Cerpen #392 Bunga Anggrek Hitam

Hari ini begitu membosankan, pelajaran di kelas selalu saja membicarakan hal-hal yang membosankan. Aku berjalan dengan malas melewati perumahan yang kotor, daerah tempat tinggalku ini selalu saja kotor. Kenapa petugas kebersihan tidak rajin membersihkan tempat ini? Namun, saat aku melewati suatu gang, aku merubah pikiranku.

“Ah, ternyata mereka sedang membersihkan kawasan sini. Tetapi, mereka hanya bergerak lambat, makanya tempat ini tidak pernah bersih,” gumamku.

Namaku Nendra, seorang murid di SMA nomor satu di kota ini. Karena aku merasa sudah cukup pintar, aku jadi cepat merasa bosan dengan pelajaran sekolah. Aku berharap, bisa merasakan kejadian seru dalam hidupku. Karena aku sangat bosan, sepulang sekolah aku tidak akan langsung pulang. Mungkin, aku akan pergi ke taman dekat perumahanku dan menikmati hari dengan bermalas-malasan.

Kemudian, aku terus berjalan hingga melewati sebuah taman. Menurut orang, ini mungkin taman yang indah, tetapi bagiku tidak. Bukankah terlalu banyak tanaman liar di suatu taman membuatnya tak layak dipandang. Kemudian, aku membeli sebuah minuman kaleng di sebuah toko dekat taman itu.

Karena hari ini cuacanya sangat panas, aku langsung meneguk habis minumanku. Karena sudah tidak berisi lagi, aku beriniat membuangnya. Namun, aku tidak menemukan tempat sampah dekat sini. Kenapa tempat sampah tidak di taruh di semua tempat, sih? Karena malas, aku melempar kaleng minumanku ke arah pepohonan. Mungkin sampah itu akan di bersihkan oleh petugas kebersihan, tetapi yang penting aku sudah membuang sampah itu.

Setelah puas menikmati taman, aku mulai berjalan kembali ke rumah. Sepertinya aku agak melamun dalam perjalanan, karena perjalanan begitu membosankan hingga aku menguap dengan lebar. Saat aku selesai menguap, aku terkejut karena ada tembok besar yang menghalangi jalanku. Aku berada di jalan buntu, padahal aku ingat sebelumnya aku berada di jalanan menuju perumahan di mana rumahku berada.

Mungkin aku sedikit melamun, makanya aku sampai tersesat di jalanan buntu. Saat aku ingin berbalik, aku berhadapan dengan sosok menyeramkan. Itu membuatku sedikit terkejut dan berjalan mundur. Namun, setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata dia adalah manusia. Dia memakai mantel besar dan menutupi kepalanya dengan hoodie. Sepertinya aku berada di situasi yang membosankan, aku berpapasan dengan orang gila yang menghalangiku keluar dari sini.

“Maaf, Ibuku sedang menunggu di rumah. Aku pulang dulu, ya,” kataku sambil berusaha melewatinya.

“Tunggu, Nendra. Kamu tidak boleh pergi,” kata sosok itu.

Aku terkejut saat dia menyebut namaku. Aku segera berbalik dan menatap sosok itu dengan serius.

“Dari mana kamu tahu namaku!” seruku.

Kemudian sosok itu membuka penutup kepalanya dan menujukkan wajah aslinya. Wajah aslinya membuatku terkejut, aku seakan melihat diriku di cermin. Dia sangat mirip denganku, tetapi matanya semerah darah. Tidak, itu mata robot, pantas saja dia mudah mengetahui namaku. Tunggu, dia hanyalah anak-anak seumuran denganku yang berlagak sok keren saja.

“Kamu tidak boleh pergi, Nendra. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu,” kata sosok itu.

“Siapa kau?” tanyaku.

“Namaku, Cleo. Aku pecinta tumbuhan, dan aku merawat semua tanaman kesukaanku di taman dekat sini. Tetapi, kamu telah merusak salah satu tanaman yang paling aku sukai,” kata Cleo.

“Aku tidak merusak apapun!” seruku.

“Kamu membuang sampah ini, dan sampah ini merusah tanaman yang aku sukai. Kenapa kamu membuang sampah ini sembarangan?” tanya Cleo sambil menunjukkan kaleng minuman yang baru saja aku buang sembarangan.

Aku terkejut mendengar hal itu, padahal aku membuangnya ke dalam hutan. Lagipula salahnya sendiri, kenapa dia menanam bunga di daerah seperti itu?

“Kau telah membuat bunga anggrek hitam kesayanganku rusak, bahkan semua kelopaknya jatuh berguguran,” keluh Cleo.

“Kamu sendiri yang salah, kenapa kamu menanam bunga di sana. Lagipula, aku hanya melempar satu buah kaleng kosong, pasti yang rusak hanya sedikit, ‘kan?” tanyaku.

“Iya, yang rusah adalah satu bunga. Namun, bunga ini adalah satu-satunya yang tumbuh. Tidak semua bunga yang aku tanam tumbuh, hanya satu bunga yang berhasil tumbuh dan mekar. Dan kau merusaknya saat bunga ini baru mekar, kau harus menggantinya!” seru Cleo.

“Baiklah, akan aku ganti. Jadi, berapa harga bunga itu, berapa yang perlu aku bayar?” tanyaku malas.

“Ini tidak cukup hanya dibayar dengan uang,” kata Cleo geram.

“Lalu, kau ingin aku ganti dengan apa?” tanyaku.

“Nyawamu!” seru Cleo.

Aku terkejut mendengar perkataannya, dan saat dia berseru dengan kecang sehingga angin bertiup kuat, dan itu membuatku merasa seperti diriku telah berpindah tempat. Tapi, aku melihat sekelilingku, tetap sama seperti biasanya.

“Sekarang, dirimu yang asli berada di dunia lain. yang tersisa hanyalah jiwamu. Jika kamu tidak segera mencari bunga seperti ini, maka aku langsung membunuh tubuh aslimu!” seru Cleo.

“Eh! Apakah itu benar? Ini bukan mimpi, ‘kan?” tanyaku.

“Kalau ini bukan mimpi, segeralah kau pergi ke rumahmu,” kata Cleo menantangku.

Kemudian Cleo seketika lenyap seperti ditelan asap, aku mengusap-usap mataku dan berharap kejadian tadi adalah mimpi. Aku mencoba menampar diriku sendiri, dan itu rasanya sakit, berarti ini bukan mimpi.

***

Aku segera bergegeas menyusuri perumahan yang kotor seperti biasanya. Namun, anehnya aku tidak melihat satu orang pun berada di daerah sini. Kemana semua orang pergi?

Setelah berlarian cukup lama, akhirnya aku sampai di depan rumahku. Aku ingin segera masuk dan beristirahat di dalamnya, namun aku perhatikan pintu rumahku hilang. Aku segera memasuki rumahku dan mencari kedua orang tuaku. Namun, rumahku terlihat sepi dan hancur berantakan, seperti baru di terjang angin topan. Aku segera pergi keluar rumahku dan bertanya dengan tetanggaku. Namun, rumah tetanggaku juga seperti rusak dan tak berpenghuni. Bukan hanya rumah tetanggaku, tetapi sepertinya seluruh rumah di perumahan ini hancur dan tak berpenghuni lagi. Pantas saja tempat ini menjadi lebih kotor dan banyak puing-puing berserakan. Tapi, dari semua kejadian ini, kemana semua orang pergi?

Aku segera pergi menuju sekolah, biasanya untuk menuju sekolah aku melewati jalan raya. Tetapi, saat keluar dari daerah perumahan, aku tidak melihat jalan raya. Melainkan jalan-jalan layang yang melintang, sejak kapan daerah sini jadi mewah seperti ini?

Aku kehabisan akal, aku bingun untuk pergi ke mana sekarang. Lalu, aku ingat, kalau aku di perintahkan Cleo untuk mencari pengganti bunga anggrek hitam miliknya. Kalau dia ingin bunga, bukankah itu ada banyak di taman dekat perumahanku. Aku kembali berlarian meunju taman, awalnya aku sempat tersesat, namun aku berhasil sampai taman.

Saat aku memasuki taman, bukan taman yang penuh bunga yang aku dapati. Kini, taman itu hanyalah tanah kering tanpa satupun tanaman. Bahkan, banyak sampah menumpuk di sekeliling taman. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Aku melihat seseorang mengoperasikan ekskavator, ada orang di taman ini. Aku segera menghampiri ekskavator itu, namun aku terkejut karena yang menoperasikan ekskavator itu bukan manusia melainakan robot. Apakah ini yang dinamakan masa depan? Sepertinya, perkataan yang mengatakan robot akan menggantikan tugas manusia itu benar.

Taman ini begitu bau dengan sampah yang menumpuk hingga menjadi gunung. Bahkan, sungai yang biasanya mengitari taman ini mulai keruh kering dan dipenuhi limbah plastik. Kalau begini, aku lebih menyukai taman yang dipenuhi bunga liar bagaikan hutan daripada taman gersang dipenuhi sampah seperti TPA.

Saat aku memperhatikan sekeliling taman, aku melihat Cleo yang duduk termenung di kursi taman. Akhirnya aku menemukannya, aku harus segera menemuinya dan memintanya mengembalikanku ke dunia asalku.

“Cleo, apa maksudnya ini. Kenapa aku berada di tempat yang aneh seperti ini? Cepat kembalikan aku ke tempatku semula!” seruku.

“Ada apa, Nendra? Kamu kesulitan menemukan bunga itu?” tanya Cleo.

“Tentu saja, aku cukup kerepotan dan dibuat bingung dengan kejadian ini. sebenarnya aku berada di mana? Kenapa taman ini sudah tidak berbunga lagi?” tanyaku.

“Inilah taman yang akan kamu lihat 100 tahun yang akan datang. Di tempat ini, mencari satu tumbuhan saja sudah sulit. Bahkan untuk menghirup udah segar sudah sulit, apakah kamu tidak terganggu dengan bau sampah yang menumpuk ini?” tanya Cleo.

Aku terkejut mendengar penjelasan darinya, aku berada di 100 tahun yang akan datang. Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa sebenarnya Cleo itu?

“Aku akan membawamu kembali, asalkan kamu mau membantuku mecari anggrek hitam itu,” pinta Cleo.

“Kau pikir itu mudah, aku bahkan tidak melihat satupun tanaman di daerah sini. Kau ingin aku dan kamu mengelilingi dunia di 100 tahun yang akan mendatang ini?” tanyaku.

“Benar, mencari bunga di sini itu sangat sulit. Karena ini masa depan, aku sudah mengetahuinya kalau bunga bisa punah di masa depan. Makanya aku berencana ingin mengembang biakkannya di zaman kita untuk bunga tetap lestari di masa depan, tapi ini bunga langka yang hampir terancam punah,” jelas Cleo.

“Kalau itu bunga yang terancam punah, mungkin di zaman sekarang bunga itu sudah punah. Percuma saja kita mencari bunga itu, ayo kita kembali ke zaman kita,” ajakku.

“Itu juga percuma, karena kita tidak bisa keluar dari tempat ini sampai kita menemukan pengganti anggrek hitam ini. Bunga inilah yang akan membuka jalan keluar menuju zaman kita, kita harus segera menemukannya. Dan kita hanya punya waktu satu hari untuk menemukannya, kalau tidak, tubuh kita di dunia nyata akan mati lemas,” jelas Cleo.

“Kenapa kamu membawaku ke dunia ini! Aku jadi terjebak di permainan kematian ini karena ulahmu!” seruku.

“Kau pikir ini salahku? Ini salahmu karena telah merusak bunga kesayanganku, bunga ini tiba-tiba marah kepadaku. Dan dia ingin segera digantikan bunga yang lain, dan katanya bunga langka ini banyak hidup di zaman ini,” jelas Cleo.

“Apakah kau sedang bercanda? Tidak mungkin bunga bisa memarahimu, kau sudah gila,” kataku.

“Kalau aku bercanda, kenapa aku ikut terjebak di sini bersamamu? Bunga ini yang tiba-tiba membawaku kemari bersamamu,” jelas Cleo.

“Sudah, kalau kita hanya punya satu hari menemukan bunga itu. kita harus segera bergegas,” kataku.

***

Akhirnya kami memutuskan bekerja sama menemukan bunga itu dan kembali ke zaman kami. Kami berdua mulai menyusuri tempat-tempat di sekitar sini. Sepanjang yang kami lihat bukanlah sebuah kota besar ataupun peradaban maju, ternyata 100 tahun yang akan mendatang bukanlah dunia dengan semuanya serba cepat, tetapi semuanya serba gersang. Yang kami lihat hanyalah dataran tandus kering dan panas. Bahkan panas matahari ini membuatku tidak bisa berhenti berkeringat, itu membuatku tidak kuat berjalan dan terkapar di tengah-tengah perjalanan.

“Ini benar negara Indonesia? Kenapa aku merasa seperti di daerah Arab yang penuh dengan gurun pasir. Kalau tanaman saja tidak kelihatan, bagaimana kita mencari mesin penjualan minuman di sini?” tanyaku.

“Memangnya, uang rupiah abad ke-21 masih berlaku di sini? Mungkin di abad ke-22 ini, mata uang sudah berubah,” jelas Cleo.

“Jangan-jangan, dari rupiah menjadi dollar?” tanyaku.

“Bukan itu maksudku, mungkin nilai uang kita akan berbeda. Kalau kita membawa 10000 rupiah, mungkin sekarang sudah sama saja dengan 1000 rupiah,” jelas Cleo.

“Mahal banget, dan kebetulan aku hanya memiliki uang sisa 10000 rupiah,” keluhku.

“Lihatlah, ada sebuah kota di depan sana. Mungkin, masih ada yang menjual minuman di sana,” kata Cleo sambil menunjuk sebuah daerah yang penuh dengan bangunan berwarna-warni.

“Cepat, kita ke sana!” seruku sambil berlari menuju kota itu.

“Tunggu!” seru Cleo sambil mengejarku.

***

Kami sampai di sebuah tempat dengan peradaban maju, bahkan rumah-rumah semuanya sudah bertingkat lebih dari dua, benar-benar tempat yang mewah. Tapi, tempat ini sama seperti perumahan tempatku tinggal, sepi dan tidak terlihat ada pergerakan aktivitas manusia. bukan hanya manusia yang tidak ada di sini, bahkan binatang dan tumbuhan tidak ada di sini. Kami menemukan kembali sebuah sungai, tapi kami mengurungkan niat meminum air sungai itu setelah melihat airnya berwarna hijau. Ciri-ciri air layak diminum adalah air yang bening dan tidak berwarna, kalau airnya berwarna hijau begini apakah masih bisa untuk dikonsumsi?

Tiba-tiba, Cleo menemukan banyak tulang belulang. Ini adalah tulang-belulang binatang, dari mulai yang terkecil hingga yang terbesar berkumpul di sini. Kota ini seperti kota mayat, karena banyak bekas tulang-belulang binatang dibiarkan berada di sini. Dan yang membuat kami terkejut, ternya ada tulang manusia yang bercampur diantara tulang-belulang binatang. Kami sempat terkejut melihat hal itu, tetapi kami memutuskan untuk menyelidiki hal ini. Aku memperhatikan smeua tulang di sini dan memikirkan penyebab kematian mereka, penyebab kematian mereka sulit ditebak karena hanya terisisa tulang mereka. Saat aku sedang berpikir, tiba-tiba Cleo menarikku.

“Hei, ada apa?” tanyaku kesal.

“Sepertinya aku punya firasat buruk, ayo segera pergi dari sini!” ajak Cleo.

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

Tiba-tiba, kami mendengar suara erangan tak jauh dari tempat kami berada. Kami semua mulai memasang sikap waspada dan bersiap mengambil tindakan seribu. Kami mengira itu suara yang berasal dari binatang buas ataupun mosnter mengerikan. Namun, suara itu berasal dari sekelompok manusia.

“Hei, ada manusia yang masih ada di zaman ini. Ayo kita meminta air untuk diminum,” ajakku.

“Tunggu, jangan dekati mereka!” seru Cleo.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kamu tidak melihat tampang mereka, mereka sudah tidak waras. Lagipula, tempat ini panas dan tidak ada satupun binatang atau tumbuhan di sini. Mungkin, mereka sudah menjadikan semuanya adalah makanan, termasuk manusia. Mereka mungkin kanibal, kita harus segera pergi dari sini!” seru Cleo.

Tiba-tiba, salah satu dari sekelompok manusia itu mulai melompat dan menyerang. Dia menampakkan seluruh giginya dan air liur yang mulai menetes. Cleo benar, mereka kanibal, mereka terlihat seperti zombie. Aku dan Cleo berusaha pergi menjauhi tempat itu dan berlari sekuat tenaga.

Kami berlarian tak tentu arah, yang kami pikirkan adalah selamat dulu dari manusia kanibal yang mengejar-ngejar kami. Tiba-tiba, kami terjatuh karena ada suatu gumpalan tergeletak di tanah. Saat kami bangun, kami baru menyadari kalau kami terjatuh bukan dari gumpalan biasa. Di sini, sudah seperti tempat sampah, banyak sampah terbiarkan berada di sini. Dan kebanyakan dari sampah itu adalah sisa bekas makanan ringan, makanan ringan yang tidak habis di makan membusuk dan menjadi sampah basah. Aku merasa jijik berada di tempat ini, dan kini bajuku sudah kotor dan berbau busuk.

“Kenapa sampah ada sebanyak ini di sini? Dan juga, sampah kenapa dibiarkan saja berserakan di sini, kenapa petugas kebersihan tidak membersihkannya?” keluhku.

“Kau pikir, sampah yang berserakan itu harus dibersihkan oleh petugas kebersihan. Kau pikir, salah siapa yang membuat petugas kebersihan bekerja keras mengumpulkan sampah? Itu salah kita, kita mengira kalau sampah di buang sembarangan nanti juga di bersihkan. Nyatanya, itu membuat petugas kebersihan kelelahan dan akhirnya menjadi sampah tidak terurus. Makanya aku bilang padamu, jangan buang sampah sembarangan!” seru Cleo.

Aku seketika menyesal mendengar itu, dia sekan baru menyindiriku. Memang aku selalu membuang sampah sembarangan, dan aku merasa kalau itu hanyalah tindakan kecil yang tidak berpengaruh besar. karena aku malas mencari tempat sampah aku memutuskannya membuangnya sembarangan, dan berharap akan dibersihkan oleh petugas kebersihan. Aku tidak menyangka, hanya dari hal membuang sampah sembarangan akan menjadi limbah sampah basah yang mengerikan seperti ini.

“Kenapa kamu membuang sampah sembarangan? Sekarang, kau tahu apa akibatnya dari membuang sampah sembarangan?” tanya Cleo.

“Iya, aku menyadari aku salah, dan aku juga yang menebabkan sampah jadi menumpuk seperti ini. Hanya karena aku malas mencari tempat sampah, aku malah membuang sampah sembarangan,” kataku menyesal.

“Kalau kau kesulitan mencari tempat sampah, harusnya kamu tetap memungut sampahmu sampai kamu menemukan tempas sampah. Karena bumi itu luas, bukan berarti kamu bisa seenaknya saja membuang sampah semberangan, kamu mengerti?” tanya Cleo.

“Baik, aku mengerti. Maafkan aku,” kataku dengan penuh penyesalan.

“Sudah, kita hanya punya waktu satu hari. Dan di sini hawanya sudah mulai panas, jika kita tidak segera menemukan bunga itu nyawa kita akan terancam. Bukan hanya mati di dunia nyata, tapi di sini kita bisa mati karena dehidrasi,” jelas Cleo.

“Baiklah, sekarang kita menuju laut. Sepertinya aku melihat ada laut di sana. Mungkin, bunga itu berada di sana,” kataku sambil menunjuk air yang berombak seperti air laut.

Kami mulai kembali berjalan mengikuti pandangan kami yang tertuju dengan sebuah lautan luas di dekat kami. Walaupun kami terasa haus, dan panas yang menyengat membuat kami kelelahan, kami tak pantang menyerah sebelum sampai ke laut. Kami berharap bisa meminum air laut dan menemukan bunga anggrek hitam. Setelah berjalan sekian lama, akhirnya kami tiba di tempat yang seharusnya adalah laut.

“Lho, kok lautnya hilang?” tanyaku.

“Apakah tadi itu fatamorgana?” tanya Cleo.

Lalu, kami melihat sesuatu benda berwarna putih tak jauh dari tempat kami berada. Itu bukanlah awan, itu seperti gunung es. Bongkahan gunung es kecil, kenapa benda dari kutub yang dingin bisa sampai ke sini?

“Es dari kutub terbawa air laut sampai ke sini, tetapi sepertinya air lautnya mengering dan membuat es itu terdampar,” jelas Cleo.

“Dari mana kau tahu hal itu?” tanyaku.

“Lihatlah, ada sedikit air laut di dekat es itu,” kata Cleo sambil menunjuk sebuah bongkahan es.

Dia benar, es itu masih mengapung di air laut yang sangat sedikit. Kami berlari menuju bongkahan es itu. Lalu, kami meminum air laut yang masih tersisa di bawahnya. Saat kami sedang meminumnya, kami mendengar suara retakan. Karena panas yang luar biasa, gongkahan es itu retak dan mulai mencair. Bahkan kami tidak smepat mengelak dan terbawa arus air laut, dan beruntung kami terbawa ombak dan kembali ke tepian.

“Aku tidak menyangka, pasang surut air laut masih ada di zaman ini,” kata Cleo yang terkejut.

“Tapi, sepertinya tidak ada tumbuhan juga di sini,” keluhku.

Ya, kami melihat pantai yang penuh dengan sampah. Air laut mulai membawakan beberapa sampah dari pulau seberang, bahkan kami melihat beberapa cangkang kerang yang sudah pecah. Pasti banyak bita laut yang mati, bukan hanya ikan, tapi juga terumbu karang. Bahkan, pohon kelapa yang biasanya tumbuh di daerah seperti ini sudah mati kering. Tidak ada lagi tumbuhan di sini, bahkan binatang bisa mati di tempat yang paling panas begini. Awan saja tidak muncul, padahal air laut sudah menguap karena panas.

“Coba kita pergi ke gunung, ada sebuah gunung di sana. Semoga, di gunung itu masih ada harapan bagi kita menemukan bunga itu,” kata Cleo.

Aku hanya bisa mengangguk dan menurutinya. Kami kembali berjalan menuju gunung, walau cuaca yang panas membuat kami malas bergerak, keinginan kami untuk tetap hidup membuat kami kuat untuk terus berjalan sampai ke gunung.

Saat kami sampai di kaki gunung, kami terkejut melihat hutan yang sudah mati. Beberapa pohon seperti hangus terbakar, dan beberapa seperti baru di tebang dan hanya terlihat akarnya saja. Tanah di daerah ini sudah mulai lunak, ini bisa menyebabkan longsor ataupun gempa bumi. Kami berjalan dengan hati-hati menuju gunung itu, dan kami berharap bisa menemukan setangkai bunga untuk membawa kami pulang.

Kami tidak di buat terkejut dengan hutan yang sudah mati, tetapi gunung yang kami lihat sudah separuh habis. Sepertinya ini adalah gunung kapur, beberapa material kapur telah ditambang hingga gunung menjadi separuh begini. Kalau tiba-tiba gunung meletus, tempat ini bisa kiamat. Apalagi setelah melewati laut tadi, kami menyadari kalau pasang surut air laut yang berantakan begitu bisa menyebabkan tsunami. Di tambah, keadaan panas begini yang menyebabkan gunung es bisa meleleh, banjir bisa menenggelamkan setengah pulau di sini. Tempat ini penuh sampah dan beberapa makhluk telah mati, tinggal menunggu kiamat terjadi. Aku tidak pernah menyangka, kehidupan yang akan mendatang seperti neraka sungguhan. Padahal, masa depan yang kuharapkan adalah tempat yang indah, bukan tempat kotor dan gersang seperti ini.

Sekarang, kami mencoba menaiki gunung, dan berharap bisa menemukan bunga yang kami cari. Tetapi, kami terkejut dengan tiba-tiba hujan mulai turun di cuaca panas seperti ini.

“Ini bukan hujan biasa, mungkin ini hujan asam. Gawat, kita harus mencari tempat perlindunga!” seru Cleo.

Kami menemukan sebuah gua, kemudian kami segera berlari dan masuk ke dalam gua untuk berteduh.

“Hei, apakah gua di zaman sekarang itu aman?” tanyaku.

Kemudian, aku melihat Cleo seperti terkejut ketakutan. Dia seperti melihat sesuatu yang berbahaya di gua ini.

“Ada banyak gas metana di sini, berarti di sini tidak aman. Ayo kita segera keluar dari sini!” seru Cleo sambil menarik tanganku.

“Tapi, bukankah di luar sedang hujan asam. Air hujannya tidak boleh mengenai kepala kita bukan? Karena itu berbahaya bagi kesehatan,” kataku khawatir.

Kami beruntung, hujan sudah mulai reda. Tapi, ada tantangan baru menanti kami, tiba-tiba saja matahari mulai terbenam. Itu berarti sisa waktu kami tinggal sedikit, ketika matahari kembali terbit, maka nyawa kami akan tamat.

Setelah hari mulai menggelap, kami membuat api dengan beberapa kayu pohon yang sudah mati. Dengan pencahayaan minim, kami berharap bisa menemukan bunga anggrek hitam. Tapi, bukannya membedakan anggrek hitam dengan yang lainnya sulit dilakukan saat malam hari. Jangankan bunga anggrek, kami bahkan tidak melihat satupun bunga yang tumbuh di gunung ini. Tanah gunung ini mulai tandus, dan beberapa pohon saja sudah mati. Bahkan, kami mulai lapar, dan tidak ada makanan di sini. Kalau tumbuhan saja mati, berarti tidak ada binatang yang hidup juga di sini.

Kami terus berjalan dengan perut kosong dan kaki yang mulai terasa lemas. Semakin larut keadaannya semakin dingin, bahkan kami dibuat menggigil karena hawa dingin di tempat seperti ini. Bahkan, kesadaran kami nyaris hilang, karena sudah malam dan kami merasa lelah dan mengantuk. Akhrinya, kami menyerah dan memutuskan beristirahat di sebuah pohon besar. Saat kami beristirahat, kami melihat ada buah apel yang jatuh dari pohon itu. kami menatap ke atas pohon, ternyata ini pohon apel, dan buahnya banyak sekali. Aku tidak menyangka, di tempat seperti ini, masih ada tumbuhan yang tumbuh subur. Kami segera memetik beberapa buah dan memakannya, buah itu terasa manis dan segar. Pohon ini tumbuh subur, tidak ada buah busuk yang ada di pohon ini, kami merasa beruntung mendapatkan pohon seperti ini.

Saat sedang memakan buah, kami teringat sesuatu. Jika pohon ini berbuah lebat, beberarti ada beberapa tumbuhan lain yang tumbuh subur di dekatnya. Kami mencoba mengelilingi pohon, dan kami menemukan beberapa tumbuhan yang bermekaran di dekat pohon itu. Itu membuat kami gembira, kami memeriksa satu persatu tumbuhan di sana. Namun, berapa lama kami mencari, kami tidak kunjung menemukan bunga anggrek hitam.

Tiba-tiba, kami melihat ada cahaya terang, sepertinya fajar hampir tiba. Kami bergegas mencari tumbuhan yang kami cari, kami terus mencarinya dan berharap waktu kami belum habis. Tetapi, tiba-tiba tanah di gunung ini mulai berguncang hebat. Ternyata, cahaya putih tadi adalah semburan lava gunung ini. Kami mengira ini gunung yang tidak aktif karena sebagian dari gunung ini habis. Tapi, kini kami menyaksikan langsung gunung meletus di depan mata kami. Kami segera berlari menuruni bukit, namun tiba-tiba tanah yang lunak mulai berjatuhan dan kami terseret tanah yang longsor. Beruntung, kami segera berpegangan dengan dahan pohon terdekat, dan akhirnya kami segera menyelamatkan diri dari tanah longsor itu.

Tapi, masalahnya bukan hanya itu, perlahan abu vulkanik dari gunung berapi mulai merambat hingga hampir mengenai kami. Kami berusaha kembali berlari, namun karena kami kurang memperhatikan, kami terpeleset dan jatuh ke dalam jurang.

“Aduh,” kataku yang berusaha bangkit setelah merasakan rasa sakit yang luar bisa di tubuhku.

Kami terbangun, dan kami baru menyadari kalau kami terjebak di dasar jurang yang dalam dan gelap. Kami kehilangan api yang baru saja kami buat, jadi kami tidak bisa melihat karena gelap.

“Sepertinya ini akhir bagi kita,” kata Cleo.

“Maafkan aku, andai saja aku tadi membuang sampah pada tempatnya, kita tidak akan terjebak di tempat seperti ini,” keluhku.

“Tidak apa-apa, yang penting kita selamat dari bencana tadi. Walaupun nanti pagi kita mati, aku senang bisa bersamamu sampai akhir,” kata Cleo sambil memegang kedua tanganku.

Entah kenapa, itu membuatku sedikit senang. Kami melihat, cahaya matahari mulai muncul, keadaan sudah menjadi lebih terang dari sebelumnya. Kami terus memperhatikan matahari yang ingin terbit, sepertinya nyawa kami tidak akan selamat. Saat kami bisa kembali melihat, kami kembali dibuat terkejut dengan tumpukkan sampah berada di sepanjang jurang ini. Ternyata kami berada di tumpukan sampah yang dibung ke jurang ini, dan sampah-sampah ini bisa berjatuhan kapan saja.

Tiba-tiba, aku terpeleset dan membuat tumpukan sampah itu berjatuhan dan kami ikut terhempas. Kalau begini, kami akan tertimbun sampah dan kemudian mati. Tunggu, sepertinya keadaan apapun itu, kami sepertinya akan tetap mati.

Kami terjatuh, dan terhempas ke sebuah padang rumput. Saat aku membuka mata, aku melihat sebuah bunga berwarna hitam dan merah muda di bagian tengahnya. Aku terkejut melihat hal itu, bahkan Cleo juga terkejut melihat hal ini.

“Ini, adalah bunga anggrek hitam,” kata Cleo.

Akhirnya, kami menemukan tumbuhan yang kami cari. Setelah perjuangan yang cukup panjang, akhrnya kami menemukan benda yang kami cari. Kami memetik bunga itu dan berharap bisa langsung kembali ke dunia asal kami. Tetapi, kami masih berada di tempat yang sama, di bawah jurang bersaamaan dengan tumpukan sampah.

“Ini aneh, kenapa kita tidak kembali ke tempat asal kita?” tanya Cleo.

Aku melihat matahari mulai terbit sangat tinggi, ini sudah bukan pagi lagi.

“Sepertinya waktu kita sudah habis, kita akan terjebak selamanya di sini,” kataku.

Kami hanya bisa pasrah, dan mengembalikan bunga anggrek itu di tempatnya semula. Saat itu meletakkan bunga anggrek itu, kami melihat ada banya bunga anggrek hitam lainnya bermekaran di tempat yang sama. Bunga-bunga itu mekar dan memunculkan pemandangan yang sangat indah. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, kemudian aku segera mengusap-usap mataku.

Saat aku kembali melihat, kini aku berada di sebuah jalan buntu di daerah perumahanku. Ini seperti tempatku dan Cleo pertama kali bertemu.

“Sepertinya, kita sudah kembali ke tempat kita semula. Terima kasih atas bantuannya, Nendra,” kata Cleo yang berada di belakangku.

“Iya, setelah perjuangan yang kita lalui, akhirnya kita berhasil kembali,” kataku.

“Petualangan yang mengasyikkan bukan?” tanya Cleo.

“Benar, aku belum pernah merasakan tantangan yang membuatku selalu berdebar-debar,” kataku sambil sedikit tertawa.

“Oh, iya. Aku hampir lupa, aku ingin memberikanmu ini,” kata Cleo sambil memberikanku setangkai anggrek hitam yang sudah mati.

“Kenapa kamu memberikanku ini?” tanyaku.

“Buanglah ini pada tempatnya,” kata Cleo.

Aku terkejut mendengar perkataannya, namun saat aku ingin menatap Cleo, dia hilang bagai ditelan asap. Dan saat sekumpulan asap mulai menghilang, aku terkejut berada di daerah taman dekat perumahanku. Dan saat aku melihat tanganku, kini tanganku tidak memegang anggrek hitam, tetapi kaleng minumanku.

“Apakah kejadian tadi hanyalah imajinasiku?” gumamku.

Aku berjalan hingga menemukan tempat sampah, dan aku membuang sampah minumanku di tempat sampah terdekat. Mungkin, dengan hal kecil yang aku lakukan, seperi membuang sampah pada tempatnya, akan membuat masa depan menjadi indah. Aku tidak ingin masa depan, bumi di penuhi oleh sampah.

Setelah selesai membuang sampah pada tempatnya, aku langsung bergegas pulang ke rumah. Mungkin keluargaku sedang menunggu, kalau aku ceritakan kejadian ini pada temanku, apa yang akan terjadi?

Saat aku pergi, ada sebuah bunga yang mulai mekar di taman itu. Bunga itu berwarna hitam dengan warna merah muda di tengahnya, itulah anggrek hitam.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *