Cerpen #394 Di Atas Bangku Taman

Langit belum semburat merah, terik masih menghiasi jam-jam makan siang. Kendaraan banyak berlalu lalang, klakson berbunyi nyaring. Apalagi di tempat-tempat yang mengharuskan pemberhentian. Lampu merah misalnya, aku melihatnya seperti analogi kehidupan manusia, takdir untuk memelankan langkah, berhenti sejenak, atau bebas lewat tanpa hambatan. Kota yang sibuk cenderung berisik, terlalu banyak kehidupan diperjuangkan, namun tidak mengakumulaskan nilai-nilai yang sepadan. Jam kerja telah usai, pembagian shift memotong tengah hari sebagai penanda pergantiannya. Aku tak ingin pulang, tak ada kenikmatan memasuki rumah sewaan, atau setidaknya aku ingin melarikan diri dair kenyataan, karena menyandang predikat masyarakat tidak mampu, yah orang miskin diperbudak situasi, bertahan setiap hari hanya untuk emmastikan esok bisa hidup lagi. Karenanya, sejenak saja aku ingin menikmati kehidupanku snediri, sebagai seorang manusia tanpa predikat yang mengundang rasa iba. Menikmati sisi lain adri bunyi-bunyi mesan produksi kain. Menghela nafas lebih ringan setelah 18 jam tertahan. Meski tidak mampu kubahagiakan diri dengan makanan, pakaian, atau hiburan yang menyediakan kepuasan. Setidaknya, menyusuri panjang trotoar di pusat kota ini, menjadi sedikit hiburan. Panas memang menyengat, debu halus memaksaku membekap mulut dan hidung bahkan setelah terhalang sebuah masker kehijau-hijauan. Lama aku menyusuri panjangnya trotoar ini, berisik, gerah dan lelah. Sampai kakiku memutuskan sebuah pemberhentian. Orang-orang mungkin akan memandang aneh laki-laki pekerja pabrik, duduk sendirian di atas bangku yang kukira terbuat dari kayu. Wah sebuah kamulflase yang menipu, produk kapitalis memang mengerikan. Mereka merubah apa saja yang tidak alami menjadi persis sama kecuali sensasinya. Aku duduk di atasnya, meski sedikit rasa bersalah mengguyur jiwa setelah memuji suatu hal yang belum pasti. Ku edarkan pandangan, cukup banyak orang-orang singgah sekedar menikmati suasana, membuka lapak mereka, atau beradu perasaan cinta.

Taman ini menghadap jalan, parkiran berada di sisi sebelah kiri, sedangkan bagian kanan didominasi warung-warung jajanan. Hanya bangku tempatku duduk satu-satunya yang mengahdap pintu masuk, menangkap semua sudut dengan sempuran meski letaknya menjorok kebelakang. Tak ada pohon-pohon besar, bunga-bunga juga tak mekar, mungkin memang belum musimnya atau si bunga-bunga itu memang tak mau menyapa kacaunya dunia. Tidak ada juga daun-daun yang sepenuhnya hijau menegarkan. Sempat terbersit dikepalaku, ‘apakah pengelola taman tak mau menyediakan payung-payung besar untuk si tumbuhan-tumbuhan malang itu?’ hampir setengah kebawah daun-daun itu mengunng kering. Ada satu hal aneh lagi, apa fungsi sebuah pancuran bertahtakan replika seekor ikan, jika tidak ada setetes pun air menyemburat dari moncongnya? Beginikah dana daerah dihabiskan tanpa nilai kebermanfaatan? Belukar manjang dibawah bangku ini pun mengganggu kedua kakiku, sepertinya belukar-belukar itu lebih subur dari tanaman manapun. Aku bisa melihat dengan jelas, meski dair kejauhan, bungkus permen, es krim, sedotan plastik, gumpalan kantung kresek sampai tusuk sate dan sisa-sia makanan, berserakan di mana-mana. Setiap yang berjalan melewatiku, atau bahkan geseran kakiku sendiri membuatku terbatuk-batuk oleh kepulan debu. Tepat setelah batuk spontanku mereda, seornag pedagang asongan menyambangiku, menawariku sebotol minuman. Yah haus an gerah menjadi alasan bagiku membelinya, sekaligus upaya memberi bantuan cuma-cuma.

“tiga rebu bang!” kata pedagang asongan itu, ketika aku menunjuk pada sebuah botol minuman bertuliskan Teh Melati No.1 di Indonesia

Kurogoh saku dibagian depan dada kiriku, ada selembar uang lima ribu kuberikan padanya,

“bawa saja kembaliannya” aku memalingkan wajah berharap si pedagang asongan lekas beranjak pergi

“wah makasih bang! Emang, sesama orang miskin harus menolong” kata si pedagang asongan dengan serinagai yang aneh, ia lantas beranjak begitu saja.

Sedangkan aku terheran-heran, dari mana ia tahu bahwa aku juga ornag miskin? Mungkinkah taman yang baru kukunjungi sekali ini memang diperuntukan bagi masyarakat kelas bawah? Ataukah seragam dengan logo pabrik yang terdapat di daad kananku dengan lantang menyuarakan identitas kelas pekerja miskin?

Ku buka botol Teh Melati No.1 di Indoneisa ini. Berharap merasakan kelegaan atau seidkit kebahagiaan dari gersangnya suasana. Taman ini tidak mencerminkan suatu harapan, lebih seperti penggambaran mengenai, kehidupan di ambang kematian, keputuasaan pada sebuah perjuangan. Yah persis sekali dengan kebanyakan penduduk bumi. Tak lama berselang dari lamunan singkatku, sebuah keluarga turun dari bus di sebrang jalan. Jelas sekali tujuan kaki mereka adalah menyambangi taman ini, gambaran keluarga sederhana terlihat jelas, tak ada satupun dari mereka berpakaian mencolok, si ibu menggunakan gamis berwarna putih dengan pola polkadot hitam, kepalanya ditutupi oleh kerudung senada, putih yang tidak benar-benar putih, riasannya biasa-biasa saja tak ada yang mencolok, posturnya juga seperti ibu-ibu pada umunya. Si ayah berkemeja kotak-kotak dengan pola besar, dari kejauhan saja sudah terlihat jelas warnanya biru memudar, menggunakan celana jeans dengan lubang-lubang di permukaan lutunya. Seorang anak kecil berjalan ditengah kedua orang dewasa itu. Laki-laki sepertinya, menggunakan topi berwarna kuning dengan setelan berwarna sama. Tak ada sepatu, hanya sepasang sandal kebesaran, supaya bisa digunakan lebih lama mungkin. Mereka memasuki area taman, gembira sekali raut wajahnya, hahahaha.. beginilah bagaimana orang miskin membangun kebahagiaan di tempat-tempat tanpa harapan. Si ayah berjalan menuju sebuah warung di sisi kanan taman, sedangkan si ibu dan anak menyambangi pedagang es keliling, membeli sebungkus es yang sedang ngetren meski harganya tak mahal-mahal juga, si ayah bergabung smebair menyulut sebatang rokok, mereka berjalan mengitari jalanan taman. Kepulan asap rokok memberi efek nyata pada kebahagiaan yang dirasakan, aku sendiri bukan tidak suka merokok, tapi memutuskna berhenti karena tak cukup gajiku menopang kebutuhan rokokku. Si anak dengan santai memegang sebatang es yang melelh lebih cepat ketika bungkusnya dibuka. Anak itu kesulitan memakan es dengan bungkus yang masih menempel, ia nersengut pada sang ibu seperti anak manja. Tentu saja sang ibu mengetaui maksudnya, mengambil bungkus es dengan cekatan dan membuangnya begitu saja, menambah serakan sampah yang mungkin sudah terbengkalai berhari-hari atau berminggu-minggu lamanya. Aku menggelengkan kepala, bagiamana percontohan dilakukan tanpa menimbang baik-buruk sebuah tindakan. Namun, melihat sekeliling yang sudah seperti bekas pembuangan sampah, membuatku menganggukan kepala tanda sedikit lebih memahami. Aku memalingkan pandangan, kembali menatap lurus segala yang mampu dijangkau kedua mataku. Aku hanya ingin menikmati kesendirian tanpa gangguan, namun segala hal yang ada di taman ini justru memaksa kepalaku bekerja lebih keras dari biasanya.

Aku melihat banyak sekali pedagang kecil, lebih dari yang kusadari. Tukang bakso, mamang es krim, pedagang cilok, cimol hingga warung mie rebus yang tersembunyi dibalik tong sampah besar. Mana di antara pedagang-pedagang ini yang tak menyumbang kerusakan di bumi? Sebuah produk atau dagangan yang mereka tawarkan, menggunakan plastik sebagai media perantaranya. Tentu saja karena plastik jauh lebih murah, dari bahan-bahan lainnya yang mendukung keberlanjutan ruang hidup bumi. Mereka juga tak repot-repot berusaha mencari alternatif lainnya. Yang dipedulikan masyrakat miskin seperti mereka atau juga sepertiku, adalah pemasukan yang mampu menopang hidup kami. Tak ubahnya perusahaan-perusahaan kapitalis seperti pabrik tempatku bekerja. Satu hal utama yang diperjuangkan adalah pemasukan besar dan penekanan pengeluaran produksi se minimal-minimalnya. Coba saja lihat, kondisi taman yang mengenaskan, tak ada satupun dari mereka memungut sampah-sampah yang berserakan, atau sedikit saja berbagi air untuk meneruskan kehidupan tanaman-tanaman yang sekarat ini. Tak ada bedanya dengan pabrik kain tempatku bekerja, yang membuang limbah sisa produksi di tengah malam, supaya menghindari kecurigaan atas kecurangan yang dimainkan. Bahkan tak ada pengunjung-pengunjung yang mau kerepotan mencari tong sampah untuk membuang sisa-sisa limbah miliknya. Kita jadi tak ubahnya anjing-anjing yang berlarian dan membuang kotoran sembarangan. Bahkan sedari tadi aku duduk di atas bangku ini, ratusan kali kulihat mobil-mobil mewah berlalu lalang tanpa jeda, truk-truk pengangkut produk-produk skala besar turut meramaikan suasana. Sedang tak ada pohon-pohon dipinggir jalan yang suka rela menyesap gas-gas karbon hasil penggunaan kendaraan-kendaraan itu. Itulah juga, salah satu penyebab kota yang kata nenekku dulu ‘kota kabut’ berubah menjadi ‘kota polusi’ dengan suhu yang semakin meninggi. Belum lagi. Truk-truk yang melintas tadi, ada berapa ribu bungkus produk yang diangkut dalam sekali jalan, banyak sekali bukan? Ribuan produk disebarluaskan setiap harinya, sedang penumpukan sampah tak menemukan cara bagaiamana mengendalikannya. Apakah bumi, menunggu detik-detik kematiannya?

Aku juga heran, jangankan pemerintah ini mau memperhatikan kesejahteraan masyarakat untuk menciptakan ruang hidup bebas polutan, ketika hutan-hutan sudah banyak jadi korban. Taman ini, adalah contoh kecil ruang hidup bumi yang tak diurusi. Sedangkan orang-orang bersemangat membahagiakan diri, diatas tanah yang mengalami kehancuran pasti. Aku melirik, pada sekelompok keluarga yang datang terkahir tadi, tengah asik masuk kedalam pancuran air tanpa kesegaran, sepasang muda-mudi di bangku sebelah kiri, justru bercumbu mesra tak melihat suasana, dan para pedagang saling bercengkrama sambil mengibaskan kipas-kipas untuk menghalau rasa panas. Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benakku ‘apakah aku akan hidup seperti ini?’. Aku diam lama sekali, tak berkutik. Aku diam membayangkan sebuah gambaran masa depan. Aku bersama anak dan istriku akan berjalan-jalan di tempat yang lebih buruk dari taman ini? Atau apakah sebaiknya kita tidak keluar rumah sama sekali? menghabiskan sisa umur kita terbelenggu menyalamatkan diri di rumah sendiri? adakah suatu hal yang mampu ku ubah? Mungkinkah aku mampu memberikan sebuah pengertian yang akan menyadarkan? Ketika orang-orang sibuk berlomba-lomba bertahan hidup, apakah mereka mau melakukan sebuah penyelamatan besar-besar an? Menumbuhkan kembali sebuah harapan, kehidupan, dan kontradiksi atas perjuangan yang sia-sia? Ataukah itu hanya bayangan utopis yang berakhir miris?

Tak ku temukan jawaban apa-apa, meski otakku meruntutkan setiap selnya, aku hanya asik dengan lamunan itu sendiri. Sampai tiba-tiba

Brak!!! Dum!!!!

Sebuah dentuman keras terdengar, orang-orang seisi taman berlarian menuju pintu keluar. Aku membuka mata, menelaah apa yang terjadi, kerumunnan orang menghiasi badan jalan. Aku hanya melihat sebuah truk tumbang, dan galon-galon yang berserakan. Ah! Sebuah truk pengangkut galon baru saja mengalami kecelakaan. Namun ada suara teriakan yang mengerikan, seorang ibu berteriak, menggelagar sekali seolah hujan badai akan datang. Si ibu meraung, menangis sesunggukan smebari meminta pertolongan. Aku masih  belum beranjak, sudah terlalu kacau di depan sana sehingga kehadiranku tak akan banyak memabntu. Aku mengamati dengan seksama sekali. Ibu-ibu berbaju putih dengan polkadot hitam tadilah yang berlarian kesana kemari sambil meraung-raung, apakah suaminya naas menjadi korban? Tapi seseornag dengan kemeja yang sama milik suaminya, mematung di depan tumpukan galon yang juga berserakan dimana-mana. Ah! Rupanya si anak, sedang tidak beruntung tertimpa musibah, orang-orang memandanginya dengan ngeri, beberapa cekatan menyingkirkan galon-galon yang berserakan, ada seorang bapak-bapak pemilik warung bakso memeriksa keadaan sang supir, juga beberapa yang sibuk memainkan handphonenya, entah menelfon ambulan atau menjadikannya konten kemirisan. Kuputuskan mengangkat kaki, kubawa serta botol yang kugenggam sedari tadi, aku berhenti pada sebuah tong berwarna biru, kulemparkan botol itu kedalamnya, aku berlalu mengambil sisi lain jalan dari keramaian.

‘kau menuai apa yang kau tabur, manusia!’

50 thoughts on “Cerpen #394 Di Atas Bangku Taman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *