Cerpen #389 Seribu Pohon Laila

Langit yang cerah menghiasi hari Minggu pagi ini. Udara yang sejuk nan segar dapat di rasakan di sepanjang Desa Rawa. Desa Rawa adalah desa kecil yang berbatasan dengan kota. Jika dibandingkan dengan udara di kota, udara di desa jauh lebih segar. Di Desa Rawa banyak sekali pepohonan rimbun. Desa tersebut selalu mengadakan penghijauan setiap satu bulan sekali. Di sana juga sangat minim polusi udara. Lain halnya dengan polusi udara di kota yang sudah merajalela.

Minggu ini seperti biasa Laila membantu kakek dan neneknya di sawah. Laila adalah gadis kecil yang tinggal di Desa Rawa. Saat ini usianya tiga belas tahun. Ia bersekolah di salah satu SMP di Desa Rawa. Ayah dan ibu Laila adalah pekerja kantoran. Mereka pulang ke desa sebulan sekali untuk mengunjungi Laila. Sebenarnya mereka mengajak Laila untuk tinggal di kota bersama mereka. Namun Laila tidak mau. Ia lebih memilih tinggal di desa bersama kakek dan neneknya.

“Kakek, nenek, ayo makan dulu,” kata Laila sedikit berteriak di gubuk kecil pinggir sawah.

Kakek dan neneknya pun langsung menghentikan pekerjaannya dan segera menuju ke gubuk.

“Huft, hari ini rasanya lebih panas dari biasanya,” kata sang Kakek sembari mengipas-ngipaskan capingnya.

“Ini minum dulu,” kata Laila sembari menyodorkan segelas air putih untuk kakeknya. Kakek pun langsung meneguknya hingga habis.

“Padahal di sini banyak pohon, udara sejuk, tapi panasnya subhanallah,” kata Nenek sembari mengambil makanan di piring.

“Iya, nek. Laila ga bisa bayangin di kota sepanas apa. Kalau di sini aja panas begini, apalagi di kota. Makanya Laila nggak mau pas diajak Bapak sama Ibu buat tinggal di kota,” ucap Laila.

Kakek dan neneknya hanya tertawa kecil mendengar ucapan Laila barusan. Laila memang tidak suka tinggal di kota. Pernah sekali ia menginap di apartemen kedua orang tuanya dan ia benar-benar merasa tidak nyaman. Apalagi merasakan polusi udara yang semakin hari semakin memburuk. Laila sangat membencinya. Ia lebih nyaman tinggal di pedesaan yang jauh dari kata tercemar. Hidupnya terasa sangat damai di sana.

“Loh, kok gerimis?” Heran Laila saat melihat rintik-rintik gerimis yang tiba-tiba turun. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi sedikit mendung. Udara yang tadi terasa sangat panas kini terasa sedikit sejuk.

“Aneh banget lo, mau hujan kok nggak ngasih aba-aba,” omel Laila yang langsung ditertawakan oleh kakek dan neneknya.

Laila meneguk air putih yang tersisa sedikit di gelasnya. Lalu ia membuka bungkusan daun pisang yang tadi ia bawa.

“Kakek, nenek, tadi Laila beli ini lo, kalau mau ambil aja,” kata Laila menunjukkan isi dari bungkusan daunnya tadi.

“Kue putu ya, dari dulu ga pernah berubah kesukaan kamu,” kata Nenek sambil mengelus rambut cucu semata wayangnya itu.

Hujan turun semakin deras. Kakek dan nenek Laila belum bisa melanjutkan pekerjaannya. Mereka masih berteduh di bawah gubuk kecil tua bersama Laila.

“Kenapa ya sekarang hujan sering banget turun tanpa ngasih aba-aba? Kadang nggak gerimis tiba-tiba hujan deras. Ini tadi baru berapa menit panas banget sekarang jadi hujan. Terus beberapa tahun terakhir ini musim hujan sama musim kemarau kaya nggak ketebak. Ada hujan di musim kemarau, ada panas banget di musim hujan. Kok bisa gitu ya, kek?” Bingung Laila yang bertanya pada kakeknya.

“Karena semakin lama iklimnya semakin berubah. Jadi ya seperti ini. Laila ada pelajaran kan di sekolah tentang iklim?” Jawab sang kakek yang langsung bertanya balik pada Laila.

Laila mengangguk sambil menyuapkan kue putu ke mulutnya. Pandangannya tertuju pada hujan yang semakin deras. Tiba-tiba saja rasa takut menghinggapi perasaan Laila.

“Laila takut, kek, nek,” kata Laila.

“Takut kenapa, Laila?” Tanya Nenek.

“Takut kalau sawah-sawah, hutan, dan ladang yang ada di desa ini diratain semua sama orang-orang kota. Sekarang aja sebagian hutan udah dibabat sama mereka. Semakin musnahnya pepohonan, maka semakin mudah terjadi pemanasan global dan krisis iklim. Sekarang udah banyak banget terjadi bencana yang disebabkan oleh kebodohan manusia itu sendiri. Gimana keadaan sepuluh tahun mendatang?” Kata Laila panjang lebar.

Kakek dan nenek tersenyum mendengar ucapan Laila. Nampaknya cucu mereka sangat peduli dengan lingkungan. Mungkin usia Laila bisa dibilang masih sangat kecil. Namun pemikirannya sangat dewasa. Ketakutan Laila pada bumi sepuluh tahun yang akan datang terkadang membuat dirinya sampai menangis.

“Laila kelak harus menjadi orang yang sayang dengan alam. Mengeksploitasi sumber daya alam boleh, asal tetap memikirkan kelestariannya. Manfaatkan seperlunya,” kata Kakek.

Laila mengangguk sambil menyuapkan kue putu terakhirnya.

“Sudah terang. Ayo lanjut kerja lagi,” kata Nenek.

Hujan memang sudah reda. Mereka bertiga pun melanjutkan pekerjaannya menanam padi di sawah. Sepetak sawah itu adalah satu-satunya sumber rezeki kakek dan nenek Laila. Sudah berkali-kali ada orang yang ingin membeli tanah sawahnya untuk diratakan namun mereka selalu menolak.

***

Hari sudah menjelang sore. Laila beserta kakek dan neneknya segera bergegas pulang. Di perjalanan pulang, mereka melewati ladang jagung dan tebu yang sangat luas sedang diratakan dengan buldoser. Tampak sekumpulan orang di sana. Pemandangan yang sangat Laila benci. Ia langsung mempercepat langkah kakinya.

***

Setibanya di rumah, Laila langsung bergegas mandi dan segera menyelesaikan PRnya. Tugasnya sangat banyak yang harus dikumpulkan besok. Sebenarnya kakek dan neneknya sudah menyuruhnya untuk mengerjakan tugas siang tadi. Namun Laila bersikeras untuk ikut ke sawah. Alhasil ia harus menyelesaikan tugasnya malam ini. Laila tetap semangat walau harus mengerjakan sampai malam sekalipun. Namun tanpa Laila sadari, tubuhnya sudah sangat lelah. Ia ketiduran saat mengerjakan PRnya.

***

Laila terbangun di keesokan harinya. Ia mendengar suara gaduh di ruang tamu. Laila melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul empat subuh. Laila mengucek kedua matanya. Melihat tumpukan buku yang semalam menemani tidurnya. Beruntung tugasnya tinggal sedikit jadi ia tak perlu panik.

Laila beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang tamu. Ia penasaran apa yang terjadi. Tak biasanya kakek dan neneknya ribut, apalagi di pagi buta.

“Aku akan bayar berapapun! Tolong lah kerja samanya!” Ucap seorang laki-laki dengan nada tinggi.

“Tapi kami bener-bener nggak bisa!” Suara Kakek terdengar menentang.

Laila mengintip dari balik tembok. Ia kaget saat melihat ayah dan ibunya ada di sana. Tampaknya mereka sedang berdebat hebat. Laila tak berani menghampiri mereka. Ia hanya berani mendengarkan dari balik tembok pembatas ruang tamu dengan dapur.

“Laila itu anak kami, masa depan Laila bisa kami tentukan! Bapak sama Ibu tinggal tanda tangan aja, ga usah banyak protes!” Kata Ibu Laila dengan sedikit membentak.

“Kenapa kalian tega banget sama kami? Mentang-mentang sekarang sudah jadi orang sukses!” Kata Nenek dengan mata yang berkaca-kaca. Laila mendadak sedih saat melihat neneknya. Baru kali ini ia melihat neneknya sesedih ini.

“Ibu tu dapet keuntungan berapa sih dari padi-padi yang setiap hari ibu tanam? Keuntungan cuma bisa buat makan doang kan! Aku cuma minta bapak sama ibu nyerahin sawah kalian. Kami butuh lahan untuk buka cabang perusahaan. Bapak sama ibu ga perlu kerja lagi. Aku bakal kasih uang ke kalian tiap bulan,” kata Ibu Laila.

“Udah biarin aja mereka ga mau nyerahin sawahnya ke kita. Di belakang rumah ini juga lahan kita masih banyak. Kita pake aja lahan yang ada di belakang rumah ini,” kata Ayah Laila yang emosinya sudah mereda.

“Tapi ga seluas yang ada di sawah,” sahut Ibu Laila.

“Aku bisa atur semuanya.”

Semua terdiam. Suasana tiba-tiba hening. Mereka keluarga, namun baru kali ini terasa sangat canggung saat berkumpul.

“Jadi gimana? Bapak sama Ibu setuju kan kalau lahan yang ada di belakang rumah ini kami pakai?” Tanya Ibu Laila.

Tak ada sahutan dari mereka. Raut wajah mereka tampak sangat sedih. Memang benar kata orang, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin dia lupa daratan. Dan itu yang sedang terjadi pada Ayah dan Ibu Laila.

“Tak ada jawaban, berarti setuju. Oke deal!” Kata Ayah Laila.

“NGGAK!” Laila tiba-tiba keluar menghampiri mereka. Air matanya mengalir dengan sangat deras. Mendengar percakapan barusan benar-benar sangat menyayat hatinya.

“Ibu kenapa jahat banget mau gusur hutan Laila? Itu hutan pribadi Laila!” Laila dengan sangat tegas berkata.

“Hutan pribadi apa sih, Laila? Hahaha kamu ini lucu banget,” sahut sang Ibu menertawakan tingkah putri kecilnya.

“Pohon-pohon yang ada di hutan itu adalah pohon yang Ibu tanam waktu kecil, gitu kata nenek. Terus kenapa sekarang ibu mau tumbangin pohon-pohonnya?” tanya Laila.

“Karena Ibu butuh cari duit, sayang.”

“Egois! Hanya karena uang lalu ga mempedulikan kelestarian alam!”

“Kamu tu ngomong apa sih?!” Ayah Laila mulai sebal dengan putrinya itu.

“Aku ga mau hutanku kalian babat!” Tegas Laila ditengah isak tangisnya. Setelah mengucapkan itu ia langsung kembali ke kamarnya. Tak kuat berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Sedari kecil, Laila lebih dekat dengan kakek neneknya daripada ayah ibunya. Namun baru kali ini dia dibuat sangat kecewa oleh kedua orang tuanya.

***

Hari sudah menjelang siang. Laila sudah pulang dari sekolahnya. Dan benar saja, dia mendapati rumahnya yang ramai sekali orang. Mesin buldoser besar kini sudah ada di belakang rumahnya. Pepohonan yang semula sangat rimbun kini sudah tumbang. Tanahnya sudah rata. Laila menangis seorang diri di dalam kamarnya. Entah mengapa hatinya sangat hancur. Ia benar-benar benci saat melihat orang menggunduli hutan dan dibuat bangunan.

Namun mau bagaimana lagi, Laila hanya gadis kecil yang bisa berangan. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena mau tak mau perkembangan dunia semakin pesat. Banyak gedung-gedung menjulang. Laila berpikir mungkin kelak pohon-pohon akan benar-benar punah dan dunia ini dipenuhi oleh gedung dan manusia besi. Namun Laila tak ingin hal itu terjadi. Ia akan terus berusaha melestarikan alam semampunya.

***

Sembilan tahun berlalu. Kini Laila genap berusia dua puluh dua tahun. Tahun ini adalah tahun kelulusannya sebagai sarjana pertanian. Sekarang ia tinggal di Desa Rawa yang kini telah berubah menjadi Kota Rawa dan masih bersama kakek dan neneknya yang kini sudah berusia hampir tujuh puluh tahun. Seluruh hutan yang ada di sana kini telah berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Udara yang dulu segar kini berubah menjadi penuh polusi dan energi-energi kotor. Sungai yang dulu hanya digunakan untuk mencuci pakaian kini menjadi tempat pembuangan sampah yang menjijikkan. Tak heran jika sekarang banjir sering melanda tempat tersebut.

Namun tahun lalu terjadinya banjir di sana mulai mereda. Dikarenakan Laila dengan sangat berani mengadakan aksi menanam seribu pohon empat tahun silam. Yang kini pohon-pohonnya telah tumbuh besar. Tahun ini Laila berencana mengadakan aksi menanam seribu pohon lagi. Walaupun setiap hari polusi udara merajalela, namun setidaknya dengan adanya pohon bisa mengurangi.

Kita hidup di era yang semakin lama semakin tak menentu iklimnya. Banyak bencana dimana-mana. Udara semakin penuh dengan energi kotor. Sebagai generasi muda yang harus kita lakukan adalah tetap melestarikan lingkungan. Setidaknya hal itu bisa meminimalisir terjadinya krisis iklim. Hal itu jugalah yang dilakukan oleh Laila. Dan kini Laila sangat senang karena bisa menanam seribu pohon kembali.

-SELESAI-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *