Cerpen #381 Formulir Untuk Menjadi Pengecut

“Hari ini, Sidni, seekor paus biru dari Antartika ditemukan tutup usia karena terlalu banyak mengonsumsi plastik dan besi. Berikut keterangan dokter Ariesus yang menangani kasus Sidni.”

Seorang wanita berdada besar dan berjakun mengarahkan mic ke seorang lelaki memakai snelli kedodoran.

“Saya sudah mengirimkan sinyal ke Sidni beberapa bulan yang lalu untuk tidak lagi mengonsumsi plastic dan besi karena hal itu dapat membahayakan hidupnya. Namun, kira-kira beginilah jawaban Sidni…”

Dokter Ariesus memperdengarkan bahasa paus yang bagiku hanya terdengar “hwarrrgh..hurr hurrr” terekam dalam mini recorder berbentuk cincin yang letaknya bersebelahan dengan cicin kawinnya. Dokter binatang ini pasti sangat mendedikasikan dirinya pada profesinya, dia tidak akan sanggup kalau suatu hari harus memilih meninggalkan istrinya atau pekerjaannya. Tiba-tiba raut wajah dokter itu menjadi sedu bercampur marah. Entah apa yang dikatakan Sidni pada dokter itu hingga membuatnya begitu kalut, tapi aku bisa pastikan bahwa di antara dua pilihan tadi, ia akan memilih meninggalkan istrinya.

“Begitulah berita hari ini. Saya Sintya, melaporkan.”

Reporter tersebut segera mengambil alih perhatian pemirsa sebab Dokter Ariesus mulai misuh dengan bahasa binatang yang tidak kami mengerti.

Lagi. 

Kumatikan smartwatch-TV peninggalan Mama dari tahun 2035 silam. Tentu tidak secanggih smartwatch tanam yang sudah diproduksi masal sekarang. Sudah setiap bulan harus diservis, memori penyimpanan datanya pun sangat terbatas, hanya 5TB. Tapi tak apa. Harga kenangan lebih mahal daripada harga satu jam pintar model terbaru manapun.

Lagi dan lagi. Aku muak.

Kulirik selembar kertas transparan seperti plastik dimana tulisannya hanya bisa dibaca dengan scanning dan password tertentu. Sebuah formulir pendaftaran. Aku masih menimbang-nimbang. Tapi nasib buruk yang menimpa Sidni mambuatku makin pesimis dengan segala hal yang berjalan di Boemi ini.

“Sidni, tenanglah rohmu di sana. Berbahagialah bertemu para mendiang leluhurmu. Nikmati kedamaianmu. Tuhan dan semesta tetap memberkatimu meski kau di samudera yang lain.”

“Amin.”

Aku membuka mata mendengar suara yang sangat kukenal. Berpikir sejenak apakah sekiranya perkataanku selanjutnya akan menyinggung perasaannya atau tidak.

“Kau sudah fasih sekali bilang ‘Amin’ begitu? Kata itu tidak boleh diucapkan sembarangan. Kalau tidak tulus dan hanya sebagai bahan becandaan lebih baik jangan. Ora ilok!”

Namanya Soekmavati. Seorang alien dari planet tetangga yang bermigrasi ke Boemi karena planetnya hancur. Siapa yang menghancurkannya? Sudah pasti, 3 generasi sebelum ia lahir. Ia datang tanpa nama, hanya barcode yang tertera di sidik jarinyalah satu-satunya tanda pengenal yang membedakan ia dengan alien yang lain.

“Loh. Hari ini aku, Soekmavati, sudah resmi menganut agama. Aku adalah alien yang beragama, mempercayai dogma dan akan gencar mencari pahala. Dan aku tulus kok.”

Alien aneh ini, aku yang memberi nama.

“Menyenangkan sekali ya ternyata punya agama itu. Aku sangat bersemangat untuk berlomba-lomba mencari pahala supaya aku kelak diberi karma baik dan atau masuk ke sorga.”

I am happy for you.” Kataku menyelamatinya semampuku, meski ia pasti mengharapkan lebih. Sebuah perayaan kecil dengan nasi tumpeng yang harganya semakin hari semakin melonjak. Maklum, beras sudah mulai punah. Sekarang ini yang masih makan beras adalah golongan tertentu saja.

“Gitu doang? Tidak ada tumpengan nih? Dasar pelit. Sudah gitu, kamu ngga datang ke peresmianku mendapatkan agama. Kesal deh.”

“Tidak ada email masuk setahuku.”

“Bukan undangan digital dong, Sayang! Kamu kan suka yang kuno-kuno, kucetaklah undangan untuk kamu supaya kamu bisa merasakan romantisme membaca undangan kertas dari seorang sahabat. Cari kertasnya susah loh. Aku harus pre order dulu selama 2 minggu.”

Ia nyerocos menuju meja kerjaku. “Nih lihat kertasnya! Mahal tahu. Huu! Sudah kutunggu tapi tak datang.”

“Agama apa memangnya?”

“Rahasia dong. Jaman semakin maju, agama makin privasi tahu! Kepo deh. Bilang maaf karena ngga datang kek minimal.” Bibirnya mengerucut mancung sekali terutama di bagian ia berkata Bilang maaf karena ngga datang kek minimal dengan volume suara yang sangat lirih.

“Jaman semakin maju, kata maaf semakin mahal. Tapi aku menyesal tidak bisa datang ke acaramu. Semoga ada lain kali.”

“Ngawur. Kamu mendoakan aku murtad ya. Bisa dipanggang di neraka dong nanti after life.”

“Ya ngga apa-apa. Soekmavati panggang bumbu kecap enak kayaknya.”

“Hei! Aku alien. Bukan sejenis makanan.”

“Hahaha. Iya iya, aku hanya bercanda.”

“Becandamu sangat lawas, seperti angkatan 2021. Dasar manusia langka. Berapa sih umurmu sekarang?”

Aku hanya tersenyum tertahan ketika dia mulai menghitung.

“Eh! Kamu ternyata sudah setua itu! Di saat manusia jaman sekarang hanya mempunyai masa hidup paling lama 35 tahun. Wah. Kamu siluman ya!”

“Rahasia dong. Jaman semakin maju, identitas diri semakin rahasia dong.”

“99 tahun! Gila! Memang siluman kamu ‘Ko. Enak benar ya jadi kamu, tidak perlu mengantre di Soulmarket gang sebelah untuk top up nyawa.”

“Makanya punya nyawa tuh harus dihemat, minum jamu biar tetap bugar.”

“Jamu minuman warisan mamamu yang rasanya tidak pahit itu? Bisakah menambah masa hidup seseorang?”

“Ya tidak juga. Aku belum mati karena..”

“Karena?”

Karena Tuhan masih ingin aku menderita lebih lama di dunia ini.

Aku tercipta sebagai manusia perasa, dimana alam raya ini menderita, aku ikut merasakan penderitaannya juga. Dimana aku melihat orang-orang tua merasakan kepedihan karena dilupakan anak yang sudah dirawatny, aku pun merasakan kepedihan itu. Meski aku belum pernah punya anak. Dimana ada penebangan pohon sebelum waktunya dan pengeboran hutan, aku pun merasakan betapa kecewanya mereka itu kepada manusia yang tidak bertanggung jawab. Hanya karena mereka tidak bergerak, bukan berarti mereka tidak berjiwa. Aku merasakan segala emosi, lebih tepatnya menyerapnya. Termasuk emosi yang dirasakan Sidni. Sesak, lapar, marah, sakit dan sekarat tetapi tidak berdaya melakukan apapun.

Karena itulah aku memilih lebih sering di rumah dan membolehkan Soekmavati tinggal bersamaku karena aku tidak bisa merasakan emosinya. Ia bukan manusia, ingat? Meski penampilan dan perangainya tidak ada bedanya dengan manusia kebanyakan tapi frekuensi emosi kami berbeda. Ia merespon perkataan dan tindakan seseorang berdasarkan data yang ia analisis. Tentu ia seolah-olah seperti bisa membaca pikiran orang bak dukun. Tapi sebenarnya ia hanya mengolah informasi dari data base yang ia dapatkan ketika meretas sistem data kependudukan negara. Anehnya, sampai sekarang pihak intelejen negara belum mengetahui hal itu. Mungkin memang spesies alien seperti Soekma memang lebih canggih, atau sebenernya kualitas sumber daya manusia negara ini yang..

Ah. Pasti yang pertama. Buktinya para mafia berbagai lini, dari lingkungan hingga kesehatan selalu lebih cepat dua langkah, (atau bahkan seribu ya?) dibandingkan para aparatur negara. Ini bukti bahwa sumber daya manusia yang cerdas lagi mahir mengelak hukum pastilah bukan kekurangan bangsa ini.

“Karena?”

Suara Soekma membuyarkan pikiran melanturku.

“Udah ah. Bahas apa sih kita ini? Ngga jelas.” Kataku untuk mengalihkan topik pembicaraan, tapi bukan Soekmavati namanya jika hanya pasrah dan nerimo. Soekmavati tidak punya data-dataku sebab aku memaksanya menghapus semua itu sebagai syarat jika ingin tinggal di rumah ini secara cuma-cuma.

“Ih bikin penasaran deh. Karena apa? Ayo bilang karena apa ‘Ko?”

Aku memundurkan langkah karena harus menghindari rengekan Soekmavati. Tanpa sengaja formulir pendaftaran itu terjatuh dan terinjak.

“Hm. Apa itu?” Tanya sahabatku yang mudah teralihkan perhatiannya itu,

“Bukan apa-apa. Hanya formulir biasa.”

Soekmavati menatap formulir itu dan mulai memindai dengan mata emerald-nya. Ekspresi wajahnya menyiratkan banyak hal, banyak emosi. Seolah-olah banyak sekali yang ingin ia sampaikan. Tetapi pada akhirnya ia hanya berkata, “Aku bisa mengerti ‘Ko. Aku pernah mengalaminya. Ini hidupmu, kamu yang memilih, kamu akan mati dimana suatu hari nanti.”

“Kamu tahu kenapa bangsa kami akhirnya memutuskan bermukim di Boemi? Seperti yang sudah aku dongengkan ribuan kali kepadamu. Buyutku melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan oleh roh planet kami. Melanggar kesepakatan yang sebenarnya menurutku sangat.. simple. Roh planet kami dan nenek moyang sebelumnya pernah berjanji untuk tidak saling menyinggung dan tetap menghormati batasan-batasan yang sudah tertera dalam kitab perjanjian induk.”

Pikiran Soekma melayang-layang entah kemana. Mungkin ia bisa melihat masa lalu ketika peristiwa itu terjadi. Aku sendiri tidak bisa membayangkan seperti apa rupa roh planet itu. Apakah besar dan sangar seperti ilustrasi Dewi Durga dengan banyak tangannya mencengkeram planet Soekma, atau hanya sebuah titik cahaya yang bisa bersuara? Entah. Aku tidak pernah memfantasikan roh sebuah planet tertentu.

“Sesederhana saling menjaga.” Lanjutnya. Ia seperti ingin mengatakan hal lain, tapi suaranya tercekat. Setetes bulir bening keluar dari ujung mata Soekmavati. Ia menangis seperti manusia. Hanya setetes. Tapi aku tahu, pastilah itu hal yang sangat menyakitkan untuknya.

Aku tidak memeluknya, aku tidak menenangkannya.

“Sebenarnya bangsa kami mencari planet lain bukan semata-mata karena planet kami sudah hancur. Namun, kami telah diusir oleh roh planet. Aku tidak menyesal, ini memang hukuman bagi kami karena telah lalai.”

“Tapi itu bukan salah generasimu.” Aku mencoba membelanya, meskipun aku tidak tahu apakah ia membutuhkan pembelaan atau tidak.

Soekma menatap ke bawah, mencari bukir air matanya yang sudah ambyar terbentur lantai. Lalu menatapku sambil tersenyum.

“Apa bedanya?”

Senyum masam yang memilukan.

“Kling, klang.” Bunyi notifikasi email masuk ke perangkatku. Segera kuperiksa dari siapa sekiranya dan mau apa. Ternyata penindaklanjutan formulir pendaftaran yang dikirimkan langsung kepadaku. Formulir tersebut dikirimkan langsung oleh pemerintah daerah beberapa bulan lalu. Memang belum kuserahkan meski sudah kuisi sejak lama.

Telepon dari jam pintarku berbunyi, ternyata dari kepala kelurahan.

“Nak Karti’Ko, kok datamu belum masuk ya di komputer kami. Tolong segera diisi ya. Minggu depan kita harus sudah berangkat ke Marsh. Bareng-bareng saja dengan warga yang lain. Sudah liat berita to? La iya itu. Paus makan plastik kok bisa mati. Kan biasanya juga makan apa aja yang ada di laut kan? Ini pertanda, Nak Karti’Ko. Kita sudah harus berkemas mencari hunian yang lebih baik. Boemi ini sudah uzur. Sudah ndak pantas lagi kita tinggali. Segera kirimkan formulirnya ya, Nak. Saya sudah ditunggu Gubernur ini untuk rapat proyek yang mangkrak itu. Haduh, kayaknya memang ngga akan jalan ini proyeknya. Sudah bolak-balik pindah titik pengeboran, eh sama saja. Yang keluar hanya asap. Sudah ya.”

Tut tut tut.

Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Muntab dan kecewa. Buru-buru aku masuk kamar mama, wanita Jawa yang selalu mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menghargai leluhur dan semesta ini. Saat itu aku tidak tahu betul apa maksud mama dengan berkata bahwa manusia harus tahu diri.

“Manusia tidak bisa menjaga alam, Nduk. Alam yang menjaga manusia. Tapi setidaknya kita harus berupaya untuk berterima kasih dan berhati-hati dalam laku kita. Jangan melukainya lebih jauh lagi.”

Kejam. Mereka tidak bercermin bahwa apa yang dialami Sidni adalah ulah mereka sendiri. Justru mereka mencari kambing hitam, tumbal untuk disalah-salahkan, tumbal itu bisa berarti siapa saja. Siapa saja, selain diri mereka sendiri.

Tidak.

Aku memilih kata TIDAK untuk pemindahan hunian ke planet Masr. Boemi adalah rumahku, aku sudah menjadi jahat karena tidak bisa menjaganya. Tidak perlulah aku harus semakin melukai perasaan Boemi dengan meninggalkannya karena sudah rusak begini. Aku tidak bisa bertanggung jawab atas ulahku 90 tahun silam. Mengotorinya dengan sampah plastik dan menikmati uang hasil pengerukan tambang usaha ayah tiriku. Tuhan menghukumku dengan kepekaan emosi ini tidak lama setelah mama berpulang. Dan aku menerimanya dengan senang hati sampai aku mati dan teruai menjadi tanah kelak.

“Jika kita tidak bisa melakukan hal yang benar untuk menjaga Boemi ini, setidaknya jangan sampai aku melakukan hal yang bisa menyakitinya.”

Sebuah pop up notification muncul berbunyi: Are you sure to send your email without subject?

ENTER.

One thought on “Cerpen #381 Formulir Untuk Menjadi Pengecut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *