Cerpen #384 Dunia Bawah Air

“Jika cerita yang cenderung tak masuk akal di masa lalu disebut dengan dongeng, lantas cerita masa depan yang sulit diterima itu bernama apa?”

“Tentu saja kau bisa menyebutnya sebagai fantasi, jika tak ingin menyebutnya sebagai khayalan.”

“Kalau begitu aku ingin menceritakan sebuah fantasi. Apakah kau ingin mendengarnya?”

“Aku ingin mendengarnya dengan catatan.”

“Catatan?”

“Ya, karena aku sadar sering menjadi pelupa. Maksudku, mulailah bercerita dan aku akan mencatatnya …”

“Tapi pertama-tama aku ingin bertanya. Menurutmu, kenapa manusia menciptakan dongeng?”

“Entahlah. Di antara mereka senang membayangkan benda-benda mati seolah manusia; berpikir dan berbicara. Apakah mereka tak cukup puas menjadi diri sendiri?”

“Itu karena mereka menyukai hal-hal yang di luar jangkauan. Lebih menarik dan menantang. Dan tentu saja akan tampak hebat.”

“Oh, baiklah. Alasan yang cukup bisa diterima. Aku akan mulai bercerita …”

***

Bagaimana cara untuk mempercayai sesuatu yang belum terjadi kecuali bahwa menunggunya untuk kemudian benar-benar terjadi? Mungkin saja membutuhkan sebuah mesin yang bisa mendeteksi kebohongan apakah cerita-cerita yang digulirkan adalah sebuah kebenaran.

“Pertama-tama kau harus mencatat bahwa ini bukanlah sebuah ramalan, tetapi kebenaran.”

“Kebenaran? Bukankah ramalan juga merupakan sebuah kebenaran? Di luar konteks bahwa pada akhirnya ramalan itu terbukti atau tidak. Lantas bagaimana caramu mempercayai sebuah kebenaran jika hal itu pun bukan dan belum menjadi sesuatu yang pasti?”

“Karena alam selalu menyimpan tanda bagi setiap tanya.”

Ia datang pada suatu sore yang remang. Matahari masih miring menuju barat. Oranye, dan hangat. Ia seorang lelaki yang sedang duduk sendiri di sebuah bangku taman. Tampak tak melakukan apa-apa, kecuali kedua telinganya yang tertutup headset berwarna hitam dengan garis-garis merah di sekelilingnya. Mungkin sedang mendengarkan musik agar tak mendengar suara di luar dirinya, mungkin saja ia sedang tidak ingin diganggu. Mungkin saja ia sedang mendengarkan pesan dari masa lalu.

Tiba-tiba ia melepas headset dari telinganya, lantas meletakkannya dengan hati-hati di bangku. Jika taman itu merupakan serangkaian ketidak-beraturan, maka barangkali ia adalah sebuah keteraturan yang tersesat. Seolah sebuah spasi di antara huruf-huruf yang berjejalan berebut bunyi.

Seorang perempuan tampak kelelahan dan merasa harus segera duduk di bangku taman yang memang masih menyimpan ruang kosong itu.

“Permisi, bolehkah aku duduk?”

Tidak ada jawaban.

“Hei? Kau baik-baik saja?”

Masih tidak ada jawaban.

Selanjutnya perempuan itu menyentuh pundak lelaki itu dengan hati-hati, “Hei …”

“Oh, ya? Ada yang bisa dibantu?”

“Oh, tidak. Tidak. Aku hanya butuh untuk duduk di sini jika kau tak keberatan …”

“Oh, tentu saja tidak. Silakan.”

“Minum?”

Perempuan itu menawarkan sebuah botol berisi air mineral, dan lelaki itu tidak terlalu berminat dan hanya mengucapkan terima kasih. Lelaki itu masih tampak memikirkan sesuatu. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang bersifat sangat penting, tetapi ia sekuat tenaga untuk menahannya.

“Kalau tak keberatan, siapa namamu?”

Perempuan tersebut cukup terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba seperti itu.

“Aku?” Ia menjawab hampir menumpahkan air di tangannya.

“Tentu saja. Di sini hanya ada kita. Maksudku, di bangku ini.”

“Oh, ya. Kau benar. Namaku Riang. Kau?”

“Perkenalkan, aku Ranting. Apakah kau penduduk di kota ini?”

“Y-ya. Kenapa kau tampak gugup seperti itu?”

“Aku ingin membocorkan rahasia yang mungkin saja sulit untuk kau percaya. Aku masih memikirkannya apakah aku sanggup menceritakannya atau tidak. Ini sungguh bukan sesuatu yang mudah.”

“Berceritalah. Jika kau percaya, aku suka menyimpan rahasia.”

“Bukan persoalan kau mampu untuk menyimpannya atau tidak. Tapi ini cukup sulit untuk mengatakannya justru sebaiknya kau menceritakannya kepada orang lain. Hanya saja, mungkin kau akan dianggap mengada-ada.”

“Tidak apa-apa. Itu sudah biasa. Maksudku, bahwa orang-orang mengangggapku mengada-ada.”

Begitulah kemudian Ranting mengaku kepada Riang bahwa ia berasal dari masa depan. Tentu saja bukan sebuah berita atau bahkan cerita yang mudah untuk dipercaya sebagai kenyataan.

“Mempercayai fiksi sebagai kebohongan yang benar terasa lebih sederhana daripada menerima ceritamu.” Riang tertawa.

“Aku tahu …”

“Lantas, apakah kau bermaksud menyampaikan sebuah pesan?”

Tampak kelegaan terpancar dari aura wajah Ranting. Ia cukup senang menemukan orang yang tepat. Mungkin saja tidak terlalu tepat, tapi setidaknya untuk saat ini bisa mempercayainya.

Ranting berasal dari masa depan. Seratus tahun setelah hari ini. Perihal bagaimana cara ia bisa melintasi waktu yang lama itu dalam jarak yang terasa singkat, menjadi tidak penting lagi. Mungkin saja sebenarnya ia sedang terburu-buru untuk menemukan seseorang yang bisa menampung ceritanya, atau ia tidak akan pernah kembali ke asalnya jika ia terlambat menyelesaikan misi. Riang mencoba memahami itu, sehingga ia tidak terlalu banyak bertanya.

Lelaki itu merogoh saku celana dan menunjukkannya kepada Riang. Sebuah foto yang tampak tidak terlalu jelas, seperti foto dengan ukuran resolusi rendah karena penyesuaian dengan aplikasi yang dilaluinya.

“Kau lihat ini, kan? Uhm, mungkin tidak terlalu jelas. Tapi ini hasil penyesuaian karena perjalanan yang melelahkan. Melintasi ruang dan waktu. Resolusi gambarnya mungkin berkurang banyak.”

“Oke. Aku menoba untuk menyimpan informasinya.”

“Kau memang harus.”

“Aku takut ketika kau sudah kembali ke asalmu di masa depan, aku melupakan semuanya. Seperti yang pernah kutemukan di sebuah film. Aku sudah melupakan judulnya, yang jelas ada seekor kucing luar angkasa yang punya misi menghancurkan bumi. Tapi kemudian ia kehilangan kekuatannya karena sebuah insiden.  Kucing itu selanjutnya dirawat oleh sebuah keluarga. Oh, aku terlalu banyak bercerita. Intinya, pada saat kucing itu kembali menemukan kekuatannya dan ia akan kembali ke tempat asalnya, ia membuat semua orang di kota itu menjadi hilang ingatan.”

“Kau tidak akan mengalaminya. Aku tak memiliki kekuatan jenis apapun.” Lelaki itu tertawa.

Selembar foto itu hampir pudar, tetapi masih menyimpan warna. Tidak terlalu jelas seperti sudah tersimpan begitu lama. Pucat. Tapi masih berwarna. Hampir abu-abu yang masih cukup terang. Sebuah kota di bawah air. Kira-kira bisa diterjemahkan menjadi seperti itu.

Riang terhenyak begitu melihatnya. Ia menolak untuk percaya, tapi sudah telanjur berjanji untuk menerima cerita-cerita dari Ranting.

Kota yang saat ini ditinggali Riang dan penduduk yang lain, kelak seratus tahun kemudian akan tertimbun oleh air. Entah asin atau tawar, Ranting tidak memberi penjelasan. Sesungguhnya perempuan itu hendak banyak bertanya, tetapi diurungkannya.

“Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana bencana ini bisa terjadi.”

“Kau membaca pikiranku dengan sangat baik.”

Bumi sudah lama sakit karena aneka jenis penyiksaan yang dilakukan manusia. Sampah plastik yang bahkan tidak terurai seratus tahun kemudian terus menumpuk. Pabrik-pabrik plastik tetap melakukan produksi, sehingga segala jenis sampah plastik menjadi timbunan benda padat yang mengganggu kesuburan tanah. Pohon-pohon ditebangi dengan alasan membangun peradaban baru, membangun kota-kota dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang, membangun tempat wisata buatan yang lebih banyak merusak alam. Sawah-sawah dan kebun semakin habis.”

“Kelak manusia akan mengalami krisis pangan yang parah. Tidak ada lagi padi-padi yang tumbuh dengan baik, karena lahan semakin tandus. Buah-buahan dan sayuran memiliki nasib yang sama. Sinar matahari akan terasa berkali lipat lebih panas dari seharusnya. Banjir, tanah longsor, dan bencana lainnya akan lebih sering datang secara tiba-tiba. Lapisan ozon yang rusak tidak mampu lagi melindungi bumi dari kerusakan alam. Pergeseran perubahan iklim akan semakin mengerikan dan sukar untuk diprediksi. Dan manusia akan lebih mudah menyakiti sesamanya demi memenuhi kebutuhannya masing-masing karena kurangnya empati kepada hal-hal di luar dirinya …”

“Bagaimana dengan teknologi?”

“Teknologi memang akan semakin canggih. Bahkan jika itu dimaksudkan untuk menyelamatkan kerusakan, tidak akan banyak membantu. Kecuali bahwa manusia harus siap menerima perubahan.”

“Tapi, bukankah perubahan memang akan selalu terjadi dan itu bentuk kewajaran dari addanya kehidupan?”

“Benar, tapi yang akan terjadi seratus tahun dari hari ini adalah perubahan yang kian buruk. Mungkin teknologi bisa menjangkau setiap yang tidak lagi diberikan oleh alam, tapi …”

“Segalanya menjadi tidak pernah sama.”

“Ya. Segalanya menjadi tidak pernah sama. Percayalah, teknologi yang berhasil diciptakan tidak akan sebanding dengan kerusakan yang terjadi. Kau mengerti maksudku, kan?”

“Tapi, bisakah kerusakan itu dihindari?”

“Seharusnya bisa, tapi mengendalikan seluruh manusia di bumi untuk berada pada vibrasi yang sama tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi kau bisa memulainya dari diri sendiri. Mungkin kita memang tidak bisa mencegah kerusakan, tapi setidaknya bisa memperlambat prosesnya.”

“Sekarang kau sudah menceritakan sesuatu dari masa depan. Apakah kau juga ingin mendengar cerita dari masa lalu?”

“Ya, jika memang harus.”

“Uhm, mungkin saja kau akan tertawa.”

“Apakah itu sesuatu yang lucu?”

“Aku tidak bisa berjanji. Tapi sebaiknya kau cukup mendengar dan menyimpulkan sendiri saja.”

Bagaimana manusia bisa berubah menjadi lumba-lumba? Adalah pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Tetapi ada. Di sebuah kota kecil di pesisir pantai, orang-orang berbondong-bondong untuk menjenguk keriuhan.

“Ada lumba-lumba tersesat di pantai. Sepasang. Apa kau ingin melihatnya?”

“Ya!

“Ayo ke sana, ayooo …”

Selanjutnya lumba-lumba itu ditangkap, dengan alasan diselamatkan. Tapi yang terjadi, sepasang lumba-lumba itu malah menjadi pusat perhatian sebuah tempat wisata. Orang-orang itu, pengelola tempat wisata menempatkan kedua lumba-lumba pada sebuah kolam yang tidak terlalu besar, membuat mereka tidak leluasa bergerak. Mereka memasang kursi-kursi untuk penonton. Seolah sebuah pertunjukan. Mereka membangun sebuah loket, menawarkan karcis dengan harga sekian-sekian. Orang-orang menjadi ramai dan kian sesak karena cerita yang didengungkan di belakangnya.

“Kasihan ya, kasihan …”

“Memangnya kenapa?”

“Lumba-lumba itu, apakah kau tidak tahu?”

“Tidak. Kenapa dengan lumba-lumba itu?”

Dua orang bocah Taman Kanak-kanak saling bercengkrama satu sama lain. Teman-temannya datang. Begitu penasaran. Berjongkok. Ada pula yang membungkuk. Agar mendengar ceritanya dengan sangat jelas, sehingga mereka bisa kembali bercerita di sekolah kepada guru mereka atau  kakak, adik, ayah dan ibu mereka di rumah.

“Ada apa sih? Kenapa dengan lumba-lumba?”

“Ssst … ini rahasia. Lumba-lumba itu … sebenarnya …”

Percakapan terjeda cukup lama.

“Lumba-lumba itu sebelumnya adalah manusia!”

“Bagaimana ceritanya?”

“Itu … mereka mandi terlalu lama. Jadilah mereka dua ekor lumba-lumba yang tersesat di pantai karena mencari ibunya.”

“O … begitu rupanya!”

“Kasihan ya, kasihan …”

“Iya, kasihan!”

***

“Manusia memang rumit ya. Jadi, sejak kapan kau tahu cerita manusia itu? bahwa mereka menganggap kita—lumba-lumba—berasal dari manusia?”

“Sejak lama sekali. Sejak mereka menangkap kita dan menjadikan kita tokoh dalam pertunjukan mereka. Aku tahu, mereka hanya mencari keuntungan semata. Mereka hanya memanfaatkan tenaga dan kecerdasan kita.”

“Omong-omong, apakah itu alasan manusia memaksa kita belajar berhitung dan seolah-olah menjawab pertanyaan mereka?”

“Begitulah cara berpikir manusia …”

***

Tanda Air, November 2021

10 thoughts on “Cerpen #384 Dunia Bawah Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *