Cerpen #380 Wabah Mata Kurawa

/1/ Pemulaan Alam Semesta dan Hal yang Menyertainya.

Semesta mulainya kosong dan tak ada penghuninya. Sang Hyang Wenang lantas melemparkan biji Pohon Nitya Pralaya. Biji itu baru mengeluarkan akarnya dalam waktu sejuta tahun cahaya, dan mulai keluar satu daun dalam kurung waktu seribu tahun cahaya. Sang Hyang Wenang selalu menyemainya setiap hari. Setelah Pohon Nitya Pralaya tumbuh besar mulai menciptakan semesta menjadi tiga dunia.  Sang Hyang Wenang menciptakan dewa-dewi, aspara dan apsari untuk menghuni Mayapada ‘Dunia Maya yang Kekal’. Semua keindahan berasal, tak ada kekurangan apa pun, dan semua peraturan mutlak berasal. Menciptakan pula Marcapada ‘Dunia Tak Abadi’ yang dihuni oleh raksaa, para wayang, margasatwa, dan danawa. Tempatnya di angkasa, di dalam bumi, dan di atas bumi.  Kedua dunia telah tercipta dan akhirnya Sang Hyang Wenang menciptakan Madyapada ‘Dunia yang Gelap’. Dunia yang dihuni oleh siluman, makhluk halus, setan, dan temparnya di kerak bumi. Hawa  jahat, panas, dan mengerikan sudah menguasai dunia Madyapada.

Kehidupan pun berlangsung dan penghuni Mayapada mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Namun, mereka mempunyai satu aturan yang mutlak dan tak boleh dilanggar oleh siapa pun. Aturan untuk tidak memakan buah dari Pohon Nitya Pralaya. Brahma yang ditunjuk langsung oleh Sang Hyang Wenang dengan sah dapat membunuh siapa pun yang memakan buah dari Pohon Nitya Pralaya.

Dahulu kala, beberapa penghuni Mayapada yang penasaran diam-diam mendekat ke pohon nitya pralaya. Mereka melihat buahnya yang tak pernah mengenal musim, terus berbuah walaupun sering dimakan oleh hewan-hewan yang berada di kahyangan. Dewa Wisnu yang terkenal jahil langsung memanjat pohon itu. “Cepatlah memanjat Pohon Nitya Pralaya ini dan kita makan semua buahnya!” teriaknya dengan lantang.

Brahma yang sejak tadi mengamati dari kejauhan berteriak melarang Dewa Wisnu untuk memanjat Pohon Nitya Pralaya. Siwa, Wisnu, Brahma, Hyang Pitamaha, Hyang Prajapti, Hyang Suraguru, Hyang Manu, Hyang Stanu, Hyang Manu, Hyang Ka, Hyang Pracetas, Hyang Pramesti, Hyang Daksa langsung memanjat pohon nitya pralaya. Mereka dengan cepat memanjat pohon, mengambil buahnya, dan langsung memakannya sampai kekenyangan. Brahma pun membersihkan sisa buah yang telah dimakan, tak ada satu pun buah, atau daun yang bergururan. Pohon Nitya Pralaya telah bersih seperti sediakala. Namun, Sang Hyang Wenang telah mengetahui segalanya karena Dia Mahakuasa, Dia Yang Berwenang, dan Pemilik Segala Jawaban.

Semua dewa yang telah memakan buah nitya pralaya telah berada di Kahyangan Puspawangi. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, tiangnya terbuat dari cahaya, lantainya penuh dengan corak unik, dan seluruh ruanganya penuh dengan ukiran yang unik, sekeliling gua penuh dengan lukisan yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa.

Sang Hyang Wenang lantas memimpin sidang. Siwa, Wisnu, Brahma, Hyang Pitamaha, Hyang Prajapti, Hyang Suraguru, Hyang Manu, Hyang Stanu, Hyang Manu, Hyang Ka, Hyang Pracetas, Hyang Pramesti, Hyang Daksa menjadi tersangka. Mereka terdiam tak ada yang berani bersuara. Mereka menerima hukuman dari Sang Hyang Wenang berupa titah untuk menjaga alam semesta. Wisnu menerima titah pemelihara kehidupan dan menerima ajian kayu rewan. Wisnu menerima titah untuk memelihara ciptaan Sang Hyang Wenang dan menerima ajian manik astagina, sedangkan Brahma menerima titah sebagai dewa penghancur, sekaligus menjaga Pohon Nitya Pralaya dan diberikan ajian retnadumilah.

/2/ Reinkarnasi Kurawa

Hastinapura diselimuti aroma kematian yang dirajut langsung oleh Yamadipati. Sekilas seperti belahan jiwa yang uzur dan sekarat. Kerap di malam hari, sering terdengar suara derap kaki kuda, benturan senjata perang, suara orang sekarat, dan sering kali terlihat roh Kurawa yang gugur dalam Perang Baratayudha. Kebencian terhadap Pandawa masih membekas sampai mati. Kebencian yang berdasarkan rasa iri, rasa muak, dan murka. Semua kebencian itu didorong oleh rasa tak terima mengapa 99 Kurawa mati. Mengapa dengan jumlah sebanyak itu tak bisa mengalahkan Pandawa. Mengapa dewa lebih memihak Pandawa dibandingkan Kurawa? Kurawa memohon kepada Yamadipati untuk bereinkarnasi menjadi wabah mata Kurawa. Yamadipati memberkatinya dengan syarat Kurawa akan dihukum di neraka sampai hancurnya alam semesta.

Dursilawati yang sedang tertidur bermimpi bertemu saudara-saudaranya. Mereka dalam keadaan yang sekarat. Tubuh mereka penuh dengan luka borok dan nanah yang menjijikkan. Mereka disiksa oleh Yamadipati dengan kejam. Tubuh Kurawa sampai hancur. Seketika tubuh Kurawa yang telah hancur kembali lagi, disiksa lagi, kembali lagi, begitu seterusnya. Duryudana menghardik Dursilawati dengan kata-kata kasar, “Mengapa hanya kau saja yang masih hidup? Mengapa kau tak ikut mati? Dasar biadab!” Tangan Duryudana yang penuh dengan darah membelai wajah Dursilawati. “Tolong balaskan dendam saudara-saudaramu! Sebarkan wabah mata Kurawa! Bunuh Pandawa!”

Dursilawati terbangun dari tidurnya. Ia selalu memikirkan mimpi itu. Tangan  kanannya perlahan merasakan gatal, menggaruknya, merasakan ada hal yang aneh. Telapak kanannya ada mata yang menjijikkan, penuh dengan lendir, dan nanah. Ia mengambil belati dan mencungkil bola mata itu. Ketika mata itu dicungkil maka akan muncul mata, lagi dan lagi. Kamar Dursilawati penuh dengan mata. Menghitung jumlah mata itu dan berjumlah 99 mata. Jumlah sesuai dengan jumlah saudaranya yang mati. Mata Dursilawati perih, menggaruknya secara perlahan, semakin lama matanya berdarah, dan akhirnya jatuh ke lantai. Kini jumlah yang di lantai telah genap 100. Mata itu mulai berputar-putar tak beraturan. Seketika keluar dua kaki dan mulut. Dursilawati pening memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Makna apa yang sebenarnya ada diperistiwa itu. Mengapa saudara-saudaranya memilih bereinkarnasi menjadi wabah mata Kurawa? Apakah harus membalaskan dendam saudara-saudaranya atau memilih jalan yang lain? Semua mata itu perlahan masuk ke dalam mulut Dursilawati.

/3/ Wabah Mata Kurawa dan Perubahan Iklim

Keluarga Kurawa tak terima dengan hasil akhir dari perang Baratayudha. Mereka akhirnya menghardik Dewa Trimurti. Di depan api suci sudah tersedia piranti pemujaan yang terdiri dari kacang-kacangan, bunga, gula-gula, padi, mentega dari bahan susu kerbau yang mencair, bejana beras yang disucikan, bunga putih, biji wijen, kayu harum, kemenyan, dan setanggi. Mereka berdoa supaya Pandawa mengalami nasib yang sama seperti Kurawa. Namun, tempat Pemujaan Hastinapura terbakar. Api itu berasal dari hutan ketika seorang pemburu membakar kijang buruanya. Ia tak kuasa mengontrol api itu, dengan cepat merambat dan membakar tempat Pemujaan Hastinapura. Api itu merambat dengan cepat, apalagi sekeliling penuh dengan hutan yang kering karena musim kemarau.

“Tolong bantu hamba, Tuan! Hamba membakar kijang hasil buruan, tetapi api merambat ke tempat Pemujaan Hastinapura. Hamba tak bisa memadamkan api itu! Hamba akan menerima semua hukuman!” Seorang pemburu melaporkan kebakaran itu ke Pandawa. Bersujud di hadapan Pandawa. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima bergegas pergi ke tempat Pemujaan Hastinapura.

Mereka akhirnya sampai ke tempat Pemujaan Hastinapura. Bima langsung menerobos ke dalam tempat Pemujaan Hastinapura. Bima lantas melemparkan senjata Gada miliknya dan langsung menyelamatkan Drestrarasta dan Gendri. Sementara Nakula, Arjuna, dan Sadewa berusaha untuk memadamkan api. Kunti dan Yama Widura telah menjadi abu. Arjuna lantas mengambil abu halus mereka. Abu mereka ditaruh di dalam cinda. Bima dan seorang pemburu itu pergi ke Balairung Dursilawati. “Maaf kelancangan hamba, Tuan! Api untuk membakar hasil buruan tanpa sengaja merambat dan membakar tempat Pemujaan  Hastinapura. Tolonglah ke sana sekarang juga! Setelah itu boleh lakukan apa saja atas tubuhku dan nyawaku. Hamba yang menjadi sumber api itu.”

“Kita harus bergegas ke sana! Aku ingin melihat semuanya dengan mataku sendiri.” Dursilawati tertunduk layu di hadapan orang tuanya. Ia menangis meronta-ronta, tak percaya orang tuanya hangus terbakar, bahkan keadaanya sekarat. Tubuh mereka hangus terbakar, bahkan kulitnya terkelupas, dan terlihat tulang belulang. Tubuh Gendari lebih parah lagi. Tubuhnya mulai membusuk dan lidahnya menjulur keluar. “Dosa apa yang dilakukan oleh orang tuaku! Mengapa karmamu begitu kejam kepada keluargaku! Apa lagi yang akan kau renggut kembali! Kau boleh mengambil apa pun dariku, bahkan nyawaku! Tolong selamatkan orang tuaku! Biarlah nyawaku yang menjadi taruhannnya.” Dursilawati memeluk kedua orang tuanya. Ia berjalan mengelilingi tempat pemujaan, melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia melihat senjata Gada milik Bima. Seketika amarahnya meluap-luap.

“Pandawa yang telah mengatur siasat ini! Kalian ingin membinasakan semua garis keturunan Kurawa! Apakah kalian masih tak puas dengan semua yang kalian miliki? Kerajaan, kekayaan, bahkan apa pun berada di genggaman tangan kalian! Mengapa kalian masih saja mengusik dan ingin membinaskan seluruh keluarga Kurawa? Lihatlah senjata Gada milik Bima ini! Tergeletak tak jauh dari orang tuaku!” Dursilawati menghardik Bima dengan penuh emosi.

Bima bersujud di kaki Dursilawati dan ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “Izinkan hamba menceritakan semuanya supaya tak ada salah paham diantara kita.”

“Celoteh macam apa yang ingin kau ceritakan! Sudah jelas senjata Gada kamu berada di dekat Pemujaaan Hastinapura. Kau pelakunya! Pandawa yang mengatur siasat busuk ini!.”

“Tidak Tuanku. Hamba membakar hewan buruan, apinya tertiup angin, dan merambat ke sini! Ini semua karena kecerobohanku. Hukumlah hamba! Pandawa tidak bersalah!” kata seorang pemburu.

“Diam kau penjilat yang busuk!” Dursilawati yang sedang marah langsung menendang pemburu itu, menendangnya berulang kali. Pemburu itu hanya diam saja, merasa pantas menerima hukuman itu. “Buktikan dengan makan bola mata ini! Jika tak terjadi apa pun maka kalian tak bersalah!” lanjut Dursilawati.

Dursilawati langsung mencungkil bola mata yang ada di telapak kanannya. Bola mata itu terjatuh ke tanah, menjadi lima, berputar-putar, dan mulai keluar dua kaki dan mulut. Mereka merasa jijik melihat bola mata itu. Bola mata yang penuh dengan nanah, dari mulutnya selalu keluar darah, dan sorot matanya selalu menyorotkan kebencian dan dendam. Mereka lantas memakan bola mata itu. Bima menjadi orang pertama yang memakan bola mata itu, diikuti oleh Arjuna, Sadewa, Nakula, dan seorang  pemburu.

Mereka menggeliat kepanasan, berguling-guling di tanah, mengaruk seluruh tubuhnya, dan seketika mulai muncul mata di tubuh mereka. Tubuh seorang pemburu hanya ada satu mata yang keluar. Mata itu keluar dilehernya. Tubuh Bima, Nakula, Sadewa, Arjuna keluar lima mata. Mata itu berada di telapak tangan kanan dan telapak kiri. Dua mata berada di pipi sebelah kanan dan kiri. Satu mata berada di lidah mereka. Mereka merasakan kesakitan yang luar biasa. Menggeliat kepanasan, mengaruk-garuk seluruh tubuhnya, dan di lehernya serasa tercekik.

Dursilawati tertawa terbahak-bahak melihat mereka sekarat. Berputar-putar seperti orang gila. Dia lantas membawa kedua orang tuanya ke api yang masih berkobar-kobar. Dia tak lagi mempersoalakan apakah Dewa Trimurti akan menerimanya atau tidak. “Aku telah membalaskan dendam kalian, saudara-saudaraku!”

Wabah itu menyebar dengan cepat. Kerajaan sekitar pun juga terkena wabah itu. Kerajaan itu antara lain Kirata, Aryana, Mleccha, Trigar, Pragotisa, Sindu, dan kawasan Manipura. Wabah itu akan mengakibatkan ketakutan, kesengsaraan, dan kematian kepada semua orang. Bahkan Wabah itu mulai mengubah iklim. Selama hampir seratus tahun tak ada hujan. Satu demi satu pohon mulai mati, hewan kelaparan karena tak ada minuman dan makanan yang dapat dimakan, dan wabah mata Kurawa masih terus menebarkan teror.

/4/ Persembahan Kuda

Yudistira lantas menyusul saudara-saudaranya ke Hastinapura. Yudistira memeluk Bima dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulut Bima. Yudistira melihat mata yang ada di telapak tangan Bima. Ia yakin bahwa mata itu adalah mata Duryudana, melihat mata yang ada di pipi kiri Bima dan ternyata adalah mata Anadresya, melihat mata yang berada di lidahnya dan ternyata itu mata Duskarna. Sedangkan seorang pemburu telah mati karena tak kuat dengan wabah mata Kurawa.

Yudistira menggelar upacara Persembahan Kuda. Semua keluarga Pandawa yang masih hidup berkumpul. Drupada, Drupadi, Srikandi, Setyaki, Mahaguru Seta, Utara, Sumbadra, Dewi Utari, bahkan cikal-bakal Kurawa dan Pandawa –  Begawan Awiyasa juga memberikan restu untuk upacara Persembahan Kuda. Para guru, pendeta, para Brahmana pun juga ikut dalam persembahan itu. Mereka terus mengikuti dua pasang kuda putih yang terus berlari melewati kerajaan yang terkena wabah mata Kurawa. Kerajaan itu antara lain Kirata, Aryana, Mleccha, Trigar, Pragotisa, Sindu, dan kawasan Manipura. Kerajaan yang dilewati oleh kuda itu harus mendoakan keselamatan Pandawa dan Kurawa yang telah gugur. Semua raja yang wilayahnya dilewati oleh dua pasang kuda juga ikut mengawal upacara itu. Sifat solidaritas telah menyatukan mereka. Ketika matahari memasuki garis edar rasi bintang abijit. Dua kuda itu kembali lagi ke Hastinapura. Dewa Trimurti menerima upacara Persembahan Kuda dan menurunkan ribuan bunga teratai. Bunga itu secara perlahan membakar wabah mata Kurawa. Orang yang terkena wabah itu pun mulai berangsur-angsur kembali sehat, bola mata yang ada di tubuh mereka akhirnya menghilang, dan iklim yang ekstrem pun mulai kembali normal seperti sediakala.

Teruntuk Ibu yang kini tak bisa aku peluk.

Ruang Sang Hyang Yamadipati, 8 Oktober 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *