Cerpen #383 Ellie

Kipas berdudukan kecil itu terus berputar walau daya anginnya teramat pelan sebagai penyejuk di tengah jamah mentari yang terlampau menyengat. Namun, tidak ada yang dapat gadis muda bertubuh mungil dan berkucir berantakan itu lakukan selain menghalaunya dengan kertas minyak tipis. Kaus tipisnya dia tarik berulang kali agar tidak melekat oleh keringat yang tidak kunjung berhenti mengucur di sekujur tubuhnya. Dia tidak pernah menerka arah hidupnya dengan pasti. Seperti bumi tempatnya dan bermilyar manusia lainnya tinggal, tidak setitik cahaya pun melintas di relung kalbunya. Sudah beberapa hari hujan deras silih berganti dengan keadaannya saat itu, tetapi itu justru memperparah suhu rata-rata. Baru beberapa jam berlalu setelah dia mendengarnya dari satu-satunya siaran radio yang masih menyediakan laporan cuaca. Menurutnya, fungsinya kian terkikis, tapi dia masih memerlukannya. Setidaknya dia tidak akan lupa membawa payung setiap kali keluar untuk memeriksa hasil kerja sejumlah robot baru di restoran khas Jepang.

Busa pelapis di kursi keras itu kembali berkerut. Gadis itu harus bangkit lagi untuk menatanya, kemudian mengatur posisi agar lebih nyaman. Pekerjaan satu-satunya sebagai pengkaji akan segera berakhir masa tenggangnya, tetapi belum ada kontrak baru disodorkan padanya meskipun dia telah memenuhi poin standar tertinggi: datang tepat waktu, rela mengambil lembur dengan upah seadanya, juga menyelesaikan laporan secepat dan setepat mungkin. Walau masalah itu menghantuinya setiap malam hingga mengalahkan tipisnya bantal dan kotornya seprai oleh tumpukan debu, gadis itu menyadari keberuntungannya ketika pasokan air di kawasan tempat tinggalnya tidak pernah sampai putus lebih dari setengah hari. Dia masih bisa menghidrasi diri dengan dua botol air berukuran besar yang cukup hingga keesokan harinya. Gadis itu tidak mampu hanya berpangku tangan kala hari libur pertamanya yang tidak dinyatakan secara teknis akan sirna begitu saja.

Satu demi satu benda gadis itu bongkar dari kabinet serbagunanya yang mulai usang dimakan lembaran hari. Kalung berbandul jam kaca dengan rantai yang sejumlah sisinya terkelupas, atlas dunia dengan kedua ujung tergulung hingga hampir sobek seluruhnya, tumpukan dokumen tua berisi proyek praktikumnya selama berseragam sekolah, senter dengan dua baterai besar utuh yang mulai terbelah, hingga album foto yang tidak penuh karena pemiliknya sendiri terlalu selektif dalam memilah objek berserakan di lantai. Nyaris sejengkal pun tidak tersisa bagi gadis itu untuk berpijak selain di titiknya saat itu. Gadis itu akan merealisasikan rencananya untuk menukarkan seluruh warisan kuno itu dengan beberapa lembar uang untuk mengatasi krisis sakunya. Setelah menyatukan semuanya di pojok dekat kamar mandi, dia beralih ke kolong dipan kayunya yang lusuh. Tanpa perlu kehadiran semut, bahkan rayap yang berpesta pora dengan mengebor dan membangun sarang, bunyi papannya sudah mampu menggesek pendengaran, mengundang ngilu.

“Gimana bisa …” Gadis itu tidak sanggup melanjutkan gumamannya. Salah satu tangannya menjangkau hingga bagian pinggir yang gelap, menarik bermacam bungkusan biskuit, pai mini, hingga keripik jagung. Berdasarkan memorinya, dia selalu membuangnya di tong sampah. Sepetak ruangan itu sudah cukup sempit untuk menampung privasinya, jadi setidaknya perlu ada kesan rapi, meskipun tidak dapat mengandalkan mesin penyedot. “Apakah Mitta …” Dia pun meraih ponselnya dari atas kursi.

Maaf, nomor yang dituju …

Gadis itu menekan layarnya lagi dan lagi. Beberapa kali memulai panggilan, hasilnya membuat gadis itu gondok. “Mitta, apa kau tidak menjawabku karena memang bersalah?” ucapnya kesal. “Apa kau yang menyemak ketika menantiku selama ini? Padahal aku membiarkanmu di sini karena aku percaya padamu ….” Mulutnya terus berbicara dengan rasa penasarannya ketika menarik sebuah kantong plastik khusus yang kusut dan menjejalkan semuanya ke dalamnya. Dia menconteng daftar berisi serentetan kegiatan sebelum meraih kunci kartu dan topinya, mengikat ulang rambutnya, kemudian berlalu dengan sepasang sepatu yang tidak akan pernah dipakai dalam keadaan utuh karena bagian belakangnya diinjak.

  1. Membuang sampah     V
  2. Melunasi sewa bulanan
  3. Menagih kertas bekas
  4. Berbelanja kebutuhan sepekan

Momen seringkali menghukum gadis itu, sehingga dia harus rela bersecepat kala menuruni tangga beranak curam dan berpegangan tidak terawat. Mengharapkan sebuah lift bertombol manual hanya akan membuahkan kemustahilan bagi para penduduk padat blok penuh akulturasi itu, termasuk dirinya. Sebuah pernak-pernik bergambar pohon dengan dedaunan hijau nan lebat yang terjuntai dari kartu dalam genggamannya lama-kelamaan mengasingkan diri. Makhluk hidup yang tidak bisa berjalan, begitulah yang dia pelajari mengenai tanaman, walau sebatas dari buku cetak. Bahkan kaktus muda sekalipun tidak sanggup menahan siksaan iklim yang semakin sering mempermainkan semua pihak.

Deretan sepeda listrik berderet rapi di tepi trotoar. Papan elekronik pada bagian belakang setiap unitnya mengumumkan tarif pada setiap calon pengendaranya. Gadis itu tidak mengacuhkannya. Daripada menghabiskan gaji selama sebulan hanya untuk memuaskan diri dengan mengayuhnya sekali mengelilingi kota, dia lebih memilih berlari meskipun nyaris kehabisan napas setelah menanggalkan maskernya. Di sisi kirinya terdapat sebuah halte. Kaca yang melingkupinya menandakan keangkuhannya; bukan hanya menangkal asap penunuan batu bara dari puluhan pabrik penggerak perekonomian kota itu, tapi juga menegaskan larangan tersirat bagi kaum papah. Kendaraan melintasi lebih dari lima jalur dengan mulus tanpa menyentuh tanah. Sementara itu, di sisi kanannya berjajar empat jenis kotak berbeda warna: merah, hijau, kuning, dan biru. Masing-masing merinci petunjuk mengenai jenis sampah yang boleh ditempatkan.

“Sampah ini tidak memenuhi syarat.” Begitulah seruan tong sampah biru sebelum memuntahkan benda yang gadis itu masukkan. Keheranan menyergap gadis itu ketika dia mengutipnya. Bukannya ini memang untuk sampah plastik, ya? Seorang pria berjanggut lebat menurunkan rokok yang tengah diisapnya, kemudian melemparkan remasan kilat ke tempat yang sama, tetapi penolakan yang sama tidak dijumpainya. Pria berkaus yang dilapisi kemeja kotak itu masih sempat mengembuskan aroma tembakau teramat kuat ke hadapannya, menerbitkan kegeraman dalam hati gadis itu sebelum reda dengan cepat.

Biarkan saja, kakek payah itu pasti akan menerima akibatnya.

Gadis itu membaca setiap butir lebih cermat. Tidak ada yang salah, kok …. Dia mencobanya kembali, tetapi tidak kunjung berhasil.

“Ellie Dash, nomor kependudukan 145327180900, silakan membayar denda sejumlah seratus ribu dolar melalui aplikasi kependudukan digital Senaphora sebelum tanggal …”

Apa-apaan ini? Pada percobaan ketiga –batas maksimal itu, kemarahan Ellie meluap, sementara gumpalan tebal putih-kelabu mulai mendominasi di atas kepalanya. Dia baru akan melangkah ke kantor  keuangan distrik ketika teringat bila keadilan tidak pernah berdiri tegak di kota itu. Tepat saat dia berhenti, rerintik deras berhamburan acak menerpanya. Bayu kencang yang ada kalanya berpola melengkapi kemalangannya saat itu.

Bahkan burung merpati pun tidak pernah lagi beterbangan di sekitar sini …. Dia mendongak, mengeluhkan ketidakadilan dari penindasan keserakahan kaum elit. Jangankan membeli kapsul ekstrak makanan yang tengah populer saat itu, kol yang paling murah pun terkadang tidak sempat diperoleh karena ludes terjual. Sayuran begitu mudah kehilangan kesegaran, demikian pula daging. Dengan kondisi pertanian yang tidak lagi dapat digarap di lahan luas, kelangkaan menjadi. Itulah yang kian melambungkan harga keduanya. Bila mampu pun, hanya setengah ikat yang dia bawa ke biliknya untuk segera dimasak.

Ellie, oh Ellie. Dengan payung yang kauabaikan, lebih baik, segeralah pulang. Daya tahanmu tidak cukup kuat untuk menangkis varian bibit penyakit yang terus berevolusi. Bumantara ini masih merintih, meminta pertolongan dari pendekar alam sepertimu, tidak peduli latar belakang ekonomi dan sosialmu yang morat-marit.

***

4 thoughts on “Cerpen #383 Ellie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *