Cerpen #391 Ketika Kaki Tidak Berpijak Pada Tanah

Aku mendayung perahu kayu dengan sekuat tenaga untuk mencapai pusat perbelanjaan di kota. Ibuku memintaku untuk berbelanja karena persediaan bahan makanan di rumah sudah menipis. Aku merogoh sakuku untuk mengambil secarik kertas yang berisi daftar bahan makanan yang harus dibeli. Saat aku sedang membacanya, tiba-tiba sebuah kapal besar mendahuluiku dengan sangat cepat sehingga membuat daftar belanjaanku terbang tertiup angin. Kapal itu berukuran sangat besar dan digerakkan menggunakan tenaga mesin. Aku dapat melihat dengan jelas di atas kapal terdapat beberapa orang dengan pakaian rapi. Mereka adalah orang-orang dari kalangan atas. Beberapa dari mereka melihat ke arahku dan kemudian meledekku secara bergantian.

“Hei Nak, apa yang kau lakukan di bawah sana? Menjauhlah jika tidak ingin tertabrak oleh kapal kami”

“Tangan kecilmu itu tidak mungkin dapat membawamu ke pusat perbelanjaan tepat waktu” sambung yang lain.

“Dayung lebih kuat papan kayu itu jika kau tidak ingin kelaparan!”

“Hahahahahaha” mereka semua tertawa. Aku hanya diam sambil terus mendayung perahu kayuku dengan sekuat tenaga.

Di kota ini, orang-orang dengan harta melimpah dapat berpergian menggunakan kapal besar bertenaga mesin, sedangkan untuk kalangan bawah hanya dapat memiliki perahu yang harus didayung dengan kedua tangan. Pusat perbelanjaannya pun dibedakan menjadi dua tingkat. Lantai atas menjual bahan makanan berkualitas tinggi seperti sayur-mayur yang baru saja dipetik dan daging segar yang berwarna cerah. Itulah mengapa hanya orang-orang dengan kapal besar dan tinggi yang dapat menggapainya. Lantai bawah juga menjual berbagai bahan makanan yang tidak kalah lengkap dengan lantai atas, hanya saja kualitasnya lebih buruk dari apa yang dijual di lantai atas. Daging yang di jual di lantai bawah berwarna pucat, sayur-mayurnya kebanyakan pun sudah layu. Aku bahkan melihat terdapat sebuah keranjang dipenuhi buah-buahan yang sudah membusuk. Kendati demikian, pusat perbelanjaan lantai bawah tetap dipenuhi oleh pembeli dari berbagai penjuru kota. Kami yang berada di kalangan bawah tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup.

“Tuan, aku ingin membeli sekantung beras dan juga tiga ekor ikan”

“Baiklah, tunggu sebentar”

Tidak selang lama, penjual itu memberikan apa yang aku pesan. Namun, setelah aku periksa ternyata beras itu dipenuhi kutu. Aku pun berusaha meminta penjual itu untuk menggantinya.

“Tuan, beras ini memiliki banyak kutu. Bisakah kau menggantinya dengan yang lebih baik?”
“Tidak ada! Jika kau berharap mendapat bahan makanan yang bersih, kau mendatangi tempat yang salah” penjual itu justru memarahiku.

Setelah selesai berbelanja, aku kembali mendayung perahuku kembali ke rumah sambil berharap bahwa tidak ada yang terlewatkan karena daftar belanjaanku hilang tertiup angin. Dilihat dari bahan makanan yang kubeli, sepertinya keluarga kami akan mengadakan makan malam yang istimewa. Hari ini, ayahku akan pulang ke rumah setelah selesai dari bertugas. Ayahku adalah seorang prajurit di mana ia hanya dapat pulang ke rumah setiap enam bulan sekali selama satu minggu. Meski ayahku bekerja untuk negara, tetapi itu tidak cukup untuk membuat keluarga kami berada di kalangan atas.

Sesampainya di rumah, aku mengikat perahuku ke tiang rumahku agar tidak hilang terseret arus. Aku tinggal di sebuah bangkai kapal yang dimodifikasi oleh ayahku menjadi sebuah rumah. Di dalam rumah, ibuku sudah menungguku di dapur untuk membantunya memasak. Aku mengambil seluruh bahan makanan yang baru saja aku beli dan menyiapkannya di atas meja. Semuanya telah siap di atas meja makan tepat saat ayahku sampai di rumah. Aku dan ibuku menyambut ayah dengan hangat. Aku membantu melepas jaket ayah dan menggantungkannya di belakang pintu. Setelahnya, kami menyantap makanan bersama-sama.

Aku selalu bersemangat saat ayahku pulang dari bertugas. Setiap ayah ada di rumah, ia akan mengantarku ke sekolah karena di saat itulah teman-temanku dari kalangan atas tidak berani untuk meledekku. Mereka semua merasa segan dengan tubuh ayahku yang tinggi dan besar itu. Berbeda dengan pusat perbelanjaan di kota ini yang membeda-bedakan antara kalangan atas dan kalangan bawah. Pemimpin di kota ini adalah orang yang adil dalam hal pendidikan. Tidak ada perbedaan sekolah antara kalangan atas dan kalangan bawah, semuanya mendapat perlakuan dan fasilitas yang sama.

Sekolahku berada di sebuah kapal induk yang cukup besar. Kapal induk ini terintegrasi dengan kapal induk lainnya untuk memudahkan proses belajar mengajar seperti kapal induk untuk olahraga, kapal induk kesehatan, dan kapal induk perpustakaan. Sekolahku memiliki tiga tingkatan, yaitu dasar, menengah, hingga lanjut. Kini aku berada di tingkat menengah.

Setelah mengantarku ke sekolah, ayahku kembali pulang.

“Sampai jumpa, Nak. Belajarlah yang rajin di sekolah. Nanti ayah akan menjemputmu”

“Baik, yah. Tentu saja, aku ingin mewujudkan cita-citaku sebagai seorang ilmuwan”

Bel sekolah dibunyikan, tanda bahwa pelajaran akan segera dimulai. Mata pelajaran untuk hari ini adalah lingkungan hidup. Guruku menjelaskan bagaimana kehidupan bumi di masa lalu.

“Sekitar 100 tahun lalu, ketika bumi ini masih memiliki banyak daratan, banyak orang-orang yang tidak acuh dengan lingkungan. Hampir semua orang menggunakan sumber energi berbahan baku fosil yang tidak ramah lingkungan sehingga menyebabkan pemanasan global. Pemanasan global adalah suatu peristiwa di mana ekosistem di bumi menjadi tidak seimbang akibat peningkatan suhu rata-rata atmosfer. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat sehingga akan mencairkan banyak es di kutub. Akibatnya, volume air akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Selain itu, penipisan lapisan ozon juga terjadi karena meningkatnya karbon monoksida. Karbon monoksida dihasilkan dari kendaraan bermotor dan pabrik. Penyerapan gas-gas pemicu kerusakan lapisan ozon terganggu lantaran maraknya penggundulan hutan yang turut berkontribusi. Itulah yang menyebabkan kondisi bumi seperti sekarang ini”

Selesai menjelaskan. Guruku melemparkan sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya.

“Apa ada yang bisa menjelaskan apa itu gas karbon monoksida?”

Dengan percaya diri aku mengankat tanganku.

“Karbon monoksida adalah gas tidak berwarna, tidak berbau, dan beracun yang mudah terbakar. Gas ini dihasilkan melalui pembakaran gas, minyak, bahan bakar padat, atau kayu” jawabku.

“Tepat sekali. Dahulu, sumber energi yang paling banyak digunakan adalah bahan bakar minyak. Namun, sekarang hampir semuanya menggunakan energi listrik dan matahari. Saat ini, ilmuwan di seluruh dunia sedang melakukan penelitian dan mengembangkan teknologi untuk mengembalikan kondisi bumi ke keadaan semula di mana manusia masih berpijak di atas tanah. Mereka juga sedang berusaha mengembalikan kutub utara dan kutub diselimuti oleh es yang tebal”

Mata pelajaran sejarah selalu membuatku merasa kesal atas perbuatan manusia di masa lalu yang yang tidak bertanggung jawab. Generasi berikutnya merasakan dampak atas perbuatan mereka. Di masa sekarang, jenis kendaraan bermotor yang ada di buku sejarah sudah tidak terlihat. Semuanya hanya dipamerkan di dalam museum-museum.

Bel sekolah berdering tanda kegiatan belajar selesai dan seluruh siswa diperbolehkan pulang. Aku melihat ayahku sudah menungguku di depan dengan perahu dayung miliknya. Saat perjalanan pulang, aku bertanya pada ayah apa yang dilakukan oleh ilmuwan di tempat kerja ayah. Ayah bekerja menjaga laboratorium dan hutan negara agar aman dari bahaya.

“Mereka merawat pohon-pohon yang ada di hutan dengan sangat baik agar menghasilkan oksigen untuk manusia bernapas. Teknologi-teknologi canggih juga terus dikembangkan untuk membuat air surut agar daratan kembali terlihat”

Sesampainya di rumah, aku melihat ibuku sedang membereskan rumah. Aku beranjak mendekatinya.

“Ibu, apakah ada yang bisa kubantu?”

“Bisakah kau memindahkan kardus itu ke dalam gudang, Nak?”

“Siap, laksanakan” kataku sambil memberi hormat layaknya seorang prajurit.

Saat memasuki gudang, aku melihat tumpukan buku-buka tua di rak. Karena penasaran, aku coba melihat-lihat sejenak. Ada sebuah buku besar yang sudah usang. Kertasnya berwarna buram, tetapi tulisannya masih sangat jelas. Saat membacanya, ternyata itu adalah buku catatan milik kakek buyutku. Dari buku tersebut aku dapat mengetahui bahwa dulu kakek buyutku adalah seorang ilmuwan di bidang lingkungan hidup. Selain itu, dia juga merupakan seorang aktivis yang gencar mengampanyekan gerakan peduli lingkungan.

“19 Maret 2019. Hari ini aku mendapat laporan bahwa es di kutub selatan menipis. Suhu di kota-kota besar juga meningkat. Musim panas tahun ini adalah yang paling panas dalam 10 tahun terakhir. Aku membuat artikel yang mengajak orang-orang untuk menghemat energi dengabn mengurangi penggunaan kendaraan bermotor agar pemanasan global tidak terjadi, tetapi tidak ada hasil yang signifikan”

“16 Agustus 2020. Banyak diberitakan bahwa cadangan minyak bumi menipis. Seluruh perusahan yang bergelut di bidang minyak dan gas bumi gencar mencari cadangan baru minyak bumi di bagian bumi lainnya. Aku mencoba menawarkan teknologi terbaru kepada pemerintah agar memproduksi kendaraan bertenaga listrik. Namun, pemerintah tidak tertarik karena tidak menghasilkan keuntungan yang banyak. Mereka lebih suka menambah jumlah kendaraan berbahan bakar minyak bumi dengan alasan memperkuat ekonomi negara”

“12 November 2020. Tersebar berita bahwa beberapa pantai di berbagai tempat mengalami air pasang yang cukup lama. Bahkan, air laut mulai mencapai bangunan yang jaraknya cukup jauh dari pantai. Aku berusaha meyakinkan mereka untuk segera pindah karena wilayah itu akan segera tenggelam, tetapi mereka tidak peduli dan tetap tinggal di sana”

Rupanya dia sudah memprediksi bahwa hal buruk akan terjadi di masa depan jika tidak segera ditangani. Tidak ada yang mau mendengarkannya karena akan merugikan bisnis dunia. Kini, semua yang dikatakan kakek buyutku benar. Semuanya benar benar terjadi. Es di kutub utara dan selatan mencair, bumi didominasi oleh air, dan hanya ada sedikit daratan yang dapat dipijak, itupun hanya untuk hutan di mana oksigen dihasilkan. Dari cerita kakek buyutku, aku dapat menyimpulkan bahwa umat manusia baru akan sadar akan kesalahannya ketika kejadian buruk menimpa mereka. Jika mereka mendapatkan keuntungan dari perbuatan yang mereka lakukan meski itu merugikan alam, mereka tetap akan melakukannya. Aku kemudian menutup buku catatan milik kakek buyutku yang berdebu itu dan menyimpannya di kamarku. Aku akan menjadikannya motivasi kepada diriku sendiri untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Aku memang bercita-cita menjadi seorang ilmuwan seperti kakek buyutku. Aku berniat untuk mengembalikan keadaan bumi seperti 100 tahun yang lalu di mana kaki dapat menginjak tanah, bukannya air.

19 thoughts on “Cerpen #391 Ketika Kaki Tidak Berpijak Pada Tanah

  1. Alur ceritanya menarik, pemilihan diksinya juga tepat. Cerpennya menambah pengetahuan bagi pembaca ttg keadaan bumi skrg dan berharap kita semua bisa menjaga bumi agar tidak rusak kedepannya.

  2. Cerpennya mantulss. Memberikan kesan implisit klo udah saatnya manusia sadar tentang berapa pentingnya menjaga alam. Naissss pokoknya.

  3. Cerpen ini sangat bagus, menyadarkan tentang mirisnya kondisi Bumi kita saat ini, mengingatkan untuk hidup disiplin, menghemat dan menghargai sumber daya alam yg kita miliki.

  4. Keren sih.. Ceritanya sarat akan makna namun dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.. Banyak pelajaran dan pengetahuan yang dapat diambil dari kisah ini.. Cintai bumi sebelum kesempatan untuk merawatnya pergi..

  5. Keren sih.. Ceritanya sarat akan makna namun dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.. Banyak pelajaran dan pengetahuan yang dapat diambil dari kisah ini.. Cintai bumi, sebelum kesempatan untuk merawatnya pergi..

  6. Menarik banget, banyak pesan-pesan yang terkandung didalamnya bukan hanya tentang lingkungan hidup yang harus di jaga tapi juga mengenai keterbatasan ekonomi yang dihadapi meskipun itu ia tetap bersyukur dan tak menyerah untuk meraih cita. Memotivasi sekali!

  7. Menarik sekalii cerpennya, secara tdk langsung menyadarkan kita akan kondisi alam yg semakin ke sini, ternyata tidak baik baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *