Cerpen #385 Tembok Pembatas

Suara teriakan dari arah dapur harusnya sudah menjadi biasa didengar oleh telingaku. Namun entah kenapa tetap saja.

“kamu tuh ya dibilangin! Bekas makan dipilah dulu, baru dibuang”

Entah sudah berapa kali Ibu selalu menekankan kata itu Aku hanya menanggapi dengan “iya iya maaf tadi Nina lupa” tak ingin berdebat. Dibalas lagi oleh Ibu “bebuih mulut Ibu kamu masih saja lupa… Nina” sambil melihatku yang memilah sampah. Aku sebenarnya tahu harus diapakan sampah itu, hanya saja Aku enggan. Pikirku percuma saja sampah dipilah, toh ujung-ujungnya di pembuangan akhir semua jenis sampah akan disatukan. Oh ayolah Aku hidup diperbatasan yang lingkungannya jauh dibanding kaum borjuis sana. Di luar masyarakat juga enggan yang memerhatikan lingkungan, toh pemerintah hanya mementingkan yang di dalam.

Namun walau begitu dalam hati kecilku, Aku ingin sekali merasakan kehidupan yang dulu Ibu pernah ceritakan waktu masa di sekolah dasar dulu. Ketahuilah bahwa sekarang kehidupan manusia dan lingkungan sudah seperti musuh. Lingkungan sudah menjadi bahan bullying dan manusia yang merundung. Tragis memang. Namun itu hanya berlaku di area perbatasan kaum elit dan masyarakat standar seperti kami, ada tembok besar disana. Penghalang bagi dunia yang berteknologi canggih dengan lingkungan nyaman dan aman, dan kalian perlu tahu kemana sampah dan sisa-sisa yang mereka gunakan untuk membangun kota megah di balik tembok itu? Yah di tempat ini, di tempat Aku tinggali sekarang.

Biar aku keceritakan kenapa aku bisa ada di sini. Dulu Aku, Ayah dan Ibu adalah salah satu yang menempati kawasan elit di balik tembok tinggi disana. Kehidupan kami sangat sejahtera, kami bersahabat dengan lingkungan dan bisa dibilang serba berkecukupan. Ayahku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan teknologi lingkungan dan Ibuku bekerja sebagai seorang guru di sekolah dasar swasta. Lingkungan nyaman bagi penduduk kota elit yang memiliki fasilitas serba wah, Aku pernah merasakannya. Semua serba mudah instan, praktis entah bagaimana lagi harus ku deskripsikan dengan kata-kata. Di sana sampah plastik yang dapat terurai langsung, kemudian teknologi serba mempermudah aktivitas manusia, dan masih banyak lagi. Meski begitu manusia elit di sana konsumtif . Karena semua serba terpenuhi jadilah tak apa jika banyak pakaian, makanan dan minum yang mereka sia-siakan. Aku baru sadar itu sejak beberapa bulan keluar dari kawasan elit itu.

Ayah dan ibuku sebelum tinggal disini mereka berasal dari Pulai Pari yang terkenal akan kebersihannya. Hingga Ayah dengan kemampuannya terkait teknologi dan lingkungan direkrut oleh perusahan tempatnya bekerja, Ayah banyak berkontribusi untuk perusahaan itu hingga Ayah menempati posisi yang dekat dengan para petinggi perusahaan dan pemerintah. Hingga suatu ketika setelah Ayah pulang dan Ibu menyambut dengan senyum hangat, ketika itu Ayah terduduk diam. Bungkam. Aku mendatangi Ayah dan memeluknya hangat.

“Ayah kenapa ?” tanyaku polos.

“Maafkan Ayah nak, harusnya masa depan dan lingkungan yang kamu tempati nanti lebih baik dari saat ini” kata ayah sembari kedua tangannya memegang hangat pipiku.

“Kenapa begitu Ayah? Bukankan sekarang lingkungan kita disini baik-baik saja”

Ayah memandangi Ibu sendu.

“Maafkan Aku, seharusnya Aku tidak mengajakmu kesini. Kita harusnya tinggal menetap di Pulau Pari yang lingkungannya lebih bersahabat” kata Ayah memandangi ibu. Ibu pun menghela napas pasrah.

“Tak apa, kita bisa memulai lagi nanti”

Aku yang masih polos makin tak mengerti arah pembicaraan kedua orangtuaku. Setelah beberapa menit berlalu barulah Ayah menjelaskan secara detail. Ternyata perusahaan tempat Ayah bekerja adalah perusahaan yang berkedok bersahabat dengan lingkungan. Sebelum Ayah bergabung, perusahaan tempat yang merekrut Ayah banyak mengorbankan hak-hak lingkungan untuk membangun kawasan elit ini. Semakin Ayah mendekati para petinggi perusahaan dan pemerintah, ternyata mereka mengambil keuntungan dibalik kata suistainable. Memiliki kekuasaan mereka menguntungkan yang kaya dan menyengsarakan yang miskin. Setalah Ayah terjun lebih dalam pada perusahaan itu, Ayah menempati sebuah proyek diberikan langsung oleh para atasan dimana proyek tersebut akan banyak merugikan masyarakat, lingkungan dan menimbulkan krisis iklim lainnya. Dibalik kata suistainable itu ternyata banyak yang harus dikorbankan, jadi maksudnya suistainable di sini hanya untuk yang kaya, lucu sekali. Tapi menurut Ayah suistainable harusnya tidak demikian seperti apa yang para petingginya mau, menurut Ayah teknologi yang suistainable harusnya mementingkan hak-hak rakyat kecil,lingkungan dan lainnya. Karena keuntungan dan instan itu dua kata yang para petingginya inginkan. Ayah menolak usul tersebut dan karena itulah perusahaan mengeluarkan Ayah dari posisinya. Juga karena itulah Ayah yang dengan posisi itu harus dikeluarkan dari kawasan elit ini. Sungguh manusia serakah.

Setelah menceritakan semua itu kami berpelukan dan Ayah menyuruh Ibu dan Aku untuk bersiap-siap pergi besok dari tempat ini. “kita akan dipindahkan keluar tembok” kata Ayah. Aku bingung, apalagi yang manusia-manusia ini miliki. Sebelumnya aku yang tinggal di dalam tembok besar ini menutup mata akan fasilitas yang diberikan. Barulah setelah keluar dari tembok perbatasan, ternyata kawasannya tak berbeda dengan yang kutinggali dulu hanya saja udara dan awan yang menghiasi langit seperti terbelah. Aku ingat sekali dulu ketika aku keluar, Aku menangis mengingat sebelumnya aku hanya kira tempat ini hanya bualan belaka. Tempat yang akan kutinggali jauh sungguh dari yang di dalam terlihat dari ketidakteraturannya sistem pengelolaan sampah, sedikit sekali tumbuhan di sini, mungkin beberapa ada namun sudah kering kerontang.

Beberapa bulan setelah Aku dan kedua orangtuaku menetap disini. Kami merasakan krisis krisis iklim disini lebih buruk daripada di dalam, yah di dalam memang dapat dibantu dengan teknologi untuk melawan sedikit kejamnya iklim namun efeknya beralih ke balik tembok sini, sungguh. Di sini banjir tak tertolong saat musim hujan, polusi udara yang mengharuskan bersahabat dengan masker, pemandangan sampah yang sudah biasa menjadi pemandangan, panas yang mungkin saja dapat membakar lemak tubuh. Untung saja kipas masih bisa dimanfaatkan, tidak untuk AC tempat ini bukan seperti kawasan elit sana.

Dari situ aku belajar bahwa tak cukup menjaga lingkungan dengan memilah sampah, mengajak masyarakat untuk berbenah, kini aku bertekad untuk memiliki kekuasaan yang positif. Sedikit egois memang, tapi itulah yang terjadi. Lihat saja banyaknya pejuang lingkungan, namun tetap saja seberapa besar aksi yang mereka lakukan kalau pemerintah tidak turun tangan langsung melalui peraturannya tetap saja. Namun, aku sangat menghargai para pejuang lingkungan ,terutama Ibuku. Dan untuk Ayahku harusnya orang seperti beliau yang memiliki visi yang membangun memiliki kekuasan untuk kesejahteraan lingkungan. Argh aku harus belajar lebih giat dan kerja cerdas. Meski aku sedikit benci dengan perlakuan Aku dan kedua orangtuaku dapat, tapi aku harusnya tidak membenci lingkunganku. Untuk meraih kekuasaan itu haruskah aku mendekati para petinggi dengan beberapa skill? Ah tidak! cara itu tak akan menjadikan aku menetap pada tempat. Aku akan menemukan jalanku sendiri untuk menjaga lingkunganku dan untuk masa depan generasiku, generasiku harus bersih dan bersahabat dengan lingkungan. Bagaimanapun caranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *