. Aku harus berani melalui ini. Aku hanya butuh untuk berjalan 10 langkah dan menutup mata ketika sampai tanpa sepengetahuan Ardi. Ya. Aku pasti bisa.

Pada langkah ke delapan, aku mulai sedikit memicingkan mata. Langkah ke sembilan; aaa aku takuuut. Langkah ke sepuluh; rasanya, mataku tak bisa kututup. Aku melihat isi sumur tua itu. Ibu, aku takuuut.

…_…

“Halo, apakah ada orang di sini?”

Sontak aku terbangun dengan suaramu. Sudah lama tak mendengarnya.

“Halo, apakah ada orang?”

“Sebentar. Silakan!”

“Baru bangun?”

“Aku kelelahan semingguan ini. Biasa, aku menggunakan hari Minggu untuk tidur.”

“Kau tak mendengar kabar dari kampung?”

“Ada apa? Aku sangat sibuk akhir-akhir ini.”

“Harga tanah semakin tinggi. Kau ingat tanah Haji Marbun yang berada dimana- mana itu? Sekarang anak turunnya memasang harga yang lebih tinggi. Gila, kan?”

“Bukankah itu yang sekarang terjadi dimana-mana? Lantas apa yang gila?”

“Huf, selalu menyebalkan ngobrol denganmu.”

“Mm, maksudku, bukankah fenomena demikian sudah dilakukan oleh para orang kaya di berbagai tempat? Mereka menganggap propertinya sebagai bisnis yang menggiurkan. Mereka tidak sama sekali menganggap itu sebuah tanah.”

“Ini ada koran untukmu. Tadi aku mengambil di lobi.”

Mantan istriku, seorang tenaga pendidik di sebuah sekolah, datang mengunjungiku di kota. Di tempatku kini tinggal. Di pagi yang segar ini ia membawakanku sebuah koran pagi yang mengabarkan bahwa orang-orang sudah mulai kehilangan akal perihal harga sebuah properti. Di negara di mana proses industri yang tidak terstruktur dengan baik hanya akan melanggengkan kesenjangan yang mengerikan ini.

“Sudah sarapan?”

“Belum. Di kulkas ada roti dan selai. Sebentar.”

Aku mengambil roti, selai, dan secerek air putih.

“Wira di mana? Nggak ikut?”

“Dia masih di toliet. Sebentar lagi kesini ”

“Baiklah. Oh ya, kau tahu ayahku yang tidak terlalu kaya justru menjual asetnya dengan harga yang murah, namun Haji Marbun yang kaya raya justru menjual tanahnya dengan harga yang nyaris dua kali lipat?”

“Aku tahu. Dulu aku yang mengurusi penjualan tanah ayahmu. Ya maklumlah, namanya juga jualan pasti ingin untung yang lebih.”

“Bukan begitu. Maksudku, kenapa justru orang-orang kaya yang menjual asetnya dengan harga yang gila? Bukankah mereka sudah cukup kaya?”

Obrolan terhenti dengan kedatangan Wira. Anakku sudah besar. Kini ia sudah hampir SMP. Sepertinya, beberapa tahun lagi ia sudah tak membutuhkan kehadiranku dalam hidupnya.

“Wira! Apa kabarmu nak?”

“Baik, yah. Ayah bagaimana”

“Ayah baik. Sangat baik. Sini cium dulu.”

Aku menciuminya. Entah perasaanku teramat lega ketika menciumi bocah itu.

“Sudah dengar berita dari desa, kalau warga ramai-ramai menolak pembangunan  bendungan terbesar oleh pemerintah?”

“Tentu. Aku mengikuti berita itu. Dengar-dengar, anak-anak sekarang takut untuk pergi sekolah lantaran polisi sering berlalu-lalang?”

“Benar. Itu benar-benar terjadi. Terkadang aku merasa takut untuk mengantar Wira sekolah. Kami merasa selalu diawasi.”

“Lalu, warga sudah mela…”

“Ha?”

“Oh, tidak-tidak. Aku percaya bahwa Tuhan akan selalu berpihak kepada rakyat- rakyar kecil. Aku percaya.”

Hampir saja aku menanyakan apakah warga sudah melapor kepada pihak yang berwenang. Namun, bukankah selama ini kita sudah hidup tanpa mereka?

…_…

Bayanganku tiba-tiba melompat jauh ke belakang. Ingatanku kembali ke masa di mana aku menemani ibu menanam bawang dan sumur tua itu. Aku ingat bagaimana kami warga kampung merawat dan menjaga alam kami. Namun, mengapa sekarang pemerintah membuatkan bendungan terbesar namun malah akan merusak ekosistem alam kami. Aku ingat sekali di sumur tua itu aku melihat wajah Haji Marbun. Bukankah dia orang yang kaya? Lantas, mengapa ia menjaga ladangnya dari sumur itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *