Cerpen #393 Masa Depan Butuhkan Pahlawan

“Kak Joel sedang lihat apa?”Judy menghampiri Kakaknya yang sedari tadi sibuk menatap layar laptopnya. Ia penasaran, sebab Kakaknya itu sejak tadi duduk di hadapan laptopnya dengan menyilangkan tangannya dan mengernyitkan dahi.

“Ini rekaman dari kondisi terumbu karang yang Kakak rekam saat penyelaman hari ini,” Judy mengangguk kecil sambil ikut menatap layar.

Diputarnya rekaman itu, memperlihatkan terumbu karang yang seluruhnya berwarna putih. Di sekitarnya pun tak banyak terlihat kehidupan. Judy pun heran. Bukankah seharusnya terumbu karang beraneka warna dan dikelilingi banyak jenis ikan?

“Kak, bukannya terumbu karang itu warna-warni?” Judy akhirnya bertanya.

“Iya, seharusnya warna-warni. Tapi sayangnya terumbu karang ini mengalami coral bleaching, Judy,” Kak Joel menghela nafas kasar.

Oh, Judy pernah dengar istilah itu. Menurut buku yang kemarin Ia baca, coral bleaching adalah fenomena dimana terumbu karang kehilangan warnanya dan berubah menjadi putih.

“Kok bisa begitu, Kak? Bukannya memancing dengan bom dan membuang limbah di laut sudah dilarang?”

“Kau benar Judy. Tapi ada faktor lain yang tidak dapat dihindari. Perubahan iklim juga berpengaruh pada terumbu karang.” Jelas Kak Joel.

Raut wajah Judy berubah jadi cemas. Ia tahu, perubahan iklim adalah salah satu permasalahan yang tak kian terselesaikan bertahun-tahun lamanya. Joel menggerakkan kursor laptop dan mengetik beberapa kata di search bar. Kini layar laptopnya menampilkan hasil pencarian dari pengaruh perubahan iklim terhadap pemutihan terumbu karang.

Peningkatan keasaman air laut, perubahan arus laut, kenaikan temperatur air laut, dan juga perubahan pada pola badai. Semuanya merupakan akibat dari perubahan iklim. Tentunya semua hal tersebut juga berdampak pada makhluk hidup yang berada di laut.

“Joel! Judy! Ayo makan malam dulu, Nak!” teriak Mama dari arah dapur. Keduanya sontak menoleh ke arah panggilan tersebut berasal dan segera beranjak dari tempatnya.

Judy dan Joel duduk bersebelahan di meja makan, tidak sabar menyantap masakan Mamanya.  Ayah yang baru saja pulang kerja menyalakan televisi dan ikut bergabung bersama mereka di meja makan. Suara alat makan beradu dengan piring menggema di tengah keheningan acara makan malam keluarga mereka. Semuanya tengah fokus menyantap hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Hanya suara samar televisi yang terdengar, menampilkan seorang pembawa berita yang sedang mengawali acaranya.

“Kenaikan permukaan air laut global telah mencetak rekor tertinggi baru-sekitar 3,6 inci diatas permukaan air pada tahun 1993. Indonesia sendiri memiliki resiko yang tinggi akan dampaknya. Diperkirakan, ada sekitar 112 daerah di Indonesia yang terancam akan tenggelam pada puluhan tahun mendatang…”

Berita tersebut sukses menyita perhatian Judy. Ia mendongak sedikit untuk melihat layar televisi yang kini memperlihatkan titik-titik daerah yang rawan dan kondisi pesisir pantai beberapa tempat. Kebanyakan titik tersebut tentunya wilayah yang berada di dekat garis pantai-termasuk daerah tempat tinggal mereka saat ini.

Sungguh, dada Judy rasanya sesak. Ia  tumbuh di daerah pesisir, tentunya pantai dan laut mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Mendengar bahwa kondisi keduanya tidak baik-malah semakin lama semakin memburuk-mengoyak hatinya. Ia buru-buru menghabiskan makan malamnya dengan enggan. Rasanya Judy ingin berdiam diri di kamar saja sekarang.

Joel yang menyadari perubahan raut wajah dari adiknya itu ikut merasa sedih. Judy segera kembali ke kamarnya setelah makan. Joel yang merasa khawatir akan adiknya itu berencana menyusulnya setelah menyelesaikan beberapa laporan tugasnya. Barangkali, Judy ingin ditemani olehnya sebentar untuk sekedar berkeluh kesah nanti.

Judy duduk bertopang dagu di ujung kasurnya. Ia menatap sendu pemandangan pantai pada malam hari dibalik jendela besar disamping ranjangnya itu. Debur ombak yang tak henti-hentinya menghantam pasir pantai, terlihat semakin indah akibat emisi cahaya yang dihasilkan oleh reaksi kimia sejumlah makhluk hidup di dalamnya. Tak bisa. Judy tak bisa menahan dirinya untuk tak melihat semua keindahan itu dari jarak yang lebih dekat.

Joel membuka perlahan pintu kamar Judy, tak lupa untuk mengetuk dahulu sebelumnya. Ia tampak kebingungan karena tidak menemukan siapapun dalam kamar itu. Joel refleks menyibak tirai yang menutupi jendela besar di kamar tersebut. Benar saja. Diluar sana, seorang gadis dengan rambut sebahu yang digerai sedang duduk di hamparan pasir.

Judy tengah memperhatikan seekor penyu yang sedang menetaskan telurnya di dalam lubang pasir yang telah digalinya. Ia menjaga jarak agak jauh, supaya tak terkesan mengganggunya. Katakan Ia begitu fokus memperhatikan penyu tersebut, sampai-sampai hampir tak menyadari kehadiran seseorang yang sedari tadi mencarinya.

“Ini sudah malam Judy..” sahut orang tersebut. Ia mengambil posisi duduk di sebelahnya, ikut memperhatikan penyu tadi.

Judy tidak menanggapi perkataan kakaknya itu. Ia mengalihkan pandangannya pada pemandangan langit malam dan laut di hadapannya. Banyak pikiran mulai berkecamuk di dalam kepalanya. Berbagai pertanyaan, juga beberapa kemungkinan tentang masa depan.

“Kak..” lirih Judy. Ia terdiam sejenak, membuat Kakaknya itu menoleh padanya sambil memasang ekspresi yang menunjukkan bahwa Ia sedang menyimak.

“Kalau nantinya pantai ini tenggelam, penyu-penyu akan bertelur dimana?”

Joel hanya terdiam. Ia pun tak tahu jawaban dari pertanyaan adiknya itu.

“Bagaimana dengan nasib terumbu karang di laut?”

“Bagaimana dengan hewan-hewan lainnya yang hidup di dalam sana?” dan rentetan pertanyaan lainnya Judy lemparkan pada Kakaknya itu.

“Apakah masih ada harapan untuk masa depan?”

Sepuluh tahun yang lalu. Sekiranya, seperti itulah penggalan memori Judy. Percakapannya dengan Sang Kakak, di bawah sinar rembulan dengan ditemani suara deburan ombak. Mau tahu apa jawaban Kak Joel? Ia tidak tahu. Katanya, tidak ada yang tahu akan seperti apa masa depan. Ia hanya bilang bahwa dunia butuh pahlawan.

Maka dari itu, sejak hari itu Judy bertekad. Ia mengikuti segala perkembangan yang berhubungan dengan krisis iklim. Beberapa minggu setelah itu, Ia mengetahui keberadaan aktivis-aktivis perubahan iklim muda. Mereka mewakili generasinya untuk menyuarakan keinginan mereka akan masa depan, menuntut para pemerintah untuk mengambil tindakan untuk mencegah perubahan iklim.

Bahkan, tak sedikit juga pelajar yang berpartisipasi pada aksi protes terhadap para pemerintah. Setidaknya, dari semua hal ini Judy jadi tahu kalau masih ada banyak orang yang peduli. Teman-teman satu generasinya juga banyak yang berjuang untuk masa depan bumi ini. Walaupun, Judy sendiri juga tidak yakin kalau masalah krisis iklim ini betul-betul diperhatikan oleh para pemimpin dunia.

Saat itulah, Judy dibuat berpikir lagi. Kata Kak Joel dunia butuh pahlawan. Lantas, apakah para pemimpin dunia itu bukanlah pahlawan yang dimaksud kakak? Sepertinya bukan. Jika kami para generasi penerus hanya mengandalkan mereka, tak akan ada perubahan besar.

Disanalah Judy tersadar. Jawabannya ada pada dirinya sendiri, dan seluruh anak generasi berikutnya. Masa depan ada di tangan mereka. Maka mereka sendirilah yang akan membawa perubahan tersebut. Generasi masa depan, adalah pahlawan yang dimaksud oleh kakak.

Tugas mereka adalah belajar. Dengan tujuan menjadi orang yang dapat memperbaiki dunia. Sekarang hasilnya sudah mulai terlihat. Beberapa bulan lalu, seorang ilmuwan muda menemukan cara brilian untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kursi kepemimpinan pun sudah bergulir. Kini, dana untuk program pencegahan pemanasan bumi ditambahkan. Begitupun dengan profesi lain. Mereka membantu memperbaiki dunia dengan fokusnya tersendiri.

Satu-persatu masalah yang berkaitan dengan krisis iklim mulai terpecahkan. Generasi muda terpelajar telah membuktikan bahwa mereka bisa membawa perubahan pada bumi ini. Kali ini, Judy dapat tersenyum bahagia di hadapan laut itu. Ia paham apa maksud perkataan Kak Joel sepuluh tahun silam. Generasi muda, adalah pahlawan yang dibutuhkan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *