Cerpen #387 For the Next Generation

Tahun 2121

“Hehh… Jadi manusia dulu mandi menggunakan air dan bergonta-ganti pakaian?” Tanya seorang gadis yang tengah duduk di atas ranjang bersama dengan temannya yang memegang sebuah buku.

Bocah laki-laki itu mengangguk menanggapi pertanyaan sang gadis. Ia kemudian membuka lembaran selanjutnya dari buku yang ia baca.

“Mereka juga bepergian di dunia luar, mendaki gunung? dan menyebrangi lautan. Apa mereka tidak mati?” Tanyanya pada diri sendiri setelah membaca suatu paragraf di dalam buku tersebut.

Sang gadis memangku dagunya “Enaknya… Sepertinya menyenangkan tidak terkurung dalam kubah sempit ini…”

“Kelly, James apa yang kalian lakukan?” Seorang wanita berseragam berwarna putih biru dengan lambang octagram di dada kirinya masuk ke dalam kamar dua anak tadi.

Bocah laki-laki bernama James itu mengangkat bukunya dan memperlihatkan sampul yang berjudul Bumi dan Manusia Masa Lalu kemudian memberikannya pada sang wanita berseragam tadi, Jessy.

Kelly merebut kembali buku yang dipegang oleh Jessy “Jessy, benarkah apa yang diceritakan dalam buku ini?”

Jessy memegang dagunya mengingat tentang pertanyaan yang Kelly ajukan padanya. Sepertinya ia juga pernah mendengar cerita yang berada dalam buku tersebut. Jika tidak salah itu adalah masa sebelum empat generasi yang lalu cerita tentang Ciel ayah dari seorang pria yang sudah mengasuhnya. Ahh… anggap saja dia kakek Jessy.

Pada pertengahan abad ke-21 masih tersisa air bersih untuk mandi, mencuci dan minum. Namun, karena cairnya gletser dan puncak populasi manusia di dunia, persediaan air bersih terus menipis dan hanya digunakan untuk minum. Sebagai alternatifnya para ilmuwan menciptakan tabung steril dan beberapa rekayasa genetik yang mampu mengurangi jumlah kotoran yang keluar dari manusia. Hingga masa sekarang hanya orang-orang tertentu yang mampu merasakan air yang menerpa tubuh mereka.

Tahun 2075

Aku berdiri dibalik jendela apartemen yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi dan langit merah. Apa kalian pikir ini waktu senja yang diiringi musik indie dan secangkir cairan hitam yang memiliki rasa pahit? Salah, ini masih jam dua belas siang. Langit menjadi berwarna merah karena polusi udara yang begitu mengerikan.

Aku berbalik dan duduk di sebuah sofa memperhatikan istriku yang tengah hamil, ia sedang memasak di dapur. Melihat perutnya entah kenapa aku begitu menyesal telah menghamilinya sehingga anak itu harus lahir ke dunia yang sudah berada di ujung tanduk. Pandanganku beralih ke televisi yang memperlihatkan berita mengenai gletser yang mencair lagi dan membuat air laut naik hingga beberapa centimeter. Warga yang tinggal di pesisir pantai pun diungsikan ke kota bawah tanah di dataran yang lebih tinggi. Kalian tahu Maladewa? Negara itu sudah resmi menghilang dari peta dua tahun lalu.

Satu hal lagi yang menarik perhatian yaitu pembangunan kota-kota bawah tanah dan kubah anti radiasi yang memiliki diameter tiga puluh hingga lima puluh kilometer dengan luas dan bentuk yang berbeda-beda. Aku cukup beruntung karena sudah memiliki tiket untuk tinggal disana karena pekerjaanku adalah seorang guru dan juga peneliti.

Anti radiasi dibangun untuk mengantisipasi terjadinya badai matahari dan juga mengingat lapisan ozon yang semakin menipis karena berkurangnya kadar oksigen akibat pencemaran laut dan menipisnya hutan. Bahkan sekarang pun ketika keluar rumah kita hanya bisa menggunakan jalur transportasi bawah tanah.

“Aku berangkat sayang…” Aku mengecup kening istriku lalu keluar dari apartemen menaiki lift dan turun menuju basement paling bawah. Aku hanya perlu keluar beberapa langkah dan pemandangan yang ku dapatkan adalah gemerlapnya kota bawah tanah tanpa sinar mata hari.

“Siang Mr. Ciel” sapa sebuah robot yang menjaga pintu keluar masuk apartemen. Aku menempelkan Id Card ku tepat di dada robot itu dan melangkah menuju stasiun kereta kilat.

Kulihat pemandangan dari dalam kereta dan hanya menatap miris, betapa berkembang pesatnya teknologi namun kondisi bumi semakin sekarat setiap harinya, hingga aku berhenti di salah satu stasiun yang berada di permukaan tepat di depan proyek kubah dengan lambang Octagram. Kubah ini rencananya akan menjadi tempat tinggal kalangan bawah seperti anak yatim, dan beberapa profesi penghasil pangan seperti petani, peternak, dan tambak ikan tertentu untuk disalurkan ke kubah yang dihuni kalangan diatasnya. Untuk kalangan yang lebih Elite mereka akan menempati kubah berlambang Hexagram untuk lembaga pendidik dan peneliti, lambang Pentagram untuk pelatihan militer dan medis, sebuah kubah berlambang dadu untuk para politikus dan kubah setengah lingkaran untuk para Presiden dengan diameter lebih kecil berlambang bumi.

“Selamat siang Mr. Ciel” Aku kembali disapa oleh sebuah robot setelah ku tempelkan kartu identitasku. Aku masuk kedalam proyek menggunakan baju khusus untuk menemui arsitek dan beberapa peneliti lainnya.

Aku berjalan menghampiri segerombol orang yang tengah berdiskusi tepat di depan proyek pembangunan danau buatan. “Selamat siang! Maaf atas keterlambatan saya” sapaku dengan sedikit membungkukkan badan.

“Selamat siang. Tidak masalah kami baru akan memulai diskusinya” ucap salah seorang berseragam khusus sama seperti yang ku kenakan. Prof. Jose.

Kami membicarakan tentang ekosistem buatan yang akan dibangun di dalam kubah yang gunanya untuk perkebunan dan peternakan. Mencoba mengembalikan oksigen dalam kubah juga iklim buatan sehingga memungkinkan untuk berganti musim setiap tahunnya.

“Begitukah? Seleksi alam…” aku mendongak menatap teriknya matahari dari balik helm yang tengah kukenakan.

“Lagipula mereka memang lebih baik mati terlebih dahulu daripada harus melihat dunia ini hancur” lanjutku mengungkapkan pendapat tentang gagasan yang baru saja diungkapkan pada diskusi kali ini, begitu menyedihkan.

Salah seorang peneliti muda berjalan ke arahku, ia adalah seorang anak berprestasi sehingga ia mampu sejajar dengan orang-orang yang berada di sini namanya Hanz. “Profesor Ciel, sepertinya anda tidak senang dengan cara ini. Apa anda berpikir untuk menjadi pahlawan yang menyelamatkan seluruh manusia?” tanyanya dengan nada yang sedikit membuatku tersinggung.

Aku hanya terkekeh mendengar tuduhannya “Tidak… aku tidak berniat seperti itu, mungkin sudah saatnya manusia punah… Untuk sekarang aku bisa menyelamatkan anakku yang belum lahir saja itu sudah cukup.”

Ia kembali mundur menjauhiku setelah mendengar jawabanku. Ku harap justru Hanz yang mampu membawa generasi selanjutnya agar lebih baik dan mampu mengembalikan bumi secara perlahan.

Tahun 2100

Aku memandangi sebuah foto yang terpampang di kamarku, hanya sebuah kamar kecil berukuran 2×1 meter berbentuk seperti kapsul hanya berisi beberapa buku, sebuah proyektor hologram dan kasur untuk tidur juga foto yang saat ini tengah ku pandangi.

“Sial! Aku tidak bisa membencimu walau aku ingin…” ku tutup sebelah mataku melihat sepasang suami-istri dan anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, ya anak itu adalah aku dan laki-laki yang bisa kusebut ayah itu Ciel juga istrinya.

Entah kenapa setiap aku melihat foto itu aku selalu mencoba untuk menyalahkan mereka karena telah melahirkanku ke dunia yang terkutuk ini, terkurung dalam sebuah kubah layaknya serangga di dalam toples. Tapi, mereka mencoba memberikan kehidupan terbaik untukku di masa sekarang hingga mereka meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Tiiiiittttt….

Bunyi sebuah notifikasi dari hologram yang berada di kamarku mengalihkan fokusku. Kupencet sebuah simbol di hologram tersebut dan menampilkan seorang wanita dengan rambut pirang panjangnya dan kacamata yang bertengger di hidung.

“Will… Cepatlah ke stasiun kau terlambat!” Bentaknya kemudian itu berlangsung hingga ia mengoceh panjang lebar dan hanya kudengarkan tanpa kubalas sedikitpun.

Ku lihat ia tampak menghela nafas “Will! Kau mendengarku? Hahhh kau benar-benar mirip dengan Mr. Ciel…” keluhnya tepat di bagian akhir membuatku sedikit tersinggung. Aku segera menutup panggilannya dan mengganti pakaianku dengan seragam khusus kemudian pergi menuju stasiun kereta kilat menuju sebuah kota bawah tanah.

Saat tiba di kota kecil bawah tanah bernama Little Hell aku terkejut melihat antrian yang begitu panjang. Di kota yang luasnya tidak sampai 1.000 km² ini terdapat begitu banyak manusia. Sedangkan kami hanya diperbolehkan menerima seratus dari kalangan anak-anak, remaja dan dewasa untuk lansia para petinggi membiarkannya membusuk di luar wilayah kubah.

“Heyy!! Aku adalah pemimpin mereka biarkan aku ikut bersama kalian ku yakin aku akan berguna!” suara seorang pria menyita perhatianku, aku menoleh ke sumber suara melihat seorang pria yang usianya sekitar empat puluh tahun menarik kerah seorang wanita berseragam yang sangat ku kenal.

Aku berjalan menghampiri mereka dan mendorong pria itu menjauh dari sang wanita. “Kami tidak membutuhkanmu walau hanya untuk membersihkan kotoran sapi” ucapku dingin pada sang pria lalu menarik wanita itu menjauh.

“Disaat seperti ini manusia akan kehilangan kendali Angel jadi berhentilah bersikap selayaknya kau malaikat kau membuatku muak dan mengingatkan ku pada seseorang” Aku menatapnya dengan tatapan dingin dan menunjuk ke arah wajahnya.

Namun di luar perkiraanku dia justru balas menatapku dengan tatapan menantangnya. “Sepertinya kau juga sudah kehilangan sisi manusia mu Will… Lagipula manusia bukan lagi manusia sejak bumi ini berubah menjadi neraka. Jadi salahkah aku berlatih menjadi malaikat sebelum aku mati?” Ucapnya begitu enteng.

Aku diam beberapa saat karena tengah menyiapkan alat untuk melakukan tes. “Ya tentu saja… Tapi setelah kau mati kau hanya menjadi malaikat pengangguran jika kau begitu baik karena yang akan bekerja hanya malaikat pencabut nyawa” aku menyentil dahinya kemudian kembali menyiapkan alat-alat di tengah gaduhnya manusia yang tengah mengantri berdesakan.

Angel nampak mengusap dahinya sembari menunduk karena mungkin ia sadar apa yang ku ucapkan ada benarnya. “Tiga perempat manusia diperkirakan akan musnah setelah manusia terpilih akan tinggal di dalam kubah” lirihnya.

Kulihat air matanya sedikit menetes namun ia segera mengusapnya. Jujur aku pun merasakan begitu menyakitkan hidup di jaman ini, namun mau bagaimana lagi.

Tiga hari berselang semenjak hari pertama tes kami berhasil mengumpulkan 100 orang dewasa, 98 remaja dan 97 anak-anak. Aku melihat lima anak yang sudah terpilih di seleksi awal semuanya nampak begitu kotor mungkin karena sedikit sekali manusia disini yang menggunakan tabung steril karena biayanya sangat mahal jika tidak ditanggung pemerintahan.

“Aahhh… hasil tesnya begitu rendah kita harus mencari yang lain lagi…” keluh Angel yang tengah memeriksa seorang anak perempuan berusia tiga tahun di depannya.

Kulihat anak itu begitu kurus namun yang menyita perhatianku adalah mata birunya yang terus bersinar di wajahnya. “Tidak! Aku akan membawanya” bantahku.

“Hehh… Sekarang kau yang ingin menjadi malaikat?” cibir Angel dengan tatapan heran.

Aku menghela nafas kemudian menggendong anak itu. “Siapa namamu gadis bodoh?” tanyaku sembari menatap matanya. Dia hanya diam kemudian menggeleng perlahan.

“Will! Itu salah jika para atasan tau mereka akan membuangmu!” Angel berteriak mencoba melepaskan anak itu dari gendonganku.

Aku segera mendorong tubuhnya menjauh dan menurunkan tubuh anak itu dari gendonganku. Kutatap tajam mata Angel dan mendorongnya hingga menabrak dinding. “Buang saja aku jika mereka bisa! Angel ingat! Aku sudah muak berada di sini. Kau pikir sudah berapa orang yang sudah kita tes dan kita harus mencari satu di antara semua manusia bodoh di luar? Apa kau sangat betah tinggal di sini huh?! Tinggal saja sendiri aku sudah tidak mau! Paru-paruku terasa hampir terbakar bernafas di tempat ini!” Aku membentaknya berkali-kali dan menatapnya dengan begitu marah. Mencari manusia cerdas dengan DNA yang cukup unggul di daerah yang tak kenal matahari ini begitu sulit.

Angel melirik gadis yang tengah memegangi celana seragamku mungkin ia takut melihatku marah-marah namun wajahnya masih begitu datar dan polos. “Tapi bisa saja dia tidak dapat bertahan saat diberi obat-obatan” ia ikut menatap gadis kecil itu dengan tatapan sedih karena ia hanya berusaha menjalankan tugasnya semaksimal mungkin.

Mata gadis itu menatapku hingga tatapan kami saling bertemu saat aku meliriknya. “Dia akan mati. Tapi disini pun dia akan mati” ucapku kemudian kugendong kembali gadis kecil itu.

“Will…” Angel menatap kami dengan tatapannya yang tidak dapat kuartikan antara sedih, bahagia atau prihatin.

Ku masukan dia kedalam tabung steril dan mengacak rambutnya pelan, bibirku sedikit terangkat saat melihatnya tersenyum di dalam tabung. “Namamu sekarang Jessy”

Dorrr… Dorrr… Dorrr…

Tiba-tiba kudengar suara tembakan dari luar ruangan tes seleksi. Aku segera menitipkan Jessy pada Angel dan pergi keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi. Saat tiba aku terkejut melihat mayat yang terinjak-injak oleh orang lain yang mencoba menerobos masuk agar kami membawa mereka ke dalam kubah.

“Izinkan kami ikut ku mohon”

“Tidak! Biarkan putriku saja yang ikut”

“Hey bawalah aku!” 

Teriakan mereka terdengar begitu ricuh ditambah tembakan dari keamanan saat ada manusia yang hampir masuk ke dalam are test.

“Hey William! Cepatlah kemas barang-barangnya! Kami hampir kehabisan peluru!” Ujar salah satu dari mereka yang melihatku.

Aku hanya menatap miris ke arah mayat-mayat yang sudah tak berbentuk lagi dari anak-anak hingga orang dewasa mati tertembak dan terinjak. Aku segera masuk kedalam ruang dan memerintahkan para staf untuk lebih cepat membereskan peralatannya.

“Apa yang terjadi di luar Will?” Tanya Angel dengan nada khawatir dan takut. Ia pun tengah mengemasi alat-alat dan juga memeriksa daftar manusia yang lulus tes. Aku hanya diam tak

menjawab pertanyaannya dan terus fokus memeriksa daftar.

Setelah membereskan semua peralatan kami segera menaiki kereta dan kembali ke kawasan Hexagram guna mendidik dan mengubah gen mereka sehingga bisa hidup dengan sedikit makanan dan sedikit mengeluarkan kotoran. Aku menghela nafas setelah meninggalkan kota Little Hell. Kota itu benar-benar menjadi neraka.

“Hai bagaimana kabarmu?” Aku duduk disebuah bangkunya taman bersama dengan Jessy selang beberapa hari karena ia harus diberi perawatan terlebih dahulu.

Ia mengangguk dan tersenyum begitu manis “B-baik… Terimakasih papa?”

Aku tertegun beberapa saat ketika ia memanggilku dengan sebutan Papa. Kalau tidak salah ayahku juga memiliki anak saat usianya 30 tahun sepertiku sekarang dan sekarang aku cukup mengerti perasaannya.

Aku menaruhnya di pangkuanku dan menatap langit yang terlindung kubah kaca. Melihatnya begitu indah namun juga begitu sesak. Langit itu kini memiliki ujung tak ada lagi kendaraan terbang yang melintasinya.  “Bertahanlah dan rawatlah generasi selanjutnya. Sampai bumi ini hancur atau sampai kehidupan baru ditemukan temukan di luar sana Jessy. Ingatlah pesan papa baik-baik” ucapku pada seorang anak yang berusia tiga tahun. Aku tidak tahu dia akan paham atau tidak tapi yang ku tahu ayahku juga pernah mengatakan hal yang sama padaku, dan mungkin ia juga berpikir.

“Seandainya aku bisa menyelamatkan bumi, sehingga lebih banyak senyuman sepertinya yang memberi warna pada hidup.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *