Cerpen #388 Perempuan yang Terlupa

Pukul satu siang langit tak sebiru biasanya. Tidak ada mendung yang mengintip sejak seminggu terakhir, apalagi deru hujan yang dirindukan hadirnya. Awan berkabut enggan tersapu oleh udara. Ia tetap bertahan dengan suntuk, menyisakan rasa khawatir berlebih pada tiap insan yang berada di bawahnya. Semesta sedang tidak baik-baik saja. Manusia akan kalut. Tapi setelah segalanya mereda, manusia mulai kembali lupa. Segalanya berkembang bak efek domino berlapis tapi manusia tetap apatis.

“Kebakaran hutan kali ini adalah yang terparah. Aku sampai batuk-batuk. Padahal semua tau diriku sangat kebal dan jarang sakit. Bahkan ukuran wabah terparah bisa dibuktikan orang rumah hanya dengan melihat apakah aku terserang atau tidak sama sekali.” Wil menyapa teman-temannya yang sedang sibuk menakar situasi. Sejak lima belas menit lalu, tiga sekawan terlihat menatap langit sembari memastikan laporan cuaca hari ini. Mereka sedang menganalisis cara terbaik menulis tugas reportase mata kuliah jurnalistik. Ketiganya terlibat dalam satu kelompok yang sama dan sepakat menggeluti fenomena kebakaran hutan dan lahan. Kedatangan Wil secara mendadak adalah angin segar yang dibutuhkan, apalagi cara Wil menyapa sangat dekat dengan isu yang sedang mereka bicarakan.

“Wah pas banget Wil kita lagi cari narasumber yang terdampak Karhutla. Kamu kok bisa tau sih kita lagi butuh informasi seberharga ini?” Fe tampak antusias. Ia yang sedari tadi serius menganalisis cuaca, seketika menjadi ceria dan semangat. Barangkali menggali cerita teman terdekat akan jauh lebih mudah dan menyenangkan.

“Ya jelas tau dong. Kalian semua dan anak kelas itu pikirannya super mainstream. Cari topik pasti yang sedang happening persis kayak media yang cuma mau clickbait demi dapat keuntungan. Dalam konteks tugas kuliah, berita viral itu kan mudah cari literaturnya bahkan mungkin menyita perhatian dosen karena secara nggak langsung kalian jadi kelihatan aware sama isu lingkungan. Padahal semata-mata untuk nilai A+ aja.” Wil berbicara sembari menatap langit. Ia tertawa kecil nan mengejek. Tanpa memperhatikan Fe, ia melanjutkan perjalanan melewati selasar kampus menuju ruang kelas.

“Salah satu hal yang tidak bisa berubah di dunia ini adalah kamu. Manusia menyebalkan yang selamanya akan begitu. Selain tidak manis, kamu juga paling sok tau!” Fe berteriak keras. Ia menunjukkan sinyal perlawanan menghadapi sikap Wil. Bukan sekali dua kali, namun berkali-kali Wil memamerkan kehebatannya dalam melakukan manajemen isu, lalu menjatuhkan cara orang lain berproses. Wil mempercepat langkah, seolah tak mendengarkan teriakan Fe. Ia tau perempuan tempramen yang satu ini cukup repot dihadapi.

“Sabar, yuk minum dulu.” Pita menarik lengan Fe menuju arah kantin, diikuti Ratih yang bergegas membawakan tas sahabatnya. Memesan segelas es kelapa muda lalu membawanya duduk di bawah pohon beringin laksana spot favorit ketiganya. Segala riuh di kepala dapat mereda, selaras dengan angin sepoi-sepoi yang tak pernah pelit membagi aura kesembuhan.

“Kita tidak perlu melakukan penyerangan dan marah-marah. Itu akan semakin membuat Wil merasa menang. Anggap saja segalanya tadi persepsi kuno yang tidak valid. Lagipula itu juga bukan fakta, kita bertiga adalah benar peduli terhadap isu lingkungan. Bukan untuk nilai apalagi citra diri. Masih ingatkan dengan komitmen kita?” Pita membuka obrolan. Ia memang paling bijaksana dan tenang diantara Fe dan Ratih. Pita kerap merespon masalah dengan hati baiknya, kesabaran tiada berbatas, dan keikhlasan yang tampak dari sorot mata indahnya. Ajaran sopan santun yang luhur berasal dari didikan keluarganya yang sangat taat pada etika kelembutan. Wajar saja kalau pengaruh yang hadir sejak ia dilahirkan dan tumbuh besar, seperti mengakar dan tetap bertahan meski dalam lingkungan yang keras sekalipun.

“Tapi sikapnya yang terus dibiarkan itu semakin keterlaluan. Korbannya bukan hanya kita bertiga, ada banyak. Dan selalu perempuan. Menurutnya kita itu tidak bisa melawan makanya ia tetap melanggengkan kenakalannya itu. Sekali-kali kita bikin petisi atau membuat klub khusus untuk menyerangnya secara personal. Biar kapok.” Fe meluapkan emosinya. Matanya menyala-nyala, ada kekesalan menahun yang singgah pada pikirannya. Selalu terluapkan tapi juga terus kembali berdatangan karena ulah Wil terus berlipat ganda.

“Ya sudah mari kita lanjutkan diskusi terkait isu yang akan kita angkat.” Ratih bersuara. Perempuan pintar yang sangat akademistis ini memang lebih suka membahas obrolan substansial saja. Bukan karena hendak menyelamatkan IPK sempurnanya, tapi ia memang senang belajar dan mengeksplorasi. Tidak peduli faktor eksternal yang mempengaruhi, fokusnya tetap pada tujuan.

Ketiganya kembali mengemas ide.

****

Sudah lima semester mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2016 berproses. Mereka tidak hanya dituntut menjadi calon sarjana berwawasan, tapi juga dipersiapkan menjadi jurnalis yang hebat. Kehebatan itu tertuang dalam karya-karya yang dipersembahkan setiap tahunnya yakni menulis majalah dan buletin digital. Jadwal kesibukan mulai membanjiri sehingga tuntutan untuk punya kemampuan manajerial adalah penting.

Di antara semuanya, Will memang terbukti hebat dan berani. Ia bukan hanya selalu menyajikan semua konten tugas maupun ujian secara sempurna dan menarik, tapi juga berbeda dari semuanya. Kemampuan investigasnya patut diancungi jempol. Tapi, ada satu yang luput tertuang.

“Will tak pernah menampilkan narasumber perempuan. Bahkan dalam konteks bencana banjir yang menyerang Kota Ven, Will tak pernah membahas bagaimana kondisi perempuan dan anak yang terdampak.” Fe membuka topik obrolan ketika ketiganya tengah asik membaca tulisan Will yang tayang di majalah dinding Universitas. Hanya tulisan terbaik yang lolos seleksi ketat saja yang dapat tampil pada ruang-ruang ini dan Will selalu mampu mempertahankan performanya setiap pekan sekali.

“Ah kau benar. Bahkan tak ada dosen yang melihat ini sebagai suatu masalah. Kurasa, Will adalah sosok misoginis sesungguhnya.” Ratih menimpali.

“Tih kau tak boleh menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui segalanya secara utuh.” Pita menasehati. Wajahnya tampak resah memperhatikan sekitar, ia takut ada yang mendengar pernyataan Ratih barusan.

“Bagaimana kalau kita lakukan investigasi?!” Fe menarik tangan kedua sahabatnya. Mereka melaju menuju pohon beringin sekolah.

“Yang paling pertama dan utama adalah kita mengubah garis besar isu majalah.” Fe membuka topik diskusi.

“Tapi kita kan sudah cukup matang mengemas skema terkait kebakaran hutan dan lahan.” Ratih berkomentar tak setuju.

“Bukan masalah yang berarti, hasil perumusan pertama kita tetap terpakai kok. Tema besar kita adalah perubahan iklim dan perempuan. Kita menyoroti bagaimana kemudian dampak perubahan iklim terhadap perempuan sebagai ibu dari generasi masa depan. Selain karena isu ini punya nilai penting, kita juga bisa membangunkan kesadaran teman-teman bahkan dosen bahwa perempuan kerap dimarginalkan pada konteks bencana ekologis.” Fe menuliskan konsep idenya pada kertas hvs sambil membuat bagan-bagan yang mudah dimengerti. Ratih dan Pita tampak antusias.

“Aku setuju! Majalah yang kita buat itu ada beberapa kolom, terkait karhutla bisa kita sematkan di kolom tertentu karena juga bagian dari perubahan iklim. Semua isu di kolom yang kita buat harus dikaitkan terhadap perubahan iklim dan perempuan. Contohnya nih di kolom healty kita bisa sorot terkait urgensi kebutuhan skincare terhadap perubahan iklim. Kalian tau dong betapa pentingnya menjaga kulit dari paparan ultraviolet A dan B. Meskipun kadang yang lebih sadar akan hal ini justru perempuan, lelaki ga peduli. Padahal pake sunscreen bukan hanya untuk mempercantik diri, tapi juga merawat kulit.” Ratih bersemangat. Ia selalu senang membicarakan mengenai kesehatan, utamanya kecantikan. Sebagai pengoleksi skincare korea, ia juga kerap membagi informasi mengenai kesehatan kulit dan wajah pada laman media sosialnya.

“Kita juga harus turun ke desa pinggiran kota. Ada banyak contoh nyata bahwa perubahan iklim berdampak terhadap kehidupan sosial perempuan. Mulai dari kegagalan panen, kelangkaan air bersih, kekurangan pangan yang sejatinya sangat mempengaruhi penghidupan perempuan. Seperti yang kita ketahui sistem patriarki di desa masih dominan, sehingga pekerjaan domestik sering menjadi tanggung jawab utama perempuan. Nah fenomena permasalahan tadi jelas mempengaruhi perempuan dong, apalagi ibu dari generasi ini memegang peranan penting dalam reproduksi.” Kali ini, Pita mengusulkan ide. Ia selalu perhatian pada segala hal yang berkaitan dengan pedesaan. Selain karena senang liputan di lokasi yang asri, Pita juga sangat tertarik dengan keramahtamahan penduduk desa.

“Semuanya sudah aku catet ya. Kita bisa eksplorasi lebih lanjut setelah ini. Intinya adalah masing-masing punya tanggung jawab terhadap 2 kolom, karena totalnya ada 6 kolom. Kolom headline, kesehatan, gaya hidup, humaniora, profil, dan sastra. Aku juga punya ide kalau kita mengangkat isu bahwasanya perubahan iklim berbanding lurus terhadap peningkatan angka kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan, pelecehan seksual bahkan perdagangan seks. Ini terjadi di Indonesia menurut sumber yang pernah aku baca, tinggal kemudian kita mencari studi kasus dan didukung dengan data sekunder. Bahkan menurut hasil risetku, perubahan iklim juga bisa berimplikasi terhadap maraknya perkawinan anak. Miris kan?” Fe memaparkan idenya. Ratih dan Pita bergidik ngeri. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa isu perubahan iklim bukan hanya berkutat mengenai lingkungan, namun juga mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Perempuan, anak, dan kaum minoritas kerap terlupakan dalam perhatian.

“Lantas, kaitannya dengan proses investigasi dengan Will gimana?” Ratih penasaran.

“Lakukan saja satu-persatu. Nanti kalian akan terpukau oleh megahnya rencanaku.” Fe tertawa.

“Ingat ya Fe jangan pakai cara meledak-ledak. Aku tidak suka kita harus berkecamuk di hadapan banyak orang.” Pita kembali mengingatkan.

“Tenang, caraku kali ini sangat intelek.” Fe makin tertawa. Ketiganya melanjutkan misi sembari makan somay dan segelas teh es manis.

*****

Sudah lebih dari satu minggu proses peliputan berita hingga penulisan dilalui. Will bersama dua orang anggota kelompoknya Anton dan Kenan sudah selesai hingga tahap layout dalam kurun waktu satu minggu. Ketiganya bisa bebas bersantai sambil menertawai teman-teman yang sedang berjuang dikejar deadline. Besok hari adalah tepat waktu presentasi hasil majalah kelompok.

“Aku takut banget. Kita dapat urutan kedua setelah Will, pasti dibandingin deh.” Pita tampak grogi.

“Kita lihat saja mana yang terbaik!” Fe tampak percaya diri.

“Ya jelas Will dong. Dia tidak pernah buruk. Selalu dianggap sempurna.” Ratih menimpali.

Fe tak menggubris. Ia tak sabar menunggu rencana tahap duanya terealisasi.

“Judul majalah kami adalah Peran Komunitas Adat Kota Ven Dalam Upaya Perubahan Iklim. Isu ini berlatar belakang dari kesukuan di Kota Ven masih kental terjaga. Para pemuda giat bergabung dalam kelompoknya untuk membentuk suatu tujuan tunggal yakni menjaga kelestarian lingkungan. Dalam beberapa kolom kami menyoroti bagaimana konstruksi pemikiran pemuda dibangun, sosok ketua komunitas yang baru berusia 20 tahun, hingga kehidupan pemuda dan lingkungan perlu menjadi inspirasi pelestarian alam.” Will menjelaskan dengan cukup detail. Ia sangat rapih membagi alur presentasi bersama Anton dan Kenan. Ketiganya fasih menjelasi, bahkan didukung oleh hasil jepretan yang sungguh memukau. Will punya kemampuan memotret yang tidak bisa diragukan lagi. Ditambah Anton dengan skill karikatur dan Kenan sang layouter andalan angkatan.

Sorak tepuk tangan memenuhi ruangan ketika ketiganya selesai presentasi. Sesi diskusi dibuka dengan khidmat. Fe lebih dulu angkat tangan sembari berdiri. Semua mata takjub padanya. Ada kekhawatiran yang besar pada raut Pita dan Ratih.

“Isu yang kalian sampaikan sungguh sangat menggugah perasaan saya sebagai bagian dari pemuda. Semua yang ada di ruangan pun tau kalian jarang mengecewakan, bahkan tidak pernah. Tapi maaf kalau kali ini saya justru akan mengkritisi. Bukan sekali dua kali, karya kalian selalu begini..” Fe menghela nafas. Wajah Will tampak tak terima. Ia tak percaya Fe akan membalas dendam kemarahannya dengan cara tak terduga.

“Will adalah jurnalis kebanggan angkatan ikom. Karyanya bukan hanya hebat saat dipresentasikan, tapi juga selalu lolos seleksi mading universitas. Sayangnya, Will mengabaikan satu hal.”

“Fe, tolong jangan di luar konteks ya. Kita sedang diskusi mengenai isi majalah.” Bu Helda sang dosen mulai khawatir.

“Ya Bu. Saya hanya penasaran, kenapa Will tak pernah mengangkat narasumber perempuan pada tiap tulisannya. Bahkan hari ini pada tulisan mengenai komunitas adat, ia hanya terus-terusan menyoroti kaum pria. Ini sangat kondtradiktif dengan isu yang kami garap saat ini, yakni perempuan dan perubahan iklim.”

“Ya mungkin Will bisa jelaskan jawabannya. Setelah itu, kita mempersilahkan kelompok Fe untuk mempresentasikan tulisan majalahnya.” Bu Hilda menambahi.

“Karena aku tidak suka perempuan. Sekian.” Will menjawab singkat lalu menutup presentasinya. Ia pamit ke luar ruangan. Seisi kelas tampak canggung dan bingung. Bu Hilda mempersilahkan Fe, Ratih, dan Pita melanjutkan presentasi.

“Saya tak tau persis kenapa Will tidak suka perempuan. Sekalipun ia tidak suka, ia mestinya memisahkan kepentingan pribadinya dan mendahului kepentingan publik dalam menulis produk jurnalistik. Kenapa ibu gak pernah membahas mengenai ketiadaan narasumber perempuan pada tiap kolom majalah ini?” Fe melanjutkan pertanyaan. Seisi kelas sunyi. Hanya ada bunyi kursi yang bergeser atau bisikan sesama kawan sebangku.

Bu Hilda menarik nafas panjang. Ia membetulkan letak kacamatanya. Wajahnya yang teduh tampak tetap tenang, sekalipun Fe melemparkan pertanyaan menyudutkan.

“Pertanyaanmu kritis Fe. Tapi karena waktu perkuliahan sudah berakhir. Mari kita tutup pertemuan hari ini. Sampai bertemu hari Kamis!” Bu Hilda tersenyum ramah.

“What?? Gitu doang? Nggak bisa, nggak bisa!” Fe melangkah mengejar Bu Hilda. Ratih dan Pita saling bertatap, mereka lantas menyusul sahabatnya. Khawatir akan ada aksi meledak-ledak.

“Kenapa pertanyaan saya nggak dijawab Bu?” Fe berseru ketika langkahnya sampai sejajar dengan Bu Hilda.

“Kalian bertiga silahkan ke ruangan saya.” Bu Hilda menjawab sambil mempercepat langkah.

Suasana ruangan serba putih menghiasi seisi. Hanya ada bunga kering di atas meja yang sudah melayu terpampang sebagai penyeimbang warna putih. Figura tanpa foto menjadi perhatian bagi siapapun tamu yang mendatangi ruangan ini. Tak ada stok keceriaan yang hidup sebagaimana bentuk tawa gurih Bu Hilda sepanjang mengajar.

“Duduklah.” Bu Hilda mempersilahkan.

“Kemampuan menulis Will memang patut diacungi jempol. Wajar kalau karyanya banyak dimuat dalam berbagai kompetisi jurnalistik. Ia punya pemahaman isu yang baik, didukung dengan skill menulis bak jurnalis senior. Will suka membaca sejak kecil, ia juga gemar menganalisis peristiwa apapun yang terjadi di sekitarnya. Walaupun tak ada narasumber perempuan yang tertuang dalam karyanya, tapi Will berani menjamin bahwasanya suguhan narasumber yang tertera sangat kredibel. Ia tertarik dengan isu perubahan iklim, oleh karenanya ia banyak melakukan riset bahkan menuliskan opini terkait hal itu.”

“Narasumber perempuan yang memahami perubahan iklim pun banyak yang kredibel dan seharusnya Will tak boleh menyisihkan tempat untuk seorang perempuan bersuara.” Fe menimpali.

“Will punya luka batin terhadap perempuan. Sosok ibu panutannya dalam belajar mengenai isu lingkungan ternyata meruntuhkan ekspetasinya. Ibu yang mengajarinya dekat dengan literasi sejak kecil, telah mengecewakan hatinya di usia 15 tahun. Tepat saat Will duduk di bangku SMP. Itu kenapa Will tak suka membahas perempuan, bahkan ia lebih sering menghabisi waktu senggangnya untuk mengusili perempuan dengan guyonan yang menyakitkan.”

“Astaga!” Fe tampak tak percaya. Ia menahan hatinya.

“Belakangan, Will sedang melakukan konsultasi intensif dengan psikolog untuk berdamai dan menyembuhkan luka batinnya. Semoga setelah segalanya membaik, Will dapat menulis secara lebih adil dan bijaksana lagi ya.” Bu Hilda menutup pembicaraan. Ia dengan sopan meminta ketiga mahasiswanya ke luar dari ruangan karena ada banyak hal yang harus ia selesaikan.

“Terima kasih Bu Hilda.” Ketiganya kompak mengucap salam.

Fe, Ratih, dan Pita kembali menuju pohon beringin. Mereka tampak saling diam.

*****

Keesokan harinya Fe mengajak Ratih dan Pita bercerita. Mereka sibuk membahas berita banjir yang melanda beberapa wilayah Kota Ven.

Tiba-tiba Anton mendatangi ketiganya.

“Hai! Boleh aku duduk dan bercerita?” tanyanya hati-hati.

“Silahkan Anton.” Pita menyambut hangat.

“Will tadi menyampaikan salam terima kasih kepada kalian. Ia tak menyangka kalian akan sangat detail memperhatikan karyanya. Ia tak marah, hanya sedang tak enak badan untuk menghadapi diskusi. Tapi pertemuan kalian dengan Ibu Will tadi semoga dapat sedikit melegakan. Ini ada surat dari Will.”

Fe, Pita, dan Ratih terbelalak. Ia tak percaya bahwa Bu Hilda adalah ibunya Will.

Ibuku pernah bilang, peninggalan terbaikmu yang bakal dikenang manusia bukan hanya karir, jabatan, prestasi, tapi juga bagaimana sikapmu terhadap lingkungan. Itu akan jauh lebih berharga buat anak cucu kelak. Umur kita mungkin tidak sampai 100 tahun, tapi dampak yang timbul oleh karena kita seharusnya lebih panjang dari itu. Kalau harus mengangkat sosok narasumber perempuan pertama dalam tulisanku ia sudah pasti Ibuku. Itu kenapa aku belum pernah menyoroti perempuan manapun, karena aku ingin Ibuku menjadi pembuka. Kau tau, ibuku mengalami masa kecil dengan rumah kebanjiran bahkan saat dewasa dan melahirkan aku ibuku mesti menghadapi rumah porak poranda karena sulitnya perekonomian keluarga. Ia harus meninggalkan aku dan ayah tanpa pamit disaat bencana ekologis yang sekaligus melumpuhkan keuangan keluarga menyerang kami. Aku baru menemukannya setelah segalanya mereda. Kekecewaanku pada Ibu mungkin kini hampir mereda, tapi belum sembuh. Setiap kali permasalahan lingkungan melanda, aku teringat pada prosesi Ibu meninggalkan kami. Aku mungkin lupa bahwa Ibu waktu itu mungkin punya alasan khusus. 

“Wil bilang besok ia akan mulai pertama kali mewawancarai perempuan yang terdampak banjir di Kota Ven. Ia juga sekalian membawakan sumbangan bantuan.” Anton melanjutkan.

Ketiganya tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *