Cerpen #382 100 Tahun Kebohongan

BUMI Tahun 2109

Pernahkah kau memimpikan tinggal di kota yang mengapung? kota yang berlantai air di sekelilingnya, kota yang mencapai titik peradaban teknologi termaju, kota yang tak mengenal lagi kemacetan pagi, kota yang setiap rumah memiliki ruang khusus untuk penghangat tubuh sebelum memasuki ruangan utama, kota yang lalu lintasnya diisi berbagai macam bentuk sampan dan perahu cepat. Kota Terapung, meskipun kini aku masih tinggal di kota ini tapi aku akan membawamu ke masa 10 tahun lalu, karena aku suka bernostalgia ke masa itu. Aku pernah merasakan hidup di peradaban yang kau impikan itu, sekarangpun juga. Akan ku bawa kau sedikit merasakannya lewat ceritaku ini.

10 Tahun lalu, hari di mana kota ini resmi dibuka untuk masyarakat luas agar dapat dihuni. Sebuah kota yang bisa saja disebut surga, sebuah kota yang dibuat sebagai bentuk solusi dari masalah naiknya permukaan air laut. Inovatif sekali. Kota ini dirancang sedemikian rupa berpuluh-puluh tahun lalu, dan dalam proses panjang kota ini akhirnya terwujud dan mulai bisa ditempati. Sama seperti kota-kota pada umumnya, kota ini tidak dirancang hanya untuk bermukim, tetapi juga melakukan berbagai bentuk kegiatan lain, sebut saja; pasar, kami juga memiliki pasar di kota ini. Perahu-perahu pedagang kian hilir mudik di halaman kami yang bukan lagi teras dengan berbagai macam bentuk bunga, bukan lagi rerumputan dengan berbagai macam sandal yang beterbaran, tetapi semuanya hanyalah air dengan segala bunyi gemerciknya. Perahu-perahu pedagang ini pada pemberhentian terakhirnya akan menempati satu tempat yang dirancang khusus untuk mereka, kami biasa menyebutnya Pasar Laut. Bukan, pasar itu bukan hanya menjual hasil laut, tetapi juga menjual segala hal yang biasa kau temui di pasar yang berada di daratan sana. Rumah Sakit, kami juga memiliki rumah sakit di kota ini, tak perlu memikirkan antrian panjang yang membosankan untuk bisa dilayani secepat mungkin, karena di kota ini rumah sakit tersebar di setiap sudut kota dan jangan tanya kapasitas dan kualitasnya, tak kurang satupun untuk menyamai kualitas rumah sakit terbaik yang ada di peradabanmu saat ini. Kemajuan teknologi yang sangat gila di masa ini membuat pemerintah mencanangkan program akses internet gratis di setiap kota, dan Kota Terapung ini juga masuk salah satu prioritas pemerintah. Wahana tempat bermain, di permukaan kami juga memiliki berbagai sarana olahraga, semuanya bisa kau coba jika kau bisa memainkan segala bentuk olahraga. Kota ini juga memiliki wahana bawah lautnya, kota ini beraktifitas di bawah dan di atas. Di bawah lebih gila lagi, ikan-ikan yang terbang seperti burung-burung ke sana ke mari, dengan mudah kau bisa melihatnya melalui dinding kaca yang dibuat di sekelilingnya. Jangan tanya Putri Duyung, itu hanya mitos. Kami juga memiliki banyak kedai kopi untuk bersantai di sore hari, kedai kopi dengan desain serba hijau dan memiliki logo pepohonan tetapi di saat bersamaan memakai botol plastik dalam pengemasannya. Bisa dibilang kota ini memiliki segala hal, yang tak kami miliki hanyalah kepedulian terhadap lingkungan. Jangan naif, di peradabanmu yang sekarang hanya segelintir orang saja yang peduli terhadap lingkungan, bukan?.

Lebih dari 10 kota di atas air yang telah layak huni dan tersebar di utara pulau ini, dan di seberang kota ini terlihat megah gedung-gedung tinggi dari daratan sana. Klakson mobil-mobil terjebak macet masih menghiasi pemandangan bawah gedung itu. Tak ada lagi ruang yang bisa digunakan untuk pembangunan tempat tinggal, semuanya padat, semuanya sesak. Hanya itulah daratan dari sudut pandang kami, gedung-gedung tinggi dan kemacetan di mana-mana. Kami tak mengenal apa itu Hutan, yang kami tahu semuanya telah berganti pohon sawit, pohon yang paling gila menyerap unsur hara dalam tanah, di era ini tak ada yang memikirkan apa guna unsur hara, selagi Sawit masih laku di pasar global dan bisa memuaskan hasrat mengumpukan pundi-pundi uang semuanya dianggap biasa di era ini. Di seluruh penjuru negeri ini bisa dikatakan hanya hitungan jari yang dapat dikategorikan ke dalam Hutan Lindung dan Hutan Konservasi. Kebakaran hutan dan alih fungsi lahan sudah menjadi agenda tahunan di negeri ini. Bukan lagi hal yang aneh, seperti selintas kabar yang pernah aku dengar, ini semua bermula saat kebijakan yang dahulu pernah dikritik banyak orang namun para pemangku kebijakan seperti memperlihatkan watak aslinya, melakukan pengesahan saat rakyatnya sedang tidur, melakukan pengesahan saat rakyat hampir jatuh ke lubang keputus-asaan. Para ahli di bidangnya mengkritik persoalan peran serta masyarakat dan dampak yang akan ditimbulkan terhadap keberlangsungan alam jika kebijakan ini diloloskan. Benar saja, seperti kebanyakan film yang mengangkat tema bencana alam, semuanya dimulai ketika pemerintahnya mulai tidak peduli dengan tanggapan para ahli.

Tahun berganti tahun, hutan berganti tambang, batu bara, minyak bumi, gas, semua hal yang bisa ditambang. Hutan tak menghasilkan uang tapi tambang lebih menguntungkan. Itu pola pikir yang tertanam sejak lama bagi manusia di peradaban ini.

Pemimpin berganti pemimpin tapi tetap saja kebijakan akan keberlangsungan hutan dan pengurangan emisi gas karbon hanya diselimuti pidato-pidato diplomatis. Di depan negara-negara lain para pemimpin negara seolah paham betul akan memposisikan diri agar menarik simpati negara lain, namun pada penerapannya selalu saja hanya menguntungkan pihak-pihak pengrusak baik itu soal bisnis maupun soal keterlibatan kroni-kroninya. Bukan tidak ada orang-orang yang peduli akan kelestarian lingkungan ini, bahkan bisa dikatakan banyak orang yang mengampanyekan untuk berhenti makan daging, banyak yang mengampanyekan matikan listrik, cintai alam, daur ulang sampah dan ada juga gerakan yang terus menolak kebijakan pemerintah yang akan memicu kerusakan lingkungan yang berkelanjutan. Semua itu, sedikitnya tentu punya dampak baik, akan tetapi dampak baik yang dihasilkan tidak sebanding dengan dampak buruk deforestasi dan pengeboran tambang terus-terusan. Begitu juga penolakan kebijakan yang dilakukan masyarakat tetapi masih saja semuanya diloloskan meski itu dengan cara busuk sekalipun.

Kota Terapung ini diresmikan disaat kondisi pemanasan global dan perubahan iklim dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan, efek gas rumah kaca yang meningkat berkali-kali lipat setiap tahunnya membuat kondisi bumi semakin memanas. Melihat kembali kebelakang di mana semua lahan hutan sudah di alih fungsikan menjadi pertambangan dan pembangunan gedung-gedung tinggi, deforestasi dan pembakaran terjadi di mana-mana.

Mengingat kasus ini, efek gas rumah kaca sangat cocok dianalogikan seperti Bumi dalam wujud mobil yang terkena cahaya matahari, lapisan ozon Bumi yang diibaratkan sebagai kaca-kaca mobil memantulkan kembali gelombang panas matahari yang diterimanya sehingga suhu dalam mobil lebih panas dibanding suhu di luar mobil. Dan untuk menurunkan suhu dalam mobil satu-satunya cara yang kita miliki adalah menyalakan penyejuk udara dalam mobil, yang bila diibaratkan dengan Bumi penyejuk udaranya adalah hutan. Akan tetapi di era ini, hutan telah berubah menjadi tambang yang dengan kata lain penyejuk udara telah diganti dengan alat pemanggang, maka hanya menunggu waktu melihat segala isi dalam mobil itu menjadi keriput dan terbuang sia-sia.

Apa yang diperkirakanpun terjadi, Kota Terapung yang katanya kota ramah lingkungan tapi nyatanya segala aktifitasnya harus bergantung kepada penggunaan listrik berlebihan, memang Kota Terapung menjadi solusi dari naiknya permukaan air laut, namun senyata-nyatanya kenaikan air laut dipicu karena pemanasan suhu bumi hingga mencairnya es di kutub sana. Yang harus lebih dahulu diatasi seharusnya pemanasan globalnya bukan kenaikan air lautnya. Namun apa lagi yang bisa diperbuat? 7 tahun umur kota ini semuanya seakan hilang begitu saja, senyum para penghuni kota, hiruk pikuk keraiaman pasar laut, dan gemercik air yang dihembus angin pasang berganti dengan keriuhan manusia-manusia mencoba menyelamatkan diri sendiri, kiamat terjadi di mana-mana, sebut satu pantai yang tak terkena abrasi di utara pulau ini, tidak ada yang bisa menyebutkannya karena semua telah dilalap habis oleh lautan, menyingsing ke daratan semua juga begitu, daratan-daratan yang tak biasa dengan genangan air, kini pintu rumah dan gedung-gedung tinggi itu bersapaan dengan banjir yang melebihi tinggi orang dewasa. 3 tahun berlalu begitu-begitu saja, aku tidak berbohong bahwa aku masih berada di kota terapung, aku masih disini, lebih tepatnya bukan Kota Terapung yang kita sebut, tapi aku yang mengapung di atas kota. Tak ada lagi pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang hanya awan hitam yang setiap saat mengeluarkan hujannya ketika kita melihat ke atas sana. Tak ada lagi wahana bawah laut nan megah hanya arus air hitam yang berkolaborasi dengan aroma busuk minyak. Yang masih bertahan hanya tidak adanya kemacetan pagi, karena kami tak bisa lagi membedakan pagi, siang, ataupun malam. Matahari tak lagi kami temui, cahayanya tertutup awan hitam, pekat, seperti kau berada di dalam mimpi paling buruk. 3 tahun tanpa harapan apa-apa, kami tak tahu lagi kepada siapa kami harus membesarkan harapan selain kepada diri sendiri, orang-orang hanya berusaha untuk tetap memperpanjang hidup meski tak tahu arah hidup di kondisi saat ini, menggantungkan harapan kepada negara di saat kondisi seperti ini? Sepertinya kami tak cukup waktu untuk terus-terusan mendengar retorika politis para penguasa itu, mengenal pemimpin negara saat ini pun kami tidak.

Jika kau memimpikan hidup di peradaban kami yang sekarang, yang kau ramal memiliki sejuta teknologi termaju, yang hidup dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Namun aku berpikir sebaliknya, jika bisa, aku ingin hidup di peradabanmu yang sekarang, sebisa mungkin aku ingin mengubah segala hal yang bisa kuubah agar tidak berakhir sama seperti apa yang aku rasakan.

Ketamakan pada akhirnya hanya akan membawa ke kondisi paling gila, dan semua yang kau dapat dari segala ketamakan itu hanya akan tergerus sia-sia begitu saja. Seperti selayaknya kau menggerus alam raya untuk memuaskan hasrat ketamakan kau itu, alam jugalah yang akan meminta bayaran untuk semua yang kau lakukan. Sejatinya kau tidak akan bisa menghitung kekayaanmu jika kau menyadari rumahmu kini seperti di dalam akuarium besar, menyelamatkan bumi berarti menyelamatkan hidupmu dan anak-anakmu, jika kau terus merusak alam demi keuntungan sesaat, hanya ‘sesaat’ itulah yang kau dapatkan, tidak lebih dan juga tidak kurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *