Cerpen #390 Negeri Hujan

Minggu terakhir di November tahun 2065. Hari ketiga ratus dua puluh delapan hujan turun siang malam tanpa henti. Bumi membuka mata, mengejap-ngejapkannya dan berpaling memandangi langit gelap di luar jendela kamarnya. Angin berhembus menyibak-nyibak gorden, air merembes disela-sela kusen. Dari ruang tamu sayup-sayup ia mendengar berita lokal di radio, pembawa acara membacakan ramalan cuaca dari BMKG. Sekilas ia menangkap bahwa hujan intensitas tinggi diselingi angin kencang dipastikan tak akan berhenti sampai sebulan ke depan. Tak lama kemudian terdengar keheningan. Bumi mendengar neneknya bicara sendiri lagi.

Bumi bangkit dari ranjangnya. Sensasi dingin menjalari kakinya ketika ia menurunkan kaki ke lantai. Ia memandangi air yang menggenang. Naik sekitar dua centi dari bekas luka pada tumitnya ketika ia meninggalkannya tidur semalam. Bumi mendesah pelan.

“Kalau hujan bertahan beberapa hari lagi maka kita harus segera mengungsi,” neneknya muncul di muka pintu kamarnya. “Apa kau sudah mengubungi Oom Junus?”

Masih terasa sakit dikepalanya sisa begadang semalam, Bumi bangkit dan berjalan ke ruang depan. Bunyi air bah bergulung-gulung terseret langkahnya. Nenek mengikuti dengan padangan. Remaja laki-laki itu membuka tudung saji pada meja, terdiam sesaat setelah menemukan tak ada apa-apa selain sepiring nasi dan sebutir telur rebus.

“Nenek sudah sarapan?” Tanyanya dengan suara pelan.

“Makanlah itu,” jawabnya. “Aku tak menemukan apa-apa lagi di lemari. Stok makanan yang diberikan Oom Junus minggu lalu sudah habis.”

“Kita bagi dua saja.”

“Tak apa. Kau akan pergi sekolah. Saya bisa bergabung dengan perempuan di dapur umum siang ini.”

Bhumi mengambil piring tersebut dan naik duduk di atas bufet kecil, berdesakan dengan sejumlah kardus berisi barang-barang yang sewaktu-waktu harus dibawa pergi jika himbauan pemerintah untuk mengungsi keluar lagi. Bulir-bulir air menetes di ujung jari-jari kakinya.

“Kardusnya lebih satu, nek.” kata Bumi, “Benda-benda apa itu?”

“Itu bukan apa-apa,” balas nenek cepat, “hanya beberapa pakaian lama dan selimut.”

Bumi menatap neneknya curiga. Sambil mulutnya mengunyah nasi ia membongkar kardus tersebut. Bumi menggelenggeleng pelan. “Sudah berapa kali kukatakan, kenapa nenek harus menyimpan foto-foto ini.”

Nenek dengan sigap menarik kardus itu, mengambil ke dalam pelukannya. Ia memandangi Bumi dengan ekspresi protes.

Itu adalah foto-foto keluarga lama. Foto nenek Bumi bersama suami dan anak-anaknya. Nenek memiliki empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Pada sebuah foto menampilkan keluarga lengkap. Di sana ada ayah Bumi mengenakan baju kemeja. Ia merpakan anak tertua. Usianya mungkin sekitar enam belas tahun, rambut di sisir ke samping kanan. Mereka sekeluarga berdiri di sebuah taman, dengan pohon dedalu rendah dan rumput hijau sebagai latar belakangnya. Di balik foto terdapat tulisan tahun 2041, Taman Benteng kota Batangkayu Selatan. Kini tempat itu sudah tidak ada lagi karena semua daratannya telah berubah menjadi laut. Konon, keluarga ayahnya berasal dari kota tersebut, tapi terpaksa mengungsi ketika terjadi gelombang besar Badai Greta kedua, lima tahun setelah foto tersebut diambil.

Bumi segera kehilangan selera makannya. Ia meneguk air mineral dari dalam botol lalu bangkit mengenakan jas hujan yang tergantung di dinding. Ia sempat melirik payung dan berpikir apakah ia perlu membawanya juga. Tapi ia memutuskan tidak. Bumi berpamitan pada neneknya dan menyarakan neneknya agar naik saja ke lantai paling atas jika cuaca berubah cerah. Meski ia tak yakin sama sekali tentang itu.

Di koridor Bumi melirik ke kamar nomor 307 tempat Putri dan keluarganya tinggal. Mereka tak kembali, batinnya. Pintu terkunci dan ampu depan tak menyala. Dua minggu lalu beberapa keluarga di lantai tiga rusun ini memang telah memutuskan untuk pergi. Mereka percaya hujan tak akan berhenti dalam beberapa bulan ke depan. Dua lantai di bawahnya telah lama ditinggalkan karena air telah sampai ke langit-langit. Tersisa tiga lantai di atasnya yang berpenghuni, tapi suasana semakin sunyi dari hari kehari. Setiap pagi satu dua keluarga dikabarkan telah meninggalkan rusun itu pada tengah malam. Sudah jadi rahasia umum bahwa orang akan pergi dari sana secara diam-diam. Mereka berusaha untuk tidak memancing rasa cemburu penghuni lain yang terjebak di sana. Mungkin juga ada semacam rasa bersalah dalam diri mereka yang pergi.

Bumi dan neneknya juga harus segera memikirkan cara untuk keluar dari sana. air semakin meninggi setiap jam. Pemerintah sudah mengeluarkan imbauan sejak minggu lalu bagi penghuni lantai tiga untuk segera memikirkan tempat lain. Namun banyak yang tak memiliki uang lagi untuk menyewa rusun di perbukitan Santiro, dua jam menggunakan perahu dari tempat tinggal mereka sekarang. Itu adalah satu di antara empat bukit tersisa yang belum tergenang air di kota ini. Pemerintah baru saja membangun komplek pengungsian di sana tapi menarik biaya sekitar enam belas juta untuk sebuah kamar. Konon, tempat itu lebih kecil dari rusun sekarang, hanya tiga kali empat meter per ruangannya. Ia tak bisa membayangkan Putri dan empat adiknya hidup berdesakan di sana.

Namun, bagaimanapun, berada di bukit Santiro lebih aman dibanding tepatnya berpijak saat ini. Persoalannya hanyalah uang. Bumi tahu, tak seorangpun yang merasa lebih aman tinggal di sini. Beberapa keluarga akan segera pindah jika mereka punya cukup uang untuk menyogok makelar perumahan dan polisi. Apalagi jika mendengar berita bahwa badai Greta ketiga telah melewati samudera pasifik dan sedang bergerak ke arah kepulauan Indonesia.

Di depan sebuah kamar yang ditinggalkan, Bumi menemukan Pak Tua Syamsul sedang tertidur di atas sebuah troli belanjaan. Ia megangkat selimut yang menutupi badannya dan menemukan pakaian lelaki itu basah semua. Tubuhnya menggigil.

“Oi, jangan tidur di sini,” Bumi menguncang-guncang tubuh pak tua. “Naiklah ke lantai atas cari sesuatu untuk mengeringkan badanmu.

Pak Tua Syamsul hanya mengibas-ibaskan tangan. Mulutnya mengeluarkan suara pelan dan pendek yang tak bisa ditangkap. Tak ada yang tahu dari mana datangnya lelaki tua ini. Ia muncul di rusun sekitar beberapa bulan yang lalu. Karena tak memiliki uang untuk membayar kamar ia hanya bisa tidur di koridor dan muncul di dapur umum untuk menukar beberapa lelucon yang didengarnya dengan sisa-sisa makanan.

“Di sini basah, kau bisa mati kedinginan.”

“Tak usah kau pikirkan,” balas lelaki tua itu. “Saya telah berhasil selamat dari dua bencana besar. Di kampungku dulu di Jakarta, mereka menyebutku perenang handal. Ketika bandara Sokarno Hatta amblas ke laut lima belas tahun lalu, saya termasuk sedikit di antara orang-orang yang mampu selamat. Perkampungan sekitar kawasan ikut tenggelam. Saya melihat ribuan orang terseret air tak mampu menyelamatan diri. Tapi Alhamdulillah, tuhan masih memberiku sepasang kaki dan tangan yang kuat untuk menyelamatkan diri…”

Bumi telah sering mendengar cerita ini dari mulut Pak Tua sejak kedatangannya yang pertama. Tetapi mendengar itu sepanjang waktu akhirnya membosankan juga. Semua terdengar seperti racauan orang pikun. Bumi meninggalkan pak tua itu mengoceh sendirian.

“Dua hari dari sekarang,” Pak Tua mengangkat satu tangannya. “Bukan, bisa jadi lebih cepat dari itu. Awan hitam dari pasifik hampir melewati tempat ini,” katanya sambil menyorongkan telunjuk melewati bahu Bumi.

Anak itu berbalik untuk melihat yang dimaksud pak tua. Ia berjalan menuju jendela. Dari tempatnya berdiri ia menyaksikan gumpalan awan hitam yang menggantung rendah di kejauhan membawa kilatan-kilatan petir kecil. Serupa gelombang kapas raksasa menyelimuti kota dan akan melumat orang-orang di bawahnya. Bumi telah sering mendengar tentang Badai Greta. Buku sejarahnya di sekolah dasar mengatakan yang pertama terjadi bersamaan dengan mencairnya separuh daratan di kutub utara 30 tahun lalu. Badai Greta menenggelamkan hampir semua kepulauan Karibia dan pantai timur semenanjung Benua Amerika. Ada beberapa pulau kecil bekas jajahan Prancis menghilang dari peta dunia. Dan sejak saat itu keadaan dunia berubah menjadi tak terkendali. Di tahun 2039 Korea Utara melancarkan rudal pertamanya ke pangkalan militer AS di laut Cina Selatan yang dibalas dengan penyerbuan delapan belas hari yang menelan korban delapan puluh ribu korban jiwa di wilayah Komunis itu.

Pada saat yang hampir bersamaan di Eropa terjadi huru-hara besar. Gerakan sayap kanan baru di Jerman dan Polandia berhasil mengambil alih kekuasaan dan melakukan serangkaian tindakan intimidasi terhadap para Imigran asal Amerika Selatan yang negaranya tenggelam dan Timur Tengah yang dilanda kekeringan panjang. Segera terjadi kerusuhan yang mengakibatkan serangkaian peledakan bom di sejumlah stasiun kereta dan tempat pubik. Peristiwa itu terjadi di waktu seluruh dataran Eropa mengalami musim dingin yang panjang. Langit berubah menjadi kelabu dan menurunkan butiran-butiran es. Sementara itu di tanah kering timur tengah kelompok-kelompok ekstrimis terus melancarkan perang kepada rezim diktator dengan melakukan serangkaian pembunuhan politik. Pada November 2042 sejumlah negara Arab yang dibantu oleh Israel mengumandangkan perang terhadap Iran. Namun, peristiwa yang paling diingat tentulah bukan perang itu sendiri, melainkan lubang besar misterius yang menghisap satu kota di perbatasan Saudi dan Yaman. Berturut-turut muncul lubang lain di sejumlah kota di Suriah, Lebanon, dan Irak. Tak terhitung banyaknya korban jiwa berjatuhan. Dunia yang diambang perang dunia ketiga harus mengalihkan pandangan karena menyadari adanya bahaya lain sedang menjelang.

Bencana-bencana alam besar menimpa dunia hampir bersamaan. Ledakan tambang di Chile. Banjir besar di China, gagal panen, dan kelaparan terjadi di mana-mana. Bocornya laboratorium nuklir di Vladivostok karena gempa bumi dan badai tornado yang hampir terjadi setiap pekan menyapu hampir seluruh Amerika. Kemarau panjang yang membunuh jutaan orang di Afrika tengah dan barat. Para pemimpin dunia dipaksa menunda perang di antara mereka, menguji kembali kesepakatan-kesepakatan tentang perubahan iklim yang tak menentu. Dunia dipaksa mengambil praktis untuk menghadapi perubahan iklim yang berubah cepat dan tak menentu.

***

Bumi segera tersadar bahwa ia memiliki banyak hal yang harus dilakukan hari ini. Ia melepas tali penambat sekoci miliknya. Ia segera naik lalu mulai mendayung. Ia memandangi gedung tempatnya tinggal yang kini setengah tenggelam di belakangnya, lalu mendayung lagi. Rumah-rumah dan tiang listrik tenggelam, menyisakan atap-atap genteng, satu-satunya peninggalan peradaban masa lalu yang bisa dikenalinya. Sekawanan gagak terbang ketika melihatnya lewat. Bumi mendayung, melewati gedung-gedung sepuluh tingkat yang ditinggalkan penghuninya. Kota sepi sekali pagi ini, seolah-olah semua orang menghilang entah kemana. Di sudut sebuah blok ia bertegur sapa dengan tetangga di atas perahu karet lain. Bumi mengenalinya sebagai pasangan tua Pak Yan dan nyonya yang tinggal di lantai atas.

“Pulanglah, nak,” kata Pak Yan. “Kau hanya akan buang-buang waktu sepagi ini. Mereka telah mengosongkan persediaan, membawa pergi jatah kita untuk minggu ini.”

Bumi berhenti mendayung. Mereka sedang membicarakan orang-orang di kantor stok makanan. Sekali seminggu Bumi harus ke sana mengambil jatah makanan yang dibagikan pemerintah.

“Tak ada petugas di sana. Kosong melompong,” tambah si sitri. “ Tempat itu telah ditutup tanpa sepengetahuan kita semua. Dasar korup.”

Bumi mengangguk dan segera berpamitan kepada pasangan tua itu. Ia mendayung cepat ke kantor Pusat Stok dan Informasi.

Gedung itu terletak di atas sebuah bukit. Termasuk satu di antara beberapa daratan yang belum tenggelam. Bangunan itu berukuran tiga puluh kali dua puluh tiga meter. Dinding bangunanya terbuat dari sisa-sisa peti kemas. Ketika pertama kali dibangun enam bulan lalu, puluhan tentara dan empat buah tank berjaga di sini untuk mencegah penjarahan. Namun, hari ini tak ada satupun petugas terlihat. Tank-tank ditinggalkan, tak ada penjaga. Hanya beberapa warga biasa yang juga menunggu jatah makanan terlihat mondar mandir di pekarangannya. Bumi menarik sekocinya ke dataran berumput dan berlari masuk ke gudang.

Tapi tak ada apa-apa di dalam. Gudang itu bersih. Tak ada rak-rak kayu dengan ikan dan sayur. Tak ada roti atau tepung. Tersisa sebuah spanduk pemberitahuan ukuran besar di dinding, saking besarnya tak seorangpun bisa keluar dari sana dengan mengabaikan tulisan-tulisan itu.

“Pemerintah telah memberi peringatan terakhir. Kota ini harus segera disterilkan demi menghindari korban berjatuhan sebelum dan sesudah Badai Greta ketiga yang akan melintasi kepulauan dalam beberapa hari ke depan. Kami telah berupaya semaksimal mungkin membantu kalian di masa-masa sulit ini, tapi kalian…”

Bumi geram. Ia tak berniat melanjutkan membaca. Pemerintah memang sangat senang menyalahkan warganya atas ketidakbecusan mereka sendiri.

“Mereka benar-benar mau membunuh kita di sini,” seorang lelaki berkepala pelontos muncul setengah menangis. “Oey, kau punya sesuatu hari ini, bagilah denganku, saya punya tiga anak dan istri di rumah yang kepalaran..”

“Anda tinggal di mana?”

Belum lagi lelaki itu menjawab, beberapa orang lain segera bergabung mengeilingi Bumi dan ikut menagih makanan. Bumi cepat-cepat mengaku bahwa ia bukanlah petugas yang menjatah makanan.

Terdengar desahan putus asa dari orang-orang. Tak ingin membuat mereka kecewa Bumi berjanji akan mengusahakannya nanti. Tapi mereka juga tidak boleh terlalu berharap.

“Kalian semua tinggal di mana??”

“Kami tinggal di Distik 603. Sebelah utara bekas rel kereta api.”

“Bekas gedung stasiun televisi, tepatnya,” sahut yang lain.

“Tapi bukankah itu tempat yang masuk zona hitam?” Bumi merujuk pada pelajaran sekolah dasarnya tentang wilayah-wilayah yang sengaja ditinggalkan demi menghindari perubahan jalur sungai yang sewaktu-watu bisa terjadi karena gempa atau banjir besar.

“Kami tak bisa pergi kemana-mana lagi,” jawab lelaki berkepala plontos. “Dan kami memang tak akan kemana-mana. Kami tak punya uang atau pekerjaan untuk membayar apartemen.”

“Begitu, ya,” gumam Bumi yang seolah tak berarti apa-apa. Setelah mengulangi janjinya kepada orang-orang itu ia segera kembali ke sekocinya dan melanjutkan perjalanan.

Tak ada sekolah dalam agendanya hari ini. Lagipula, yang dimaksud sekolah ketika ia meminta izin kepada neneknya keluar setiap pagi bukanlah duduk di dalam ruangan dan mendengar ceramah pada guru yang mengulang-ulang optimisme pemerintah. Bumi sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa bersekolah di saat-saat seperti ini hanyalah membuang-buang waktu. Banyak di antara teman-teman sekelasnya yang memilih berhenti dan mencari kerja saja untuk menyambung hidup. Ia selalu merasa bahwa guru hanyalah perpanjangan tangan pemerintah dalam menyebarkan berita palsu dan propoganda terkait situasi yang mereka alami. Ini seperti moncong berlapis dimana guru mengulang perkataan pemerintah, pemerintah menyampaikan kebohongan pemimpi-pemimpin dunia. Sekumpulan manusia tak berguna yang berlagak seolah menyematkan dunia.

Terus mendayung, Bumi memandang langit, hujan turun semakin deras. Gelombang awan gelap semakin mendekat. Ia tertawa sendiri mengingat perkataan pemimpin-pemimpin dunia itu ketika berbicara tentang imigrasi ke Planet lain.

“Dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun lagi, ilmuwan kita akan menemukan cara yang layak untuk mengirim penduduk bumi ke planet terdekat yang memiliki ciri-ciri dan prasyarat hidup seperti tempat kita tinggal saat ini,” janji Sekjen PBB dalam pidatonya yang terkenal itu.

“Sebentar lagi bumi kita berpijak akan hancur. Ini menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Dengan berat hati kami mengatakan bahwa tak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan dari hari ke hari sambil menunggu kepastian…” optimisme yang diteruskan dalam pidato presiden pada hari kemerdekaan menciut menjadi rasa bersalah.

“Intinya kita semua harus berusaha bertahan dari situasi ini. Insyaalah dengan pertologan yang maha kuasa…” sambut pak Gubernur yang mulai tidak mempercayai ucapannya sendiri.

“Kalau ada yang mati itu bukan urusanku,” kata walikota. “Kau kira aku juga gak pusing mikirin kalian? Aku juga tinggal di kota yang sama. Bakal mati tenggelam bersama kalian, jadi mengapa kalian terus-menerus menuntut kepadaku?”

Bumi tahu merekalah semua penyebab malapetaka ini. Ada sejarah panjang ketika dunia berada di tangan orang-orang arogan dan bebal. Industrialisasi tanpa ampun, emisi karbon, pembakaran hutan yang menyebabkan pemanasan global. Sejarah juga mencatat bahwa di masa lalu gelombang perlawanan muncul terhadap segala keserakahan itu. Sayangnya, ada lebih banyak orang bebal di dunia waktu itu. Pada akhirnya tak ada yang bisa menyelamatkan dunia ini. Protokol Kyoto, Berlin, Rio, dan ratusan kesepakatan lainnya mandeg di tengah jalan. Tak ada solusi. Kekeringan dan kelaparan terlanjur bermunculan di mana-mana.

Lalu hari ini, sisa-sisa generasi pengacau itu mencoba mengobarkan optimisme di atas perahu yang perlahan karam.

Bumi membiarkan dirinya terbawa arus, berkelok di satu blok dan muncul di blok lain. Ia akhirnya tiba di sebuah gedung yang dindingnya dilukisi wajah seorang gadis remaja. Ada banyak orang di dalam gedung, dari kejauhan terdengar suara-suara. Bumi sebenarnya cukup terlambat untuk pertemuan tersebut. Ketika ia menambatkan sekocinya, ia diam sebentar, memperhatikan gambar gadis itu lekat-lekat. Greta Thurnberg, tak bosan-bosan ia menatap wajahnya. Seorang gadis dari masa lalu yang namanya ditulis dalam huruf kapital dalam setiap buku sejarah. Pada masanya Greta merupakan aktivis lingkungan yang sedari kecil telah begitu lantang berteriak di muka petinggi dunia untuk peduli terhadap krisis iklim. Kini namanya diabadikan sebagai protes alam terhadap dosa manusia yang mengambil bentuk sebagai badai Greta.

Beberapa remaja yang berkumpul di sekitar koridor menyapa Bumi. Ia segera melepas jaketnya dan langsung menaiki tangga menuju ruang pertemuan. Di tengah jalan ia bertemu Fitri.

“Kemana saja?” ia berjalan menejejeri Bumi, berusaha menyamakan langkah. “Rapat sudah jalan dua puluh menit. Setiap orang sudah menyodorkan tuntutannya.”

“Ada sedikit maslah di tengah jalan.”

“Apa nenekmu sakit lagi?”

Bumi menggeleng. “Tidak, dia sehat saja.”

“Kau sudah menemukan cara untuk pindah ke Santiro?” Balas Fitri cepat. “Ayahku sudah berbicara dengan petugasnya untuk menyimpankan satu ruangan untuk kamu dan nenekmu.”

“Terima kasih,” balas Bumi, “Tapi sepertinya saya tidak akan pindah dalam waktu dekat.”

“Kenapa?”

“Tidak dengan uang sebanyak itu,” Bumi menatap mata Fitri. “Lagipula, saya terlalu sibuk memimpin organisasi sampai lupa dengan hal-hal seperti itu. Kau bahkan mungkin belum mendengar jika pemerintah telah mengosongkan gudang makanan dan membawa semuanya pergi.” Bumi segera berlalu.

Fitri menghentikan langkahnya, tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap punggung Bumi yang menyelinap masuk ke ruang rapat.

Hari ini bertepatan dengan dua puluh tahun kematian Greta Thunberg. Sejumlah oragnisasi lingkungan dan kelompok pemuda di kota itu berkumpul untuk merancang demonstrasi di gedung kantor walikota. Beberapa poin tuntutan hari ini telah disepakati dan ditulis di dinding. Bumi menyarakan agar poin lain tentang penjatahan makanan juga dimasukkan. Tapi memikirkan apa yang terjadi barusan membuatnya berkecil hati. Ia melirik ke Fitri yang berdiri di samping pintu, menyadari bahwa mereka berbagi kekhawatiran yang sama. Kini tak ada waktu lagi. Pemerintah nampaknya tak ingin meladeni demonstrasi tahunan seperti ini, dan bagian paling bajingannya, mereka diam-diam memutuskan untuk meninggalkan kota hari ini juga.

Tak ingin membagi pesismisme kepada yang lain Bumi menginstruksikan kelompok aksi untuk berfokus pada persiapan teknis dan peralatan. Ia juga berhasil memaksakan bahwa demonstrasi harus dipercepat dua jam lebih awal. Beban sebagai ketua Persekutuan Pemuda Greta kini terasa begitu berat di pundaknya. Ia menyaksikan remaja-remaja seusianya dengan antusias menyiapkan tuntutan. Mereka menyetel pengeras suara, mengecat spanduk panjang berisi tulisan mengutuki pemerintah dengan kata-kata yang tajam. Semua itu memang sedikit mengangkat moralnya. Namun, entah mengapa ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka semua hari ini.

Pukul sembilan rombongan mulai berangkat menaiki sekoci karet. Delapan belas sekoci dengan tujuh sampai sepuluh anak muda pada tiap perahu. Bendera dinaikkan. Foto-foto Greta Thunberg dan syair-syair perjuangan yang semuanya digali dari kebijaksanaan masa lalu menggema dari bibir-bibir menggigil anak muda itu.

Kota benar-benar suram hari ini. Tak ada polisi atau patroli laut yang terlihat lazimnya menjelang demonstrasi. Orang-orang tak terlihat dimana-mana. Beberapa lansia memang muncul di jendela, mengintip konvoi anak-anak muda ini dari balik korden. Fitri menyenggol lengan Bumi, menunjuk ke atap sebuah gedung. Seekor kucing hitam tengah bersantai di bawah kanopi memperhatikan mereka dengan malas. Bumi menyunggingkan senyum. Andai kucing itu tahu di dunia seperti apa ia hidup saat ini.

Ketika ia memikirkan itu hatinya diliputi rasa sedih yang sangat dalam. “Ini sudah hukum alam, yang kuatlah yang akan bertahan” teringat ia kata Oom Junus malam itu. Semuanya dimulai dengan pertengkaran hebat dan pertukaran sumpah serapah di antara mereka.

“Tapi dia adalah ibumu,” kata Bumi. “Kau punya jabatan di pemerintahan, tapi kau tak melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya.”

“Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk itu? Aku telah melakukan segala cara. Tapi dia tak mau tinggal di panti bersama para lansia.”

“Bukan salah dia jika ingin terus bersama anak-anaknya,” balas Bumi, “Dia terus menunggumu di rumah, setiap hari. Dan aku harus berbohong kepadanya bahwa kau terlalu sibuk untuk bekerja. Katakan saja kalau kau menganggapnya sebagai beban.”

“Bukan begitu,” Oom Junus mendesah nyaris putus asa. “Situasi sedang sulit. Kau tahu posisiku sebagai Kepala Penanggulangan Bencana, bukan? Saya memiliki banyak hal untuk kupikirkan sepanjang hari.”

“Jadi, kau pikir selama ini aku tidak melakukan apa-apa?”

“Tenang dulu. Kau menyalahpahami maksudku. Harus kuakui bahwa kau menjadi dewasa begitu cepat,” kata Oom Junus. “Tak ada yang pernah menyangka bahwa bencana ini akan menghancurkan sisi manusiawi orang-orang. Aku sering menyaksikan betapa orang-orang berubah menjadi licik jika berbicara tentang keselamatan diri sendiri. Menghadapi air yang sudah seleher, jangankan harta benda, ibu dan anak pun akan diinjak agar bisa mendaki ke atas. Kau paham maksudku.”

Bumi menggeleng. “Jadi benar kau menganggap tindakan meninggalkan ibumu ini sebagai sesuatu yang boleh saja?”

Oom Junus mendesah. “Kau tak boleh menuduhku seperti itu. Pada malam ketika mereka semua pergi tak ada yang bisa kulakukan selain menangis. Usiaku baru empat belas tahun, sama denganmu waktu itu. Bendungan pecah pukul dua malam dan aku mendapati ibu berdiri di dekat pintu menyaksikan air yang mulai meninggi dengan cepat. Aku tak tahu bagaimana ini bermula dan apa yang harus kulakukan. Dalam panik aku berlari ke kamar kakak kakakku yang lain, namun tak kutemukan seorangpun di sana.  Tak ada Yusran dan istrinya, tak ada Talib, Tia atau Ayahmu. Mereka semua telah pergi. Jadi aku segera berlomba dengan air yang semakin meninggi untuk menyelamatkan ibu. Kau tau aku harus berenang sambil menggotong perempuan pikun ke bangunan dua tingkat seberang jalan tempat orang-orang mengungsi. Ketika aku kembali ke rumah itu untuk mencari harta benda yang bisa diselamatkan aku mendengar suara bayi menangis dari kamar ayahmu.”

Malam itu Bumi mengetahui bahwa ayah ibunya tidak mati tenggelam seperti yang selalu diceritakan neneknya. Ia ditinggalkan sendirian menangis di ayunan gantung. Bumi tak habis pikir bagaimana bisa mereka tega meninggalkan bayi berusia delapan bulan bersama seorang perempuan dengan riwayat penyakit ayan dan bocah empat belas tahun di rumah itu. Bumi telah membayangkan semua kemungkinan dan alasan tapi tetap saja ia tak bisa memaafkan kedua orang tuanya.

“Terima kasih telah menyelamatkanku,” kata Bumi sebelum pulang. “Aku akan tetap di sana menjaga nenek, dan sebagai balasan kebaikan hatimu di masa lalu, aku tak akan memberitahu nenek pembicaraan kita malam ini.”

“Biar kupikirkan tentang biaya dan kebutuhan kalian,” balas Oom Junus. “Terima kasih juga telah mau membantuku…”

“Tenang saja,” sela Bumi. “Jika terjadi sesuatu buruk pada kami nenek tak akan menyalahkanmu. Ia tak pernah menyimpan dendam pada anak-anaknya. Ia bahkan mengarang cerita yang menyedihkan supaya aku tidak membenci kedua orang tuaku.

***

Suara besar klakson kapal menyentakkan Bumi dari lamunannya. Ia mendengar ribut-ribut di sekoci depan. “Ada apa?” Fitri menarik tangan Bumi, memaksanya berdiri untuk menyaksikan separuh haluan sebuah kapal pesiar besar muncul di balik gedung. Sekoci-sekoci demonstran terombang-ambing oleh dahsyatnya gelombang yang ditimbulkan oleh kapal tersebut.

“Itu kapal pemerintah,” teriak seseorang. Terdengar bunyi umpatan dari anak-anak muda ini. Mereka mendayung sekuat tenanga, berusaha mendekatinya sambil meneriakkan yel-yel dan hujatan. Tapi semua itu percuma. Gelombang besar menghantam sekoci-sekoci, beberapa terbalik dan mereka terjatuh ke dalam air. Bumi berusaha bertahan, berpegangan pada sisi sekoci. Ia mengambil mengaphone pada satu tangannya. Lalu memberi perintah untuk menghadang kapal tersebut. Dan ketika keseluruhan badan kapal itu telah tersingkap Bumi terpaku di tempatnya. Ia sungguh tak percaya apa yang dilihatnya. Para demonstran yang lain juga hanya bisa terpana melihat kapal itu dipenuhi oleh pejabat-pejabat pemerintahan yang memandangi mereka dengan tatapan bermusuhan.

Kapal itu berisi walikota dan istri juga anak-anaknya. Keluarga orang-orang penting juga terlihat di sana, beberapa pengusaha dan petinggi militer. Laki-laki dan perempuan, tua muda, memenuhi buritan sampai haluan dengan barang. Dan tentu saja, Oom Junus juga ada di tengah-tengah manusia itu. Sang paman membuang muka demi menghindari konfrontasi dengan Bumi.

“Mereka ingin kabur,” teriak Bumi sekuat tenaga. “Hentikan kapal itu.”

Kericuhan tak dapat dihindari. Sejumlah sekoci bertahan di depan kapal untuk menghalaunya. Anak-anak muda ini menembakkan petasan dan suar ke atas kapal. Perempuan dan anak-anak menjerit ketakutan. Yang segera dibalas dengan tembakan gas air mata ke arah sekoci oleh polisi. Kapal itu tak mau berhenti, ia menabrak apa saja didepannya. Sekoci yang dtumpangi Bumi pun terombang-ambing tak karuan. Bumi terlempar ke ujung sekoci tapi berhasil diraih oleh kawannya. Fitri mengambil alih megaphone dan berteriak sekuat tenaga.

“Pecundang itu ingin meninggalkan kita semua di sini. Mereka membiarkan kita semua mati. Bajingan.”

Walikota muncul di tengah-tengah massa dengan sebuah pengeras suara lainnya. Ia mengejek anak-anak muda ini sebagai pengacau. Para penumpang berbalik menghujat anak-anak muda ini. Sebuah pertarugan yang tak seimbang. Hujan kini turun semakin deras, angin bertiup kencang. Di kejauhan terdengar petir dan kilat menyambar-nyambar. Seluruh sekoci terbawa arus, menghempas dinding gedung-gedung. Beberapa orang terjatuh ke air, massa kocar kacir.

Kapal itu berhasil keluar dari kepungan sekoci-sekoci yang memang bukan tandingannya. Muncul dari dalam air, Bumi meraih ujung sekoci dengan nafas putus-putus. Ia melihat sekeliling. Mencari-cari semua anggotanya. Fitri terlihat di atas sebuah sekoci mengangkat tangan ke arahnya. Masing-masing memanggil nama satu sama lain. Bendera, spanduk, dan peralatan aksi mengambang di air.

Kapal itu telah berputar sepenuhnya dan meninggalkan Negeri Hujan di belakang. Hujan turun semakin deras diselingi kilat menyambar-nyambar.

***

Di Negeri Hujan, mayat-mayat tidak dikuburkan ke dalam tanah. Setiap jengkal tanah di negeri ini terlalu mahal untuk diberikan kepada orang mati. Di negeri hujan jasad-jasad anggota keluarga akan ditenggelamkan ke dalam air menggunakan pemberat dari batu. Mereka abadi di dasar menyatu bersama bangkai mobil dan bus yang ditinggalkan dari lima dekade sebelumnya. Turun ke dasar berarti kembali ke masa lalu, ke masa dimana orang-orang ini hidup dahulu. Sebuah masa ketika negeri ini belum berubah menjadi lautan dan orang-orang akan berjalan di muka bumi yang sebenarnya; langit cerah di atasnya dan tanah untuk berpijak di bawahnya.

Hanya sekali setahun matahari muncul di Negeri Hujan. Itupun dalam durasi yang sangat singkat. Pada waktu itu, matahari bersinar terang, awan tersibak menjauh. semua orang akan keluar dari tempat tinggal mereka, naik ke sekoci masing-masing dan mendayung mengeliligi kota. Cahaya matahari membuat segala yang ada dikedalaman nampak sejelas-jelasnya. Atap-atap rumah di bawah sana, bangku taman, pos polisi, jalan raya, hingga makam-makam leluhur. Orang-orang tua akan mengenang semua itu sambil sesegukan, balita dalam dekapan ibunya menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan takjub. Di Negeri Hujan, satu-satunya hal yang menyenangkan hanya terjadi satu hari dalam setahun.

Bumi terbangun di tenda pengungsi yang penuh sesak. Militer telah mengumumkan tujuan perjalanan selanjutnya. Orang-orang bangkit untuk berbaris rapi, membawa barang-barang dan buntalan pakaian masing-masing. Sekarang mereka akan bergerak ke timur, ke satu-satunya pegunungan tersisa di kawasan Indonesia. Bumi mengeluarkan sebuah foto dari bawah tikar. Itu adalah foto keluarga yang telah disobek kiri kananya, menyisakan gambar si nenek ketika masih muda. Itu adalah satu-satunya yang tersisa dari Badai Greta ketiga yang menyapu kota sebulan lalu. Nenek Bumi kini telah tenang di bawah sana. tak banyak yang bisa Bumi perbuat malam itu. Ia dan neneknya terpisah begitu saja, terbawa oleh arus air ke arah yang berbeda. Tentu saja ada sedikit rasa bersalah dalam diri Bumi, tapi tak ada yang bisa ia lakukan untuk merubahnya.

Bunyi klakson kapal menggema keras. Peringatan terakhir. Bumi memasukkan gambar neneknya ke dalam saku celana dan ikut larut ke dalam barisan yang naik ke kapal. Sebuah kapal yang akan membawa mereka ke Negeri Hujan selanjutnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *